
Rezvan dengan cepat berdiri saat melihat Clara berdiri. Ia dengan reflek merentangkan tangannya untuk menghalangi Clara agar gadis itu tidak bertindak impulsif. Clara menatap tidak senang tangan Rezvan yang menghalangi jalannya.
"Apa yang kamu lakukan?" Clara mengerucutkan bibirnya.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu. Apa yang akan kamu lakukan? Bukankah kita sudah sepakat bahwa kamu tidak akan mengganggu hubungan mereka?" Tanya Rezvan balik.
"Iya aku tahu. Aku kan tidak bilang aku akan masuk dan mengacaukan mereka. Kenapa kamu menyimpulkannya sepihak?" Clara menatap Rezvan dengan kesal.
"Katakan padaku, apa yang akan kamu lakukan pada mereka?"
"Aku?" Clara tersenyum licik. Memperlihatkan gigi taringnya yang kecil bersinar. Rezvan tanpa sadar merinding. "Karena mereka tidak berniat memberitahuky, jangan salahkan aku untuk pura-pura tidak tahu." Ucap Clara dengan senyum tanpa dosa.
Rezvan terkejut. Bukankah ini tidak baik?
Tapi sebelum Rezvan bisa bereaksi, Clara sudah mengambil barang bawaannya yang dia letakkan di kursi sebelumnya dan berkata pada Terry untuk memberi tahu Berlian dan Johan tentang kedatangannya.
"Baik, tunggu sebentar nona." Terry mengangguk patuh sebelum dia mengetuk pintu dan mengatakan bahwa Clara datang untuk menjenguk.
Tak menunggu waktu lama, suara Johan terdengar dari dalam dan mempersilahkan mereka masuk.
"Kamu ikut apa tidak?" Clara melirik Daniel yang masih terpaku di tempatnya.
Daniel baru saja sadar setelah Clara menatapnya. "Tidak. Tolong sampaikan saja salamku padanya. Semoga cepat sembuh." Ucap Daniel sambil meletakkan keranjang buahnya di tangannya Rezvan. Sedangkan buket bunganya masih ia pegang.
"Baiklah kalau kamu tidak masuk. Kami masuk dulu." Clara memberi isyarat pada Rezvan untuk mengikutinya masuk. Terry membukakan pintu untuk Rezvan dan Clara.
__ADS_1
Daniel meliriknya sekali lagi ke dalam. Johan sudah tidak terlihat di sisi Berlian. Pria itu pasti sudah menjauh saat mengetahui Clara akan masuk.
Setelah melihat wajah Berlian, Daniel berbalik sambil melemparkan buket bunganya ke dalam tempat sampah yang berada tak jauh darinya sebelum ia berbalik dan pergi tanpa berbalik sekalipun.
Sedangkan di dalam ruangan, Clara benar-benar memainkan perannya yang tidak tahu apa-apa. Dia langsung menyapa Johan seperti biasanya sambil menyerahkan bawaan yang pada pria itu dengan tidak lupa untuk menggodanya. Rezvan menggelengkan kepala melihatnya. Setelah itu Clara langsung memeluk Berlian dengan hati-hati. Melihat luka Berlian dengan seksama dan merasa sakit setelah melihat semuanya. Temannya ini pasti menderita.
"Oh ya. Ini tadi dari Daniel." Rezvan menunjukkan keranjang buah Daniel yang dibawanya. Meletakkannya di atas nakas di sebelah brangkar.
"Daniel?" Berlian mengernyitkan alisnya. Mengingat sifat Daniel, seharusnya pria itu tidak akan melewatkan kesempatan untuk bertemu dengannya. Tetapi kenapa yang sekarang datang hanya bingkisan nya? Kemana Daniel?
"Ya. Tapi kami bertemu di depan. Dia mau menjengukmu. Tapi tiba-tiba dia memiliki urusan lain Yang mendesak harus ia kerjakan. Dia menitipkan salam padamu semoga kamu cepat sembuh." Rezvan baru akan membuka mulutnya saat mendengar alasan yang dibuat Clara. Itu bagus. Rezvan pikir Clara akan mengatakan hal yang tidak seharusnya ia katakan. Diam-diam Rezvan menghela napas lega.
"Ooh begitu. Terima kasih doanya." Berlian mengangguk paham.
Rezvan mundur dan duduk di sofa tak jauh dari Johan. Membiarkan Clara dan Berlian mengobrol sesama perempuan meskipun pada kenyataannya Berlian seperti menjadi pendengar setia yang mendengar Clara berbicara tanpa jeda seperti pembawa acara di radio.
Setelah melihat Johan lebih dekat, Rezvan akhirnya mengerti mengapa Clara begitu tergila-gila. Dan bahkan Berlian yang dingin bisa mencair, itu tidak lain karena selain tampan, Johan memiliki aura unik yang mendominasi. Tetapi saat melihat Berlian seperti saat ini, tatapan itu terlihat hangat dan menggetarkan.
Aura Johan tidak bisa dimiliki begitu saja. Membutuhkan waktu yang lama untuk bisa terlihat luar biasa seperti itu. Memang layak menjadi pria yang diperebutkan. Rezvan menganggukkan kepalanya saat ia mencapai akhir kesimpulannya setelah menilai Johan. Dia puas dengan kekasih Berlian.
"Bagaimana keadaan Berlian?" Johan mengalihkan pandangannya dari Berlian dan menatap Rezvan yang bertanya padanya.
"Dia sudah lebih baik." Johan kembali memperhatikan Berlian. Tetapi kali ia memandang kaki kanan Berlian yang diperban. "Luka di kakinya yang paling parah. Tulang keringnya retak sehingga Berlian tidak bisa berjalan normal untuk satu atau dua bulan ini." Rezvan mengangguk paham.
Sebelumnya, mereka sudah pergi menjenguk Bryan sejak pertama Bryan masuk rumah sakit. Dan dia telah melihat luka kaki Bryan yang terkena tembakan. Itu bahkan butuh berbulan-bulan untuk sembuh total. Dibandingkan dengan itu, luka Berlian masih tidak ada apa-apanya.
__ADS_1
"Kak Johan menjaganya dengan baik." Rezvan menoleh dan tersenyum tulus.
"Itu sudah menjadi tanggung jawabku." Sebagai kekasihnya. Tetapi Johan melanjutkannya di dalam hati.
Berlian di rawat selama hampir dua minggu. Dia diperbolehkan pulang setelah kondisinya stabil. Berlian pulang dengan memakai kursi roda. Tetapi ia tidak terbiasa dan meminta Johan untuk membantunya berjalan memakai tongkat, seperti yang disarankan dokter agar sarafnya tidak terbiasa kaku.
Dengan telaten Johan menemani Berlian untuk belajar memakai tongkat. Sesekali Johan akan memapah Berlian saat gadis itu mulai lelah dan goyah. Namun hingga sekarang, mereka masih menyembunyikan hubungan mereka dari Clara. Mereka hanya membagikan berita bahagia itu pada Sean dan Evelyn. Mereka juga meminta mereka untuk merahasiakan hal ini karena mereka bilang bahwa mereka masih malu. Meskipun dengan mengejek karena menganggap permintaan itu kekanak-kanakan, Evelyn menyetujuinya.
Untung saja saat itu sudah selesai ujian dan tinggal menunggu liburan naik kelas, jadi Berlian dibebaskan untuk tidak datang ke sekolah.
Tapi, waktu promnite sudah tiba. Satu hari sebelum pesta, Clara datang ke rumah Berlian untuk meminta Johan menemaninya. Ia berniat mengajak Johan pergi ke butik untuk membeli baju untuk mereka. Saat itu Johan sedang menemani Berlian jalan-jalan di taman samping. Tentu saja Berlian mendengar permintaan Clara. Namun kali ini Berlian hanya diam saat mendengar Johan menolak Clara. Tidak seperti di masa lalu yang akan membantu Clara untuk meyakinkan Johan.
"Baiklah kalau begitu, aku akan mengajak Rezvan." Clara mendengus saat ia berbalik dan pergi.
Berlian memandang Clara yang pergi dengan kecewa lalu menatap Johan. "Apa aku teman yang jahat?" Tanya Berlian.
"Tidak. Dengan begitu dia akan mengerti bahwa tidak semua yang dia inginkan akan dia dapatkan. Percayalah ini yang terbaik untuk Clara." Johan menghampiri Berlian yang sedih dan mengelus kepalanya.
"Aku harap juga begitu."
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir ~*(^,^)*~
Jangan lupa like, komen dan Vote ya....