Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
Bab_53. Berkunjung Ke Kediaman Winata


__ADS_3

Evelyn datang ke keluarga Winata keesokan harinya dengan alasan untuk menyerahkan undangan pernikahan secara pribadi. Dia ditemani oleh Justin yang memaksa untuk melihat seperti apa ‘baiknya’ keluarga Winata memperlakukan adik kesayangannya.


Saat mendengar kedatangannya, Ani segera menerjang keluar kamar Vina dengan marah. Ia meraung dan meneriaki perbuatan Evelyn yang dinilainya kejam pada Vina. Tomy juga ikut berlari kecil di belakangnya. Berusaha menegur Ani agar tidak bersikap impulsif.


“Jangan bertindak gegabah ma. Kondisi keluarga kita sedang tidak baik saat ini. Takutnya jika kita menyinggung Sandra hari ini, kita bahkan tidak memiliki tempat lagi besok.”


Mendengar teguran Tomy membuat Ani sadar. Apa yang dikatakan Tomy benar adanya. Nasib keluarga ini sudah buruk saat ini. Jika bertambah lagi nasib sial itu, takutnya tidak akan ada yang bisa menolong mereka lagi.


Memikirkan semuanya, Ani akhirnya hanya bisa menggertakkan giginya. Membuang napasnya kasar untuk membuang emosi yang sudah siap dilepaskan. Lalu dengan tergesa menarik napas panjang untuk mendapatkan lebih banyak kesabaran.


“Aku mengerti pa.” Ani mengangguk. Wanita itu merapikan ujung pakaian nya yang kusut karena ia remas dengan erat untuk meredam emosi. Tangannya bergerak ke atas. Merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.


Alis Tomy sedikit mengkerut saat melihat bukan Sean yang menemani Evelyn datang ke rumahnya. Pria tampan dengan wajah asing duduk dengan anggun di samping Evelyn.


Rambut halus di sekitar dagunya belum ia cukur. Membuat penampilannya terlihat macho dan mengesankan. Apalagi Matanya yang berwarna coklat terang itu menyala dengan tajam. Memperlihatkan mata yang menawan namun juga terlihat menakutkan.


“San... Evelyn, apa kabar?” Tomy langsung menyapa begitu tiba di ruang tamu. Ani juga memasang senyum terbaiknya. Pandangannya mengarah menyelidik pada laki-laki tampan di samping Evelyn.


Dilihat dari penampilannya, laki-laki itu bukan laki-laki biasa. Apa hubungannya dengan Evelyn?


“Aku baik-baik saja.” Evelyn tersenyum dengan lembut. “Bagaimana keadaan kalian?” dirinya balik bertanya.


“Kami juga baik.”


“Syukurlah kalau begitu.” Evelyn mengangguk dengan anggun sebelum menatap tajam Tomy dan Ani yang duduk di depannya secara bergantian. “Aku sempat mendengar kabar jika Vina tertimpa musibah kemarin. Apakah semuanya sudah membaik?” lanjutnya. Ia ingin melihat bagaimana reaksi kedua orang tua itu.


“Ah! Dia sudah lebih baik. Kamu memang saudara yang baik. Masih sempat memperhatikan Vina meskipun kami tahu kamu sangat sibuk.” Tomy berkata dengan tenang.


Ani hanya diam tidak menanggapi. Namun dari matanya terlihat sekilat amarah yang siap menyerang. Andaikan ini terjadi di masa lalu, maka sudah pasti ia menerjang dan menarik rambut Evelyn. Di hatinya, Evelyn tahu wanita itu sedang mengutuknya.


“Bagaimanapun kami juga bersaudara meskipun dia lahir dari rahim seorang simpanan.” Evelyn berkata dengan santai sambil menyesap teh yang disuguhkan untuknya.


“Sandra! Jangan keterlaluan!” akhirnya Ani kehilangan kontrol emosinya. Namun semua yang ingin ia ucapkan hanya bisa ia telan kembali. Ia tidak boleh emosi saat ini. Ani menggertakkan giginya. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Mulutnya seakan terkunci rapat.


Melihat tampilan Ani seperti itu membuat Evelyn sangat ingin tertawa.


“Evy, jangan berkata yang bisa menyinggung orang lain.” Justin yang dari tadi hanya menyaksikan adiknya sedang bermain peran segera angkat bicara.

__ADS_1


Saat Justin berbicara, sejenak Tomy dan Ani terpaku menyadari jika laki-laki itu sangat fasih berbahasa Indonesia.


“Oh maaf kakak. Tapi sepertinya kakak salah paham. Keluarga kami ini saling menyayangi. Masalah kecil seperti itu seharusnya tidak akan membuat Tante marah. Benar kan Tante?” Evelyn bertanya dengan sedikit main-main di matanya.


“Tentu saja. Tentu saja mamamu ini tidak akan marah hanya karena masalah sepele seperti ini.” Tomy berkata sambil menatap Ani dengan kejam. Meminta dukungan dari istrinya itu.


“Iya. Mama tidak marah. Semua yang terjadi di masa lalu sudah lama berlalu. Tidak ada untungnya untuk dibahas lagi. Benar bukan?” Ani dengan terpaksa menyetujui dan mengangguk dengan enggan.


“Benar.” Evelyn menarik kedua sudut bibirnya. Menampilkan deretan gigi-gigi yang putih kecil di dalam mulutnya.


“Oh ya. Aku hampir lupa memperkenalkan kalian.” Evelyn dengan cepat mengubah ekspresinya. Ia menatap Justin dengan senyum kepuasan.


“Pria tampan yang ada di sampingku ini adalah Justin. Dia adalah kakak angkatku. Dan kak, mereka berdua adalah Tuan Tomy dan istrinya, nyonya Ani.”


“Selamat pagi om, Tante. Aku sudah banyak mendengar tentang kalian dari Evy.” Ucap Justin tersenyum penuh makna.


“Itu bagus. Aku harap Evelyn tidak menceritakan yang aneh-aneh pada anda.” Tomy berkata sambil menekan rasa khawatirnya. Jika Evelyn menceritakan perlakuan mereka yang buruk pada laki-laki itu, mereka takut ini Akan berakibat buruk.


Perlakuan yang diterima Evelyn dari Ani dan Vina sudah pasti buruk. Tapi apa yang dilakukan nya tidak bisa dikatakan buruk. Tapi juga tidak bisa dikatakan baik. Di masa lalu ia terlalu menyepelekan Evelyn dan acuh tak acuh atas apa yang terjadi padanya. Apa lagi perlakuan buruknya pada Evelyn di saat terakhir itu takutnya akan ikut diperhitungkan.


“Tenang saja tuan. Evelyn adalah gadis yang sangat baik. Dia selalu memuji kalian di depan keluarga kami.” Justin berkata sambil menyembunyikan senyuman mengejeknya.


“Ah aku sampai lupa tujuanku datang kemari, aku kesini untuk memberikan undangan pernikahan ku dengan Sean. Aku harap kalian bisa datang untuk memberikan restu kalian.” Evelyn mengulurkan undangan dari dalam tasnya. Meletakkannya di atas meja.


“Tentu saja. Kami semua akan datang.”


Tomy mengambil undangan itu. membukanya dan membacanya dengan serius. Pesta pernikahan kan diadakan di sebuah hotel mewah bintang lima. Dan tamunya sudah dapat dipastikan bukan orang biasa-biasa. Semua yang datang pastilah orang penting. Jika ia tidak datang, ia yang akan rugi.


“Oh ya masih ada lagi.” Evelyn menepuk kedua tangannya.


“Apa lagi?” Ani penasaran.


“Aku dan Sean sudah menyiapkan hadiah untuk kalian tadi.” Evelyn lagi-lagi mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Kali ini yang dikeluarkan adalah sebuah berkas yang cukup tebal.


Evelyn meletakkan berkas itu di depan Tomy dan Ani.


“Apa ini?” tanya Tomy penasaran. Ia sangat berharap jika itu adalah sesuatu yang berharga.

__ADS_1


Surat kepemilikan saham, villa, tanah atau boleh juga jika berisi persetujuan kerja sama yang sudah ia ajukan beberapa bulan lalu ke perusahaan Kingston Company. Memikirkannya saja mata pria itu berbinar bahagia.


Mata Tomy tercekat saat membaca isi berkas itu. Semua yang ada di sana adalah bukti kecurangannya dalam mengelola perusahaan. Selain itu, juga berisi bukti-bukti yang menerangkan kepemilikan perusahaan yang sudah berganti nama menjadi milik Evelyn.


“Evelyn, apa maksudnya semua ini?” tanya Tomy tidak percaya. Bagaimana bisa Evelyn melakukan semua ini?


“Seperti kataku kemarin. Sebenarnya anak buahku yang akan datang mewakili ku. Tapi karena aku juga akan datang jadi lebih baik datang sendiri.” Jawab Evelyn tanpa rasa bersalah.


“Aku papamu. Dan kami semua keluarga mu. Bagaimana kamu bisa begitu kejam Sandra?” Tomy menatap Evelyn tidak percaya.


“Sudah kubilang bukan, kalian salah jika masih menganggap aku sebagai Sandra.” Evelyn berkata dengan nada rendah.


“Aku sudah berbaik hati tidak mengusir kalian dari rumah ini. Bahkan masih membiarkanmu berkerja di perusahaan." Evelyn mengedarkan pandangannya pada rumah besar itu. Rumah dimana ia tumbuh selama dua puluh tahun.


“Dan aku juga masih menyiapkan juga hadiah kejutan untukmu tanteku tersayang.” Evelyn berkata sambil menatap Ani dengan misterius.


“Jika kamu datang hanya untuk menghancurkan. Sebaiknya kamu tidak pernah datang.” Ani meraung marah. Ia sudah berusaha keras menekan emosinya. Tapi yang dilakukan Evelyn ini Sangat menguras emosi nya.


“Maafkan aku Tante. Aku tidak bermaksud untuk menghancurkan. Toh semuanya memang sudah hancur bukan.” Ucapan Evelyn penuh dengan ejekan.


“Aku sangat berharap kalian datang untuk kebahagiaan ku. Tapi ingatlah untuk tidak membuatku marah atau aku tidak bisa menjamin kalian bisa hidup nyaman di masa depan.” Evelyn bangkit. Justin ikut berdiri di samping adiknya.


“Jangan khawatir Evelyn. Kami akan datang. Dan papa pastikan semua akan berjalan lancar sesuai keinginanmu.” Tomy Segera menutup mulut Ani yang hendak berkata. Masih cukup bagus ia masih mendapatkan pekerjaan di perusahaan itu. Jika tidak ia tidak tahu bagaimana harus melanjutkan sisa hidupnya.


“Itu bagus. Kalau begitu kami pamit.”


Evelyn berjalan di samping Justin. Kedua orang itu berjalan dengan angkuh meninggalkan kediaman Winata yang berakhir Suram.


Ketika sampai di luar, Justin menepuk pundak Evelyn dengan bangga.


“Memang adikku. Sangat cepat belajar.” Ucapnya bangga.


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir☺️


__ADS_2