
Bryan membawa Berlian ke sebuah kafe sebelum mereka kembali. Bryan berkata bahwa ia lapar dan ingin makan. Tetapi sampai di kafe, Bryan tidak memesan makanan sama sekali, ia hanya memesan kopi. Berlian tidak lapar, dia hanya memesan segelas jus.
Mata Bryan beberapa kali menatap ke arah pintu. Ia juga sesekali melihat jam tangan di tangannya. Berlian dengan jelas memastikan jika Bryan sedang menunggu seseorang. Tapi Berlian memilih untuk diam dan tidak bertanya lebih jauh. Bagaimanapun, Bryan memiliki masalah pribadinya sendiri.
Tak berapa lama, orang yang ditunggu Bryan datang. Ia adalah seorang wanita muda yang cantik. Penampilannya tomboy dan energik. Sebuah ransel tersampir di belakang punggungnya. Bryan mengenalinya dengan sekali pandang. Ia meminta izin pada Berlian untuk meninggalkannya sebentar dan menemui temannya.
Bryan dan wanita itu duduk di pojok ruangan. Wanita itu adalah sebuah pande besi yang bisa membentuk berbagai senjata dari besi sesuai pesanan. Bryan ingin memesan dari wanita ini. Meskipun dia adalah seorang wanita, pekerjaannya halus dan rapi. Tentu saja kualitasnya tidak perlu diragukan lagi. Bryan mengenal wanita ini dari salah satu temannya yang sudah sering memesan darinya.
Bryan ingin membuat sebuah pisau dengan desainnya sendiri. Jadi dia mengambil sebuah desain dari dalam sakunya. Membukanya dan menjelaskan beberapa bagian yang penting. Wanita itu memperhatikan gambar dengan teliti dan berpikir.
"Ini....saya belum pernah melihat yang seperti ini. Sepertinya agak sulit dibuat." Wanita itu memandang desain yang dibawa Bryan. Jelas dia tertarik, tetapi ia ragu apakah ia bisa membuatnya sesuai dengan gambar.
"Masalah harga tidak perlu khawatir." Bryan meyakinkan.
"Ini bukan masalah uang. Hanya saja saya tidak yakin bisa mengerjakannya dengan sempurna." Ucap wanita itu jujur.
"Saya yakin anda pasti mampu." Bryan menatap wanita itu dengan percaya.
"Ini..baiklah. Saya akan mencoba yang terbaik." Wanita itu melipat kertas dengan hati-hati. Memasukkannya ke dalam tas di bagian tahan air.
"Terima kasih. Kalau ada apa-apa kapanpun anda bisa menghubungi saya."
"Oke. Kalau begitu saya pamit." Wanita itu menyesap kopinya sebelum ia berdiri dan pergi dari kafe.
Bryan segera kembali duduk di depan Berlian yang menunggunya dengan sabar. Berlian melirik nya sekilas. Ia tidak memiliki niat untuk bertanya pada Bryan. Tetapi Bryan menjelaskan padanya tanpa dia minta.
"Ayo pulang. Aku lelah." Berlian memilih tidak ingin ikut campur. Bryan tersenyum dan mengikuti Berlian yang sudah berjalan lebih dulu.
Setelah makan malam, Berlian yang sedang duduk di teras dikejutkan oleh sebuah pisau yang terbang dari arah Belakangnya dan mengenai burung hantu yang bertengger di atas pohon. Tanpa berpikir Berlian sudah tahu jika itu adalah Bryan. Ia menoleh dan menatap kesal kembarannya itu.
"Bagaimana? Hebat kan?" Bryan mengangkat tangannya dan menunjukkan beberapa pisau kecil di sela-sela jarinya dengan bangga.
__ADS_1
"Tidak buruk. Bagaimana kalau besok pergilah ke hutan dan tangkap beberapa kelinci liar atau ayam hutan." Berlian berdiri dan melipat kedua tangannya. Menyindir Bryan.
"Bukan ide buruk. Aku akan mengajak Kak Johan ke peternakan besok untuk berburu." Bryan menganggukkan kepalanya.
"Apa mommy tahu mainan barumu?"
"Kenapa?"
"Kalau mommy tahu, aku yakin dia tidak akan marah plagiat padamu. Justru dia akan senang." Ucap Berlian meyakinkan.
"Benarkah?" Tanya Bryan bersemangat. Mommy mereka selalu saja memarahi nya saat ia bermain dengan pistol-pistol kesayangannya. Kadang mommy nya akan memperlakukan pistol-pistol itu sebagai alat untuk mengancamnya.
"Tentu saja. Kalau tidak percaya tunjukkan pada mommy kemampuanmu." Berlian tersenyum licik. Sayangnya Bryan tidak memperhatikan senyum itu. Dia sudah terlalu bersemangat dan gagal menyadarinya.
Tanpa membuang waktu, Bryan meninggalkan Berlian untuk mencari Evelyn untuk menunjukkan betapa mampunya ia menguasai permainan barunya.
Berlian yang melihat betapa bersemangat nya Bryan tersenyum geli saat ia maju dan bersandar pada pembatas teras. Melihat bangkai burung hantu yang tergeletak di bawah pohon saat ia tidak sengaja melihat Terry berada di depan paviliun tempat para bodyguard tinggal.
"Kak Terry!" Teriak Berlian keras membuat Terry menoleh ke arahnya. Bukan hanya Terry, Johan yang saat itu hendak keluar bersama Terry untuk melihat situasi pabrik tidak jadi keluar dan memilih bersembunyi.
"Tetap di sana!" Teriak Berlian lagi sebelum ia bergegas turun. Terry menoleh ke belakang dan melihat Johan mundur dan bersembunyi di balik pintu. Ia baru kembali dan tidak mengetahui apa yang terjadi antara Johan dan Berlian sebelumnya. Meskipun semua orang selain kedua orang itu juga tidak tahu. Tapi Terry adalah pemerhati yang baik. Ia akan menyadari jika ada yang terjadi.
Tak lama kemudian Berlian sudah berdiri di depan Terry sambil terengah-engah.
"Ada apa nona?" Terry bertanya dengan rasa bersalah.
"Bagaimana keadaan kak Terry?"
"Saya baik non. Terima kasih atas perhatiannya. Nona sering mengirimkan saya barang-baran." Berlian memang sering mengirim Terry makanan dan beberapa barang kebutuhan yang sederhana melalui Johan.
"Tidak masalah. Aku seharusnya berterima kasih untuk hari itu." Ucap Berlian tulus.
__ADS_1
"Itu sudah menjadi tugas saat untuk melindungi nona." Terry tersipu. Sulit menemukan majikan seperti Berlian dan keluarganya yang mau menghargai kerja keras bawahan mereka. Terry selalu bersyukur mengenal Johan karena itu.
"Tapi tidak harus mengabaikan keselamatan diri sendiri. Lain kali harus lebih berhati-hati lagi." Terry mengangguk.
"Ini sudah malam. Nona kenapa belum tidur?" Terry dan Johan masih memiliki pekerjaan penting malam ini. Jika Berlian masih ada di sini, mereka tentu saja tidak bisa pergi. Jadi ini adalah bentuk pengusiran secara halus.
"Yah, aku akan tidur. Selamat malam." Berlian melambaikan tangan sebelum ia berbalik pergi. Sebelumnya, ia menghampiri bangkai burung hantu dengan pisau kecil yang tertancap tepat di dadanya.
"Kak Terry..." Berlian berhenti saat ia tidak sengaja melihat bayangan Johan yang masih bersembunyi. Dia sebelumnya berdiri tidak jauh dari sana. Dan dapat mencium parfum yang selalu digunakan oleh Johan. Sebelumnya ia berpikir itu pasti karena Johan berada di dalam paviliun atau baru saja lewat. Tapi staf melihat bayangan itu, ia mengetahui jika Johan menghindarinya.
Berlian tertegun sesaat ketika menyadari kesimpulan yang diambil pada akhirnya.
"Ada apa nona?" Terry tanpa sadar melirik ke arah Johan dan melihat bahwa bayangan Johan terlihat di sana. Dia pun segera maju. Ia merasa suasana semakin canggung.
"Tidak apa-apa. Hanya ada seekor burung hantu yang mati. Tolong kuburkan." Berlian menunjuk buang hantu di atas tanah dan Terry segera menghampirinya. Ia melihat ada yang aneh dengan kematian burung itu dan menemukan bahwa ada pisau di dadanya.
Burung hantu itu segera diambil oleh Terry. "Ini..." Terry tidak berani membuat kemungkinan.
"Itu tadi Bryan." Jawab Berlian singkat sebelum uas berbaik dan berjalan dengan cepat meninggalkan tempat itu.
Terry merasa Apa sri ada sesuatu yang terjadi selama ia berada di padepokan. Sebelumnya, ia melihat hubungan Berlian dan Johan baik-baik saja. Kenapa sekarang berkembang menjadi seperti ini?
Menurut Terry, Johan dan Berlian adalah pasangan yang sempurna. Ia akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
*
*
Terima kasih sudah mampir ~*(^,^)*~
Jangan lupa like, komen dan Vote ya....
__ADS_1
Mohon maaf jika ada kalimat yang berantakan. Tombolnya pake kamus, jadi kadang nulisnya apa, jadinya apa...