Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
S2_62. Ungkapan Perasaan


__ADS_3

Berlian masih tertidur setelah mendapatkan perawatan dari dokter. Untung saja luka di kaki Berlian tidak separah yang ia kira. Tulang betisnya hanya retak dan hanya butuh waktu beberapa bulan saja untuk sembuh dan dapat berjalan dengan normal. Kepala Berlian juga tidak terluka serius. Namun cukup besar dan akan terasa perih saat Berlian sadar nanti. Selain kaki dan kepala yang diperban, pergelangan tangan Berlian juga lebam terkena tali. Dan sedikit luka gores dari pisau yang digunakan Berlian untuk memotong tali sebelumnya.  


Karena kondisinya cukup baik, Berlian akan dipindahkan langsung ke rumah sakit yang sama dengan Bryan dirawat siang harinya.


Sejak Berlian dipindahkan ke ruang rawat inap, Johan tidak pernah meninggalkan Berlian meskipun hanya sebentar. Terry juga terus berjaga di luar untuk memastikan semua aman. Johan bahkan mengawasi dokter yang datang untuk mengontrol keadaan Berlian pagi harinya.


"Kak Johan, mobil yang dikirim rumah sakit sudah sampai di sini. Dokter yang datang sudah mengurus hal yang diperlukan untuk memindahkan nona. Kapanpun nona siap, kita bisa kembali ke kota." Ucap Terry yang masuk untuk mengantar sarapan Johan. Sean memang memerintahkan rumah sakit untuk mengirim mobil ambulan untuk menjemput Berlian. Selain ambulans beserta dokter dan perawat, ada juga sekelompok pengawal.


"Hm." Johan mengangguk.


Terry melirik sekilas Berlian yang masih tertidur di atas ranjang sebelum ia undur diri keluar ruangan.


Johan makan dengan tenang sambil sesekali memperhatikan Berlian. Gadis itu sudah tidur semalaman, seharusnya ia sudah bangun saat ini. Selesai makan Johan menghampiri Berlian dan duduk di kursi di samping ranjang.


Berlian yang sudah setengah sadar merasa seseorang sedang menatapnya. Ia berusaha membuka matanya tetapi ia merasa matanya terasa berat tidak seperti biasanya. Johan yang memperhatikan bulu mata Berlian yang bergerak-gerak segera membungkuk kan tubuhnya. Mengelus pipinya sambil memanggil namanya.


"Kak Johan." Ucap Berlian lirih setelah ia mendengar suara Johan memanggilnya. Meskipun matanya masih tertutup, ia tahu bahwa orang yang ada di dekatnya adalah Johan. Berlian perlahan membuka matanya.


"Aku di sini. Bagaimana kabarmu?" Johan tersenyum setelah melihat mata Berlian yang akhirnya terbuka.


"Aku baik-baik saja."


"Baiklah. Kamu makan dulu. Setelah itu kita bisa kembali ke kota." Johan berdiri dan mengambil bubur yang disediakan rumah sakit untuknya.


Berlian memandangi Johan dan bubur dalam mangkok bergantian. Ekspresinya surut setelah melihat yang terakhir. Dia tidak suka makan makanan yang lembek seperti itu. Dia tidak suka bubur!


"Meskipun kamu tidak suka, kamu tetap harus memakannya." Johan tersenyum melihat ekspresi Berlian. Ia mengaduk bubur sebentar sebelum memberikannya pada Berlian.


"Apa tidak ada yang lain?" Berlian memundurkan kepalanya. Sungguh tidak ingin makan bubur! Dari sekian banyak makanan di dunia, kenapa dia harus makan bubur yang tidak dia sukai?

__ADS_1


"Tidak ada. Karena keadaanmu, dokter berkata kamu tidak boleh makan makanan yang kasar sementara waktu." Berlian merengut. Masih tidak rela membiarkan makanan itu masuk ke dalam mulutnya. Ia selalu merasa buruk saat makan makanan bertekstur lembek. Ia akan merasa sesuatu yang licin melewati tenggorokannya begitu saja. Itu perasaan yang tidak dia sukai.


Di masa lalu saat dia sakit, Evelyn akan membawa tongkat bisbol ke kamar Berlian hanya untuk membuat Berlian makan buburnya. Karena Berlian selalu menolak, Evelyn akan meletakkan tongkat bisbol di depan semua peralatan komputer milik putrinya itu. Dia akan mengancam akan menghancurkan semuanya jika Berlian tidak menghabiskan bubur buatannya.


"Ayo buka mulutmu." Johan sekali lagi mendorong sendok ke depan bibir Berlian. Melihat Johan yang tidak menyerah dan terus tersenyum padanya, Dengan terpaksa akhirnya Berlian membuka mulut dan memakan buburnya.


"Ini hambar kak." Protes Berlian setelah ia memakan bubur itu. Ia memandang dengan enggan sisa bubur yang ada di mangkok yang dipegang Johan di tangan kirinya. Dan melihat ngeri sesendok bubur di tangan kanannya. Ia memandang Johan dengan wajah penuh keluhan.


"Makanan orang sakit memang akan selalu terasa tidak enak." Johan memasukkan lagi bubur di tangannya ke dalam mulut Berlian setelah Berlian menelan bubur itu dengan susah payah.


"Tapi ini benar-benar tidak enak." Berlian merengek lagi. Johan tersenyum melihat sisi Berlian yang manja seperti ini. Dia seperti gadis kecil yang imut. Tidak lagi gadis cuek yang dingin. Johan tidak bisa menghentikan tangannya untuk mengelus kepala Berlian.


"Meskipun begitu kamu masih harus tetap memakannya." Johan tidak menyerah. Ia terus melanjutkan sesuap demi sesuap hingga setengah dari bubur di dalam mangkok berpindah ke dalam perut Berlian meskipun ia harus terus membujuk gadis itu untuk setiap satu suapan.


"Aku benar-benar tidak akan memakan bubur lagi di masa depan." Ucap Berlian salah ia minum segelas air putih.


Johan meletakkan mangkok bubur di atas meja. "Kalau begitu jangan sakit lagi." Johan menoleh dan tersenyum. Ia kembali duduk di samping Berlian.


"Tapi, sakit seperti ini sebenarnya bisa dihindari." Johan memandang Berlian serius.


"Aku tahu. Ini salahku." Johan memukul telak kelemahan Berlian sehingga ia tidak bisa mengelak.


"Berjanji lah untuk tidak terluka lagi." Johan mengelus pipi Berlian. Pipi Berlian langsung memerah.


"Apa kak Johan tidak ingin bertanya padaku mengenai mereka?" Berlian ingat bahwa ia telah berjanji pada Johan untuk memberitahu yang sebenarnya. Berlian merasa ini adalah waktu yang tepat.


"Tidak. Aku tahu aku tidak boleh terlalu memaksamu untuk menjelaskan semuanya padaku. Hanya saja kamu harus berjanji untuk menjaga dirimu dengan baik di masa depan, Hm?"  Johan menatap Berlian serius. Ia sudah memikirkan hal ini semalaman.


Selama hampir tiga tahun yang dia lewatkan berada di samping Berlian, Johan mengerti bahwa Berlian tidak akan melakukan sesuatu tanpa pertimbangan. Jadi jika Berlian memilih untuk bergabung dengan salah satu organisasi yang bahkan lintas internasional, itu artinya memang itu yang baik untuk Berlian. Jadi, meskipun ia tidak ingin hal seperti ini terjadi di masa depan, ia tidak akan memaksa Berlian untuk berhenti.

__ADS_1


"Terima kasih telah mempercayaiku." Berlian merasa lega. Setidaknya ia tidak harus membuka rahasia Deep Line pada Johan.


"Hm. Bukankah sebagai kekasihmu memang sudah seharusnya aku mempercayaimu?" Berlian menghentikan senyumnya. Ia menatap Johan dengan cemberut.


"Kak Johan aku..."


Johan mengetahui apa yang akan dikatakan oleh Berlian. Jadi dia segera memotong nya segera sebelum gadis itu menolaknya lagi dan lagi dengan alasan yang menurutnya tidak perlu.


"Lian tanyakan pada hatimu sendiri. Kamu menginginkanku atau tidak."


"Aku... Bagaimana dengan Clara?" Berlian ragu-ragu. Ia memandang Johan dalam.


"Jawab lah dari dalam hatimu. Aku mengerti kamu memikirkan Clara. Tapi apakah kamu pernah berpikir jika kamu terus menerus memberi harapan palsu pada Clara, dia akan menderita lebih dalam suatu saat nanti?"  Berlian menggelengkan kepalanya.


"Aku tahu pada usia kita memang belum waktunya untuk memikirkan hal ini. Namun Di dalam hatiku, aku sudah berjanji bahwa seumur hidupku ini hanya ada satu orang yang akan selalu bersamaku, yaitu kamu. Aku yakin ingin mengenal dekat dirimu. Aku tidak tahan jika aku tidak mengikatmu dalam suatu hubungan. Aku takut suatu saat nanti kamu akan tertarik pada pria lain. Aku takut pada akhirnya aku tidak memiliki kesempatan untuk menyatakan perasaanku padamu."


Berlian bergetar mendengar pernyataan Johan. Ia menutup mulutnya tidak percaya saat air mata mengalir di kedua pipinya.


"Jangan menangis. Tahukah kamu saat kamu meneteskan air matamu aku merasa seribu jarum menancap di dalam hatiku?" Johan tidak bisa menahan diri untuk memeluk Berlian. Ia memeluk erat Berlian. Mengelus kepalanya dengan hati-hati takut jika sentuhannya akan melukai Berlian.


"Maaf. Maafkan aku. Aku tidak menyangka sikapku akan melukai kakak." Berlian terisak di dalam pelukan Johan.


"Apakah itu artinya kamu mengakui aku sebagai kekasihmu?" Johan memandang kepala Berlian yang bergerak di dadanya. Berlian mengangguk malu-malu sambil menenggelamkan kepalanya semakin dalam ke dalam pelukan Johan. Johan tersenyum mendengarnya. Ia menghujani kepala Berlian dengan ciuman yang bertubi-tubi.


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir ~*(^,^)*~


Jangan lupa like, komen dan  Vote ya....


__ADS_2