Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
Bab_81. Tentang Gunung


__ADS_3

Kondisi Evelyn membaik dari waktu ke waktu. Wanita itu mendapatkan perhatian dari semua orang terdekatnya. Evelyn tidak pernah merasa kesepian dan terpuruk dengan kondisinya. Ia masih belum bisa berjalan tanpa tongkat. Tapi ia dengan semangat belajar berjalan.


"Nyonya sebaiknya istirahat dulu." Ucap Mona yang kembali diberi tanggung jawab untuk menjadi asisten Evelyn.


Sudah hampir setengah jam Evelyn berjalan dengan menggunakan tongkat. Wanita itu bekerja begitu keras agar cepat bisa berjalan normal seperti biasanya. Retak di kakinya sudah pulih sepenuhnya. Hanya saja kaki itu masih terasa kaku saat digunakan untuk berjalan karena sudah lama tidak digunakan.


"Iya." Evelyn melangkah menuju bangku taman yang ada di bawah pohon rindang di taman belakang rumah.


Mona memberikan handuk untuk menyeka keringat yang mengalir dari dahi hingga pelipis nyonyanya. Selain itu, ia juga segera mengangsurkan air mineral yang sudah ia buka tutup botolnya.


"Terima kasih Mona." Ucap Evelyn saat ia mengembalikan botol air itu pada Mona.


"Tidak perlu berterima kasih nyonya. Itu semua sudah tugas saya." Balas Mona sambil menundukkan kepalanya.


"Kebiasaan ini tidak boleh ditinggalkan. Jika semua orang menganggap bahwa seseorang tidak perlu berterima kasih atau meminta maaf hanya karena posisinya, maka sama saja dengan rasa hormat yang dibeli dengan uang. Itu bukan rasa hormat, tetapi rasa angkuh."


"Nyonya memang benar. Tapi saya bukan semata-mata karena anda adalah majikan saya hingga saya akan melakukan tugas saya dengan tetapi lebih karena saya menghormati anda. Dan melayani anda dengan baik adalah bentuk kebanggaan bagi saya."


"Kamu memang gadis yang polos." Evelyn tersenyum melihat mata bersinar penuh semangat milik Mona.


**


Bryan dan Berlian sudah kembali ke kamar mereka masing-masing seminggu setelah Evelyn sadar. Suster Citra juga sudah bekerja kembali ke rumah sakit. Hanya dokter Rian saja yang rutin datang dua kali seminggu untuk memeriksa kondisi Evelyn.


Jadi, yang tinggal di kamar Evelyn hanya Sean, Evelyn dan juga Sylvia yang saat ini sudah memiliki box bayinya sendiri sebagai tempat tidurnya yang diletakkan tak jauh dari ranjang. Sebenarnya Sylvia sudah memiliki kamar sendiri. Ia bisa saja tidur dengan ditemani oleh seorang suster yang dipekerjakan khusus untuk merawat bayi cantik itu. Tetapi Evelyn melaranganya karena ia merasa akan lebih baik jika putrinya ada bersamanya saat malam agar dapat dengan mudah memberinya ASI.


Seperti saat ini, Sylvia bersiap tidur dengan menyusu pada Evelyn.


Sean duduk di samping Evelyn menunggu dengan sabar. Beberapa kali ia menelan ludahnya saat bayi itu menyesap kuat air susu dari bukit putih yang mempesona itu.


"Sayang, setelah putri kita selesai, berikan aku giliran juga ya." Ucap Sean ragu-ragu. Ini sudah hampir satu bulan Evelyn sadar. Tapi ia masih belum bisa menyalurkan keingingannya sama sekali. Bahkan hanya untuk menikmati bukit kembar favoritnya saja ia masih belum pernah.


Setiap malam ia harus membantu putrinya mengambil bagiannya. Ia mulai frustasi. Apalagi melihat tubuh Evelyn setelah melahirkan malah terlihat semakin berisi di beberapa tempat. Ia juga sudah lama tidak menjelajahi setiap jengkal keindahan itu.


"Bertanya seperti itu tidak malu sama anak sendiri?" Cibir Evelyn sambil kembali memasukkan puttingnya ke dalam bibir kecil putrinya yang sempat terlepas. Dan pemandangan ini membuat Sean tak sadar menelan salivanya.


"Kenapa harus malu? Sebelumnya itu juga milikku. Aku sudah membaginya cukup lama. Aku sekarang ingin mengambil sedikit bagianku. Apa tidak boleh?" Wajah Sean benar-benar terlihat menderita.

__ADS_1


"Tapi ini masih keluar ASInya Sean. Bagaimana kalau tertelan olehmu?" Evelyn menghela napas. Melihat tampilan menyedihkan Sean membuatnya luluh.


"Aku akan berhati-hati. Ya?" Sean berbinar bahagia. Setidaknya ia sudah mendapatlan izin dari pemilik bukit stoberi.


"Tunggu Sylvia tidur dulu." Siapa yang menyangka saat Evelyn baru berhenti berkata, lidah bayi itu secara alami mendorong putting sang mommy keluar setelah ia merasa kenyang. Bibir kecil itu mengecap beberapa kali sebelum tertutup rapat bersama dengan kedua mata indah yang sudah terlelap.


Melihat Sylvia yang tertidur dengan damai tidak bisa tidak membuat Evelyn melongo. Bagaimana bisa bayi itu seperti mendukung perbuatan daddynya yang hendak menjarah mommynya.


"Lihatlah! Bahkan Sylvia tahu bagaimana daddynya selama ini begitu menderita." Ucap Sean dengan senyum bangga di bibirnya saat ia kembali menggendong Sylvia dan meletakkannya kembali di dalam box.


Sean cemberut saat ia berbalik dan melihat jika gunung berpuncak strobery pink itu sudah tertutup rapat. Ia segera merajuk dan naik ke atas ranjang. Memeluk Evelyn yang sudah kembali terbaring.


"Sayang apa kamu tidak merindukanku juga?" Tangan Sean mulai nakal. Menelusup di balik baju tidur Evelyn yang longgar.


"Dengan kondisiku yang seperti ini aku tidak percaya diri." Ucap Evelyn jujur. Saat ini ia tidak bisa bergerak bebas. Ia bahkan tidak tahu apakah ia bisa memberikan hak Sean.


"Jangan berpikir terlalu jauh sayang. Aku mengerti bagaimana kondisimu."


Aah... suara de-sa-han Evelyn lolos saat tangan Sean mulai me-re-mas lembut bagian menonjol di balik baju itu.


"Mommy! Daddy! lihatlah hasil karya yang baru selesai kami buat. Eh?" Bryan dan Berlian yang masuk segera berhenti saat melihat Daddy mereka menempel dengan begitu dekat dengan mommynya. Sean panik dan segera mengeluarkan tangannya dari balik baju Evelyn.  Sedangkan Evelyn juga segera merapikan bajunya yang berantakan.


"Daddy curang! Meminta kami kembali ke kamar biar bisa menguasai mommy lagi kan?" Bryan menghentakkan kakinya dengan kesal menghampiri keduanya.


"Bukankah hal ini sudah dibicarakan dengan jelas sebelumnya?" Sean menaikkan sebelah alisnya. Duduk dengan berwibawa sambil melipat kedua tangannya. Tampilan konyolnya tadi sudah benar-benar hilang.


"Daddy bilang jika mommy butuh ruang gerak. Tapi daddy barusan malah menempel pada Mommy? Daddy pikir kami bisa dibodohi dengan mudah?" Bryan tak mau kalah. Ia juga menatap Sean dengan pandangan permusuhan.


"Kamu tahu apa? Ada hal yang tidak bisa kami hemp." Evelyn segera menutup mulut Sean dengan tangannya. Mencegah suaminya itu untuk membeberkan rahasia kesenangan mereka pada anak-anak mereka yang masih kecil.


"Oh ya kaliam tadi mau menunjukkan apa?" Evelyn segera mengalihkan pembicaraan. Bisa panjang urusannya.


"Ah ini mom!" Pekik Bryan kembali semangat. Ia teringat niat awal mereka menemui daddy dan mommynya.


Bryan meminta pelayan untuk membawa miniatur di dalam kotak kaca untuk masuk. Ada kereta kecil yang berjalan di atas rel. Mengelilingi gunung kecil yang sepetinya bukan hanya sekedar pajangan. Selain kereta dan gunung, ada juga beberapa pohon dan rumah kecil sebagai hiasan. Ini adalah proyeknya yang akan dia bawa ke sekolah besok.


"Aku akan menunjukkan cara kerjanya." Ucap Bryan. Pria kecil itu meminta pelayan meletakkan kotak kaca di atas ranjang yang sempat menjadi tempat tidurnya juga.

__ADS_1


Bryan membuka penutup kotak dan memasukkan beberapa tetes cairan ke dalam puncak gunung yang ternyata ada lubangnya. Setelah beberapa detik tiba-tiba muncul asap dari puncak gunung. Bahkan tak lama setelah itu, cairan yang kental juga keluar dari sana. Wajah Bryan terlihat sangat bangga saat memperlihatkan hasil karyanya pada Evelyn dan Sean.


"Waaah Putra mommy sangat hebat." Puji Evelyn. Ia mengelus kepala putranya dengan bangga.


"Milikku juga tidak kalah dengan milik Bryan Mom." Berlian yang juga duduk di atas ranjang segera membuka kotak kaca yang juga sudah diletakkan di atas ranjang.


Milik Berlian sedikit lebih rumit. Seperti milik Bryan, di tengah kotak ada gunung yang tinggi. Tapi milik Berlian tidak terdapat rel kereta beserta keretanya. Hanya ada rumah dan pohon kecil. Tapi ada bagian yang sepertinya dibuat jalur seperti jalan. Berkelok-kelok menuju puncak gunung.


"Huh itu tidak ada apa-apanya!" Ejek Bryan.


"Kamu belum lihat." Berlian mengangkat dagunya tinggi-tinggi sebelum ia menekan tombol yang hampir tidak tersamarkan karena menyatu dengan pohon kecil di pojo kotak kaca.


Setelah tombol itu ditekan, tidak lama kemudian air mulai muncul dari puncak gunung dan terus turun berkelok-kelok mengikuti jalur yang telah ditentukan hingga sampai di tempat yang curam yang membentuk genangan air.


"Kalau punya Bryan menunjukan gunung meletus yang sebenarnya lebih mirip gunung meleleh." Bryan mendengus saat mendengar ejekan saudarinya itu.


"Kalau punyaku menunjukkan siklus air. Air yang keluar dari sumber air di gunung terus mengalir sampai ke danau dari danau diserap kembali dan begitu seterusnya." Jelas Berlian dengan bangga.


"Putri mommy hebat." Puji Evelyn. Secara otomatis Berlian yang mendapat pujian juga membusungkan dadanya dengan senyuman puas.


"Mommy tidak hanya memujimu. Memujiku juga. Huh!" Bryan tidak terima. Ia juga segera ikut membusungkan dadanya.


"Kalian berdua hebat. Putra putri mommy semuanya hebat. Kalian membuat kami bangga. Iya kan Sean?" Evelyn melirim Sean yang dari tadi diam memperhatikan dua proyek yang ditunjukkan kedua anaknya.


Kenapa malam ini semua orang seperti sengaja menggoda Sean? Mereka datang di saat yang tidak tepat. Seharusnya ia sudah mendaki gunung dari tadi dan sudah memetik stroberi yang manis itu. Tapi mereka malah datang dengan membawa miniatur gunung yang semakin membuat kepalanya oenuh dengan gunung.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 😁


Terima kasih kepada Khadizah Thea yang sudah memberi tip 😊


Yang lain juga hayuk rame-rame kasih tip😆

__ADS_1


__ADS_2