Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
Bab_6. Laura


__ADS_3

Bruuk...


Tubuh Sandra jatuh di atas paving. Satpam yang mendengar suara benda jatuh segera mencarinya. Dia pun menemukan Sandra yang sudah tergeletak. Satpam itu panik dan menghampiri Sandra. Digoyangkan nya bahu gadis itu.


“Mbak bangun mbak.” Ucapnya. Namun Sandra masih tidak bergeming.


Tiin tiin


Suara klakson mengalihkan atensi satpam pada mobil hitam yang berhenti dengan angkuhnya di depan gerbang. Satpam segera mendekat setelah membuka payung yang dibawanya.


“Ada apa?” Tanya seorang laki-laki paruh baya dengan wajah baratnya setelah menurunkan sedikit kaca jendela mobil di pintu belakang.


“Tuan, ada seorang gadis yang pingsan.” Lapornya dengan khawatir. Ia tahu betul status dari sang tuan. Dan ia takut hal ini akan menjadi salah satu kesalahan nnya ia tidak mau sampai dipecat karena kesalahan yang tidak dia perbuat.


Sang tuan melirik Sandra seklias sebelum memberi perintah. “Bawa dia ke dalam.” Perintah tuannya sebelum menurunkan kaca mobil dan meminta sopirnya untuk melajukan mobil ketika gerbang sudah dibukakan oleh satpam yang bertugas di dalam halaman.


Satpam dengan cepat melaksanakan tugasnya. Meminta bantuan salah satu rekannya untuk mengangkat Sandra ke dalam. Satu satpam membopong Sandra dan yang lainnya memayunginya hingga masuk ke dalam rumah.


Di dalam ruang tamu, seorang laki-laki dan perempuan paruh baya duduk di salah satu kursi.


“Tuan, kemana wanita ini dibawa?” tanya satpam yang membawa tubuh pingsan Sandra.


“Max, siapa wanita itu?” tanya sang wanita yang curiga pada suaminya yang duduk di sampingnya.


“Entahlah. Wanita itu pingsan di depan.” Sang pria yang dipanggil Max segera membela diri. Ia tidak mau wanita yang merupakan istrinya itu salah sangka padanya.


Mendengar penjelasan suaminya, sang wanita segera berdiri. Kemudian memberi pengarahan agar memasukkan Sandra ke dalam salah satu kamar kosong.


“Max panggilkan Yuda!” wanita bernama Laura itu menengok keluar kamar dan memerintah suaminya. Sedangkan Laura sendiri kembali ke kamar dan duduk di pinggir ranjang. Mengecek keadaan Sandra dengan khawatir.


“Ini koper yang dibawa wanita itu nyonya.” Kata satpam sebelum keluar ruangan.


“Letakkan saja di sana.” Tunjuk Laura ke sudut ruangan. Satpam itu melakukan seperti yang diminta sebelum kembali pamit untuk keluar.


Laura mengelus lengan Sandra. Ia merasa kasihan terhadap wanita yang pingsan di depan kediamannya. Meskipun belum mendengar secara langsung apa yang terjadi, ia tahu jika sesuatu yang buruk pasti terjadi padanya.


“Ini siapa Tante?” seorang laki-laki muda dengan menggunakan kemeja santai namun terlihat rapi masuk ke dalam kamar.


“Entahlah Yuda. Periksalah dia. Tadi dia pingsan di depan.” Laura berdiri dan menyingkir. Memberi ruang untuk dokter muda bernama Yuda itu melakukan tugasnya.


Yuda mengeluarkan stetoskop nya. Menempelkan di dada Sandra. Dia memeriksa dengan seksama. Saat ia memeriksa perut Sandra, alisnya mengernyit bingung. Dia pun menoleh pada Laura.

__ADS_1


“Ada apa Yuda?” tanya Laura yang melihat wajah Yuda yang terlihat aneh.


“Sepertinya wanita ini sedang hamil. Sebaiknya dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan untuk memastikan.” Ucap dokter Yuda.


“Baiklah. Tapi semuanya baik kan?”


“Ya. Umumnya dia dalam keadaan baik, suruh saja pelayan menyiapkan makan. Aku rasa dia pingsan akibat kelaparan.”


“Kasihan sekali dia.” Laura mengelus lengan Sandra. “Dia pasti diusir oleh keluarganya.” Lanjutnya.”


“Tante aku akan meresepkan beberapa vitamin untuk nya.”


“Iya Yuda. Terima kasih sudah datang malam-malam begini. Apalagi hujannya juga sangat deras.” Laura mengernyitkan alisnya berpikir.


“Tidak masalah Tante. Sebagai dokter memang sudah menjadi tugasku.”


“Kamu memang anak yang baik. Mendiang ibumu pasti sangat bangga padamu.” Laura menepuk bahu pemuda itu. “Malam ini menginaplah disini. Di luar hujan masih sangat deras.”


“Maaf Tante, aku tidak bisa. Malam ini aku sudah berjanji untuk menggantikan temanku jaga malam.” Ucapnya sungkan.


“Baiklah pak dokter. Aku tidak bisa menghentikan mu jika tugas muliamu sudah memanggil.” Laura mengambilkan tas kerja Yuda yang ia letakkan di sisi ranjang. Menyerahkan nya pada pemuda itu.


“Baiklah Tante. Aku pamit dulu. Jika Tante membutuhkan bantuanku lagi jangan sungkan.”


Beberapa saat setelah Yuda keluar dari kamar, Sandra mulai sadar. Kedua pelupuk matanya bergerak-gerak menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya.


Saat kesadarannya hampir pulih, Sandra memegangi kepalanya yang terasa pusing.


“Seshh. Kepalaku pusing sekali.” Desis Sandra.


“Kami sudah sadar nak?” Laura mengelus lengan Sandra yang menyadarkan gadis itu bahwa ada orang lain selain dirinya di ruangan yang sama sekali tidak ia kenali.


“Aku minta maaf.” Sandra hendak bangun. Namun segera dicegah oleh Laura.


“Kamu masih lemah. Berbaring saja dulu.” Laura membantu Sandra memposisikan diri agar nyaman. Sandra hanya menurut. Kepalanya sangat pusing sekarang. Tubuhnya juga lemas saat ini.


“Aku Laura. Pemilik rumah ini. Tadi satpam kami menemukanmu pingsan di depan. Dan Maxim suamiku membawamu masuk.” Jelasnya.


“Maaf telah merepotkan Anda sekeluarga.” Ucap sandra sopan. “Nama saya Sandra.” Lanjutnya.


“Baiklah Sandra. Tunggulah disini. Aku akan meminta pelayan membawakan makananmu kesini sebentar lagi.” Ucap Laura sambil berdiri dari duduknya.

__ADS_1


“Tidak perlu repot-repot. Saya tidak lap...”


Kruyuk....


Suara protes perut Sandra terdengar keras. Membuat gadis itu tidak mampu menyelesaikan kalimatnya.


“Gadis nakal. Dengarkanlah perutmu bahkan lebih jujur dari mulutmu.”


“Maafkan saya. Saya tidak mau merepotkan. Setelah ini saya akan pergi.”


“Jangan egois nak. Ingat ada anak yang perlu kamu beri makan.” Mendengarnya membuat Sandra mengelus perutnya. Ia tidak menyangka jika wanita yang baru bertemu dengannya ini tahu jika ia sedang hamil.


Mengabaikan ekspresi terkejut Sandra, Laura keluar dari kamar dan kembali setelah beberapa saat bersama dua orang yang membawa nampan berisi makanan dan minuman di tangan mereka.


“Kami sempat memanggil dokter keluarga saat kamu pingsan tadi. Itulah kenapa aku tahu jika kamu sedang hamil.” Jelas Laura yang mesih melihat raut terkejut di wajah Sandra.


“Sudahlah jangan terlalu banyak berpikir. Sekarang makanlah dulu.” Sandra duduk dengan bantuan Laura. Wanita cantik itu bahkan memasang bantal di belakang Sandra agar terasa nyaman saat duduk di atas ranjang.


Setelah Sandra duduk dengan nyaman, Laura memasang meja khusus untuk makan di atas ranjang untuk Sandra. “Dulu waktu aku hamil Justin aku mengalami beberapa kali pendarahan karena kandunganku lemah. Jadi makanpun harus di atas meja.” Ucapnya. Sandra hanya mengangguk. Sungguh ia merasa sungkan lada Laura yang begitu perhatian padanya.


“Aku tidak tahu apa makanan kesukaanmu. Jadi semoga kamu suka.” Laura meletakkan beberapa piring lauk dan sepiring nasi ke atas meja kecil itu.


“Terima kasih banyak. Ini sudah lebih dari cukup.” ucap Sandra.


“Baguslah kalau begitu. Aku akan membiarkanmu makan dengan tenang sekarang. Mereka berdua akan berada disini jika kamu membutuhkan bantuan.”


“Ini tidak perlu. Biarkan mereka pergi saja. Saya takut merepotkan.”


“Gadis nakal yang tidak penurut." Laura menoel hidung Sandra. "Biarkan saja mereka disini. Jangan biarkan mereka makan gaji buta. Hahahaha.” Ucap Laura sebelum keluar kamar dan meninggalkan Sandra dengan dua orang pelayan yang berdiri diam di sisi tempat tidur.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 🥰


Like 👍


Vote 🍀

__ADS_1


Komentar ya reader😘


__ADS_2