Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
Bab_56. Perbincangan di Malam Pertama


__ADS_3

Evelyn duduk di depan meja rias di kamar hotelnya. Tangannya dengan cekatan melepas satu persatu aksesoris yang dipasang di atas sanggul rambutnya. Sean duduk di atas ranjang dengan handuk di tangannya sedang mengeringkan rambutnya.


Setelah pesta selesai, Mereka menginap di hotel. Sedangkan Bryan dan Berlian diajak pulang oleh Laura dan Maxim.


Kejadian kecil antara Bryan, Berlian dan juga Daniel membuat pesta yang tadinya berjalan dengan serius menjadi lebih berwarna. Meskipun menjadikan jalannya pesta sedikit tersendat tapi semuanya berakhir dengan damai.


Sean dan Antoni berteman lama. Ia juga mengenal baik Diana. Semua orang memahami semua yang terjadi hanyalah masalah anak-anak. Tidak ada lagi yang mempermasalahkan.


Dan Daniel, juga sudah diberi pelajaran oleh kedua orang tuanya agar tidak berbicara yang macam-macam terhadap orang lain.


Mengingat kejadian itu, sampai sekarang Evelyn masih saja tersenyum sendiri.


“Aku masih kepikiran kejadian tadi Sean.” Ucap Evelyn melirik Sean dari cermin.


“Kenapa?”


“Anak bernama Daniel itu sedikit lumayan.” Pujinya.


“Lumayan apa? Lumayan kurang ajar?” balas Sean masam.


“Dia lumayan berani.”


“Huh! Jika saya papanya itu bukan Antoni, aku sudah pasti akan menghajarnya.” Ucap Sean kesal.


“Menurutku dia tidak begitu. Dia masih kecil. Tapi keberanian nya patut diacungi jempol.”


“Apanya yang diberi jempol. Dia masih anak kecil. Sudah berani berpikiran macam-macam pada putriku.”


“Hehehe. Apa kamu cemburu pada putrimu juga Sean?” Evelyn tergelak.


“Tentu saja. Putriku itu masih lima tahun. Aku saja baru bertemu dan masih belum puas menciumnya. Sekarang sudah ada yang berniat minta bagian darinya. Tentu saja aku tidak terima.”


“Di masih anak-anak. Apa yang dikatakannya adalah apa yang ada di hatinya. Dia masih belum mengerti hal-hal seperti itu. Kenapa mesti marah?”

__ADS_1


“Aku tidak marah. Hanya sebal saja.”


Evelyn yang sudah selesai melepaskan aksesori nya segera bangun dan berjalan mendekati Sean. Membalik badannya di depan Sean.


“Tolong bantu aku melepas retsletingku.” Ucap Evelyn.


Sean segera berbinar. Ia jadi mengingat bahwa Malam ini adalah malam pengantinnya. Dan ia sudah berpuasa hampir dua Minggu lamanya. Saatnya mendapatkan jatahnya sekarang.


Jadi saat Evelyn meminta bantuannya untuk melepaskan retsletingnya, ia tidak melepaskan kesempatan itu. Ia pun segera berdiri di belakang Evelyn.


Sean membuat gerakan yang lambat saat menarik turun retsleting di belakang gaun yang dikenakan Evelyn. Dan Evelyn memegang erat bagian depan gaunnya agar tidak melorot.


Bagian belakang gaun segera terbuka. Memperlihatkan punggung putih mulus yang terpampang indah. Bibir Sean mendarat di sana. Meninggalkan bercak-bercak merah yang indah. Evelyn me Rin tih setiap Sean menghisap kuat punggungnya.


“Sean aku belum mandi.” Ucap Evelyn saat ia merasakan pandangannya mulai kabur.


“Mandinya nanti saja.” Tangan Sean bergerak nakal. Ia menelusup di balik gaun hingga ke bagian depan. Bermain dan me re mas squishi dengan kismis di atasnya. Mulutnya juga tidak berhenti membuat tanda.


Puas bermain di belakang, Sean membalik tubuh Evelyn. Mendorongnya hingga jatuh di atas ranjang dengan suara ah yang menggoda.


Ciuman Sean intens dan dalam. Evelyn merasa dirinya melayang karena sensasinya. Dahi, kelopak mata, hidung, kedua pipi, dagu dan bibir itu bergantian dinikmati. Ciuman semakin turun. Leher dan tulang selangka yang tadinya mulus sudah tidak terlihat. Tubuh Evelyn menggeliat di bawah kendali Sean. Tangan Evelyn me re mas rambut Sean. Sesekali menjambaknya dengan keju saat tangan Sean menyentuh pusat kenikmatannya.


“Sean...” Evelyn mengerang saat cairan hangat keluar dari pusat intinya. Jari-jari Sean berhasil membuatnya melayang.


Malam ini tidak seperti malam panas mereka sebelumnya. Malam ini merek telah sah menjadi pasangan suami istri. Jadi mereka melakukan semuanya dengan suka cita. Mereka bergantian saling memberi kepuasan. Beberapa kali berganti posisi. Evelyn juga membantu Sean mencabut lobak hingga tangan nya terasa pegal.


“Jangan memakan pil lagi sayang.” Ucap Sean saat ia merebahkan dirinya di samping Evelyn. Evelyn yang ada di sampingnya meliriknya sekilas.


“Bryan dan Berlian baru saja mendapatkan keluarga yang utuh Sean. Kita harus menghabiskan banyak waktu untuk mereka dulu sebelum memberi mereka adik.” Tolak Evelyn. Ia menarik tubuhnya. Menutupi dirinya dengan selimut dan mengambil pil yang dia siapkan dalam laci dan segera memakannya.


Meskipun ia juga sama dengan Sean yang juga menginginkan anak lagi, tapi setelah ia pikirkan berhari-hari antara menunda atau tidak menunda kehamilan, ia pun memutuskan untuk tetap memakan pil KB nya.


“Sepertinya yang kamu katakan benar juga. Sebaiknya kita tunggu beberapa bulan lagi baru membuatkan Bryan dan Berlian adik.” Sean menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


“Di kehamilanmu Sebelumnya maafkan aku karena tidak menemanimu, sayang. Tapi aku berjanji jika kamu hamil lagi, aku akan menjadi suami yang paling bertanggung jawab.” Sean menarik Evelyn yang baru saja menelan obatnya. Memeluknya erat.


“Em. Itu juga bukan sepenuhnya salahmu Sean. Apalagi karena masalah itulah aku menemukan keluarga ku saat ini.”


“Memang benar. Mami dan papi sangat baik. Kamu beruntung bertemu dengan mereka. Aku harus lebih banyak berterima kasih pada mereka di masa depan karena telah merawat kalian dengan sangat baik.” Ucap Sean tulus.


“Ya. Mereka bahkan lebih baik dari pada keluarga ku yang sebenarnya.”


“Ngomong-ngomong masalah keluarga Winata, apa rencanamu selanjutnya?” tanya Sean penasaran.


“Tidak ada. Hanya cukup dengan memperhatikan mereka. Lagipula kekuatan mereka sudah aku ambil.” Jawab Evelyn.


“Tapi kamu masih harus berhati-hati. Orang yang terdesak cenderung nekat.”


“Kamu benar. Vina sudah kamu buat sampai seperti itu. Ani pasti akan menghitung dendam ini. Apalagi aku juga pengambil perusahaan dari mereka dan menurunkan jabatan papa. Sebagai wanita yang sangat gila kekuasaan pasti dia sedang mengutuk kita saat ini.” Evelyn menganggukkan kepalanya setuju. “Apa kamu lihat wajahnya malam ini? Aku rasa jika pandangan mata bisa membunuh, kita berdua sudah terbunuh beberapa kali olehnya.” Evelyn terkekeh.


“Orang seperti itu memang sulit menjadi pandai. Padahal kamu sudah berbaik hati sampai seperti ini, tapi masih saja keras kepala.”


“Sudahlah. Tidak ada gunanya memikirkan orang seperti itu. Jika dia bertindak macam-macam, aku masih memiliki kartu yang akan membuatnya mengingat jika ia tidak bisa melawanku.” Ucap Evelyn yakin. Lagipula ia masih memiliki kartu truf Ani yang bisa ia keluarkan kapanpun.


Sedangkan di tempat lain, wanita yang sedang dibicarakan Sean dan Evelyn baru saja menerima telepon dari seseorang yang tidak ia kenal.


Ani saat ini dalam kondisi yang putus asa dan dalam keinginan yang besar untuk membalas dendam. Tapi dengan kekuatan yang dimilikinya saat ini, tidak mungkin ia bisa membalaskan dendamnya pada Evelyn dan Sean. Dan tiba-tiba saja ada orang yang menawarkan bantuan untuk membalaskan dendamnya. Tentu saja ia dengan senang hati menerimanya.


“Tunggu saja Sandra, Sean, aku akan membalas perbuatan kalian padaku.” Gumamnya sambil menyeringai. Ia menepuk tangannya memberi kekuatan pada dirinya sendiri. Di depannya, putrinya duduk di atas ranjang dengan tatapan kosong.


“Dendam ini akan segera ia bayar.”


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir 🤩


__ADS_2