Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
S2_56. Masalah Berlian


__ADS_3

Berlian sangat terkejut saat melihat Bryan ada di dalam kamarnya setelah ia keluar dari kamar mandi. Kembarannya itu duduk di atas ranjang dengan santai. Berlian reflek menyalahkan kedua tangannya di depan dada. Meskipun mereka kembar dan selalu bersama sejak mereka dilahirkan, sekarang mereka sudah tumbuh semakin dewasa. Jadilah akan canggung jika Bryan melihatnya hanya memakai bathrobe seperti saat ini.


"Berisik Brily. Kenapa teriak-teriak sih." Bryan menutup telinganya. Melihat Berlian dengan heran.  Baru setelah ia mendapati Berlin hanya memakai bathrobe ia memalingkan wajahnya karena malu.


"Jangan mengintip!" Berlian dengan segera mengambil baju tidurnya dan kembali masuk ke dalam kamar mandi.


"Hem." Gumam Bryan dengan canggung. Ia menghela napas setelah mendengar suara pintu yang tertutup. Baru setelah itu ia menoleh dan memastikan pintu kamar mandi benar-benar tertutup.


"Ada apa kemari?" Ucap Berlian begitu ia keluar dari kamar mandi. Kali ini ia sudah memakai piyama. Menggosok rambutnya yang masih basah dengan handuk kecil.


"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Bryan memperhatikan Berlian yang mengambil hairdryer dan duduk di meja rias. Ia berdiri dan duduk di ranjang yang dekat dengan meja rias itu.


"Bicara lah." Ucap Berlian ringan sambil terus mengeringkan rambutnya.


"Hati-hati. " Ujar Bryan singkat. Berlian menghentikan tangannya sebentar dan melirik Bryan. Lalu ia kembali melanjutkan aktivitasnya.


"Kenapa tiba-tiba bilang seperti itu?" Berlian meletakkan hairdryer yang baru saja ia pakai. Mengambil sisir sebagai gantinya.


"Masalah deep line." Kali ini Berlian benar-benar berhenti dan meletakkan sisirnya meskipun ia belum selesai. Ia menoleh pada Bryan yang terlihat serius. Tidak seperti Bryan biasanya.


"Aku tahu kamu bergabung dengan organisasi itu. Aku tidak melarang. Aku juga akan menjaga rahasia ini. Tapi, aku hanya berpesan padamu untuk berhati-hati. Organisasi ini bertaraf internasional. Seperti namanya, ini beroperasi di bawah tangan. Tidak ada yang bertanggung jawab. Apalagi, tidak sembarangan orang yang berhubungan dengan ini dan semua itu tidak sederhana." Bryan menatap Berlian serius.


"Aku tahu itu. Aku akan berhati-hati."


"Bagus. Sudah malam. Tidurlah." Bryan menepuk kepala Berlian dengan hangat dan berdiri.


"Bry." Bryan yang baru beberapa langkah dari Berlian  menghentikan langkahnya dan berbalik.


"Hem?"


"Terima kasih." Berlian tersenyum. Meskipun Bryan kelihatan sembrono dan cuek pada semua hal, Berlian tahu jika saudara kembarnya ini sebenarnya adalah yang paling perhatian.


"Sama-sama." Bryan menganggukkan sebelum ia kembali berbalik dan berjalan keluar dari kamar Berlian.

__ADS_1


Bryan tidak pergi ke kamarnya setelah keluar dari kamar Berlian. Ia turun ke bawah untuk mengambil minum. Namun ia tiba-tiba mendengar suara orang yang sedang berbicara dari ruang kerja Sean. Bryan baru saja hendak berlalu karena merasa ini tidak pantas baginya untuk menguping saat ia mendengar nama Berlian disebutkan. Jadi mau tidak mau ia berhenti dan diam-diam mendekat.


"Apa kamu yakin?" Sean bertanya pada Johan yang berdiri di depan mejanya.


"Iya tuan. Saya rasa Lian masih belum siap." Sean menghela napas dalam.


"Ini salahku karena memaksa. Dia masih anak kecil sekarang. Tolong jangan diambil hati."


"Tidak tuan. Wajar saja Lian seperti itu. Clara adalah satu-satunya teman yang dia miliki sejak kecil. Jadi wajar jika dia ingin Clara bahagia."


"Kamu sudah tahu Brily salah masih saja dibela." Sean agak kesal. Johan tidak pernah menyembunyikan apapun dari Sean. Jadi saat ia pergi dengan Clara, ia juga mengatakannya.


"Sebenarnya bukan hanya itu alasan saya pergi." Mendengar ucapan Johan, Bryan menanamkan pendengarannya.


"Lalu?"


"Masalah di keluarganya saya sulit untuk dihadapi. Saya tidak ingin Lian terlibat saat saya tidak yakin bisa melindunginya."


"Aku tahu." Sean menganggukkan kepalanya paham. Ia sudah tahu sejak awal jika jalan Johan tidak akan mudah. "Kalau begitu lakukan saja seperti yang kamu katakan."


"Hem. Pergilah." Sean melambaikan tangannya. Mengisyaratkan Johan untuk keluar. Johan mengangguk hormat sebelum ia berbalik dan keluar dari ruang kerja Sean. Ia sedikitnterkejut saat melihat Bryan ada di sana. Johan yakin Bryan mendengar semua yang dia katakan pada Sean di dalam.


Awalnya Johan akan menganggap jika dia tidak mengetahui jika Bryan mungkin mendengar semuanya. Jadi dia tersenyum paksa sebelum ia berbalik untuk berjalan cepat meninggalkan Bryan. Tapi dia tidak menyangka jika Bryan akan mengikutinya hingga keluar rumah. Johan berhenti. Bryan juga berhenti. Dia tahu Johan mengetahui jika ia mengikutinya.


"Ada apa?" Johan bertanya setelah ia berbalik. Menatap Bryan.


"Apa hubungan Brily dan Kak Johan?" Johan tidak menyangka jika Bryan akan langsung menanyakan hal ini.


"Tidak ada apa-apa. Bukankah kamu juga tahu aku adalah sopir Berlian?" Johan menjawab dengan tenang.


"Tidak perlu menyembunyikannya dariku. Apa yang sebenarnya terjadi antara kalian?" Bryan menatap tajam Johan.


Johan menghela napas. Bryan adalah saudara Berlian.  Jadi dia memang berhak mengetahui yang sebenarnya. "Sebenarnya tuan Sean berniat menjodohkan Berlian denganku." Bryan agak terkejut. Ia memang sudah curiga jika identitas Johan tidak sederhana. Namun ia tidak menyangka daddy nya yang posesif akan menjodohkan Berlian yang belum genap tujuh belas tahun dengannya.

__ADS_1


Bryan memperhatikan Johan. Melihat kebohongan di matanya. Tetapi ia melihat jika pria muda itu sepertinya serius dengan ucapannya.


"Jadi, apa kak Johan menolak Brily?" Bryan tidak mendengar semua pembicaraannya. Jadi dari yang dia dengar, dia menyimpulkan bahwa Johan akan pergi. Bukankah itu sama artinya dengan menolak Berlian?


"Tidak." Johan menggelengkan kepalanya langsung.


Melihat Johan yang dengan panik menggeleng, entah kenapa Bryan merasa lega karena itu artinya Berlian tidak ditolak. "Kapan kak Johan akan pergi?"


"Setelah masalah mengenai botol minuman itu selesai. Sekitar satu bulan lagi." Johan menatap langit luas. Ia merasa berat untuk meninggalkan Berlian. Apalagi ia masih belum mengetahui rahasia yang disimpan Berlian sehingga Ia khawatir dia tidak bisa menjaga Berlian dan tidak ada di saat ia membutuhkan.


"Apa Brily tahu hal ini?"


"Tidak. Tolong jangan beritahu dia."


"Yah. Bagaimanapun ini masalah kalian. Aku juga tidak berhak ikut campur." Bryan menganggukkan kepalanya.


"Baiklah. Kalau tidak ada apa-apa aku kembali dulu." Johan baru pergi setelah Bryan mengatakan bahwa tidak ada lagi yang perlu dia bicarakan.


Bryan menatap punggung Johan yang berlalu. Ia menggaruk tengkuknya. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi. Ia juga mendengar nama Clara disebutkan. Tetapi ia tidak mengerti apa hubungannya dengan Clara tentang masalah ini. Apakah ini tentang cinta segitiga?


Dia hanya pergi sebentar. Dan masalah pribadi Saudari kembarnya sudah berjalan sejauh ini.


Kali ini Bryan buru-buru kembali setelah mengetahui jika Berlian terlibat dengan deep line. Hal ini ia ketahui dari tim ciber Big Lion yang tiba-tiba memberitahu Justin. Bryan ingin memberitahukan hal ini pada akan dan Evelyn, tetapi Justin mengatakan padanya untuk membantu Berlian menyimpan rahasia. Justin berkata padanya bahwa Deep Line bergerak dengan aman. Tapi sebagai saudaranya ia masih tidak bisa meletakkan kekhawatiran itu sepenuhnya. Itulah mengapa ia harus memastikan sendiri agar dirinya tenang.


Sampai di rumah, tidak tahunya masih Berlian tidak hanya dengan Deep Line. Tapi juga masalah cinta segitiga!


*


*


*


Terima kasih sudah mampir ~*(^,^)*~

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan Vote ya....


__ADS_2