
"Sungguh suatu kehormatan bahwa kamu tidak melupakanku setelah sekian lama kita tidak bertemu." Berlian mendengus. Pemuda itu memiringkan kepalanya. Menengok Rezvan yang duduk di sebelah Berlian. Clara tersenyum saat melihat pemuda tampan itu melihatnya juga.
"Dimana Bryan? Dia bukan Bryan kan?" Pemuda itu mengernyitkan alisnya. Rezvan memang terlihat tampan. Tetapi itu tidak seperti Bryan versi remaja yang akan dengan mudah dia kenali.
"Bukan. Dimana Bryan tidak ada hubungannya denganmu Daniel." Jawab Berlian dengan malas. Daniel tersenyum melihat ekspresi Berlian yang sangat menarik untuknya.
"Apa dia pacarmu? Apa Bryan sudah merestuinya?" Daniel sekali lagi memindai Rezvan. Menilai Rezvan yang dalam sekejap menjadi saingan cintanya. Tersenyum getir saat dia melihat Rezvan sepertinya cukup baik.
"Dia bukan pacarku. Sudahlah Daniel, tidak bisakah kamu tidak menggangguku?"
"Tentu saja tidak bisa. Aku langsung mencarimu begitu aku kembali dari luar negeri. Butuh banyak upaya untuk mrnemukanmu. Dan sekarang, Aku yakin kali ini aku pasti bisa mengalahkan Bryan. Apalagi kamu pasti belum memiliki pacar kan?" Ucap Daniel semangat. Ia segera duduk di kursi kosong di dekat Berlian. Pandangan matanya menatap Berlian.
"Brily, dia siapa?" Clara bertanya pada akhirnya. Ia sudah menjadi teman Berlian dan Bryan sejak ia kecil. Sepertinya dia tidak mengingat pemuda tampan di depannya ini.
"Oh...biarkan aku memperkenalkan diri." Daniel menoleh pada Clara dan tersenyum hangat padanya. Clara terlihat antusias.
"Perkenalkan, namaku Daniel. Aku adalah kekasih masa kecil Berlian." Mendengar pengakuannya. Rezvan yang sedang meminum es tehnya menyemburkan air yang hampir ia telan. Air itu muncrat dan mengenai wajah Daniel dengan tepat.
Wajah Daniel langsung berubah kecut. Ia mengambil beberapa tisu dari atas meja dan mengelak wajahnya yang basah.
Tidak menyesal telah menyebutkan air ke wajah Daniel, Rezvan tertawa terbahak-bahak saat ia menunjuk Berlian dengan berusaha menahan tawanya.
"Berhenti tertawa Rezvan. Apa kamu tahu itu menyebalkan?" Berlian menggertakkan giginya.
"Coba ulangi lagi. Aku harus memastikan bahwa telingaku tidak bermasalah." Mengabaikan ucapan Berlian, Rezvan menatap Daniel yang menatapnya dengan kesal.
"Aku kekasih masa kecil Brily. Apa ada masalah?" Daniel mengulanginya lagi. Menyebutkan kekasih masa kecil dengan lebih jelas.
Daniel mengatakannya dengan lantang seolah-olah itu adalah sebuah kebanggaannya. Mengabaikan Berlian yang memelototi nya. Lagipula, Berlian memang seperti itu sejak mereka masih kecil. Gadis itu terlalu cuek dan memiliki sifat yang dingin. Tapi justru sifat itulah yang membuatnya tertarik padanya meskipun ia hanya diberikan punggung dingin sebagai balasan.
Sementara itu. Rezvan kembali meledakkan tawanya. Suara tawa yang nyaring terdengar seperti suara lonceng yag berisik bagi Berlian. Dengan cepat, Berlian menusuk bakso dari mangkok Rezvan dan menyumpalkannya ke dalam mulut Rezvan hingga pemuda itu berhenti secara paksa dan berakhir dengan tersedak parah.
__ADS_1
Melihat perkembangan kondisi, Clara ikut tertawa. Menertawakan kemalangan Rezvan yang berani mengganggu Berlian. Cukup baik Rezvan selama ini bergaul bersama mereka. Berlian paling tidak menyukai orang yang mencemoohnya apalagi mencampuri urusannya. Jadi, dengan Rezvan yang lebih banyak menghabiskan wakwaktu luangkan untuk tidur, itu memberi keuntungan baginya.
Sedangkan para gadis yang menyimak dari samping segera tersedak saat mendengar pengakuan Daniel. Mereka tidak percaya pria tampan yang sudah menyedot perhatian di hari pertama ini sebenarnya datang untuk menemukan Berlian. Mereka sekarang merasa bahwa mereka seperti bunga yang layu sebelum mekar.
Berlian kesal. Di taman kanak-kanak dulu, kehadiran Daniel sudah cukup mengganggunya.
Mereka masih sangat kecil saat itu. Namun, Daniel sudah mengejarnya dan bahkan menempel padanya seperti lemari yang sulit Untuk dilepaskan. Jika Bryan tidak ada di sekitarnya saat itu, ia bahkan akan mungkin akan merasa tertekan karena dia terus saja diikuti. Hanya karena Bryan di sekitar yang terus mengusirnya pergi, dia akhirnya bisa bernapas sedikit lega.
Namun sekarang, Bryan tidak ada di sampingnya untuk menjaga. Dan dia secara pribadi tidak tertarik untuk menyelesaikan masalah itu. Sepertinya ia hanya bisa menghela napas dan berpura-pura tidak ada yang terjadi. Biarkan dia lakukan apa yang dia mau. Asalkan itu tidak mengganggunya, itu cukup baik untuk dibiarkan.
"Brily, apalah itu benar?" Clara bertanya dengan serius. Ia ingat bahwa ia bertemu dengan Berlian dan Bryan untuk pertama kalinya saat mereka masih duduk di kelas taman kanak-kanak. Tapi mereka berada di sekolah yang berbeda. Dan di sekolah dasar, mereka bertiga selalu bersama. Jadi, Clara bisa memastikan jika 'masa kcil' yang dimaksud Daniel adalah saat masih usia lima sampai enam tahun.
Huh! Ini cukup mengejutkan.
"Tentu saja benar!" Belum sempat Berlian menjawab, Daniel sudah menjawab untuknya dengan lantang. Senyum bahagia terus terukir di bibirnya.
Sudut bibirnya Clara berkedut. Bukankah pemuda ini terlalu Narsis?
Rezvan menyesap teh nya dan mengangguk paham. Ia menoleh dan mendapati Berlian yang mengerucutkan bibirnya. Ini jarang terjadi. Berlian yang biasanya tenang benar-benar ditekan saat ini.
"Aku selesai." Berlian dengan kesal mendorong mangkuk siomay dan teh nya saat ia berdiri dan mendorong kursi di belakangnya.
Tanpa menunggu siapapun, dia berbalik dan pergi. Tapi Daniel tentu saja tidak membiarkan hal itu. Ia juga berdiri dsn mengikuti Berlian menyusul berjalan di sampingnya.
Rezvan melihat punggung keduanya yang menjauh. Dari tempatnya, ia mendengar Daniel terus berceloteh dengan Berlian yang menggenggam kedua tangannya di sampingnya. Gadis itu pasti dalam keadaan yang sangat tidak baik.
"Aku mengenal Brily sejak kecil. Kami hanya berbeda saat di Taman kanak-kanak. Apakah Daniel adalah kekasih Brily saat masih di TK?" Clara mengedipkan matanya tidak percaya saat ia mengungkapkan apa yang dia simpul kan tetapi tidak berani mempercayainya.
Rezvan yang duduk di depannya menaikkan sebelah bibirnya dengan licik. Senyuman licik ini membuatnya tampak sedikit mencurigakan. "Menurut kepribadian Berlian, mungkin ini lebih tepat disebut Fans Fanatik dari pada kekasih."
Clara mengangguk cepat sangat setuju. "Kamu benar. Aku mengenal Brily. Dan sifatnya tidak pernah berubah sampai sekarang. Jadi Aku yakin Brily tidak akan terlibat dengan hak semacam ini sejak kecil." Clara berhenti untuk berpikir. "Tunggu sebentar, jika Ternyata Daniel memang benar kekasih masa kecil Brily, bukankah itu artinya aku dikalahkan oleh Brily dan juga, sebutan jomblo sejak lahirnya tidak valid?" Clara bergidik.
__ADS_1
Di tempat lain, Johan menemui beberapa pemilik saham minoritas dan mencoba membeli saham mereka di perusahaan Adiguna. Tentu saja beberapa langsung menolak dengan tegas. Memiliki saham di perusahaan besar seperti Adiguna meskipun itu hanya beberapa persen kecil adalah hal yang sangat menguntungkan. Jadi mereka tentu akan menolak dengan keras.
Namun Johan harus mendapatkannya bagaimanapun caranya. Jadi, dia akhirnya mengusulkan diri bahwa ia akan membeli saham mereka, tetapi akan tetap memberikan setengah dari dividen yang akan mereka terima. Dengan tawaran yang menggiurkan, mereka akhirnya setuju untuk mengalihkan nama kepemilikan saham mereka.
Yang dibutuhkan Johan hanyalah namanya. Saat ini, Johan hanya memiliki lima persen saham. Dan itu sangat kecil. Norman sendiri memegang Empat puluh persen saham. Erika memegang dua puluh persen. Kedua anaknya belum memiliki nama mereka karena mereka masih dalam tahap belajar. Sedangkan sisanya, dimiliki oleh orang luar.
Sebenarnya mereka tidak akan peduli perebutan kekuasaan yang terjadi di perusahaan. Yang terpenting bagi mereka adalah bahwa mereka akan etalase menerima dividen setiap tahun dengan jumlah yang menjanjikan. Jadi mengenai siapa yang akan mengelolanya, itu bukan masalah.
Tetapi, saat mereka melihat kemampuan Johan, mereka akan lebih tenang jika perusahaan akhirnya dikelola olehnya daripada putra sombong yang dibesarkan oleh Erika.
Jadi, saat Johan datang pada mereka untuk meminta saham yang mereka pegang, mereka bersedia menerima dengan pengaturan yang dibuat oleh Johan.
"Terima kasih telah percaya tuan Benin." Johan menjabat tangan seorang pria paruh baya dengan perut buncitnya.
"Saya memegang surat perjanjian. Apalagi jika saya memikirkan jika dia...ah! Saudara tirimu itu benar-benar tidak kompeten. Jika perusahaan akan dipegangnya, setengah dari ini juga tidak akan saya dapatkan." Benin mengangkat surat perjanjian yang menyatakan bahwa ia akan menerima setengah dari dividen saham yang telah menjadi milik Johan.
Johan mengangguk paham sebelum ia pamit untuk kembali ke kantor Sean. Menunjukkan hasil yang dia peroleh. Lagipula, semua yang yang digunakan untuk membeli saham-saham itu adalah milik Sean yang terhitung hutang miliknya.
Dengan memegang surat pengalihan kepemilikan di tangannya, Johan berjalan dengan tegas keluar dari kantor Benin. Sedikit demi sesedikit jalannya akan terbuka.
Menjadi pemimpin Adiguna bukanlah sesuatu yang dia inginkan. Tetapi ia harus melakukannya. Erika terus saja memojokkannya. Menyakiti orang-orang yang disayanginya. Jadi, Johan hanya bisa melawan sebelum ia kehilangan semuanya.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir ~*(^,^)*~
Jangan lupa like, komen dan Vote ya....
__ADS_1