
Vivi mengepalkan tangannya. Wajahnya dipenuhi dengan amarah. Candra yang selalu di sampingnya mencoba memenangkan dirinya . Tetapi Vivi malah melampiaskan amarahnya padanya. Mereka berlima tentu tahu bagaimana Raka memperlakukan Vivi selama ini. Pemuda tampan itu bahkan melihat Vivi seperti saat dia melihat lalat. Penuh keinginan untuk mengusirnya. Baginya, Vivi adalah seorang pengganggu yang harus segera pergi.
Berlian dan Clara sudah menemukan tempat mereka. Berdiri di barisan depan para penonton yang kebanyakan adalah para gadis. Yang kesemuanya berteriak histeris menyerahkan dukungan mereka.
Namun Berlian seperti orang asing di tengah-tengah. Ia hanya berdiri dengan diam tanpa mengucapkan satu patah katapun seperti yang lainnya. Ia hanya menatap ke arah lapangan dengan datar. Sepertinya dia menatap rumput yang bergoyang diterpa angin.
Dengan susah payah, Vivi akhirnya bisa ditenangkan. Ia segera membawa teman-temannya untuk melakukan kalian mereka. Kelimanya adalah anggota cheerleader. Mereka serta membentuk formasi dan bergerak mengikuti gerakan yang terlihat rancak. Gerakan mereka energik dan bersemangat. Pom pom berwarna pink di tangan mereka terus bergerak menyesuaikan teriakan yang mereka gemakan. Adanya mereka menambah ramai suasana.
Di lapangan, dua tim sudah mulai pertandingan mereka. Satu dari kelas IPS dan satu lagi dari kelas dua belas IPA. Pertandingan adalah pertandingan persahabatan yang diadakan pelatih untuk mengukur kemampuan anak didiknya yang berasal dari jurusan IPS.
Pertandingan yang sudah separuh jalan seperti berjalan dengan tidak imbang. Penonton pilih kasih saat ini. Mereka berasal dari sekolah yang sama. Yang membedakan adalaadalah kelas mereka. Jadi, kebanyakan penonton tidak akan membedakan kelas dan lebih memilih idola mereka.
Dalam hal ini, tim Raka memang mendapatkan keunggulan. Dengan serakah penyemangat dan dukungan dari cheersleader dan sebagian besar penonton, para pemain bermain dengan semangat dan antusias. Sementara, skor mereka juga jauh lebih unggul.
"Clara, lakukan sesuatu untukku." Bisik Berlian.
"Apa?" Clara menoleh dan bertanya. Berlian kembali membisikkan sesuatu di telinganya.
"Untuk apa kamu melakukan itu? Jika kamu melakukan itu, kak Raka akan memiliki kesan yang buruk terhadapmu."
"Lupakan saja. Lakukan saja seperti apa yang aku katakan tadi. Lagipula, taruhan itu bisa dikatakan menang jika kak Raka memilih mendekatiku." Ucap Berlian serius. Ia tersenyum penuh maksud.
Clara memikirkan apa yang dikatakan Berlian padanya. Memang benar seperti itu, tetapi ia yakin rencana Berlian akan berhasil. Clara menoleh sekali lagi dan akhirnya menghela napas sebelum ia mengangguk ragu. Ia kemudian menyelinap di sela-sela penonton.
__ADS_1
"Cepat kemari. Ada hal yang aku ingin kamu lakukan." Ucap Berlian saat ia mendengar suara seseorang dari ponselnya. Berlian mendengar orang itu menggerutu di seberang sana. Tetapi ia memilih mengabaikan dan memilih menutup ponselnya dengan garis senyum di bibirnya. Ia tahu orang itu pasti akan datang.
"Bagaimana?" Tanya Berlian begitu Clara kembali berdiri di sampingnya.
"Sudah." Clara mengangguk.
Pertandingan babak pertamanya selesai dengan kemenangan di pihak Raka. Lalu wasit meniup peluit sebagai tanda waktu beristirahat.
Berlian melihat Seseorang yang ia tunggu-tunggu mendekat ke lapangan dan berjalan ke arahnya. Dengan wajah tampaknya yang sembrono. Matanya yang mengantuk. Dan baju yang kusut di banyak tempat. Ia bahkan menguap besar dua kali sebelum ia mulai menanyakan ada urusan apa hingga Berlian mengganggu tidurnya dan memintanya untuk datang.
"Aku membutuhkanmu untuk mengajari beberapa orang cara bermain basket." Ucap Berlian memandang tim Raka. Dari kemampuan, tim Raka sebenarnya tidak lebih baik daripada tim kelas IPS. Tetapi karena kalahnya dukungan, para pemain dari kelas IPS sudah memiliki mental yang kurang hingga menyebabkan mereka kalah telak di babak pertama.
"Oke." Sahut Rezvan singkat sebelum ia pergi ke sisi lapangan tempat para pemain dari jurusan IPS sedang beristirahat.
Rezvan menghampiri para pemain yang sedang beristirahat. Mereka berbicara sebentar sebelum mereka saling memberi salam khas para remaja. Dengan saling memukulkan genggaman tangan mereka.
Seorang pemain memberinya rompi kaos berwarna biru yang menunjukkan tim mereka. Matanya bertemu dengan mata Berlian sekilas sebelum ia mengulas senyum pada gadis cantik itu setelah ia memakai atributnya. Memberinya tanda bahwa semuanya sudah sesuai kendali.
Senyum Rezvan terlihat meremehkan namun penuh pesona. Dengan wajah tampan yang malas itu, senyum itu bisa dikatakan sebagai senyum jahat yang akan mampu membuat para gadis bersorak karenanya.
Tidak Ada yang tahu bahwa senyum yang membuat para gadis terpesona itu ditujukan pada gadis cantik yang memintanya untuk datang. Namun Raka tahu akan hal itu. Dan dari tatapan keduanya yang hanya sekilas itu, ia juga tahu bahwa ada skema tersembunyi antara dua orang itu. Hati Raka menjadi dingin.
Pelatih yang saat itu menjadi wasit meniup peluitnya saat waktu istirahat sudah habis. Rezvan berjalan dengan santai saat ia memberikan cium jauhnya pada para gadis yang bersorak meneriakkan namanya. Sekali lagi, lapangan menjadi semakin riuh. Namun, kini nama Rezvan yang lebih banyak terdengar.
__ADS_1
Ini adalah hasil dari Clara yang dengan sengaja meminta para gadis dari kelas IPS untuk mendukung tim merekakan atas instruksi Berlian. Awalnya tentu saja mereka agak malas dan tidak tertarik. Mereka ada di lapangan bukan semata-mata untuk melihat pertandingan. Sebenarnya mereka juga tidak begitu menyukai basket. Tetapi mereka datang karena mereka ingin melihat Raka. Di hari-hari biasa, tampilan Raka sangat serius dan rapi. Tapi saat bermain basket, auranya jelas berbeda. Kadar ketampanan nya juga jelas meningkat.
Tapi Clara akhirnya memberi tahu mereka bahwa ada cowok lain yang lebih tampan daripada Raka. Dan yang paling penting, dia dari jurusan IPS. Sama dengan mereka.
Di sekolah ini, perbedaan antara ipa dan IPS cukup terlihat. Dimana siswa dari kelas ipa cenderung akan menghindari siswa dari jurusan IPS dari pada dari jurusan yang lain. Mereka seringkali menyombongkan jurusan mereka dan menganggap jurusan IPA adalah yang tertinggi dan sementara jurusan IPS adalah yang terendah. Jadi secara otomatis, para gadis dari jurusan IPS akan selalu kalah jika bersaing dengan gadis dari jurusan ipa. Bahkan jika itu adalah Vivi.
Pertandingan dimulai kembali. Dengan bergabungnya Rezvan, mereka dengan cepat menjadi lebih unggul. Rezvan membuktikan janjinya pada tim yang baru saja ia ikuti. Agar diizinkan untuk bergabung, Rezvan menjanjikan kemenangan pada mereka. Dan apabila mereka tidak bisa menang hari ini, Rezvan akan mengenakan rok saat pergi ke sekolah selama satu bulan.
Jika Clara dan Berlian mengetahui hal ini, keduanya mungkin akan lebih berharap bahwa mereka akan kalah. Demi melihat Rezvan memakai rok ke sekolah, apapun bisa diabaikan.
Beberapa gol yang dicetak Rezvan memberikan semangat tambahan bagi timnya. Rezvan juga tidak selalu menguasai bola. Ia akan mengoper pada pemain lainnya. Bola yang dilempar Rezvan akan selaluencetak poin bagi mereka. Pertandingan semakin semangat. Dengan cepat, pertandingan dimenangkan oleh tim Rezvan.
Nama Rezvan kini bergema di udara. Wajah malas yang ditunjukkan saat pertama kali ia memasuki lapangan hilang sudah. Digantikan dengan wajah yang keren dan maskulin.
Rezvan mendekati Clara dan Berlian saat senggang waktu istrirahat. Ia m enyegarkan rambutnya dengan gaya. Beberapa gadis memberikan minuman padanya. Bahkan ada yang memberinya handuk untuk menyeka wajahnya dari keringat. Rezvan dengan senang hati menerimanya. Dia hanya meminum sedikit sebelum menggiurkan air mineral ke seluruh kepalanya sambil menggoyang-goyangkan kepalanya dan membuat air terciprat.
Jika orang lain yang melakukannya, mereka akan dimarahi karena itu cukup menjengkelkan. Tetapi saat Rezvan yang melakukannya, itu terlihat keren. Sekali lagi, Rezvan menunjukkan nilainya. Raka yang bertemu pandang dengan Rezvan mengepalkan tangannya saat ia melihat Rezvan tersenyum miring padanya. Senyum itu penuh ejekan yang selalu ia benci.
Rezvan mengedipkan matanya sebelum ia kemudian mengalihkan pandangannya kembali pada Clara dan Berlian.
*
*
__ADS_1
*
Terima kasih sudah mampir ~>(*,*)<~