
Happy Reading...
Clara buru-buru menarik Berlian dari Aula begitu bel tanda istirahat berbunyi. Berlian mengikuti Clara dengan santai. Memgikuti temannya itu menyusuri lorong lurus yang penuh dengan siswa lain yang juga sedang istirahat. Sebagian berkumpul membentuk dua sampai lima orang. Sebagian lagi berjalan ke arah yang sama dengan Clara dan Berlian saat ini. Mereka akan pergi ke kantin yang ada di ujung lorong.
Saat tiba di kantin, itu sudah penuh dengan siswa. Sebenarnya kantin itu cukup luas. Tetapi masih saja sesak saat jam istirahat seperti saat ini. Para siswa ini baru masuk setelah liburan akhir tahun selama dua minggu. Jadi mereka akan lebih cenderung tidak bisa di dalam kelas dalam waktu yang lama. Apalagi bagi kelas sebelas dan dua belas yang mengikuti evaluasi awal tahun.
Harapan dari pihak sekolah dengan diadakannya evaluasi awal tahun adalah agar siswa tidak hanya menghabiskan waktu liburan dengan bermalas-malasan, tetapi juga untuk belajar. Tetapi pada kenyataannya, mereka tetap tidak belajar dan terus bermalas-malasan. Sehingga pada daat seperti ini, mereka akan dibuat kesulitan meskipun pertanyaan dalam lembar ujian itu sedikit dan relatif mudah.
"Carilah tempat duduk. Aku akan memesannya juga untukmu." Clara segera pergi setelah Berlian mengangguk setuju dan memberikan kartu siswanya.
Di dalam kantin ada beberapa stand makanan yang berjejer dengan nama makanan yang tertulis di bagian atas untuk memudahkan siswa untuk mengetahui apa yang mereka sediakan. Pihak sekolahlah yang menyediakan semua makanan di kantin yang sudah ditbahkan dalam uang SPP setiap siswa. Para siswa dapat mengambil makanan secara bebas dengan menunjukkan kartu siswa mereka. Dengan ketentuan, satu kartu untuk mengambil satu makanan dan satu minuman. Dan jika dengan itu masih merasa kurang, mereka bisa membeli makanan itu dengan uang mereka. Namun karena ini adalah sekolah elit, kasus seperti itu sangat jarang terjadi.
Selain Berlian, kebanyakan meja-meja diisi oleh dua atau lebih orang. Beberapa sudah dengan makanan di meja makan, namun sebagian lagi seperti Berlian saat ini yang menunggu temannya itu untuk memgambil makanan untuk mereka.
"Lagi nunggu gadis manis tadi ya?" Berlian mendongak saat melihat sepasang kaki berada di sampingnya.
Wajah tampan dengan senyum yang manis menggoda. Alis tajam dengan mata yang penuh dengan kelicikan. Rambutnya sedikit panjang membelah dua tepat di tengah. Rambut itu sepertinya disemir biru di setiap ujung rambutya. Berdiri dengan sembrono dengan tangan kanan membawa mangkuk yang mengepul dengan aroma yang menguar gurih darinya. Tangan kirinya membawa air mineral kemasan botol.
Melihat Berlian hanya meliriknya, Rezvan segera duduk di depannya. Meletakkan mangkuk bakso di depanya. Dan membuka penutup botol.
"Tanganku kepanasan." Ucap Rezvan saat Berlian mengerutkam alisnya tanda tidak suka. Berlian menghela napas sebelum ia membenamkan kembali wajahnya membaca notif masuk ke dalam ponselnya. Sejumlah uang masuk ke dalam akun Weibonya sebagai bayaran atas kerjanya beberapa saat yang lalu.
Star Menari : [Bagaimana? Apa puas dengan bayarannya?]
Belum sempat Berlian membalasnya, sat pesan sudah masuk
Star Menari : [Aku bersedia membayar dua kali lipat dari harga itu jika kamu mau mengajariku beberapa trik.]
Diamond : [Aku tidak tertarik]
Star Menari : [Bagaimana dengan tiga kali lipat? Atau kamu bisa memutuska berapa harga itu sendiri]
__ADS_1
Diamond : [Lupakan.]
Star Menari : [Huhuhu... Mengapa kamu bisa begotu kejam?]
Mari Berbicara : [Apa bisa menerima kasus lagi?]
Tak ingin digangu lagi, Berlian segera keluar dari aplikasi. Ia hanya menyalakan aplikasi jika ada kepentingan. Jika tidak, semua orang di grup tahu dialah yang paling susah dihubungi.
Pemuda tampan di depannya memperhatikan Berlian dari waktu ke waktu, berharap menemukan ekspresi lain yang mungkin akan ia lihat. Tetapi gadis di depannya ini sungguh hanya diam tanpa mengubah ekspresinya sediktpun.
Rezvan menusuk bakso dengan garbunya. Memakannya dengan perlahan sambil terus memperhatikan. Clara yang baru saja kembali dengan sebuah nampan di tangannya berhenti dengan memperhatikan dua orang di meja depannya.
Satu orang merupakan temannya yang tidak mungkin salah ia kenali meskipun harus ia lihat dari ketinggian Monas dengan menggunakan sedotan. Clara mengedipkan matanya dua kali utnuk memastikan bahwa ia tidak salah, Berlian bersama pemuda asing itu dengan tidak terganggu. Apakah ada secercah cahaya sekarang? Apakah temannya ini akhirnya dapat melihat pria tampan? Oh teman semeja temannya ini jelas sangat tampan! Lebih tampan dari kak Raka yang baru saja menjadi idolanya.
Ah! Ini menarik! Clara memekik di dalam hati. Dengan cepat ia duduk menonton kesenangan. Senyumnya cerah dengan penuh kepo di kedua matanya yang bersinar.
"Terima kasih sudah menemani temanku. Aku Clara." Clara tersenyum manis pada Rezvan. Ia mengulurkan tangannya dengan semangat.
"Rezvan." Clara hampir menjerit mendengar suara maskulin yang menerobos di gendang telinganya.
Clara melirik Brily yang sudah mulai menikmati salad buah kesukaanya. Menu wajib yang selalu ia makan di siang hari hingga tidak perlu ia mengatakannya pada Clara, gadis itu sudah pasti akan membawakannya.
"Kalian sudah bicara sampai mana?" Clara bertanya karena penasaran. Ia benar-benar tidak bisa menebak apa yang akan dibicarakan oleh Berlian dengan teman tampannya.
"Tidak ada. Aku pikir temanmu ini bisu." Rezvan berkata sambil melirik Brily yang fokus dengan potongan buah-buahan itu.
Clara berkedut mendengar jawaban Rezvan. Ternyata ia sudah terlalu jauh berharap. Temannya ini masih benar-benar!
"Sudah. Brily memang seperti itu. Tapi lama-lama dia juga akan berubah." Clara berbicara tanpa daya.
"Aku sangat menunggu saat itu." Jawab Rezvan sambil menatap Berlian dengan dalam.
__ADS_1
Berlian ini memang menarik. Sepertinya banyak rahasia yang disembunyikan di balik wajah cantiknya yang dingin. Clara dan Rezvan berbicara banyak hal. Dan Berlian hanya mendengarkan tanpa berniat ikut dalam percakapan mereka.
Setelah mereka makan, mereka segera keluar dari kantin. Berlama-lama tinggal di dalam kantin akan membuat perut menajdi tidak nyaman. Aroma-aroma dari banyak makanan yang menguar di udara bercampur dengan parfum-parfum mahal para siswa menjadi perpaduan yang tidak nyaman dihirup. Jadi secara otomatis, semua siswa akan segera keluar setelah perut mereka terisi.
Berlian, Clara dan Rezvan berjalan searah karena mereka sama-sama siswa baru yang harus kembali ke aula. Sebenarnya Rezvan sudah tidak tahan dan segera pergi menghindari acara selanjutnya yang katanya adalah perkenalan ekstra kurikuler yang bisa diikuti siswa baru di sekolah. Mereka bisa memilih satu atau dua. Tetapi tidak boleh untuk tidak memilih.
Rezvan, tanpa mendengarkan pengenalan itu tentu saja akan dengan mudah memutuskan untuk mengikuti ekstra basket. Tetapi ia penasaran dengan apa yang dipilih oleh dua teman barunya itu.
Menunggu bel masuk, ketiganya duduk di bangku di depan lorong. Sebagian banyak siswa sudah masuk ke dalam aula, mereka memilih tempat yang strategis untuk melihat senior-senior mereka. Terutama para gadis yang sudah memenuhi barisan depan. Jika sebelum mengenal Rezvan, Clara mungkin juga akan sama seperti siswi lainnya dan mengajak Berlian untuk duduk di barisan depan. Tapi sekarang, sepertinya melihat Berlian yang dingin dan Rezvan yang terlihat jahil lebih menyenangkan untuknya.
Satu persatu kegiatan ekstra kurikuler diperkenalkan. Mulai basket yang selalu menjadi populer, cheerleader yang menjadi pelengkapnya, juga ada PMR, selain itu ada silat, menari, musik, PRAMUKA, dan untuk perkenalan terakhir adalah melukis. Selain memperkenalkan setiap ekskul, mereka juga memperkenalkan OSIS yang akan segera diperbarui bulan depan. Untuk anggota OSIS hanya diperbolehkan kelas sepuluh dan sebelas. Sedangkan kelas dua belas tidak diizinkan karena bisa mengganggu pelajarannya. Hanya beberapa anggota inti saja yang akan sesekali mengikuti kegoatan OSIS sebagai penasehat.
"Brily, kamu mau ambil ekstra apa?" Clara bertanya saat mereka berjalan keluar sekolah karena jam sekolah telah usai. Mereka berjalan berdua karena Rezvan membawa motor, jadi ia pergi ke parkiran. Sedangkan Berlian dan Clara sama-sama diantar jemput.
"Entahlah." Berlian benar-benar belum memikirkannya.
"Bagaimana kalau ikut Cheers saja? Dengan wajah dan postur tubuhmu aku yakin kamu pasti akan diterima."
"Tidak. Kalau kamu ingin, kamu bisa ikut. Kamu tahu kan aku tidak suka berkeringat."
"Tapi tidak akan menyenangkan jika kamu tidak ada." Clara cemberut. Sejak kecil ia sudah terbiasa bersama dengan Berlian dan Berlian sejak ia pindah ke ibukota saat kelas satu sekolah dasar.
"Tidak apa. Aku mungkin akan mengikuti kelas melukis. Dan kamu pasti tidak akan suka."
"Ooh... baiklah kalau begitu." Clara memahami. Setiap orang memiliki kesenangannya sendiri-sendiri. Setiap orang menikmati hidupnya dengan caranya. Tidak bisa dipaksa.
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir ~>(*,*)<~