
"Beberapa hari ini kak Johan sering keluar malam." Sylvia berbicara pada Berlian saat mereka naik ke lantai atas bersama. Berlian melirik nya sekilas. Melihat kakaknya yang tidak berniat membalas Sylvia pun melanjutkan. "Hari ini juga kak Daniel yang mengantar kakak pulang. Apa terjadi sesuatu?" Jiwa kepo Sylvia mulai menunjukkan dirinya. Ia memang memiliki kesan yang baik pada Daniel, tetapi itu hanya sebatas itu.
"Tidak apa-apa. Tadi ban mobil tiba-tiba bocor di tengah jalan. Dan kak Johan lupa kalau ban serep juga kempes dan belum diganti." Berlian mencoba mencari alasan.
"Hem...tidak ada ban serep ya?" Sylvia mengelus dagu nya. Berpikir keras. "Menurut kepribadian kak Johan, tidak mungkin dia melupakan hal yang begitu penting. Pasti dia sengaja...." Sylvia menarik lengan Berlian agar berhenti di depan kamarnya.
"Apa? Anak kecil jangan berpikir terlalu jauh." Berlian mendorong dahi Sylvia dengan jari telunjuknya saat merasa tatapan Sylvia yang menginterogasi.
"Aku bicara serius kak. Mangsa seperti kak Johan tidak boleh dilewatkan begitu saja. Kalau tidak kakak akan menyesal!" Sylvia berkata dengan serius. Ia memandang Berlian tidak percaya. Dia saja bisa melihat kalau Johan adalah orang yang paling potensial. Jika dia jadi kakaknya, dia tidak akan keberatan untuk melompat ke dalam pelukannya dan memeluk paha besarnya.
"Mangsa? Kamu kira aku ini binatang!" Berlian memonyongkan bibirnya dengan kesal. Ia berbalik dan melambaikan tangannya saat ia berusaha untuk tidak peduli.
"Aku sudah memperingatkanmu kak! Kalau sampai kak Johan pergi, jangan sampai menangis Huh! " Sylvia dengan kesal menghentakkan kakinya.
Berlian tidak peduli dan melambaikan tangannya lagi sebagai balasan yang menyatakan bahwa ia tidak akan menjadi seperti itu. Sylvia memandang kakaknya dengan tanpa daya. Kemudian ia masuk ke dalam kamarnya sendiri.
**
Pelajaran olahraga raga adalah pelajaran yang paling dibenci Berlian. Meskipun begitu ia masih harus mengikutinya.
Agenda olah raga hari ini adalah permainan Voli. Semua siswa berkumpul di salah satu sisi lapangan untuk mendengarkan penjelasan guru mengenai taktik bermain Voli. Di sekolah sendiri Voli jarang diminati. Jadi guru olahraga harus memiliki kesabaran ekstra untuk mengajar.
Setelah guru memberikan beberapa teknik, juga tidak lupa memberikan contohnya. Lalu membentuk empat tim dari satu kelas untuk langsung praktek. Dua tim cowok dan dua tim cewek. Nantinya tim putra akan bermain lawan tim putra. Sedangkan tim putri melihat dan mempelajari. Setelah itu baru tim putri lawan tim putri.
__ADS_1
Tim dibagi oleh guru supaya adil. Tetapi para siswa memiliki penilaian mereka sendiri. Terutama para gadis. Mereka akan menggerutu jika mereka berada satu tim dengan Berlian yang paling terkenal lamban.
Boleh saja di kelas akademik Berlian memang mengesankan. Tetapi saat pelajaran olahraga, dia selalu saja bermalas-malasan.
"Pak, bolehkan saya tukar tim?" Salah seorang siswi bernama Ratih protes karena telah disandingkan satu tim dengan Berlian.
"Tidak."
"Pak, apa bapak Tidak tahu kalau Berlian itu payah? Apa bapak sengaja biar saya kalah?" Ratih kesal.
"Ini hanya permainan. Menang kalah tidak ada bedanya." Guru itu juga tidak berdaya. Selalu saja seperti itu jika harus membentuk sebuah tim. Padahal menurutnya Berlian cukup baik. Meskipun dia terlihat lemah tapi sebenarnya dia b lebih baik dari yang lainnya.
"Tidak bisa begitu pak. Bagaimanapun, dalam permainan menang kalah itu penting. Saya tidak mau berada tim yang kalah." Ratih bersikeras. Dia memang sudah lama tidak menyukai Berlian.
"Heh, apa kamu pikir kamu ini cenayan yang bisa melihat masa depan? Menentukan menang kalah dengan begitu mudahnya?" Clara yang kesal mencibir.
Ratih mendengus saat ia mulai berbisik dengan temannya.
Pertandingan tim putra selesai. Jadi tim putri mulai memasuki lapangan dengan mengatur posisi mereka masing-masing. Kali ini Clara tidak berada di tim yang sama dengan Berlian. Dia hanya bisa memberi kata-kata semangat pada Berlian saat ia melewatinya.
Para siswi yang berada di tim yang sama dengan Berlian tampak pesimis. Mereka mulai melirik Berlian dengan kesal saat mereka seperti sudah melihat kekalahan mereka saat mereka melihat Berlian berada di tim yang sama dengan mereka.
"Kalau kamu tidak bisa, berikan kesempatan pada yang lain. Jangan gara-gara kamu kami kalah nanti." Ratih melancarkan serangan terakhirnya.
__ADS_1
Berlian melirik nya dengan malas sebelum ia akhirnya membuka mulutnya. "Bagaimana jika pada akhirnya kita keluar menjadi pemenang karena aku?" Dia menata tajam Ratih.
"Heng! Seperti kamu bisa saja." Ratih mencibir saat ia membalas tatapan Berlian dengan penuh ejekan.
"Bisa atau tidaknya masih harus dilihat." Itu adalah suara Rezvan yang berbicara. Sejak tadi telinganya sudah gatal mendengar keributan yang dibuat para gadis itu. Semua orang memandang ke arahnya yang tersenyum penuh misteri.
"Bagaimana kalau ini, kita buat taruhan. Jika Berlian akhirnya membuat timnya kalah, aku dan Berlian akan membersihkan kelas selama satu bulan." Ucap Rezvan dengan yakin.
Berlian menoleh dan menatap Rezvan tidak percaya. Temannya ini berbicara dengan sangat licin. Bagaimana dia bisa begitu percaya diri mengatakan hal yang begitu besar? Apa dia tidak takut bahwa penampilannya tidak luar biasa dan menyebabkan mereka berdua dalam masalah? Berlainan hendra protes saat Rezvan melanjutkan perkataannya.
"Tapi jika ternyata terbukti bahwa Berlian mampu membawa timnya untuk menang, kamu, Ratih harus menghapus semua postingan yang kamu buat di forum OSIS." Rezvan menatap tajam Ratih yang terhuyung ke belakang.
Memang dia yang selama ini sering menyebarkan berita yang mencemarkan nama Berlian di forum OSIS. Tetapi dia selalu melakukannya dengan sangat halus. Bagaimana Rezvan bisa tahu?
Tidak hanya Ratih yang terkejut mengetahui bahwa dialah admin yang bertanggung jawab dengan buruknya nama Berlian akhir-akhir ini, Berlian bahkan lebih terkejut dari siapapun. Ia menoleh dan menoleh untuk menilai Rezvan dengan teliti. Berlian yang mengetahui dari Clara bahwa ia menjadi bahan gosip lagi segera masuk forum OSIS dan melacak admin yang mengirim berita-berita mengenai dirinya. Tidak butuh waktu lama baginya untuk mengetahuinya. Saat mengetahui bahwa Ratih kemungkinan besar dapat sesuka hati memasukkan berita di forum dengan cara ilegal, Berlian akhirnya memberi virus diam-diam pada forum agar kejadian serupa tidak terulang lagi.
Mendengar dari samping, Clara marah hingga ia ingin gin sekali menerjang dan mencakar wajah Ratih. Jadi dia yang selama Ini membuat gara-gara!
Semua siswa begitu terkejut mendengar perkataan Rezvan. Kabar yang tersebar di forum sangat buruk. Meskipun sebagian orang ikut berpartisipasi dalam kesenangan, tetapi masih ada sebagian lagi yang merasa tidak nyaman ketika berita seperti itu muncul di forum. Admin resmi forum OSIS sebenarnya selalu menghapus berita-berita semacam itu. Tetapi mereka selalu muncul lagi dan lagi. Membuat tim IT OSIS kewalahan dan hampir berniat memblokir forum. Baru beberapa saat keadaan forum damai. Forum mereka seperti sudah lebih kebal dari hacker...
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir ~*(^,^)*~
Jangan lupa like, komen dan Vote ya....