
Sean menatap tajam seorang wanita yang duduk di lantai. Keadaan Ani yang biasanya rapi dan tampil anggun kali ini sangat berantakan. Wajah tuanya yang biasanya terlihat lebih muda karena tebalnya bedak yang dikenakannya. Rambutnya yang biasanya rapi kini awut-awutan seperti orang sakit jiwa.
Dan Ani, balas menatap Sean tanpa takut sama sekali meskipun ia tahu bahwa Sean adalah orang yang berbahaya. Terlebih lagi, pria asing yang ia kenali sebagai kakak angkat Sandra. Pria asing yang biasa ia lihat adalah berwajah ramah. Tetapi saat pria itu menangkapnya tadi, wajahnya begitu galak. Tanpa perasaan dan juga mengerikan. Orang-orang yang dibawanya juga terlihat tidak jauh berbeda darinya, bahkan masing-masing dari mereka membawa senjata api yang membuatnya bergidik.
Tapi saat mengingat penderitaan yang dialami sang putri, Ani merasa harus menjadi seorang ibu yang akan melakukan apapun demi anaknya. Dan anaknya barunsaja dihancurkan oleh orang-orang mengerikan di depannya ini. Jadi apapun konsekuensinya, ia akan membalaskan dendam sang anak.
"Kenapa hanya diam?" Ani menatap tajam Sean.
"Kalian sudah mengurungku disini selama tiga jam. Apa lagi yang kalian tunggu?" Lanjutnya menatap Sean dan Justin bergantian.
"Siapa yang menyuruhmu?" Sean bertanya dengan dingin.
"Tidak ada. Aku hanya membalaskan dendam Vina. Sekarang aku puas. Hahahaha." Ani tertawa terbahak-bahak.
"Kalian sudah menghancurkan putriku."
"Putrimu sendiri yang memintanya. Aku hanya mengabulkannya."
"Apa kurangnya putriku dengan jal@ng itu hah? Dia bahkan kehilangan keperawanannya sebelum menikah. Putriku ini sangat baik."
"Di matamu, putrimu itu memang sempurna. Kau memang ibunya. Tapi orang yang bisa melihat pasti tahu apa kurangnya putri kebanggaanmu dari istriku."
"Sungguh tidak punya mata!"
"Ngomong-ngomong mengenai tidak punya mata, sebaiknya nyonya lihat dulu pada diri nyonya. Balas dendam tidak akan menyelesaikan apapun." Justin memandang wanita tua yang menyedihkan.
"Orang asing sepertimu tidak akan mengerti." Ani melengos. Kenapa memangnya jika ia balas dendam untuk anaknya? Setidaknya orang yang telah mencelakai putrinya akan merasakan penderitaan seperti yang dialami oleh putrinya. Itu baru namanya impas.
"Kurang baik apa Evelyn pada kalian? Berapa banyak penderitaan yang dierimanya karena kalian? Jika ia tidak memintaku untuk memberi belas kasihan pada kalian, kalian sudah akan lenyap sejak awal. Tapi Evelyn memilih untuk memaafkan kalian. Membiarkan kalian hidup dengan normal."
"Kehidupan normal apa? Wanita jal@ng itu mengambil semuanya dari kami. Perusahaan kami. Kehormatan kami."
__ADS_1
"Perusahaan mana yang nyonya maksud? Perusahaan itu sejak awal bukanlah milik kalian. Itu adalah warisan dari ibu Evelyn. Jadi tentu saja itu milik Evelyn. Apa hak kalian mengambilnya?"
"Maria sudah memberikan perusahaan itu pada Tomy. Dan semua milik Tomy adalah milikku juga."
"Wah-wah. Benar-benar tidak tahu malu. Sudahlah, tidak perlu lagi bicara. Orang seperti nyonya tidak akan pernah mengerti." Sean menoleh pada Justin agar pria itu saja yang berbicara. Berbicara pada wanita yanh memiliki sifat seperti Ani ini membuatnya muak.
"Sekarang bekerja samalah dengan kami. Beritahu kami siapa yang membantumu?" Justin menatap Ani dengan horor. Karena tidak bisa diajak bicara baik-baik, Justin pun menarik pisau lipat dari saku celananya dan membukanya di depan mata Ani.
"Tidak ada."
"Nyonya pintarlah sedikit. Boleh saja jika nyonya tidak memikirkan nasib anda. Tapi apa nyonya pernah berpikir jika orang yang membantu nyonya adalah orang licik yang akan menggigit setelah ditolong?" Kata Justin sambil memotong kukunya dengan pisau miliknya.
"Jangan membohongiku."
"Untuk apa aku berbohong. Coba pikir baik-baik, orang itu bisa saja langsung menyerang tanpa bantuanmu. Lalu kenapa dia malah menyuruhmu? Bukankah ini karena ia tahu kalau dia memang tidak ingin berurusan dengan kami secara langsung? Sekarang apa orang itu datang untuk membantumu?"
"Ini.."
"Aku tidak percaya."
"Oke kalau tidak percaya. Nyonya memilih cara sendiri untuk berbicara." Selesai berkata, Justin bergerak maju dengan mengetuk-ngetukkan pisau dengan telapak tangannya sehingga menghasilkan suara yang menakutkan.
"Jangan mendekat! Apa yang kamu lakukan?" Ani panik. Ia yang duduk di lantai menggeser tubuhnya mundur hingga menabrak dinding. Setelah ia sadar tidak bisa mundur lagi, matanya berkeliaran mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk melindungi dirinya.
"Bertanya padamu." Jawab Justin santai.
"Kamu gila! Ini negara hukum. Tidak peduli siapa kamu kamu akan dipenjara jika melakukan pembunuhan!" Teriak Ani semakin panik karena tidak ada benada apapun yang bisa ia gunakan untuk melawan. Dan Justin sudah semakin dekat dengannya.
"Lalu apa? Aku sudah terbiasa membunuh di negara hukum yang bahkan lebih ketat dari di sini. Tapi sampai sekarang aku masih bisa membunuh dengan bebas. Apalagi jika mayatmu tidak ditemukan. Bahkan mungkin saja kamu akan jadi orang hilang yang tidak akan pernah ketemu karena mayatmu sudah habis dimakan binatang buas yang kupelihara."
"Kamu gila! Gila!"
__ADS_1
"Oh ya. Nyonya mau pilih dimakan anj1ng? Harimau? Singa? Buaya? Serigala? Atau beruang? Kami memiliki binatang lengkap di kebun kami. Aa... aku tahu, nyonya pasti menyukai ular kan? Mereka itu sama seperti nyonya. Licik dan berbahaya. Kami juga punya ular pemakan manusia yang bermacam-macam. Nyonya bisa pilih ular mana yang akan menjadi tuan rumah bagi mayat nyonya nanti." Justin meraih dagu Ani. Lalu meletakkan pisaunya di leher wanita itu hingga membuat Ani berkeringat dingin melihat pisau yang menempel di kulit lehernya.
"Taku? Tidak apa. Jika kamu mau bekerja sama dengan memberitahuku siapa yang membantumu, kamu hanya akan berurusan dengan negara hukum yang kamu bicarakan."
"Aku akan katakan. Aku akan katakan." Ucap Ani putus asa. Ia merasakan nyeri di lehernya. Ia juga merasakan darah yang mengalir dari lehernya. Justin ini benar-benar pria gila. Laki-laki ini tidak main-main.
"Bagus!" Justin segera melepaskan tangannya dari dagu Ani dan membersihkan darah segar di pisau yang baru saja menggores tipis kulit leher Ani.
Ani segera memegang lehernya dengan napas yang tidak beraturan setelah Justin menjauhkan pisau itu dari lehernya.
"Sekarang katakan!"
**
Setelah memberitahu siapa yang telah membantunya, Ani langsung dibawa ke kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Sean dan Justin juga akan memastikan tidak akan ada lagi yang menolongnya kali ini. Dan sekarang, biarkan saja hukuman itu diberikan oleh pihak kepolisian menurut ketentuan yang berlaku.
Ani dituntut hukuman dengan tuduhan telah melakukan percobaan pembunuhan. Ditambah lagi dia juga membahayakan pengguna jalan lain saat melakukan aksinya. Yah. Setidaknya lima belas atau dua puluh tahun penjara itu sepertinya cukup untuk memghukum orang tua itu.
Sebagai seorang ibu, hukuman yang paling nerat adalah bahwa ia akan berpisah dengan putrinya. Apalagi putrinya saat ini sesang dalam kondisi yang sangat buruk dan butuh perhatiannya. Jika dirinya ada di penjara, siapa yang akan merawat putrinya nanti.
Ani luruh saat dia menyadari tentang hal itu. Tapi semua penyesalannya tidak ada gunanya. Memang seharusnya ia tidak balas dendam. Seharusnya ia puas dengan apa yang dimilikinya. Tapi semua akan sempurna jika saja Evelyn tidak muncul dan menghancurkan semuanya. Ini semua gara-gara Evelyn!
"Aku tidak menyesal telah menabrak Sandra! Tapi aku menyesal kenapa dia tidak mati! Aku adalah seorang ibu! Aku berdoa agar Sandra tidak akan bahagia! Dia akan menderita!" Teriak Ani dengan keras. Sean yang hendak pergi meninggalkan wanita itu sgera berbalim dan menampar pipi Ani dengan keras hingga membuat darah mengalir dari sudut bibirnya. Wajahnya juga bengkak.
"Jaga ucapan anda Nyonya! Apa anda tidak pernah mendengar peribahasa bijak yang mengatakan Mulutmu Harimaumu? Kalau belum, aku akan memberi tahu anda bagaimana mulut anda bisa mencelakai anda. Ingat itu!" Sean pergi dengan marah. Justin ada di belakangnya. Mengabaikan Ani yang memegang pipinya yang terasa sakit. Panas dan nyeri. Sean memukulnya dengan keras. Tangan suami Evelyn itu besar dan juga kekar. Memukul pipinya dengan penuh tenaga. Sepertinya bengkak itu akan bertahan selama beberapa hari ke depan.
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir π