Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
Bab_54. Apa Yang Terjadi?


__ADS_3

Hari ini, Bryan dan Berlian pulang dengan wajah yang ditekuk. Kedua anak itu bahkan mengabaikan sapaan para maid yang menyapa mereka sejak mereka masuk ke dalam vila. Biasanya, kedua bocah itu akan membalas sapaan mereka. Bryan yang biasanya selalu berteriak yang mengatakan jika mereka sudah kembali pun kali ini hanya diam.


“Sudah pulang sayang?” Laura terkejut saat tiba-tiba kedua anak itu ada di depannya dan Maxim.


“Selamat sore nenek, kakek.” Setelah mengatakan itu, mereka berdua berjalan pergi. Naik ke lantai di dimana kamar mereka berada.


“Ada apa?” Maxim bertanya pada Justin yang berjalan di belakang kedua bocah cilik itu. Sejak ia datang satu Minggu yang lalu, dirinya lah yang menjemput kedua keponakannya pulang sekolah.


“Entahlah.” Justin mengangkat bahunya. Dia kemudian ikut duduk bersama kedua orang tuanya itu.


“Tidak mungkin tidak terjadi apa-apa jika mereka sampai seperti itu.” Laura menatap tajam Justin. “Katakan! Apa yang kau lakukan pada cucuku?”


Memang benar kata orang, kasih sayang orang tua pada anaknya akan dikalahkan dengan kasih sayang pada cucunya.


“Astaga mami! Aku tidak melakukan apa-apa pada mereka. Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi.” Jawab Justin kesal. Tidak di Texas tidak di sini. Ia selalu menjadi kambing hitamnya.


“Kalau bukan kamu lalu siapa? Kamu yang membawa mereka pulang.” Maxim ikut mengadili. Kedua orang tua itu sangat menjengkelkan. Apa mereka tidak mengerti sedikitpun perkataannya?


“Sudah aku katakan aku tidak tahu. Sebelum aku datang, mereka sudah seperti itu. Mana aku tahu apa yang mencubit hati mereka.” Justin mendengus. Ia menghentakkan kakinya dengan keras di atas lantai. Harus bagaimana lagi ia menjelaskan pada dua orang tua yang sangat mencintai cucu mereka ini? Sungguh membuat kesal saja.


“Sebaiknya biarkan saja mereka dulu. Jika mereka seperti ini, hanya Evy yang bisa menenangkan mereka.” Laura menghela napas pasrah.


“Lagi pula Evy ini kemana? Sudah mau jadi pengantin masih saja sibuk bekerja!” tanya Justin kesal. Jika ada Evelyn, dua bocah itu pasti dapat ditangani dengan mudah. Dan lagi, dia tidak akan menjadi kambing hitam untuk kesekian kalinya.


“Kamu seperti tidak tahu adikmu saja.” Jawab Laura santai.


“Makanya bantulah dia. Jangan hanya bisa mengeluh saja sepanjang harinya.” Maxim melipat koran yang dibacanya. Meletakkan nya di atas meja. Lalu melepas kaca mata bacanya. Meletakkannya di atas meja. Di atas koran. Pandangan matanya menatap Justin serius.


Sejak Evelyn datang di kehidupan mereka, perlahan-lahan Maxim ingin keluar dari dunia hitam yang sejak dulu ia geluti. Tiga tahun lalu ia resmi mengundurkan dirinya sebagai pemimpin kelompok Big Lion yang belasan tahun dipimpinnya.


Maxim menyadari jika lingkungan yang seperti itu tidaklah cocok untuk ia berikan pada Evelyn dan kedua anaknya.

__ADS_1


Demi lepas dari dunia hitamnya itu, ia dan Laura pindah ke Indonesia. Menjalani kehidupan yang damai dan normal seperti manusia lainnya.


Saat itu mereka juga mengajak Evelyn ikut pindah bersama mereka, namun trauma yang dialami Evelyn membuatnya enggan datang ke negara kelahirannya.


Akhirnya dengan terpaksa mereka pindah sendiri sambil memikirkan cara untuk menarik Evelyn dan cucu mereka ikut bersama mereka pindah.


Namun sayangnya, sepertinya Evelyn sudah terbiasa hidup di Texas dan menjalani hari-harinya di sana.


Sebenarnya Evelyn sudah cukup bahagia. Memiliki Bryan dan Berlian yang menjadi bintang di hatinya. Memiliki mereka seperti memiliki matahari yang selalu meneranginya. Seperti memiliki pelangi yang selalu menghias kehidupannya. Dan seperti memiliki sumber mood booster yang siap sedia di dalam kantong.


Tetapi memiliki itu saja belum cukup untuk membuat mereka tenang. Kebahagiaan Evelyn masih belum lengkap.


Kehidupan yang dijalani Evelyn cukup monoton. Jika tidak di kantor ya di mansion. Atau bepergian untuk meeting atau terkadang pergi ke luar kota untuk urusan bisnis.


Sepertinya, kehidupan Evelyn hanya diisi dengan dua hal, yaitu anak dan kerja.


Memikirkan ini, sebagai orang tua, Maxim dan Laura cukup khawatir.


Saat ini beban mereka seperti terangkat dengan adanya Sean di hidup Evelyn. Pria itu cukup baik dan kuat. Memenuhi kriteria untuk mendampingi Evelyn dan merawat kedua cucu mereka.


Bagaimana pun Justin adalah putra mereka. Meskipun dari luar mereka seperti tidak memiliki kasih sayang sama sekali terhadap putranya itu, tetapi di dalam hati, mereka sangat menyayangi putra mereka itu.


Memangnya siapa orang tua yang tidak menyayangi anak mereka?


Melihat Justin seperti melihat Maxim waktu muda. Yang ada di pikirannya adalah markas, strategi dan musuh. Hidup malang melintang di dunia hitam. Mempertaruhkan segalanya bahkan nyawanya sendiri untuk menjalankan sebuah misi. Misi yang terkadang tidak sebanding dengan harga nyawa mereka sendiri.


Saat ini alangkah baiknya jika Justin juga berhenti dan beralih menjadi pebisnis. Pensiun awal dan mundur dari dunia mafia.


“Aku tidak cocok bekerja dengan pena dan komputer. Aku lebih suka memegang pistol dan bom.” Justin mengalihkan pandangannya. Ia tahu maksud Maxim. Papinya itu ingin ia berhenti.


Tapi berhenti dari dunia hitam yang sejak kecil ia kenal dan mengenalkannya pada dunia tidaklah mudah. Lagipula ia masih muda. Ia masih ingin berpetualang dan melihat dunia dengan caranya.

__ADS_1


“Kenapa kalian begitu serius?” Evelyn datang bersama Sean yang mengantarnya pulang.


“Tidak apa-apa. Kami hanya membicarakan Bryan Dan Brily.” Jawab Justin cepat. Ia tidak mau adiknya ini ikut-ikutan menyuruhnya untuk berhenti. Maxim dan Laura juga mengetahuinya. Namun mereka membiarkan saja.


“Ada apa dengan mereka berdua?” Evelyn melupakan masalah Sebelumnya dan segera menanyakan yang terjadi pada kedua anaknya.


“Tadi saat aku menjemput mereka, mereka dalam keadaan yang kurang baik. Mereka menekuk wajah merek seperti kanibo kering.” Jawab Justin.


“Huh! Baiklah. Malam ini Sean mengajak kami menginap sebelum pernikahan.” Evelyn menghela napasnya. Ia melirik Sean yang tersenyum penuh kemenangan.


Awalnya Evelyn menolak permintaan nya untuk menginap. Tapi siapa sangka Karena kejadian yang terjadi justru menyetujui tanpa banyak usaha.


“Itu benar, Pi, mi. Rumah kami sangat sepi tanpa mereka. Akhir pekan kemarin mereka sudah tidak menginap. Jadi malam ini aku ingin menghabiskan waktu bersama mereka.” Sean menatap Laura dan Maxim meminta izin.


“Pergilah. Aku yakin kedua bocah itu juga pasti merindukan Daddy mereka.”


Mendengar persetujuan Maxim, Sean dan Evelyn beranjak dan menuju kamar putra putri mereka.


Saat mereka masuk, keduanya sedang serius belajar. Menulis sesuatu di atas kertas besar. Sean dan Evelyn saling berpandangan. Menebak apa yang sedang mereka tulis.


“Bukankah ini akhir pekan? Kalian sedang mengerjakan apa?” Evelyn mendekat. Keduanya menoleh. Mereka hanya diam. Wajah mereka kaku. Bahkan setelah melihat Sean yang ada di belakang mommy mereka.


Melihat ada yang aneh pada keduanya, Sean dan Evelyn lagi-lagi saling memandang. Mereka sama-sama menanyakan apa yang terjadi melalui isyarat mata.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 😘

__ADS_1


Siapa yang sudah kangen sama si kembar yang menggemaskan? 🤩


Angkat tangan! ☝️


__ADS_2