
Tangan Sean bergerak liar di dalam baju Evelyn. Sedangkan mulutnya membungkam mulut lawan dengan cara ********** dengan agresif. Tangan Evelyn berusaha melawan. Mendorong dada Sean yang menempel di dadanya. Kakinya yang berusaha untuk menendang pun sudah terkunci rapat tidak bisa bergerak.
Sentuhan demi sentuhan diberikan oleh Sean di atas tubuh Evelyn. Kini Evelyn mulai terbuai. Ia bahkan membiarkan Sean membuka bajunya dan menikmati apa saja yang awalnya tertutup di baliknya tanpa sadar.
“Argh...” Evelyn memekik saat Sean menggigit tulang selangkanya. Tangannya menarik rambut Sena keras saat tangan Sean masuk ke dalam ****** ******** dan bermain di sana.
“Tubuhmu masih bereaksi sama seperti dulu sayang.” Bisik Sean. Seperti disadarkan oleh suara itu, Evelyn segera mendapatkan kesadarannya kembali. Namun semua sudah terlambat. Tubuh bagian atasnya sudah tersekspos. Pakaian dan juga bra yang ia pakai sudah terserak di atas lantai.
Mengetahui jika Evelyn sudah kembali sadar, Sean menatap Evelyn sambil tersenyum puas. “Tubuhmu lebih jujur dari pada mulut manismu itu.”
“Kamu laki-laki kurang ajar.” Evelyn mendorong Sean dengan keras. Ia segera meraih baju miliknya. Namun Sean menangkapnya dari belakang. Tangan pria itu mengelus perutnya yang rata. Bergerak ke atas dan kebawah sambil terus menekan. Meremas dua gunung yang berdiri tegak menantang. Perlahan sentuhan itu turun ke bagian bawah. Evelyn berusaha melepaskan diri nya.
Namun gerakan tangan nakal itu berhenti saat merasakan sesuatu yang tidak beres. Permukaan yang ia rasakan halus menemukan permukaan kasar yang terasa aneh. Dengan segera Sean membalik tubuh yang sedang membelakanginya.
“Bekas luka apa ini?” tanyanya saat merasakan permukaan yang tidak rata di perut bagian bawah Evelyn. Ia menatap tajam Evelyn. Tatapan penuh hasrat tadi sudah menghilang seketika.
“Ini.. ini... Ini bekas operasi ginjal.” Jawab Evelyn panik tanpa berpikir.
“Kamu kira aku bisa dibohongi dengan jawaban bodohmu itu?” Evelyn semakin panik. Ia begitu khawatir sampai tidak bisa berpikir jernih.
“Katakan!” ucap Sean dengan nada rendah. Terdengar mengintimidasi.
“Ini tidak ada hubungannya denganmu. Lepaskan aku.” Evelyn semakin meronta.
“Jawab jujur pertanyaan ku. Kamu pernah hamil anakku kan?” tubuh Evelyn menegang.
Namun dengan segera ia berpikir dengan jernih. Tidak mungkin pria itu mengetahui tentang kehamilan nya kan? Pasti laki-laki itu hanya asal menebak saja.
“Tidak. Aku tidak mengandung anakmu.” Sangkal Evelyn. Ia tidak akan membiarkan Sean tahu keberadaan Bryan dan Berlian.
“Jangan membohongi ku.”
“Apa? Aku minum pil KB setelah kejadian itu. Sudahlah aku akan pergi. Carlos dan Rose pasti sedang menungguku dengan cemas.” Evelyn segera memunguti bajunya. Memakainya dengan santai di hadapan Sean. Lagipula laki-laki itu sudah melihat semuanya. Setelah pakaiannya rapi, ia juga memperbaiki riasannya yang telah rusak akibat ulah Sean.
Kali ini Sean membiarkan Evelyn pergi seperti keinginannya. Seperti apapun ia memaksa wanita itu mengaku, ia tidak akan berhasil. Tetapi tentang kehamilan Evelyn ini ia semakin yakin pada firasatnya enam tahun lalu. Ia yakin benih yang ditanamnya di rahim Evelyn tumbuh menjadi bayi kecil tanpa memberi tahu dirinya.
__ADS_1
Biarkan saja jika Evelyn menyangkalnya, toh ia tidak kekurangan orang untuk mencari tahu semuanya.
Hari-hari setelah itu, Evelyn selalu menghindari pertemuan dengan Sean. Ia hanya akan mengirim Carlos untuk urusan penting. Di rumah pun ia sering melamun. Bahkan terkadang Evelyn menjadi tidak fokus. Sungguh tidak seperti Evelyn yang biasanya selalu tenang.
Bryan dan Berlian memperhatikan perubahan mommy mereka. Mommy mereka yang biasanya selalu tenang terlihat aneh beberapa hari. Wanita itu sering terlihat melamun saat sendirian.
Keanehan inilah yang ditangkap oleh kedua anak geniusnya. Mereka bahkan sudah sampai pada kesimpulan jika mommy mereka bertemu dengan Daddy mereka. Kedua anak itu segera menyusun rencana untuk misi menemukan Daddy mereka.
Berlian menerobos masuk ke dalam sistem keamanan Marcus Corp. Tanpa ada yang mencurigai aksinya, gadis cilik itu memeriksa setiap CCTV yang ada di kantor besar itu.
Namun setelah mengamati rekaman selama beberapa hari, mereka tidak menemukan satupun yang salah. Mommynya hanya bertemu dengan orang-orang biasa yang sepertinya tidak ada pengaruhnya pada mommy mereka.
“Jadi bagaimana?” tanya Bryan. Keduanya sedang berada di dalam kamar mereka. Menatap layar laptop dengan serius.
“Aku rasa orang itu tidak ada di lingkungan kantor mommy. Haruskah kita coba mencari dengan siapa mommy bertemu akhir-akhir ini?”
“Bagaimana caranya?”
“Dengan ini.” Berlian menunjukkan sebuah chip pelacak berukuran super mini berbentuk silinder di tangannya. “Kita hanya perlu memasang ini di tubuh mommy. Dan kita akan tahu kemana saja mommy akan pergi. Bahkan dengan alat ini kita bisa mendengar pembicaraan mommy.” sambung Berlian menjelaskan.
“Lakukan dengan benar. Usahakan besok pagi ketika mommy berangkat ke kantor alat ini sudah terpasang.” Pesan Berlian pada saudara kembarnya. Meskipun Bryan sering bertindak sembrono, tapi jika pria kecil itu serius dengan sesuatu, pekerjaan itu akan selesai seperti yang diinginkan.
“Tenang saja. Aku akan mengerjakannya sekarang.” Bryan segera bangun dan berjalan keluar dari kamar mereka. Berlian kembali fokus pada layar laptop di depannya. Ia sedang mencari data dengan perusahaan mana saja mommy bertemu beberapa hari terakhir.
Bryan mengetuk pintu ruang kerja Evelyn. Setelah mendengar suara mommynya dari dalam, ia membuka pintu dengan perlahan. Evelyn yang sedang sibuk dengan pekerjaannya memandang putranya yang kini menghampiri dirinya.
“Ada apa sayang? Kenapa belum tidur?” tanya Evelyn heran. Jam digital di atas mejanya sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Seharusnya anaknya itu sudah tidur. Tapi saat ini Bryan malah masih berkeliaran mencarinya.
“Mom, temani aku tidur.” Ucap Bryan sambil mengucek matanya.
Evelyn tersenyum. Mematikan komputer dan melepas kaca mata yang ia pakai. Kemudian berjalan mendekati Bryan dan menggendong putranya itu.
“Brily dimana?”
“Di kamar.” Jawab Bryan sambil mengeluarkan chip milik Berlian.
__ADS_1
“Juga masih bangun?” Evelyn memperhatikan Bryan. Pria kecil itu seketika menyembunyikan chip yang hampir terpasang di rambut Evelyn. Kemudian mengangguk dengan pelan.
“Belum mom. Kami tadi asik main game.” Dustanya. Di dalam hati kini Bryan menyesali tindakannya. Jika Evelyn masuk ke dalam kamar mereka, tentu saja wanita itu akan tahu jika Berlian dan dirinya sedang melakukan aksinya.
Evelyn dan Bryan masuk ke dalam kamar. Keduanya melihat Berlian sudah berada di atas ranjang miliknya. Bahkan kedua matanya juga sudah tertutup. Bryan menghela napas lega. Ini pasti karena alat penyadap yang terpasang di kamar mereka hingga saudari nya itu mengetahui jika ia datang bersama mommy mereka.
“Lihatlah Brily sudah tidur. Kamu juga harus segera tidur.” Evelyn menurunkan Bryan di atas ranjang. Menutup tubuh putranya dengan selimut.
“Mom tidurlah di sampingku.” Bryan menarik tangan Evelyn.
“Baiklah. Mommy akan menemanimu tidur.” Evelyn mengelus kepala Bryan sebelum ikut merebahkan dirinya di samping putranya.
Bryan dengan cepat memeluk tubuh mommynya. Melingkarkan tangan kecilnya di perut Evelyn.
Evelyn yang memang sudah lelah malah tertidur lebih dahulu. Dengan cepat dengkuran halus didengar oleh dua bocah kecil yang berpura-pura tidur.
“Bryan cepat pasang chip itu. Mommy tidur.” Berlian berkata dengan suara pelan.
Bryan segera mengeluarkan kembali chip kecil itu dan dengan cekatan menempelkannya di dalam cuping telinga Evelyn. Dengan begitu alat itu akan berada di tempat yang aman.
“Beres.” Bryan mengacungkan jempolnya. Berlian mengangguk puas.
“Kali ini aku memaafkanmu karena pekerjaanmu kali ini beres. Hampir saja kamu membuat kita ketahuan.” Omel Berlian dengan suara pelan.
“Maaf-maaf. Habisnya aku bingung tadi mau bikin alasan apa.”
“Oke. Lebih baik kita juga segera tidur.” Bryan mengangguk dan segera menutup matanya. Berlian juga melakukan hal yang sama.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 🤩
__ADS_1
Jangan lupa like dan koment ya 😘