
Seorang laki-laki terbaring di atas ranjang dengan lengan dan bahu yang terbungkus perban serta darah yang merembes di atas perban. Wajahnya terlihat pucat. Namun wajahnya pucat bukan karena kesakitan. Luka kecil seperti itu masih bisa ia tahan dengan baik.
Yang jauh lebih mampu membuat pucat wajahnya adalah wanita cantik yang sedang menatapnya dengan tajam di sudut ranjang besar miliknya. Seorang Justin paling takut pada Evelyn. Itu sudah bukan suatu rahasia lagi.
Ada juga dua anak kecil yang menundukkan wajahnya duduk dengan diam di kursi tak jauh dari ranjang sang paman. Keduanya berkomat kamit berdoa agar mommy mereka tidak murka akibat kejadian hari ini di markas.
“Ada yang bisa menjelaskan nya padaku sekarang?” tanya Evelyn sambil menatap ketiga orang di depannya dengan tajam.
“Em itu. Maafkan aku Evy. Aku benar-benar tidak menyangka mereka berani menyerang saat aku ada di sana.” Justin berusaha mencari alasan yang menurutnya paling aman.
“Itu bukan alasan. Aku menyuruh mu membawa mereka pergi berjalan-jalan di taman. Kenapa malah pergi ke markas hah?” murkanya. Ia sama sekali tidak merasa kasihan pada laki-laki yang terbaring sakit di depannya. Bahkan luka itu baru saja diobati dan masih basah.
“Dan kalian. Mommy sudah bilang kalian tidak boleh pergi ke markas lagi. Kenapa tidak mau dengar?” gantian dua bocah cilik yang menjadi sasaran kemarahan.
“Kami hanya mampir sebentar Mom.” Bryan memberanikan diri untuk menatap mata Mommy nya. Tapi ia tidak memiliki keberanian seperti itu. Ia kembali menunduk kan kepalanya saat netra hitamnya bertabrakan dengan netra coklat Evelyn.
“Apa kalian sadar apa yang kalian lakukan itu sangat berbahaya?” Evelyn mengusap wajahnya frustasi. Bagaimana bisa ia berada di dalam lingkungan yang penuh dengan bahaya. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya jika ia akan berada di tengah-tengah mafia.
Bukan hanya itu. Bahkan kedua anaknya menjadi sangat akrab dengan dunia berbahaya itu. Bukannya ia tidak bersyukur pernah diselamatkan oleh ketua mafia dan diangkat anak. Hanya saja ia tidak ingin keluarganya berada dalam bahaya.
Evelyn baru selesai meeting saat ia mendengar kabar dari markas tentang kejadian yang baru saja terjadi. Dengan segera ia pulang ke rumahnya karena Justin terluka dan sekarang sedang dirawat oleh dokter keluarga di Brown Castle.
Sebagai seorang saudara sudah pasti ia khawatir. Tapi saat mendengar jika kedua anaknya juga ada di markas saat ada penyerangan tersebut ia menjadi murka.
“Lalu, hal hebat apa yang kalian lakukan disana?” Evelyn mengarahkan perhatiannya pada Bryan dan Berlian.
Melihat wajah Evelyn yang sudah melunak, kedua bocah kecil itu dengan semangat menceritakan ulah mereka.
Flash Back On....
“Brily aku akan menyiapkan jebakan kecilku. Kamu urus sisanya dengan paman Mike.” Bryan berkata sebelum berlalu.
__ADS_1
Sedangkan Berlian meminta Mike untuk mengambil kawat panjang untuk jebakannya.
Mike memasang kawat sesuai dengan instruksi dari Berlian. Kemudian menyambungkannya dengan saklar yang mereka letakkan di dalam ruang bawah tanah.
Di sisi lain, Bryan memasang berbagai macam jebakan seperti paku payung yang ia temukan di gudang. Juga beberapa papan kayu yang ia atur sedemikian rupa yang ia atur bersama dengan potongan besi.
Brily segera bekerja di depan komputer. Tangannya segera bekerja mengotak-atik keyboard dengan lincah. Ia memberi instruksi pada Justin untuk memberi perintah pada anak buahnya untuk mundur terlebih dahulu.
Setelah itu, tangan kecil Berlian kembali menari di atas keyboard. Tujuannya adalah merusak jaringan komunikasi milik musuh. Mike yang bertugas mengawasi pergerakan dari CCTV memfokuskan pandangannya pada layar besar di depannya. Melaporkan setiap gerakan musuh pada gadis cilik yang hari ini bertindak seperti bosnya.
“Semua sesuai posisi. Target masuk jebakan.” Kata Mike tenang. Berlian melirik sekilas.
“Tunggu sebentar. Posisi masih belum sempurna.” Berlian memberi pendapatnya. Mike tidak membantah. Setelah ia perhatikan memang ada satu posisi yang belum sesuai.
“Paman Justin bergerak ke arah jam 2.” Berlian memberi perintah. Justin yang ada di posisinya segera bergerak sesuai perintah Berlian. Namun musuh masih belum menempati posisi yang pas menurut Berlian.
“Sepertinya aku harus memberi mereka sedikit bahan bakar.” Gumam Berlian.
“Segera menyerah! Letakkan senjata kalian!” suara Berlian menggema melalui pengeras suara.
Di tempat lain, Jebakan yang dibuat Bryan mulai mendapatkan mangsanya. Jebakan yang dipasang Bryan berada di posisi yang tersembunyi dan dekat dengan gudang markas tempat Berlian dan Mike berada. Tempat ini akan menjadi sasaran utama yang akan diserang musuh.
Beberapa musuh yang berhasil bergerak maju dan menyelinap dari pasukan akan pergi ke tempat ini untuk menyerang. Terlebih karena tempat itu minim penjagaan.
Siapa yang menyangka jika di tempat itu sudah disiapkan banyak jebakan. Dan yang menyiapkannya adalah seorang anak yang baru menginjak usia lima tahun.
Musuh yang berhasil masuk jebakan Bryan berusaha menghubungi rekan mereka, tapi karena saluran komunikasi mereka telah dirusak oleh oleh Berlian, mereka pun tidak bisa memberitahu rekan mereka. Dengan segera mereka ditangkap oleh anak buah Justin.
“Bos bagaimana ini?”
“Kita serang sekarang.” Kara seorang yang merupakan bos musuh.
__ADS_1
“Wah wah kalian sungguh sulit diberitahu. Apa kalian tidak mengerti bahasa manusia?” suara kecil Berlian kembali terdengar.
“Hei Justin keluar! Jangan sembunyi di belakang anak kecil.” Teriak bos musuh dengan marah.
“Paman Justin? Dia tidak ada di belakangku.” Suara Berlian terdengar mempermainkan. Semua musuh menggertakkan gigi mereka. Mereka sedang dipermainkan oleh seorang anak kecil.
“Maju!” Seketika, pasukan musuh kembali maju.
Rencana berlian untuk membakar emosi pihak musuh berhasil. Setelah posisi musuh tepat sasaran, berlian memerintahkan Mike untuk menghidupkan saklar yang terhubung dengan kawat. Seketika, puluhan orang tumbang.
Satu persatu musuh akhirnya terkena jebakan. Mereka dikalahkan tanpa banyak usaha.
Setelah semua musuh berhasil dilumpuhkan. Berlian dan Bryan juga keluar dari tempat persembunyian mereka. Keadaan sudah aman. Mereka segera menghampiri Justin yang terluka.
“Kalian tidak apa-apa?” tanya Justin sambil memegang bahunya yang terluka. Darah merembes dari luar bajunya.
“Yang seharusnya bertanya seperti itu kami paman.” Bryan mencibir sambil menyilangkan Tangannya. Mendengar ejekan dari keponakan nya Justin merasakan sakit di hatinya.
“Pasukan seperti itu saja paman sudah tidak bisa melawan.” Berlian menambah luka di hati Justin.
“Ini karena tidak ada persiapan.” Justin mendengus kesal.
“Paman pikir musuh-musuh seperti ini akan memberi say hello sebelum menyerang? Apa Paman pikir semua orang itu sebodoh paman?” ucap Bryan. “Ayo pulang. Ancaman yang sesungguhnya ada di rumah.” Lanjutnya.
Justin tidak mengelak. Keponakan kurang ajarnya memang benar. Hal berbahaya yang sesungguhnya ada di rumah. Menanti mereka bertiga. Ia segera memberi perintah pada anak buahnya untuk mengurus sisanya.
*
*
*
__ADS_1
Maaf lama, fokus novel “Aku Istri Muda” dulu. Sekarang novelnya sudah tamat. Jadi sudah bisa lanjut di cerita yang ini.
Do’akan semoga tidak ada halangan ke depannya. Aamiin 🤲