Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
S2_47. Jadi Bahan Gosip, Lagi!


__ADS_3

Johan berperilaku seperti pria sejati. Ia tidak mengambil kesempatan saat Berlian tidak sadar walau hanya untuk mencuri sebuah ciuman. Ia meletakkan Berlian dengan hati-hati sebelum ia menarik selimut untuk menutupi tubuh Berlian hingga batas leher. Setelah itu ia keluar dari sana tanpa mengambil kesempatan untuk memperhatikan bagaimana penampilan kamar Berlian.


Berlian tidur hingga menjelang malam. Perutnya sudah terasa lebih enakan. Ia mengucek matanya yang masih mengantuk. Ia linglung saat ia menyadari bahwa ia berada di kamarnya. Bukankah ia tadi berada di mobil setelah ia pulang dari rumah sakit?


Saat ia masih belum bisa menemukan jawaban dari pertanyaannya, sebuah suara dengan nada menjengkelkan yang dikenalnya. "Cie-cie.... yang baru saja digendong pangeran tampannya." Siapa lagi kalau bukan Sylvia yang berani melakukannya. Ia disuruh Evelyn untuk memeriksa kakaknya.


Ia tidak menyangka mendapatkan kesempatan untuk melihat Berlian yang linglung dan memanfaatkannya untuk menggodanya. Jarang-jarang ia bisa menggoda kakaknya yang dingin itu. Kesempatan baik tidak boleh dilewatkan begitu saja.


Mendengar ucapan Sylvia kini ia tahu bagaimana ia bisa sampai di kamarnya. Jadi, kenapa jika dia digendong oleh Johan? Dia memilih untuk diam saja dan tidak membalas ejekan Sylvia. Karena apapun yang ia lakukan, fakta bahwa Johan menggendong nya sampai di kamar adalah sesuatu yang tidak bisa diubah.


"Kamu ngapain di sini?" Berlian bertanya dengan malas.


Sylvia mengerucutkan bibirnya kecewa karena sudah begitu jauh tetapi ia masih tidak bisa menggoda Berlian.


Meredakan rasa kesalnya, ia melipat tangannya sebelum ia mendengus dan menjawab. "Disuruh mommy mengantarkan teh jahe untuk kakak sekalian melihat kakak sudah bangun apa belum. Mommy juga bertanya apa kakak masih merasa tidak nyaman?" Jelas Sylvia dengan malas. Ia menunjuk teh jahe di atas nakas dengan dagu nya yang angkuh.


Mendengar ucapan Sylvia membuat Berlian seketika ingat bahwa ia tidak tahu sudah berapa lama ia tidur. Seperti gadis-gadis lain yang sedang berada pada masa nya, dia juga takut tembus.


Berlian bergeser dengan cepat dan menghela napas lega saat ia tidak melihat noda merah di atas ranjangnya.


"Katakan pada Mommy aku sudah tidak apa-apa. Dan...Terima kasih teh jahenya."


Di sekolah, waktu berlalu setelah Berlian pulang. Itu adalah akhir pekan yang merupakan jadwal untuk ekstra kurikuler.


Perihal Daniel yang mendekati Berlian adalah satu hal yang sudah diketahui oleh seluruh orang di sekolah. Bahkan mulai dari satpam sampai penjaga kantin, dari guru hingga kepala sekolah juga tahu akan hal itu. Daniel tidak akan segan untuk mengatakan pada semua orang yang dia temui bahwa dia adalah kekasih Berlian. Ini semua membuat Berlian semakin kesal dan tidak nyaman untuk pergi kemanapun di sekolah.


Wajah tampan Daniel tidak mudah diabaikan. Apalagi sifatnya yang gak ceria dan mudah bergaul membuat semua orang menyukainya. Tidak sedikit gadis yang mulai mendekatinya meskipun mereka tahu bahwa Daniel sedang mengejar Berlian.

__ADS_1


Melihat jika Berlian terus mengabaikan orang seperti Daniel yang mereka anggap sempurna membuat mereka marah. Meskipun mereka tidak tahu persis latar belakang keluarga Daniel, dengan dia yang bisa pindah ke sekolah favorit tepat setelah ujian berlangsung sudah menunjukkan status keluarganya. Jika tidak, akan mustahil baginya untuk diterima di sekolah mereka yang bahkan sulit bagi golongan tertentu untuk masuk dengan jalur seperti biasa.


Beberapa gadis mulai menunjukkan ketidak puasan mereka dan mulai membicarakan kejelekan Berlian diantara mereka. Diskusi di antara mereka semakin meluas dan terdengar sampai di telinga Clara yang saat itu sedang berada di ruang ganti setelah selesai berlatih cheersleader.


"Apa maksud kalian dengan mengatakan Brily tidak bisa apa-apa selain mengandalkan wajahnya?" Clara dengan marah keluar dari kamar ganti saat ia berkacak pinggang sambil melotot menatap dua orang gadis yang dari tadi sibuk menjelekkan orang lain tanpa berpikir bahwa dirinya sendiri mungkin lebih jelek dari pada orang itu.


"Oh itu kamu Clara. Pantas saja kamu membelanya. Kamu kan sahabatnya." Salah satu gadis mencibir saat ia memandang remeh Clara.


"Kalian tidak tahu apa-apa mengenai Brily dan berbicara seenaknya. Jangan pikir aku akan diam saja!" Ucap Clara dengan kesal.


"Lalu, apa yang akan kamu lakukan?" Clara diam. Ia juga tidak tahu apa yang akan ia lakukan pada mereka.  Dia tidak mungkin menyakiti mereka yang bahkan tidak menyakitinya terlebih dahulu. Lalu, apa yang bisa Dilakukannya pada dua gadis ini?


Jadi meskipun hatinya merasa tidak nyaman, ia menggertakkan giginya saat ia menghentakkan kakinya dan pergi dari sana dengan kesal meninggalkan dua orang gadis yang mencibirnya.


Clara memikirkan apa yang terjadi sepanjang perjalanan pulang. Ia pun meminta sopir yang menjemputnya untuk mengantarkannya ke rumah Berlian. Ia tidak  isa membalaskan untuk Berlian, tetapi ia bisa memberi tahu pada Berlian mengenai apa yang terjadi. Dia berharap itu bisa membantu.


"Eh ada Clara." Semua orang menoleh ke arah yang dilihat Evelyn.


"Iya tante. Malam tante. Malam om." Clara menyapa dengan canggung. Ia tidak berharap untuk ditemukan. Meskipun ia sudah terbiasa di rumah ini dan bertemu dengan seluruh anggota keluarga di sini, tetapi d negara  Sean ada di sekitar selalu membuatnya takut. Jadi dia sedapat mungkin menghindari daddy temannya itu


Sean tersenyum sebentar sebelum ia kembali fokus pada makanannya. Sedangkan Berlian dan Sylvia masih menoleh dan melihat Clara yang berdiri. Mereka tersenyum melihatnya canggung. Keduanya tahu jika Clara takut pada Sean.


"Kebetulan sekali kamu datang. Pasti belum makan kan? Ayo ikut makan sama-sama sini." Evelyn berdiri dari kursinya dan menghampiri Clara. Mengenal Clara sejak kecil membuat Evelyn menyadari bahwa gadis itu takut pada Sean. Jadi darimana berinisiatif menjemputnya. Jika tidak, gadis itu tidak akan berani untuk maju dan bergabung dengan mereka di meja.


"Terima kasih tante. Tapi saya sedang diet." Clara mencari alasan untuk tidak ikut makan malam. Dia tersenyum paksa saat dianggarkan leher belakangnya.


"Aduh anak jaman sekarang sukanya ribet. Badan udah bagus gini masih saja nyiksa diri. Ayoh makan. Libur satu kali tidak apa-apa." Evelyn melingkarkan tangannya di lengan Clara saat ia menariknya paksa dan mendudukkan nya di samping tempat duduknya.

__ADS_1


"Makan Cla." Berlian tersenyum. Ia mengangkat sendoknya ke udara dengan gerakan mempersilahkan sebelum ia memasukkan sendok penuh makanannya itu ke dalam mulutnya.


"E-he." Clara tahu betul senyum ejek yang diberikan temannya. Jika dia tahu Berlian malah mengejek nya saat ia berniat baik untuk memberitahu nya, dia tidak akan repot-repot untuk datang tadi.


Di samping Berlian dan tepat di depannya, Sylvia juga terus mengumbar senyum ejekan untuknya. Kedua kakak adik ini selalu saja kompak mengejeknya. Siapa yang tidak takut saat bertemu dengan tatapan tajam Sean?  Jadi ia merasa lumrah saat ia merasa takut.


Makanan yang disiapkan di meja hampir semua adalah masakan Evelyn. Dan Clara yakin jika semuanya enak. Apalagi saat ia melirik beberapa di antaranya. Itu adalah dari jenis yang ia sukai. Jadi, meskipun alasannya bahwa dia diet adalah palsu, tapi mengingatnya kini dia merasa enggan untuk mengambilnya. Namun ia mencoba mengabaikan semua saat ia akhirnya menghela napas sebelum mulai mengisi piring kosongnya dengan makanan?


Setelah selesai makan, Clara menarik Berlian untuk berbicara di taman. Alih-alih memilih kamar Berlian untuk berbicara daripada taman itu karena kamar Berlian hampir setengahnya berisi serangkaian alat penunjang Komputer. Dan itu selalu membuat Clara pusing. Alasan kedua adalah, dia berharap bisa tanpa sengaja bertemu atau melihat Johan saat ia ada di taman.


Namun yang tidak diketahui Clara dan Berlian adalah bahwa sebenarnya Johan sudah berada di taman itu lebih dulu dari mereka. Johan duduk di satu sudut yang tidak terlihat sambil membaca laporan yang dia terima mengenai masalah perusahaan Adiguna.


Johan mengepalkan tangannya saat mendengar cerita Clara mengenai Daniel yang terus mengejarnya dan juga bagaimana mereka merendahkan Berlian yang berharga untuknya. Namun ia tidak bisa mengekspos dirinya untuk saat ini atau Clara tidak akan menyelesaikan tujuannya datang. Jadi dia memutuskan untuk tetap bersembunyi sambil 'berpura-pura tidak sengaja menguping'.


"Oh, jadi seperti itu." Clara kesal dengan tanggapan Berlian setelah ia menceritakan semuanya. Ia mengatakan semua yang ia dengar.


"Brily! Mereka merendahkanmu! Apa kamu akan diam saja?"


*


*


*


Terima kasih sudah mampir ~*(^,^)*~


Jangan lupa like, komen dan Vote ya....

__ADS_1


__ADS_2