
Danang memandang gadis cantik di depannya dengan tidak percaya. Dia menginginkan gadis itu memperkenalkan dirinya seperti Clara yang secara detail memperkenalkan dirinya. Tetapi Berlian justru hanya memperkenalkan dirinya dengan singkat, padat dan jelas. Berlian tidak menyebutkan hal lain selain nama lengkap dan nama panggilannya. Danang menoleh pada Clara yang berdiri di samping gadis yang sejak tadi ia pandang. Clara yang terlihat ceria sejak awal tidak merubah ekspresinya sama sekali sejak awal. Ia sepertinya tidak merasa bahwa perkenalan diri temannya Itu ada yang salah. Clara masih mempertahankan senyumnya yang lebar dan cerah.
"Coba ulangi lagi. Aku memintamu untuk memperkenalkan diri dengan lengkap. Bukan hanya seperti itu." Danang menatap Berlian. Ia masih tidak terima. Ia pikir ini adalah kesempatan emas untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari Berlian. Dengan begitu Ia akan menjadi satu-satunya orang yang tahu mengenai Berlian secara detail.
Berlian hanya diam. Bersiap untuk pergi dari sana dari pada menanggapi permintaan Danang yang menurutnya berlebihan.
"Kak tolong maafkan temanku ini. Dia ini memang tidak suka berbicara." Clara menarik tangan Berlian dan menahannya di sana.
"Huh. Baiklah. Kali ini aku maafkan. Mana kertasnya?" Danang mengulurkan tangannya untuk meminta kertas yang akan digunakan untuk mengisi tanda tangan.
"Terima kasih kak." Clara mengambil kertas milik Berlian juga dan menyerahkannya pada Danang.
Danang menandatangani kertas yang masih kosong itu dengan tatapan yang tajam pada Berlian. Setelah menandatangani nya, ia menyerahkannya pada Clara.
Berlian berjalan meninggalkan Danang setelah Clara berterima kasih. Clara pergi mengikutinya. Danang juga tidak memandang mereka lagi. Dia sudah mulai didatangi peserta lainnya yang sudah mulai banyak. Clara dan Berlian sudah hampir menyelesaikan tugasnya dengan segera.
Setelah mendapatkan banyak tanda tangan Clara mulai lelah. Ia mengajak Berlian untuk istirahat sebentar. Lagipula mereka sudah hampir menyelesaikan tugasnya.
Clara menarik Berlian ke arah kamar mandi. Ia tiba-tiba ingin buang air kecil. Tanpa bertanya, Berlian juga mengikutinya.
"Bagaimana?" Berlian mendongak dan melihat Rezvan berbaring tidur di atas pohon di dekat kamar mandi.
"Lumayan. Tidak begitu buruk." Jawab Berlian.
"Baguslah kalau begitu. Awalnya aku khawatir bagaimana kamu akan melewatinya." Rezvan mengangkat tubuhnya dan duduk dengan perlahan. Mengambil tas yang ia gunakan sebagai bantal pada awalnya dan mengambil sebuah apel merah besar dari sana.
"Mau?" Tanya nya sambil menunjukkan apel itu pada Berlian.
"Tidak. Milik monyet, aku tidak tertarik."
Rezvan mengerucutkan bibirnya saat ia akhirnya turun dengan mulus. "Monyet makan pisang. Bukan apel." Dengus Rezvan saat ia mulai menggigit apel besarnya.
__ADS_1
"Namun hanya monyetlah yang akan tidur di atas pohon dengan memakan apel." Berlian tersenyum mengejek Rezvan.
"Tidak ada monyet setampan aku." Rezvan menggigit apelnya dengan kesal.
"Dari awal tidak ada yang menyebutmu monyet. Apa kamu mengakui bahwa kau sebenarnya adalah monyet?" Rezvan tidak menyangka ia akan kalah dari Berlian. Ia segera berbalik dan berjalan pergi dengan mulut yang menggerutu. Sedangkan apel yang baru beberapa kali digigitnya ia lemparkan tepat ke drama tempat sampah.
"Itu Rezvan kan?" Tanya Clara yang baru saja keluar dari kamar mandi. Ia merapikan roknya.
"Hem." Berlian mengangguk. Clara masih bisa melihat sisa senyum di sudut bibirnya.
"Kenapa dia pergi?"
"Entahlah." Clara mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sudah paham bahwa Berlian tidak mau membahasnya lagi. Jadi dia mengambil kertas yang tadi ia serahkan pada Berlian dan melihatnya.
"Sekarang hanya tinggal pengurus harian saja." Ucap Clara setelah melihat kertas di tangannya.
"Baiklah. Ayo kita mencari mereka." Berlian mengangguk.
Kini, mereka berdirinya depan Raka. Meminta ketua OSIS itu untuk memberikan tanda tangan terakhir untuk mereka.
Raka diam. Mengamati kertas di tangannya dan dua gadis di depannya. Yang satu berwajah manis yang cerah. Yang satu berwajah cantik dan dingin. Membandingkan keduanya, mereka seperti lemari es yang berdiri dengan sombong di samping penghargaan ruangan.
Memandang kertas yang hanya tinggal tanda tangan miliknya yang kurang membuat Raka sedikit tidak percaya. Ia menjadi penasaran bagaimana keduanya mendapatkan tanda tangan dengan begitu mudahnya. Anggotanya tidak akan memberikan tanda tangan mereka begitu saja tanpa memberi mereka perintah.
"Apa ada yang salah kak?" Raka menoleh pada Clara yang berkedip dua kali saat melihat Raka hanya diam. Hampir seperti dia sedang melamun.
"Karena kalian sudah hampir selesai, aku ingin bertanya apa saja yang harus kalian lakukan untuk mendapatkan semua tanda tangan ini." Ucap Raka dengan serius menatap Clara dan Berlian bergantian.
Tanpa menunggu perintah yang kedua atau apapun. Clara membuka mulut dan mulai bercerita. Berlian tu kali ini tidak akan dilaluinya dengan mudah. Diam-diam dia mengingat apa yang dikatakan Clara. Seluruhnya dari awal sampai akhir.
Raka diam dan mendengarkan. Ia sekarang dapat memastikan kalau dua gadis di depannya ini mendapatkan semua tanda tangan karena Clara. Dan Berlian hanya mengikuti dari belakang.
__ADS_1
Berlian mengangsurkan sebetulnya air mineral yang ia dapatkan dari dalam tasnya saat Clara selesai bercerita. Temannya ini pasti haus setelah bercerita yang menghabiskan waktu hampir sepuluh menit tanpa berhenti.
"Terima kasih Brily." Clara tersenyum senang. Air ini pasti sdi siapkan oleh Johan. Berlian tidak akan mungkin repot-repot menyiapkannya. Johan pasti diam-diam meletakkannya di tas Berlian. Dan dugaan Clara memang benar. Minuman itu dari Johan. Berlian bahkan baru tahu saat ia membuka tasnya untuk mencari bolpoin.
"Hm." Berlian bergumam.
"Sekarang giliran kamu yang bercerita." Raka berkata sambil tersenyum menatap Berlian.
"Untuk apa kakak mendengarnya lagi? Aku dan Brily sejak tadi bersama. Jadi ceritanya juga tidak akan ada yang beda antara aku dan Brily. Kakak tidak perlu mendengarnya lagi atau kakak akan bosan nanti." Ucap Clara. Ia tahu karakter temannya yang tidak akan repot-repot dengan ini semua. Ia tidak akan membiarkan Brily melewatkan tanda tangan terakhir yang akan membuatnya dihukum karena ini.
"Tidak masalah. Kamu bisa mulai." Raka tersenyum. Mendengar apa yang dikatakan Clara membuatnya semakin penasaran.
Raka mengira Berlian tidak akan mau melakukan apa yang dia perintahkan. Namun dugaannya salah. Berlian mulai membuka mulutnya dan bercerita. Dan semua kata yang diucapkannya identik dengan apa yang keluar dari mulut Clara beberapa saat yang lalu. Bukan hanya Raka yang terkejut, Clara bahkan membuka mulutnya tidak percaya. Apakah yang ada di sampingnya yang sedang mengucapkan kata-kata dengan terlalu banyak ini adalah masih benar sahabatnya yang dingin?
"Cukup-cukup. Sudah cukup." Raka menutup telinganya. Meskipun suara Berlian cukup merdu. Ini membuatnya pusing. Ia berpikir bagaimana mungkin seseorang dapat mengulangi apa yang dikatakan seseorang yang lain dengan sekali dengar. Memikirkan ini dia tidak menemukan bagaimana caranya.
Mendengar perkataan Raka Berlian menutup mulutnya. Sudut bibirnya tersenyum samar.
Raka menyerahkan dua lembar kertas milik Berlian dan Clara yang telah ia tanda tangani. Kedua gadis itu pergi stelah mengucapkan terima kasih.
"Aku tidak menyangka kamu merekam apa yang aku katakan." Ucap Clara yang didengar samar oleh Raka.
"Bukan masalah besar. Ini lebih mudah daripada harus menghafal nama-nama teman satu kelas." Raka berkedut mendengar jawabannya. Sedangkan Clara hanya tersenyum. Ia tahu lebih banyak daripada siapapun. Dengan setiap tahun berganti kelas membuat Berlian selalu tidak mengingat semua nama teman sekelasnya di waktu SMP. Bryan dan dirinya lah yang akan menlmberitahunya tentang siapapun di masa lalu. Dan sepertinya saat ini juga akan.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir ~>(*,*)<~
__ADS_1