
Ini sudah hari ke lima Berlian dan Johan tidak bertemu. Johan sibuk untuk menangani urusan di perusahaan untuk terakhir kalinya. Tugas mengantar jemput Berlian diserahkan pada Terry. Johan seringkali berangkat pagi-pagi sekali dan baru pulang hampir tengah malam. Niatnya tentu saja bukan hanya untuk menyelesaikan urusannya. Di Kingston Grup tidak kekurangan orang yang cakap meskipun itu tidak seperti Johan. Johan juga berniat menghindari Berlian dari waktu ke waktu agar mereka berdua terbiasa untuk tidak bersama.
Johan tidak baik-baik dengan itu. Meskipun ia memiliki banyak pekerjaan yang harus ia tangani, pada dasarnya pikirannya tidak pernah lepas dari mengingat Berlian.
Berlian juga tidak sama baiknya dengan Johan. Hari-hari Berlian seperti dirundung mendung setiap harinya. Ia lebih banyak melamun dan berada dalam dunianya sendiri. Clara dan Rezvan tidak tahu apa yang terjadi pada Berlian. Tapi mereka berusaha sudah menduga jika kondisi Berlian pasti ada hubungannya dengan Johan yang lama tidak mereka lihat.
"Aku sudah lama tidak melihat kak Johan mengantar jemput kamu. Dimana dia?" Tanya Clara setelah ia dan Rezvan saling melirik. Ketiganya sedang berada di kantin. Sejak mereka datang Berlian sudah melamun. Bahkan sampai makanan pesanannya datang Berlian hanya asyik mengadukan saja.
"Mana aku tahu?" Dengus Berlian kesal. Ia kembali mengaduk-aduk mangkuk baksonya.
Keadaan suram seperti ini bertahan sampai satu minggu kemudian. Clara yang baru saja masuk ke dalam kelas langsung menarik keluar Berlian yang sedang membaca buku di dalam kelas. Berlian yang tidak siap hanya bisa pasrah didudukkan di kursi di depan kelasnya oleh Clara.
"Kenapa kamu masih datang ke sekolah?" Tanya Clara membuat Berlian bingung.
"Memangnya kenapa?" Apa yang salah dengan datang ke sekolah?
"Aku tahu kamu pasti sedih dengan kepergian kak Johan kan? Tapi tidak seperti ini juga." Berlian mengangkat alisnya.
"Brily aku sarankan kamu untuk segera pergi. Jangan sampai kamu menyesal nantinya." Berlian semakin tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Clara.
"Apa kamu tidak tahu kak Johan akan pergi hari ini?" Clara juga baru mendengarnya pagi ini dari Terry yang sengaja menunggunya di depan gerbang. Terry menceritakan perang dingin antara Berlian dan Johan. Juga tentang Johan yang akan pergi dari kediaman Sean karena kondisi di keluarga Johan yang semakin memburuk. Hal ini disebabkan karena Norman masuk ke rumah sakit karena serangan jantung yang ia derita.
Berlian membelalakkan matanya mendengar apa yang baru saja dikatakan Clara. Ia memang sudah lama tidak bertemu Johan. Bahkan mereka juga tidak pernah saling menghubungi, jadi dia benar-benar tidak tahu apa saja yang dilakukan Johan selama ini selama mereka tidak saling bertemu.
"Ooh... lalu kenapa kamu bilang padaku?" Berlian segera mengganti ekspresinya menjadi tidak peduli.
"Aku tahu kamu sudah menyembunyikannya dariku selama ini. Tapi aku tahu kamu dan kak Johan sudah jadian kan? Lalu kenapa kamu tidak peduli?" Berlian terkejut mengetahui jika selama ini Clara sebenarnya mengetahui hubungannya dengan Johan. Namun ia menundukkan kepalanya unik menyembunyikan keterkejutannya.
__ADS_1
"Aku tidak akan membuat perhitungan untuk Ini kali ini. Tapi aku harus mengatakan padamu untuk sebaiknya kamu segera pergi ke bandara saat ini jika kamu tidak ingin menyesal nanti." Clara menyentuh lengan Berlian.
"Bandara?"
"Ya. Kak Terry bilang padaku bahwa pagi ini jam delapan kak Johan akan berangkat ke luar negeri dan tidak tahu kapan dia akan kembali." Ucap Clara berbohong. Jika tidak begitu Berlian mungkin tidak akan mendapatkan pelajaran yang sesuai.
Berlian tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia langsung berdiri dan berlari meninggalkan Clara. Di koridor ia tidak sengaja menabrak beberapa siswa yang sedang berdiri di depan kelas atau sedang berjalan menuju kelas mereka. Berlian mengabaikan mereka dan berlari tanpa mengucapkan kata maaf yang membuat semua orang yang ditabraknya memarahi nya.
Daniel baru saja datang saat ia melihat Berlian berlari ke arah luar. Selama beberapa waktu dia berusaha menjauhi Berlian untuk meredam perasaannya yang masih sakit saat melihat Berlian. Namun melihat wajah khawatir dan kekacauan yag dibuatnya di sepanjang jalan ia tidak bisa tidak peduli. Ia segera menghentikan Berlian.
"Ada apa?" Tanya Daniel setelah ia mencekal tangan Berlian.
Berlian menatap Daniel dengan memohon. "Daniel tolong aku." Berlian panik. Ia berbicara dengan kacau.
"Tapi Apa yang terjadi?"
"Antarkan aku ke bandara sekarang juga."
"Tidak ada waktu menjelaskan. Ayo lah Daniel tolong aku."
Daniel memandang Berlian beberapa saat sebelum ia menganggukkan kepalanya. "Baiklah. Ayo." Daniel mengikuti Berlian yang sudah berbalik dan berlari.
Daniel membawa mobilnya sendiri, jadi dia meminta Berlian menunggunya mengambil mobil. Dari jauh, Rezvan melihat keduanya berjalan bersama ke tempat parkir.
"Mau kemana mereka?" Gumam Rezvan. Ia pun berjalan mendekati. Tetapi dia belum sampai ketika mereka masukkan drama mobil Daniel dan pergi dengan cepat kelar dari sekolah.
Dalam perjalanan, Berlian mencoba menghubungi Johan. Tetapi ponsel Johan selalu bernada sibuk. Berlian mencoba berkali-kali dan untuk kesekian kalinya nada sibuk operator yang dia dengar.
__ADS_1
Berlian semakin frustasi. Daniel meliriknya Berlian yang terlihat cemas. Bahkan ia melihat titik air mata yang menggenang di sudut matanya. Sejak kecil ia tidak pernah minat sisi Berlian yang rapuh. Saat ia melihatnya hatinya merasa sakit untuknya. Namun ia tidak bisa menghiburnya sekarang. Yang bisa Daniel lakukan adalah untuk membuat Berlian sampai di bandara secepatnya.
Di saat yang sama, Johan baru saja sampai di bandara diantarkan oleh Terry. Setelah menemui Clara, Terry bergegas pulang untuk mengantarkan Johan.
Johan duduk dit kursi tunggu dengan Terry di sampingnya. Di tangannya ponselnya terhubung dengan sekretaris Norman untuk membicarakan keadaan terbaru perusahaan. Johan dan sekretaris Norman sedang membicarakan hal serius sehingga dia sama sekali tidak mengetahui jika Berlian menelpon nya beberapa kali.
Berlian mengetuk kan ponselnya pada tangannya setelah teleponnya tidak juga tersambung. Ia berpikir siapa yang kemungkinan besar akan berada di dekat Johan pada saat ini. Dan Berlian menebak orang yang tepat. Dia segera menekan nomor Terry dan menghubunginya. Sayangnya, ponsel pribadi Terry lowbat dan sedang dicharge di kamarnya. Ia hanya membawa ponsel khusus yang tidak dimiliki Berlian Karena ponsel itu digunakan khusus untuk urusan pekerjaan.
Ponsel Terry berdering. Hanya saja tidak ada Terry dodol sekitar. Berlian berharap dengan cemas saat mengetahui teleponnya tersambung.
"Angkat kak Terry angkat." Gumam Berlian pelan. Daniel meliriknya sekali lagi saat mendengar nada cemas gadis itu.
"Tenanglah Brily kita akan segera sampai." Ucap Daniel mencoba menenangkan Berlian.
Berlian menoleh dan menatap Daniel dengan rumit. "Butuh berapa lama lagi?" Tanya Berlian. Ia melihat jam digital di ponselnya. Waktu menunjukkan pukul tujuh lima belas. Tidak sampai satu jam lagi dari jadwal keberangkatan. Dan para penumpang sudah harus naik ke dalam pesawat sebentar lagi.
"Sepuluh menit lagi." Jawab Daniel. Lagi-lagi ia menambah kecepatan mobilnya. Ia tidak mau mengecewakan Berlian kali ini. Daniel menyadari bahwa kebahagiaan Berlian bukan Dengannya. Tapi ia tidak akan membiarkan Berlian kecewa padanya dan bersedih di hadapannya. Ini akan membuatnya sakit.
Berlian mengangguk. Ia tidak mendesak Daniel untuk lebih cepat lagi karena ia mengetahui jika Daniel sudah berusaha. Ia mencoba menghubungi Johan sekali lagi. Tapi ponselnya malah sudah tidak aktif. Berlian semakin panik. Ia takut dia terlambat untuk semua dan akan kehilangan Johan.
"Semoga aku tidak terlambat. Kak Johan aku mohon tunggu aku." Gumam Berlian di dalam hati saat ia menutup matanya dan meletakkan ponselnya di dadanya.
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir ~*(^,^)*~
Jangan lupa like, komen dan Vote ya....