
Lima tahun kemudian.....
Siang hari yang panas.
Di sebuah lapangan yang luas yang berada di halaman belakang sebuah mansiom dengan sebutan Brown Castle, terdengar suara tembakan beberapa kali. Di tengah lapangan, seekor kuda betina berwarna putih bersih dengan Surai yang indah berlari dengan kencangnya berkeliling lapangan. Di punggungnya terpasang papan dengan tujuh titik merah dengan lima di antaranya sudah berlubang.
Seorang laki-laki tiga puluh tahunan berdiri dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Matanya yang tajam menatap fokus pada dua titik yang tersisa.
Berdiri tak jauh darinya, seorang anak kecil yang masih berusia lima tahun memegang sebuah Glok-17 kaliber sembilan milimeter yang telah dimodifikasi menjadi otomatis hingga daya jangkauan mencapai empat ratus meter, yang merupakan pistol canggih yang memiliki penampilan seperti pistol mainan. Pistol ini cukup ringan untuk digunakan seorang anak. Dan merupakan hadiah ulang tahunnya yang ke lima.
Anak kecil dengan wajah tampan, kulit putih bersih sedikit merona karena terkena sinar matahari, dengan hidung yang mancung. Di kepalanya terpasang topi untuk menghalau sinar matahari yang menyilaukan. Mata bulatnya menatap tajam. Dia mengamati gerakan kuda yang tengah berlari kencang itu. Tak lama, terdengar dua kali berturut-turut suara tembakan yang berasal dari anak itu.
“Bingo!” teriak dua orang laki-laki itu serentak. Tangan keduanya bahkan ikut terkepal di udara.
“Aku hebat kan paman. Tidak satu pun tembakanku yang meleset.” Ucap Bryan bangga setelah meniup ujung pistolnya.
Uforia keduanya terganggu...
“Bryan! Justin! Beraninya kalian menggunakan Bety sebagai bahan latihan kalian!” teriak seorang wanita muda yang cantik yang tengah berjalan cepat sambil mengepalkan tangan kanannya di udara.
Mendengar suara cempreng sang wanita, kedua laki-laki beda usia itu menoleh serentak dengan kecemasan terlihat di wajah keduanya.
“Matilah kita paman. Mommy tidak akan mengampuni kita kali ini.” Gumam anak kecil bernama Bryan Kelviano Marcus itu melihat sang paman yang menggaruk tengkuknya.
“Kau sih tidak menurut tadi. Seharusnya kau setuju saat paman mengusulkan untuk memakai Zoe.” Sungut Justin Chalondra Marcus, sang paman.
“Tapi Bety lebih gesit. Akan lebih sesuai untuk dijadikan bahan latihan.” Elak Bryan.
Memang benar. Di mansion mereka, dari banyaknya kuda yang ada Bety lah yang tercepat. Kuda betina putih yang terlihat sangat menawan itu kepunyaan sang ibu dari Bryan. Evelyn Sylvaina Marcus. Wanita cantik berusia dua puluh tujuh tahun.
Sejak pertama kali kuda putih itu datang di mansion mereka, Evelyn sudah jatuh cinta padanya. Dan memberinya nama Beautiful yang sering dipanggil Bety oleh semua orang di mansion. Sejak saat itulah Bety menjadi kuda kesayangan Evelyn. Wanita muda itu merawat Evelyn dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
“Baiklah. Kita harus tenang. Jika kita bekerja sama, kemungkinan kita selamat akan semakin besar.” Sang keponakan mengangguk setuju.
Evelyn yang berjalan dengan tergesa akhirnya sampai di tempat kedua laki-laki beda usia tersebut. Menarik telinga keduanya dengan kedua tangannya. Membuat kedua laki-laki itu meringis kesakitan.
“Ampun mommy! Ini semua ide paman Justin.” Dengan teganya, Bryan melemparkan kesalahannya pada Justin yang melotot seketika. Tidak menyangka jika keponakan tersayangnya menjualnya begitu saja. Melupakan kesepakatan yang telah mereka buat.
“Evy bukan aku. Itu Bryan! Aku sudah bilang untuk menggunakan Zoe. Tapi dia tidak mau dan bersikeras untuk tetap menggunakan Bety.” Elak Justin yang memegangi bawah telinganya yang merah akibat tarikan Evelyn yang kejam.
“Kalian ini benar-benar minta dihajar ya!” Evelyn melepaskan tarikan tangannya. Kedua orang yang telinganya baru saja bebas pun mengelus-elus telinga masing-masing dengan wajah lega.
Wanita muda itu berkacak pinggang. Masih meneriakkan kalimat peringatannya pada dua orang laki-laki yang tidak mau repot-repot mendengarnya. Keduanya jelas memperlakukan peringatan Evelyn sebagai angin lalu.
“Dengar tidak?” akhirnya pidato panjang berakhir. Helaan napas terdengar dari Bryan dan Justin.
“Dengar.” Jawab lirih keduanya dengan serentak.
“Bagus! Sekali lagi aku mendapati Bety menjadi target kalian, aku akan potong rambut kalian sampai botak!” Ucap Evelyn tegas.
Kedua orang di depannya seketika memegangi kepala mereka masing-masing. Mereka masih memiliki niat untuk menjadikan Bety bahan latihan suatu saat nanti. Biasanya Evelyn hanya akan menghukum mereka dengan tidak mau memasakkan mereka selama satu Minggu. Yah, meskipun itu cukup menyiksa mereka, tapi dibandingkan dengan keselamatan rambut mereka tentu saja tidak ada apa-apa nya.
“Mommy, aku lapar. Biasakan aku mendapatkan sepiring ayam mentega dan juga segelas jus jeruk untuk makan siang?” Bryan mengedipkan matanya penuh harap. Memasang wajah penuh memelas di depan Evelyn.
“Aha! Aku rasa ditambah cah kangkung dan sambal udang pasti enak.” Ucap Justin semangat. Bryan pun mengangguk setuju.
“Tidak! Sebagai hukuman karena telah beraninya bermain-main dengan Bety, aku tidak akan memasakkan kalian apapun selama satu bulan. Biar kalian puas makan masakan para maid di sini.” Evelyn melipat kedua tangannya. Menatap sinis dua laki-laki di depannya dengan penuh ejekan.
“Mommy, apa kau sudah tidak menyayangi ku lagi? Bagaimana kalau pipiku yang lembut ini jadi keriput karena kekurangan makan?” Bryan menyentuh pipinya yang bulat. Memasang wajahnya yang penuh penderitaan.
“Huh! Pipi sebesar itu butuh lebih dari satu tahun tanpa makan untuk menjadikannya keriput. Lagi pula jika pipi itu bertambah besar sedikit saja, mommy rasa akan membawamu ke dokter untuk menjalani sedot lemak.” Ejek Evelyn. Pipi putranya memang kembung. Padahal tubuhnya tidak tambun, tapi entah kenapa pipinya begitu bulat seperti bakpao.
Bryan yang mendengar perkataan Evelyn segera mengerucutkan bibirnya. Bukan salah nya jika ia memiliki pipi yang bulat. Itu karena masakan mommy nya sangat enak dan tidak mudah untuk diabaikan. Jika seseorang yang salah di sini, pasti mommy nya.
__ADS_1
“Justin cepat lepaskan benda jelek itu dari tubuh Bety. Jika sekali lagi aku melihat benda itu atau semacamnya terpasang pada tubuh Bety, akan aku pastikan dengan segera akan terpasang pada tubuhmu sebagai gantinya.” Ancam Evelyn yang menatap tajam Justin.
Glek...
“Oh... Oke. Aku pastikan tidak akan ada lagi kain kali. Aku janji.” Ucap Justin yakin. Ia mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya dengan senyum meyakinkan sebagai tambahannya.
“Bryan ikut mommy. Mommy akan mengajarimu melukis setelah makan siang.”
Bryan berdecak. Melukis adalah kegiatan yang membosankan. Sangat tidak sesuai dengannya yang aktif. Tapi mommy nya selalu saja memaksanya. Mommy nya selalu berasalan dari pada bermain dengan pistol yang justru merupakan kegemaran nya.
Meskipun dengan menekuk wajahnya, Bryan tetap mengikuti Evelyn dari belakang. Justin melihatnya dengan prihatin. Merasa kasihan pada keponakan tercintanya itu. Pasti akan mati kebosanan di galery Evelyn nantinya.
Ah! Lupakan saja keponakan tercintanya yang tadi telah mengkhianatinya. Biar dia kena batunya sekarang.
*
*
*
Hei hei hei....
Selamat datang di episode ini. Mulai dari sekarang akan banyak akoh munculkan adegan-adegan yang sedikit memeras emosi, nyali, dan juga memicu adrenalin.
Ternyata nggak mudah membuat novel dengan genre Action yang akoh kurang mengerti. Tapi ini membuat akoh semakin semangat untuk mencari tahu. Untuk membuat episode di novel ini lebih meyakinkan, akoh harus meminta bantuan Mbah Google sebagai bahan referensi.
Do’ain akoh terus semangat ya Reader yang Budiman 🤩
Semoga akoh bisa menyelesaikan novel ini sesuai dengan apa yang ada di kepala akoh.
Karena banyak hal-hal yang asing dan baru, jika seandainya ada yang kurang tepat atau penjelasan yang salah bisa banget lho kalian demo akoh. Ehehehe
__ADS_1
Seperti biasanya ya, like, vote dan komen-komen manja ditunggu. Jangan lupa favorit in juga ea. Dukung karya akoh ini. Thank you Reader 🥰
Lop yu puulll ♥️