Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
Bab_66. Menyerah?


__ADS_3

Aku ingin cepat pulang. Masakan di sini benar-benar tidak sesuai dengan harapan." Ucap Bryan pada Berlian. Mereka baru saja menghabiskan sarapan yang diberikan oleh penjaga.


"Bilang tidak sesuai tetapi yang aku lihat kamu tadi memakannya dengan sangat rakus." Cibir Berlian.


"Itu karena aku sangat kelaparan. Salah mereka yang menculik kita sebelum kita sempat makan. Jadi aku sangat lapar ketika aku bangun pagi ini."


"Terserah katamu saja. Lebih baik kita bicarakan langkah kita selanjutnya." Berlian sudah memikirkan masalah ini malam tadi. Sebenarnya saat ia mengatakan ia ingin tidur, Berlain ingin Bryan segera menutup mulutnya dan tidak mengganggunya unuk berpikir. Jadi setelah ia melihat jika Bryan sudah tertidur dengan nyenyak, Berlian kembali bangun dan berdiri di depan jendela. Tempat yang sama di mana Bryan berdiri sebelumnya. Tempat itu memang paling cocok untuk mengawasi situasi di luar ruangan.


Dari tempatnya berada, ruangan tempat menyekap mereka ada di lantai dua sebuah bangunan mewah. Namun sepertinya bangunan ini tidak bisa disebut rumah maupun Vila. Bangunan ini terkesan dingin.


Di seberang jendela adalah koridor dengan banyak oenjaga yang berlalu lalang. Meskipun mereka bisa keluar dari ruangan, kecil kemungkinan bagi mereka untuk bisa kabur dan menghindari penjaga yang jumlahnya sangat banyak. Tapi siapa Berlian? Tidak ada yang tidak bisa dipikirkan oleh gadis kecil itu.


Berlian mengulurkan tangannya dan mengeluarkan robot pelacak berbentuk lebah dari dalam jam tangan yang dipakainya. Apapun yang dilihat oleh lebah itu ia juga bisa melihatnya dari layar kecil yang keluar dari jam tangan yang sama.


Setelah berputar-putar cukup lama, robot lebah itu kembali. Berlian seperti sudah berkeliling ke seluruh tempat di bangunan ini. Bahkan, Berlian tahu dimana tempat-tempat penting di sana.


Setelah penelusuran selesai, Berlian mulai merencanakan rute pelariannya nantinya. Menemukan tempat bersembunyi untuk menghindar. Baru setelah semua rencananya dirasa matang, ia membaringkan kembali tubuh kecilnya di samping Bryan yang sudah terlebih dulu terlelap.


Sementara itu, Sean dan Soni sudah bergerak. Justin juga sudah bergabung bersama mereka. Tetapi Maxim tidan ikut dalam misi penyelamatan tersebut. Ia kembali ke rumah sakit dan menemani Evelyn di sana.


Untuk masuk ke dalam pulau milik Rubah Merah tidak bisa dilalui dengan jalan udara, mereka akan langsung menembak apapun yang terbang mendekati pulau. Bahkan seekor burung kecilpun tidak lolos dari mereka.


Jadi Sean dan yang lainnya menggunakan perahu kecil di sisi pulau yang tidak dijaga. Satu persatu perahu merapat di pantai hingga tiga puluh orang berkumpul di sisi karang. Mereka dalam keadaan siap menyerang.


Sean memegang pistol di tangannya. Begitu juga dengan yang lainnya. Kali ini, Sean baru pertama kali melihat wajah konyol yang sering ditunjukkan Justin di vila menjadi terlihat sangat serius.


Pria muda ini memegang pistol besar di tangannya. Belum lagi pistol lain yanh disembunyikan di balik celananya. Matanya dengan cermat mengawasi sekeliling. Memberi kode denagn gerakan tangan dan mata pada anak buahnya.

__ADS_1


Sean dan Soni tidak mengerti. Tetapi puluhan orang itu bergerak sesuai dengan yang diperintahkan Justin melalui kode. Semua orang sudah di sebar. Menyisakan Sean, Sonu dan Justin di titik awal pendaratan mereka.


"Mereka sudah bergerak. Bagaimana dengan kita?" Sean bertanya dengan ragu. Ia mulai merasa jika keberadaanya di sini tidak lebih hanya sebuah formalitas saja.


"Mereka hanyalah pengalih perhatian. Sedangkan kitalah yang bertugas masuk dan menyelamatkan keponakanku." Jawab Justin malas. Ia merasa jika ia sendiri yang bertindak saja sudah bisa menyelesaikan tugas ini. Tapi entah kenapa Maxim papinya malah menyuruhnya untuk mengajak dua orang pria tidak berguna ini.


"Sebentar tuan Justin, apa maksud anda dengan kita lah yang masuk?" Soni bertanya karena ia sama sekali tidak mengerti rencana dari pria yang ia ketahui sebagai pimpinan dari Big Lion saat ini.


"Kamu ini bodoh atau apa? Anak-anak ada di dalam. Menunggu kita untuk membebaskan mereka. Jadi jika nanti ada kesempatan, kita harus segera masuk. Kita cari keberadaan mereka berdua. Siapapun yang menemukanya terlebih dahulu harus memberitahuku agar aku bertindak." Jelas Justin panjang lebar. Sebenarnya ia malas untuk menjelasan sesuatu, tetapi setelah berpikir jika kedua orang itu tidak dijelaskan bagaimana jika mereka berdua bertindak tidak sesuai rencana  dan mengacaukan segalanya Justin pun berbaik hati menjelaskan  rencana detailnya.


Anak buah Justin yang maju lebih dulu sudah berhasil melumpuhkan beberapa orang yang sedang berjaga. Justin, Sean dan Soni segera merangsek maju. Masuk ke dalam bangunan. Anak buah Justin di depan mereka membersihkan jalan.


Namun baru saja mereka memeriksa kamar dan masih belum menemukan keberadaan anak-anak yang mereka cari, sekelompok orang datang menghalangi mereka.


Satu orang yang berpenampilan paling rapi berdiri di depan kelompok itu dengan mencemooh. "Oh rupanya kita kedatangan tamu." Pria itu menatap Justin dengan sengit.


"Kamu sudah datang ke tempatku. Jarang-jarang aku kedatangan bos besar seperti dirimu. Bagaimana aku bisa membiatkanmu pergi tanpa menjamumu dengan baik?" Mendengar perkataan pemimpin mereka, orang-orang di belakang pria itu segera berubah. Mereka menghunus senjata dan bersiap untuk menyerang. Begitu juga anak buah Justin yang kini juga bersiap dengan senjata masing-masing.


Tak menunggu waktu lama, suara tembakan terdengar tanpa henti. Beberapa teriakan kesakitan seseorang yang terkena timah panas. Korban mulai berjatuhan dari kedua belah pihak. Namun, pihak Justin berada di pihak yang tidak beruntung. Anak buahnya kalah jumlah. Pun tidak adanya cukup tempat bersembunyi membuat banyak anak buahnya yang terjatuh dengan luka tembakan di beberapa bagian tubuhnya.


"Mereka akan kalah." Suara kecil itu terdengar dari salahsatu tempat yang tidak jah dari tempat berlangsungnya baku tembak.


"Ini pertarungan yang tidak seimbang. Aku harus mengimbangjannya segera." Bryan mengeluarkan pisrol mininya yang lepas dari pengecekan anak buah  Felix.


Dengan pistol di tangannya, Bryan mulai membidik sasaran. Beberapa orang yang menjadi Bryan jatuh satu persatu.


Felix yang menyadari jika adanya penembak lain yang berada di pihak lawan mengedarkan pandangan matanya. Namun ia tidak bisa menemukan titik dimana Peluru yang menumbangkan anak buahnya dari arah samping.

__ADS_1


"Pasti anak-anak nakal itu. Andai saja mereka tidak kabur tadi, hal ini tidak akan terjadi." Ucap Felix dengan kesal. Awalnya ia yakin jika pihaknya akan menang. Namun siapa sangka di tengah pertempuran pihak musuh mendapatkan bantuan.


Akhirnya, dengan bantuan dari Bryan, pertempuran itu menjadi imbang. Bahkan bisa dibilang bahwa Justin tengah memenangkan pertemlurab kali ini.


Merasa pihaknya berada di pihak yang kalah, Felix berdiri mengancam. Ia berteriak dengan keras. menghentikan baku tembak yang masih terjadi.


"Aku telah memasang Bom di seluruh penjuru pulau ini. Jika kalian berani menyerang lagi, aku tidak akan segan-segan menekan tombol ini. Lalu, BUM! Pulau ini akan hancur beserta dengan isinya." Felix tertawa bahagia. Menatap Jusrin dan yang lainnya dengan tatapan mengancam.


"Menyerahlah kalian. letakkan senjata kalian di tanah. kemudian letakkan tangan kalian di belakanh kepala.' Ancam Felix sambil tertawa menakutkan.


Semua orang saling memandang. Mencoba mencari keputusan yang terbaik. Apakah mereka memang harus menyerah?


*


*


*


Terima kasih sudah mampir


*


*


*


Terima kasih sudah mampir

__ADS_1


__ADS_2