Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
Bab_68. Mana Kembang Apinya?


__ADS_3

Setelah mendengar ledakan yang pertama, semua orang saling memandang lalu dengan kompak menutup mata siap untuk hal terburuk yang terjadi. Justin dan Sean menatap dua anak yag berdiri dengan tenang di tempat mereka. Keduanya bahkan menyunggingkan senyum mereka. Sean dan Justin akhirnya menyadari jika kedua anak ini mungkin sudah nemiliki satu langkah yang lebih baik dari mereka.


Satu detik...


Dua detik...


Tiga detik berlalu, tapi setelah suara ledakan pertama yang terdengar, tidak ada lagi suara ledakan lain yang mereka dengar. Semua orang mebuka mata dan saling menoleh dengan bingung. Felix juga terlihat frustasi. Ia menekan-nekan tombol merah yang sejak tadi ia jadikan senjata untuk menekan pihak lawan.


"Apa tangan paman sudah tidak bertenaga untuk menekannya? Apa perlu bantuan kami paman?" Bryan mengejek Felix.


"Mana kembang apinya paman? Hanya suaranya yang besar. Tapi tidak ada apa-apa." Berlian menarik sudut bibirnya dengan menjengkelkan.


"Diam kalian! Aku tahu ini pasti ulah kalian." Felix berteriak marah pada dua anak kecil itu. Ia tidak seharusnya meremehkan mereka berdua.


Pagi ini ia mendapatkan laporan dari anak buahnya yang memberitahunya bahwa anak-anak inilah yang memang sedang mereka cari. Felix merasa sangat senang. Ayahnya sudah memberinya tugas untuk menangkap kedua anak ini dua tahun yang lalu, tapi ia selalu saja gagal dan sejak itu ia selalu menjadi bahan olok-olok saudaranya yang lain.


Itulah mengapa saat ia tahu bahwa ia sebentar lagi akan berhasil dan akhirnya bisa membalikkan keadaan dan mendapatkan pandangan dari ayahnya, Felix dengan terburu-buru ingin segera menyelesaikan tugasnya sesuai dengan perintah ayahnya, yaitu mencuci otak Bryan dan Berlian agar menjadi anj×ng mereka yang setia.


Kecerobohan Felix adalah tidak melakukan dengan perencanaan yang matang. Langkahnya yang tergesa-gesa mampu dimanfaatkan dengan baik oleh Bryan dan Berlian.


Biasanya, Rubah Merah hanya akan menggunakan anak buah mereka yang setia dan juga terlatih, namun karena Felix ingin segera menunjukkan hasil kerjanya, ia mengabaikan aturan ini.


Felix menunjuk dengan acak penjaga yang bertanggung jawab membawa kedua anak ini untuk pergi ke lab untuk melakukan proses pencucian otak mereka.


Sejak awal Bryan dan Berlian mengetahui rencana Felix pada mereka, jadi tentu saja kedua anak ini tisak akan membiarkan diri mereka jatuh pada kekuasaan orang lain.


Di tengah jalan, Bryan berkata ingin pergi ke toilet. Pria kecil itu bahkan menembakkan gas beracun dari dalam perutnya. Bryan sengaja menahan kentutnya agar terlihat meyakinkan saat ia beraksi.


Anak buah Felix juga tida begitu mudah dibodohi, awalnya mereka melarang Bryan pergi ke kamar mandi. Namun setelah mencium aroma tidak sedap dari kentut Bryan, tentu saja mereka mau tidak mau mengizinkan pria kecil itu pergi ke kamar mandi.


Kedua tangan Bryan yang diikat pun dibuka. Membuarkan pria kecil itu masuk ke dalam kamar mandi untuk menuntaskan hajatnya yang memang benar-benar ia rasakan. Setelah selesai, Bryan segera mengeluarkan pistol mininya dari balik kerah bajunya.

__ADS_1


Tanpa suara, salah satu dari empat orang yang berjaga di depan kamar mandi tumbang. Yang lain segera mengedarkan pandangan mereka untuk menyerang balik.  Mereka segera memegang Berlian dengan erat. Namun sebelum mereka dapat mengancam Bryan menggunakan Berlian,dua orang itu jatuh satu persatu.


Begitulah kejadian yang menjadi penyebab kegagalan Felix. Dan sekarang, pria itu sedang frustasi. Ia menatap dua bocah kecil yang awalnya ia anggap berkah untuknya benar-benar menjadi musibah. Dengan kesal ia meringsek menyerang mereka berdua.


"Woy paman santai." Bryan dan Berlian dengaan gesit mengelak dari serangan brutal Felix. Justin segera datang dan menangkap Felix dengan mudah.


Mengetahui bos mereka sudah tertangkap, anak  uah Rubah Merah juga menyerah kalah.


Sean segera menghampiri putra putrinya. Memeluk keduanya dengan erat. "Maafkan daddy yang gagal melindungi kalian."


"Tidak masalah dad. Yang terpenting daddy sudah menyelamatkan kami." Berlian segera menghibur. Meskipun yang ia lihat hari ini daddynya ini hanya seperti pemeran pembantu yang benar-benar hanya membantu sedikit saja.


"Tentu saja. Baiklah sekarang kita pulang. Momny kalian sudah sangat khawatir pada kalian berdua." Sean menarik dirinya. Menatap dua anaknya yang terlihat tidak terawat dengan baik.


"Sebentar Dad." Berlian menahan tangan Sean yang hendak menggandengnya untuk pergi.


"Ada apa?" Sean menatap Berlian dengan bingung.


Gadis kecil itu sempat mengamati dari tampilan yang ditunjukkan robot lebahnya bahwa para ilmuan yang ditahan di pulau ini. Itulah mengapa saat ia dan Bryan berhasil melepaskan diri, ia seera pergi untuk menyelidiki semenatara Bryan pergi ke gudang senjata.


Setelah Berlian berhasil menyelinap di lab, gadis itu mengetahui jika para ilmuan yang ditahan sedang berusaha untuk membuat virus yang bisa melemahkan otot-otot manusia dalam seketika. Jika virus ini berhasil disempurnakan dan disebarkan di masyarakat, dampaknya akan sangat berbahaya.


"Bruk! Kurang ajar! Kalian sudah benar-benar berani!" Justin melampiaskan kekesalannya pada Felix. Memukul wajah pria itu tanpa ampun beberapa kali.


"Cukup Justin. Atau dia akan mati di tanganmu." Sean menghentikan tangan Justin yang hendak memukul lagi.


"Mereka sudah gila. Tidak punya otak." Justin membalik badannya. Memerintahkan anak buahnya untuk mengamankan Felix.


"Lalu apa yang harus kita lakukan pada tempat ini. Apakah kita harus meledakkannya agar virus ini ikut hancur?" Soni ikut berbicara.


"Tidak pama. Kita tidak boleh melakukan itu. Kita tidak mengetahui sifat virus ini. Siapa yang bisa menjamin dengan meledaknya tempat ini virus itu juga hilang? Atau lebih parahnya lagi jika sampai virus ini malah meledak dan menyebar melalui lautan yang luas."

__ADS_1


"Berlian benar. Untuk masalah ini kita urus nanti. Yang terpenting adalah kita harus mengobati luka kita terlebih dahulu. Setelah itu kita pulang. Jangan biarkan mereka mengkhawatirkan kita. Aku akan meletakkan orang-orangku untuk menjaga tempat ini. Dan untuk para ilmuan, kita bawa mereka ke vila untuk kita mintai keterangan." Justin segera memutuskan.


**


Sean membawa Bryan dan Berlian untuk menemui Evelyn di villa. Sebelumnya Sean merapikan penampilan anaknya agar Evelyn tidak merasa sedih bila melihat anaknya yang berantakan. Bryan dan Berlian juga sudah diberitahu jika mereka akan memiliki adik. Kedua anak itu tentu saja sangat bahagia.


Selama di perjalanan, kedua anak itu bahkan sudah membayangkan apa yang akan mereka lakukan nanti dengan adik mereka. Pun dengan nama mereka. Kedua anak itu sudah sibuk memperdebatkannya. Namun kedua anak itu sepakat jika adik mereka nantinya haruslah perempuan.


Sean yang mendengar perdebatan kedua anak itu pun mulai terganggu. Sejak semalam ia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ia juga harus terlibat secara langsung dalam baku tembak yang membuat lengan kirinya terluka karena tergores peluru.


"Sayang, sebenarnya apa yang terjadi di sana?" Sean yang penasaran bertanya pada dua anak hebatnya.


"Mereka awalnya berniat mau mencuci otak kami dad, tentu saja kami menolak. jadi saat ada kesempatan kami pun kabur." Bryan bercerita denagn semangat.


"Kurang ajar mereka. Berani sekali mereka menargetkan kalian." Sean sangat geram mendengar penuturan Bryan.


"Lalu apa kalian juga yang telah menyabotase bom mereka?"


"Benar. Itu kerjaan Berlian dad. Iya kan Brily?" Bryan menoleh dan mengguncang lengan saudarinya.


"Iya. Tapi aku masih berpikir apa yang mereka lakukan hingga sangat sulit untuk ditembus. Aku awalnya hampir menyerah. Syukurlah di saat-saat terakhir aku sempat menemukan akar masalahnya."


"Kedua anak daddy benar-benar hebat." Sean mengelus kepala Bryan dan Berlian bergantian.


Sementara di tempat lain, Justin baru saja mendarat di Texas. Maxim yang mendapat laporan darinya sudah pergi ke Texas lebih awal. Ada masalah yang harus mereka selesaikan di sana yang mengharuskan Maxim untuk mengatasinya secara langsung.


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir 😊


__ADS_2