Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
Bab_63. Membuat Sean Tercengang


__ADS_3

Bryan dan Berlian duduk dengan kaki yang rapat. Tangan mereka menempel di atas paha. Wajah keduanya terlihat sekali jika mereka tengah gugup meskipun mereka sedang menunduk. Sesekali mereka melirik meja kaca yang tepat berada di depan mereka.


Meja kaca di depan mereka penuh dengan barang-barang. Yang pertama diletakkan di atas sana adalah pistol mini milik Bryan. Lalu setelah beberapa saat barang-barang lain mulai diletakkan oleh orang kepercayaan Evelyn.


Di sofa yang berseberangan dengan kedua anaj itu, Evelyn dan Sean duduk berdampingan. Evelyn dengan wajah datarnya, dan Sean dengan wajah herannya. Evelyn sudah sering melihat barang-barang serupa milik anak mereka, sedangkan Sean meskipun sedikit banyak pernah melihat benda-benda seperti itu tapi tidak menyangka jika putra putrinya yang menurutnya masih sangat kecil memiliki barang-barang yang tidak lazim dimiliki oleh anak seusia mereka.


Saat mereka pindah ke mansion milik Sean ini, Evelyn pernah mengatakan jika kedua anaknya tidak boleh membawa semua barang-barang mereka. Terutama Bryan. Jika di kediaman mereka sendiri, para pelayan sudah biasa melihat benda-benda seperti pistol. Tapi di mansion Sean hal seperti ini akan membuat orang takut.


"Apakah barang-barang ini benar-benar ditemukan di dalam kamar mereka?"tanya Sean sedikit tidak percaya pada laki-laki muda yang baru selesai menatap semua barang dari dalam kotak yang dibawanya. Evelyn melirik Sean sekilas.


"Iya tuan. Yang sebelah kanan ditemukan di kamar nona muda dan yang sebelah kiri di kamar tuan muda." Jawab laki-laki bernama Hari itu.


Sean menghela napas. Melihat Bryan dan senjata-senjata berbahaya di depannya dengan tidak terbaca. Mengetahui jika Berlian sangat ahli dalam ilmu komputer saja membuatnya sangat tidak percaya sekaligus kagum. Dan sekarang ia mengetahui kemampuan sang putra yang tidak biasa. Sean tidak bisa menentukan bagaimana ia menanggapinya.


"Sejak kecil Bryan sering bersama kak Justin. Bisa dibilang Bryan adalah murid kak Justin. Semua kemampuan yang dimiliki kak Justin diberikan kepada Bryan." Evelyn mulai bercerita.


"Sejak Bryan mulai bisa berjalan, Kak Justin sudah mulai mengajak Bryan bersamanya. Bryan memperhatikan dan menirukan semua yang dilihatnya dilakukan oleh kak Justin. Tanpa diduga, Bryan mempelajari semuanya sendiri."


"Semakin lama Kak Justin menyadari potensi Bryan dan secara teratur melatihnya. Mulai dari bela diri hingga menggunakan berbagai macam senjata. Secara mengejutkan, Bryan dapat mempelajari semuanya dengan baik. Bahkan saat ini, kemampuan menembak Bryan justru melebihi kemampuan kakak."


"Aku mengerti." Sean mengangguk sebelum menatap serius putra putrinya yang masih menundukkan kepalanya. "Bryan. Berlian."


"Ya dad." Bryan dan Berlian mulai mengangkat kepalanya. Menatap Sean dengan ragu-ragu.


"Daddy sangat bangga memiliki anak-anak yang hebat seperti kalian. Daddy menyesal tidak melihat sendiri perkembangan kalian yang sangat mengejutkan. Melihat hasil yang kalian capai saat ini, Daddy benar-benar bangga dan bahagia. Tetapi sekarang bukan ini yang akan kita bicarakan."


"Kami tahu dad. Maaf karena kecerobohanku membuat kami dalam bahaya." Bryan menunduk dalam.


"Itu sepenuhnya juga bukan salahmu. Kamu melakukannya juga demi keselamatan anak itu. Tidak ada yang perlu disesali dengan menolong orang lain." Sean menghela napas berat.

__ADS_1


"Semua sudah jadi begini. Menyesalpun tidak ada gunanya." Kata Evelyn menghembuskan napas berat.


"Maafkan kami mom. Sebenarnya Bryan tidak ingin bertindak saat itu. Tapi akulah yang memintanya." Berlian memandang Evelyn.


"Sudahlah. Tidak apa-apa. Masalah ini tidak ada yang bisa disalahkan. Kita tidak perlu membahasnya lagi. Ada yang lebih penting untuk dilakukan sekarang." Evelyn memandang Bryan dan Berlian bergantian. Kedua anak itu mengangguk.


"Daddy tahu kalian berdua anak-anak yang cerdas. Pasti tahu apa yang akan daddy dan mommy katakan pada kalian."


"Ya dad. Kami akan menerima apapun yang kalian putuskan untuk kami." Bryan mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Berlian.


"Saat ini kita tidak tahu pihak lain sudah menyadari keberadaan kalian apa tidak. Tapi untuk berjaga-jaga, kami akan meletakkan beberapa orang di sekitar kalian setiap saat. Mommy harap kalian bisa bekerja dama dengan baik dan tidak berpikiran untuk memainkan trik kabur dari pengawasan kami."


"Baik Mom."


"Selain itu, kalian juga akan menerima pelatihan kemampuan. Terutama kamu Berlian, kamu juga harus berlatih bela diri agar sekedar bisa melindungi diri sendiri jika ada bahaya." Berlian mengangguk. Ia tidak menyukai olahraga. Apalagi bela diri yang pasti akan membuatnya mengeluarkan banyak keringat. Tetapi demi kebaikan semuanya ia akan berusaha.


"Bagus. Besok, paman Willy akan datang. Kami akan menanam chip gps di tubuh kalian." Sean menatap Evelyn saat istrinya mengatakan hal ini. Sebelumnya tidak ada pembicaraan mengenai penanaman chip. Mereka awalnya hanya akan memberi mereka benda-benda berisi chip yang bisa mereka gunakan setiap saat.


"Apa hal ini tidak berbahaya?"


Evelyn menggeleng. Ia sudah lama berada di antara para mafia. Sedikit banyak Evelyn tahu akan hal ini. "Tidak. Ada chip khusus untut ditanam di tubuh. Dan baru-baru ini Big Lion dapat membuat chip tanam yang tidak akan bisa dideteksi. Jadi meskipun mereka memeriksanya dengan teliti tidak akan ada yang bisa menemukannya selain orang yang memasangnya."


"Jika seperti itu aku setuju. Ini juga lebih aman."


Seperti yang disepakati bersama jika Bryan dan Berlian akan mulai mendapatkan pelatihan. Evelyn sebenarnya juga ingin ikut berlatih seperti Berlian, tetapi Sean melarangnya. Sean berkata jika tubuh Evelyn sedang dalam persiapan kehamilan.


Saat ini sudah satu bulan berlalu. Sejauh ini tidak ada orang yang mencurigakan di sekitar mereka. Tetapi mereka tidak bisa merenggangkan kewaspadaan mereka. Sehingga jika apapun terjadi tanpa terduga, mereka sudah bersiap.


Seperti yang mereka duga,salah satu pihak yang mengincar Bryan dan Berlian sudah menyadari keberadaan kedua anak itu.

__ADS_1


Semenjak kejadian dimana Bryan menembak perampok di sekolah, pihak itu sudah mulai memperhatikan. Diam-diam mereka sudah menyebar mata-mata untuk mengawasi pergerakan Bryan dan Berlian.


Meskipun selama pengintaian mereka tidak menemukan bukti jika memang Bryan dan Berlian lah yang mereka cari selama ini, tetapi berdasarkan informasi yang mereka selidiki dari Texas, kedua anak itu memanglah target mereka.


Saat ini mereka tengah merencanakan tindakan untuk menangani Bryan dan Berlian.


"Bagaimana perkembangannya?" Seorang laki-laki tampan dengan rambut cokelat duduk di sebuah ruangan mewahm di tangannya sebuah cerutu panjang mengepulkan asap di bagian ujungnya.


"Masih sama seperti sebelumnya. Dari gerak-gerik mereka tidak ada yang mencurigakan. Tetapi menurut informasi yang dapat dipercaya mereka memang berhubungan dengan tuan Maxim." Seorang laki-laki yang tak kalah tampan tetapi memiliki bekas luka panjang di pipi kanannya berkata menjawab pria di depannya yang merupakan bosnya.


"Hem." Pria berambut cokelat itu mengangguk ringan.


"Lusa mereka akan menghadiri pesta ulang tahun sebuah perayaan di sebuah hotel bintang lima. Saya rasa saat itulah waktu yang sempurna untuk menjalanlan rencana ini."


"Lakukan seperti katamu."


"Baik tuan." Laki-laki itu mengangguk. Lalu berpikir sebentar sebelum berkata, "Lalu bagaimana jika bukan mereka yang kita cari?"


"Apa lagi? Jika mereka bukanlah sebuah mutiara itu artinya hanyalah sebuah debu." jawab pria berambut cokelat itu datar.


"Saya mengerti." Laki-laki satunya mengangguk sebelum keluar dari ruangan itu.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir

__ADS_1


Berikan akoh semangat dengan cara like, komen, vote dan juga hadiah


__ADS_2