
Setelah makan malam yang sederhana, Berlian dan Johan langsung pulang. Mereka sudah keluar sejak pagi hari, jadi mereka sudah lelah dan perlu istirahat.
Johan yang hendak mengantar Berlian masuk ke dalam rumah juga dia larang dan menyuruhnya untuk kembali ke kamarnya sendiri. Karena mereka sudah ada di rumah, dia tidak memiliki alasan untuk menahan Berlian untuk tinggal sedikit lebih lama dengannya.
Saat Berlian melewati ruang keluarga, semua orang ada di sana. Sylvia sedang mengerjakan PR nya. Sedangkan Sean dan Evelyn duduk bersantai sambil berbicara.
Sylvia yang awalnya fokus pada bukunya mendongak saat melihat Berlian datang.
"Cie-cie... yang baru jalan sama cogan." Sylvia bahkan bersiul dengan semangat.
"Dasar usil." Berlian mendekat dan menjinakkan kening Sylvia hingga membuatnya mengaduh kesakitan.
"Mommy...lihatlah kak Brily." Sylvia mengeluh sambil mengelus keningnya yang sedikit berdenyut. Berlian sepertinya menggunakan banyak kekuatan untuk mengetuk kening cantiknya.
"Daddy, mommy, Brily ke kamar dulu." Mengabaikan rengekan Sylvia dan pamit pada Sean dan Evelyn.
"Adikmu hanya bercanda. Jangan seperti itu." Evelyn yang memang paling memanjakan Sylvia segera memarahi Berlian karena Berlian bahkan tidak merasa bersalah. Evelyn menghampiri Sylvia dan ikut membantu mengelus kening Sylvia.
"Oke. Kak Brily minta maaf. Makanya lain kalim kalau ngomong jangan sembarangan." Berlian meminta maaf Tetapi tidak lupa untuk menyalahkan Sylvia sebagai alasannya.
"Aku tidak sembarangan. Bukankah kak Brily jalan dengan kak Johan. Apalah menurut kak Brily, Kak Johan itu bukan cogan? Cowok ganteng?" Sylvia menyeringai. Keningnya sudah menjadi korban. Jika dia tidak bisa memukul kembali kakaknya, ia akan merasa bersalah pada kening cantiknya.
Berlian mengetahui motif adiknya. Dia mendengus dan tidak bisa menjawab. Ia tidak mungkin mengatakan tentang Johan itu tampan atau tidak. Jadi, dia memilih jalan aman dengan berbalik dan melarikan diri.
Tawa Sylvia langsung meledak saat itu juga. Bibirnya melengkung membentuk senyum licik dengan puas.
"Tidak seharusnya kamu mengolok kakakmu seperti itu. Jangan lakukan lain kali." Sean menasehati Sylvia.
"Itu karena kak Brily yang tidak peka." Sylvia mengerucutkan bibirnya saat ia dimarahi. Ini bukan salahnya kalau kakaknya tidak peka dan membuatnya merasa gemas.
Dia melihat sendiri bagaimana kedua orang itu berinteraksi. Meskipun Johan tidak pernah merayu Berlian, dari sorot matanya saja Sylvia sudah bisa menebak kalau Johan memiliki perasaan khusus pada kakaknya. Dan lagi, Johan juga tidak buruk. Dia tampan dan sopan. Dia juga baik dan perhatian padanya. Akan baik jika dia menjadi pacar kakaknya nantinya. Disini, dia hanya ingin membantu. Apa itu salah?
Telinga Berlian terasa geli mendengar tawa Sylvia. Ia segera menutup kamarnya dengan keras dan melemparkannya tas miliknya ke atas meja belajarnya sebelum menghempaskan dirinya di atas ranjangnya.
"Dasar Sylvia itu. Masih kecil pikirannya sudah kemana-mana." Dengus Berlian kesal. Ia memukul ranjang sebelum.ia akhirnya bangun dan mengambil handuk mandinya dan masuk ke dalam kamar mandi.
Selesai membersihkan diri, Berlian duduk di meja belajarnya dan mengeluarkan ponselnya untuk memulai grup chating yang lama tidak dia buka.
__ADS_1
Diamond : [Apa akhir-akhir ini ada yang menyelidiki tentang Deep Line?]
Mari Berbicara :[Akhirnya muncul juga]
Star Menari :[Aku rindu...]
Sun Bercahaya : [Kamu tahu?]
Diamond :[Jadi benar ada]
Mari Berbicara :[Ya. Apa apa?]
Star Menari :[Apa mereka mengganggumu?]
Sun Bercahaya :[Mereka mencari GZR.]
Mari Berbicara :[Bagaimana pendapatmu?]
Diamond :[Loloskan mereka.]
Star Menari :[Wow! Ini kejutan.]
Diamond :[Loloskan dia.]
Sun Bercahaya :[Ok. Serahkan padaku. Aku akan segera menyiapkannya.]
Star Menari :[Jangan lupakan aku! Aku juga akan membantu.]
Mari Berbicara :[Aku juga siap membantu.]
Diamond :[Terima kasih semuanya.]
Berlian kemudian keluar dari grup chat. Ia masih harus mengerjakan pekerjaan rumahnya. Teman-temannya sudah biasa dengan kelakuannya. Jadi saat Berlian tiba-tiba keluar, mereka sudah tidak mengambil hati. Mereka bahkan melanjutkan chating mereka untuk membahas mengenai orang yang telah mencari mereka untuk mendapatkan GZR.
GZR sendiri adalah sebuah ramuan yang telah dikembangkan oleh Sungai Bercahaya yang berbahan tanaman-tanaman yang langka dan berkhasiat. Tanaman disuling menjadi cairan eliksir berwarna hitam yang bisa dicampurkan ke dalam bahan pembuatan peralatan yang digunakan untuk menyimpan makanan dan minuman.
Dengan adanya GZR ini, tidak hanya akan membuat makanan atau minuman yang disimpan didalamnya akan menjadi lebih sehat, juga dapat menyerap adanya racun. Jadi semua racun yang masuk ke dalam akan dihilangkan sehingga aman dikonsumsi.
__ADS_1
Johan mengetahui ini dari salah satu desainer yang bekerja di perusahaan. Tetapi dia tidak tahu bagaimana menghubungi organisasi bawah tanah karena organisasi ini sangat tertutup. Mereka tidak memandang banyaknya yang atau kekuasaan. Jika mereka tidak ingin ditemukan, mereka juga tidak akan pernah ditemukan.
Sudah hampir dua minggu sejak Johan dan anak buahnya mencari. Tetapi mereka masih belum bisa menemukan keberadaannya. Bahkan, nama atau cara untuk menghubungi organisasi itu saja masih belum dapat mereka temukan.
Namun dua hari setelah ia membahasnya dengan Berlian, mereka akhirnya menemukan cara untuk berkomunikasi dengan organisasi bawah tanah yang ternyata bernama Deep Line.
Organisasi bawah tanah Deep line terkenal di seluruh dunia pada kalangan atas. Anggota utama deep line hanya beberapa orang saja. Tetapi mereka memiliki kemampuan dan kekuasaan. Mereka memiliki ratusan anak buah yang tersebar di seluruh dunia yang kemampuannya tidak bisa diabaikan. Seluruh anggota dipilih dengan kriteria yang ketat. Poin Yang paling utama adalah mengenai kesetiaan. Jika ada anggota yang melanggar kesetiaan, mereka akan mendapatkan hukuman yang berat.
**
Sejak pagi wajah Berlian sudah terlihat pucat. Johan juga memperhatikannya dan berkata pada Berlian untuk meminta izin untuk tidak masuk sekolah. Namun Berlian menolak dan bersikeras untuk tetap pergi ke sekolah.
Hal ini membuat Johan merasa cemas dan meminta berlian untuk menghubunginya jika dia merasa tidak enak. Jadi, sejak ia meninggalkan Berlian di sekolah, ia beberapa kali melihat ponselnya agar dia bisa merespon cepat jika sewaktu-waktu Berlian menghubunginya.
Di kelas, Clara juga menyadari ada yang salah dengannya. Ia memeriksa dahi Berlian yang sedikit berkeringat dan menemukan bahwa suhu badannya baik-baik saja. Tetapi melihat wajah pucat dan keringat di dahi Berlian, dia yakin jika ada yang tidak beres dengan tubuh temanya itu.
"Aku antar ke UKS ya?" Tanya Clara dengan cemas. Ia memegang lengan Berlian.
"Tidak usah. Aku baik-baik saja." Berlian menolak.
"Baik apanya? Kamu tidak tahu betapa pucatnya wajahmu! Ayo aku antar." Clara berdiri dengan marah dan mencoba menarik Berlian untuk mengikutinya.
"Aku hanya nyeri menstruasi. Pagi tadi aku sudah minum obat. Sebentar lagi juga baikan." Berlian mencoba tersenyum meskipun senyum yang ia hasilkan malah terlihat semakin menyedihkan.
Melihat Berlian yang keras kepala Clara hanya menghela napas dan kembali duduk di sampingnya. Namun Clara menatapnya berkali-kali selama jam pelajaran.
Berlian sudah bertahan sejak pagi, tetapi semakin siang, perutnya semakin terasa sakit. Ia akhirnya meminta Clara untuk mengantar nya ke UKS. Namun Itu tidak begitu membantu. Akhirnya Clara dengan tanpa memberi tahu Berlian menghubungi Johan untuk memberitahu keadaan Berlian.
Mendengar keadaan Berlian, Johan bergegas pergi untuk menjemputnya. Begitu ia sampai di sekolah, ia segera menuju ke ruang UKS. Johan begitu cemas hingga ia lupa bahwa ia sedang memakai pakaian formal. Dengan jas hitam yang dikenakannya, membuat keberadaannya menarik perhatian. Apalagi aura yang dikeluarkan Johan akan berbeda saat ia memakai jas. Dia akan terasa mendominasi.
Berlian Membuka matanya dan terkejut saat ia melihat Johan yang menerobos pintu ruang UKS. Wajahnya terlihat panik.
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir ~*(^,^)*~
Jangan lupa like, komen dan Vote ya....