Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
S2_24. Berlian Diserang


__ADS_3

Berlian memikirkan apa yang sudah disiapkan oleh Vivi untuknya. Tidak sulit untuk menebaknya jika Vivi yang ada di belakang semua ini. Dia belum tinggal di sekolah lama, dan dia juga tidak banyak berinteraksi dengan siswa lainnya. Jadi kemungkinan yang bisa menciptakan perselisihan dengannya. Satu-satunya yang membuat masalah padanya secara terang-terangan sampai saat ini adalah Vivi. Jadi sampai saat ini, Berlian hanya bisa mencurigai Vivi.


Suasana sepanjang lorong menuju kamar mandi sangat sepi. Tidak ada orang lain selain dirinya. Apalagi penginapan berada jauh dari pemukiman. Sebenarnya, keadaan tidak bisa dikatakan sepi. Banyak suara binatang malam yang mengisi keheningan malam.


Berlian memindai keadaan. Semakin dekat dengan kamar mandi, ia semakin memperhitungkan langkahnya. Setiap langkahnya ia ambil dengan hati-hati. Memeriksa apakah ada sesuatu yang mencurigakan.


Namun sepertinya di luar kamar mandi aman. Jadi Berlian menyimpulkan kesalahan pasti ada di dalam.


Setelah mengambil napas panjang, Berlian memutar knop pintu dengan perlahan. Matanya yang tajam langsung memperhatikan keadaan di dalam. Dalam sekali pandang, Berlian melihat semua.


Melihat Berlian masuk, cat merah langsung ditumpahkan. Tetapi Berlian dengan sigap memutar kakinya dan mengelak. Vivi menggertakkan giginya. Gerakan Berlian cepat. Dia tidak menyangka Berlian mampu bergerak dengan begitu cepat.


Vivi belum menyerah. Ia meminta Dea menyiramkan cat birunya. Kali ini Berlian tidak mengelak dia menghindar, tetapi menangkap tangan Dea dan memutarnya. Memaksanya untuk mengarahkan cat dan menumpahkannya tepat pada Vivi. Yang sibuk memegang ponsel di tangannya.


"Aargh!!!" Vivi berteriak. Ia segera memaki Dea yang telah menyiramnya.


"Kenapa kamu diam saja? Tunggu apa lagi? Beri dia tepungnya!" Vivi meneriaki Kesya.


Berlian melirik Kesya dan dengan kakinya, ia menendang kotak tempat tepung itu disimpan. Tepung itu tumpah mengenai Vivi.


Sekali lagi, Vivi berteriak marah. Bagaimana jebakan yang dipersiapkan untuk Berlian malah menimpa dirinya. Saat ini, Dibandingkan Berlian yang bersih tanpa noda berbanding terbalik dengan Vivi yang penuh dengan cat dan tepung.


"Serang dia! Tekan dia di lantai dan beri dia catnya!" Vivi menggeram marah.

__ADS_1


Dea, Lita, Candra dan Kesya merangsang maju menyerang Berlian. Mereka membuka tangan mereka. Kuku tajam mereka, mereka gunakan untuk menjadi senjata. Semuanya sudah sampai di sini, jadi mereka tidak bisa mundur.


Apalagi semua orang tahu bahwa masa muda adalah masa yang masih labil. Akan dimaklumi jika seorang remaja membuat ulah dan salah paham. Bertengkar karena hal kecil juga masih bisa ditolerir. Jadi, mereka tanpa ragu menyerang Berlian. Lagipula, jumlah mereka lebih banyak. Dan tidak ada saksi dari pihak Berlian jika Berlian akan menuntut. Yang paling utama, dengan status keluarga Vivi, tidak akan ada yang berani menyalahkan mereka dalam hal ini.


"Hancurkan wajahnya!" Teriak Vivi setelah ia selesai membersihkan wajahnya ala kadarnya. Jarinya menunjuk tajam Berlian yang dikepung teman-temannya.


Dea maju terlebih dahulu. Ia mengarahkan dua tangannya pada Berlian. Gerakannya seperti kucing yang mencakar tak beraturan. Berlian dengan sigap mengelak dengan tangannya. Kesya datang membantu. Ia akan meraih rambut Berlian. Namun belum sampai tangannya meraih ujung rambut Berlian, tubuh Dea menabraknya. Ternyata, Berlian menangkap kedua tangan Dea dan melemparkannya untuk menahan Kesya yang menyerang di belakang.  Dea dan Kesya jatuh. Mereka meringis kesakitan.


"Tidak berguna! Lita, Candra! Tunggu apa lagi?  Serang!"


Berlian melirik Candra dan Lita yang ragu-ragu untuk menyerang. Melihat dua temannya jatuh kesakitan di lantai membuat mereka merasa takut. Namun saat mata mereka bertemu dengan mata mengancam milik Vivi, mereka hanya bisa maju untuk menyerang.


Kali ini, Lita dan Candra tidak berusaha melukai Berlian. Mereka hanya berusaha untuk menjatuhkan Berlian dimana cat yang berantakan di lantai bercampur tepung. Keduanya bekerja sama untuk mendorong Berlian.


Candra dengan marah menyerang Berlian setelah melihat wajah Dea penuh cat. Ia mengangkat tangannya untuk memukul kepala Berlian. Tetapi Berlian menahannya dengan tangannya. Kemudian, Candra mengangkat kakinya untuk menendang Berlian. Tetapi,  Berlian malah menangkap kalinya dengan santai dan menghempaskannya ke lantai sehingga ia menabrak tubuh Dea yang sudah jatuh sebelumnya.


Vivi menatap tidak percaya pada hasilnya. Mereka beriman dikalahkan oleh satu orang gadis yang terlihat tidak berdaya.


Berlian melihat mereka sambil menepuk tangannya yang seperti telah kotoran yang disebabkan karena ia telah berurusan dengan mereka.


"Aku sungguh tidak mengerti ada masalah apa antara Aku dan kalian." Berlian memindai Vivi dan teman-temannya.


Sudah aku peringatkan sebelumnya untuk mengurus urusan kalian sendiri. Sejujurnya, aku tidak tahu bagian mana yang membuat marah kalian dari sisiku."

__ADS_1


"Kamu pura-pura polos! Kamu menggunakan wajah polos untuk membangun citra dirimu yang menarik dan misterius." Jawab  Vivi marah.


"Akan jadi apa aku, itu urusanku. Tidak ada hubungannya dengan kalian. Sebenarnya prinsip hidupku sederhana : aku tidak akan bertindak jika aku tidak diganggu terlebih dahulu. Jadi aku peringatkan untuk yang terlahir kalinya, jangan ganggu aku." Berlian berbalik hendak pergi, tetapi ia mendengar Vivi menghentikannya.


"Aku punya rekaman semuanya. Jika keluargaku tahu apa yang aku alami hari ini, jangan salahkan aku jika keluargamu akan menderita kesulitan." Ancam Vivi dengan sombong. Kedua tangannya ia di dadanya.


"Aku lihat kamu sangat menyombongkan status keluargamu di sini." Berlian mencibir. Memandang Vivi yang penuh amarah.


"Sebaiknya kamu tidak mendekati kak Raka atau caper pada orang lain." Keempat temannya mengangguk setuju.


"Aku tidak menyangka ini masih mengenai kak Raka. Padahal dia tidak ada di sini. Dia bahkan bisa membuatku dalam masalah. Sebaiknya aku semakin menjauhinya." Kata Berlian.


"Dan untuk keluargamu yang kamu banggakan itu,  sebaiknya kamu mulai dari sekarang untuk membiasakan diri berdiri tanpa dukungan dari mereka." Lanjut berlian sebelum ia melanjutkan langkahnya dan tidak lagi menoleh kebelakang.


"Breng seeekkk!!!" Teriak Vivi. Ia menganggap ponselnya dan mencoba menghubungi papanya. Membuanya untuk mencari keadilan untuknya.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir ~>(*,*)<~

__ADS_1


__ADS_2