
Sean sudah selesai membersihkan dirinya dan Duduk di sofa yang ada di dalam kamar. Di atas ranjang, Evelyn masih bergeming dengan selimut yang menutup seluruh tubuhnya. Hanya rambutnya yang berantakan yang menyembul dari sana.
Ia segera melirik ke arah ranjang saat melihat ada gerakan dari sana. Evelyn mulai mengerjapkan matanya, merenggangkan tubuhnya hingga ia meringis nyeri.
“Auch.” Pekiknya tanpa sadar. Sean yang mendengar suara kesakitan Evelyn segera bangkit dan mendekatinya.
“Apa yang sakit?” Tanyanya. Seketika, Evelyn sadar dan membuka matanya lebar-lebar. Dengan reflek ia menutup tubuhnya dengan selimut saat ia mencoba untuk duduk.
“..” Evelyn tidak menjawab pertanyaan Sean. Wajahnya terlihat kesal dan juga lelah.
“Biarkan aku melihatnya.” Ucap Sena tanpa sadar. Evelyn semakin mengerucutkan bibirnya. Memangnya siapa yang membuat inti tubuhnya terasa sobek dan nyeri. Belum lagi seluruh tulangnya yang terasa hampir patah.
“Minggir aku mau lewat.” Evelyn mengusir Sean dengan kakinya saat laki-laki itu duduk di tepi ranjang. Ia segera melilitkan selimut menutupi tubuhnya.
Sean tidak mau membuat Evelyn semakin kesal, ia pun menurut dan segera berdiri dari duduknya. Memperhatikan Evelyn yang turun dari ranjang dengan kesusahan.
“Biarkan aku membantumu sayang, lihatlah kamu hampir tidak bisa berjalan sekarang.” Sean menangkap Evelyn yang hampir terjatuh saat hendak melangkah.
“Memangnya siapa yang salah? Dasar Hooligan!” dengus Evelyn.
“Maaf. Semalam aku tidak bisa mengendalikan diri.” Ucap Sean penuh rasa bersalah. Ia segera menggendong Evelyn ke dalam kamar mandi. Laki-laki itu memasukkan Evelyn ke dalam bathup yang sudah terisi air hangat, sabun cair dan juga esensial aroma terapi yang menyegarkan.
“Berendamlah sebentar. Semua akan terasa lebih baik. Lain kali aku akan mencoba mengendalikan diriku.” Ucap Sean Membuat Evelyn melotot.
“Jangan berpikir ada lain kali Sean. Semua ini tidak boleh terulang.” Tolak Evelyn.
“Baiklah.” Tapi tidak janji. Sambungnya dalam hati.
“Sudah sana keluar!” Usir Evelyn. Sean segera berbalik dan meninggalkan Evelyn.
Setelah Sean keluar, Evelyn membuka selimut yang membelit tubuhnya. Meletakkannya di sisi bathup. Kemudian, ia menyandarkan kepalanya di tepi bathup dan menghirup napas dalam-dalam.
“Papi dan mami pasti khawatir semalam aku tidak pulang. Seharusnya mereka sudah menjemput ku.” Gumam Evelyn mengingat kejadian kemarin sore saat ia dibawa kabur tepat di depan kedua anaknya.
Di lain tempat, orang tua yang dikira sedang khawatir justru sedang tertawa haha hihi bersama dua cucu mereka. Keduanya tengah membayangkan bagaimana Evelyn tidak bisa melawan saat dibawa pergi.
Keduanya bahkan mulai memikirkan jika Evelyn akan segera menggendong anak yang lain di dalam perutnya. Memerikan cucu pada mereka lagi. Memikirkan ini saja mereka menjadi bersemangat.
__ADS_1
Bryan dan Berlian memberitahu misi mereka pada kakek dan nenek mereka. Dan kedua orang tua itu mendukung bahkan bersedia untuk membantu. Atas bantuan Laura lah malam itu Evelyn dan Sean berhasil makan bersama. Sayangnya, moment yang mereka harapkan tidak terjadi.
Gerakan pendekatan yang dilakukan Sean dianggap kurang cepat. Jadi mereka pun membawa Derry dalam rencana mereka. Mereka berharap, dengan datangnya Derry di tengah pasangan yang akan mereka jodohkan, rencana mereka akan segera tercapai.
Usaha tidak akan mengecewakan hasilnya, dengan sedikit dorongan rasa cemburu, Sean akhirnya bertindak cepat dan membawa Evelyn kabur entah kemana.
Saat Derry hendak mengejar pun, Bryan dan Berlian masih sempat tertawa dan membantu Sean menahan Derry. Kedua bocah itu meminta Derry untuk mengantar mereka pulang. Sebagai tambahan, mereka mengatakan jika laki-laki yang membawa Evelyn pergi adalah kenalan mommy mereka dan meyakinkan jika Evelyn akan di tangan nya. Baru setelah itu Derry sedikit tenang dan mengantarkan dua anak angkatnya pulang.
**
Evelyn keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe yang tersedia di dalam kamar mandi. Handuk putih membelit rambut di kepalanya. Tubuhnya sudah tidak begitu sakit setelah berendam air hangat. Segar dan nyaman.
“Mana pakaian untukku?” tanya Evelyn pada Sean yang duduk tenang di atas sofa.
“Duduklah dulu. Kamu pasti lapar bukan?” Sean menggeser tubuhnya memberi isyarat Evelyn untuk duduk di sampingnya. Tetapi Evelyn tidak melakukannya.
“Makanlah, apa mau aku suapi?” paksa Sean saat Melihat Evelyn yang hanya berdiri diam.
“Aku bisa makan sendiri.” Evelyn akhirnya duduk di sofa singgle. Makanan di atas meja terlihat menggoda. Apalagi perutnya yang kosong segera berdemo ria meminta jatah.
“Antar aku pulang setelah sarapan.” Ucap Evelyn setelah beberapa suap masuk dalam mulutnya.
“Tentu saja. Sekarang makanlah yang banyak.” Sean tersenyum maksimal. Ia juga sedang menikmati makanannya.
Evelyn menyeka bibirnya dengan tisu saat ia selesai makan. Ia kembali menanyakan keberadaan pakaiannya pada Sean.
“Gantilah di ruang ganti, kamu bisa memilih sendiri.” Ucap Sean sambil menunjuk salah satu pintu ruangan di dalam kamar.
Evelyn segera masuk. Saat dia masuk ke dalam ruang ganti, matanya langsung dimanjakan dengan berbagai macam dan model pakaian yang tertata rapi. Ruangan ini seperti lemari besar. Satu bagian adalah pakaian laki-laki yang dapat dipastikan bahwa itu adalah pakaian Sean. Dan satu bagian lagi berisi pakaian perempuan.
Evelyn melihat satu gaun yang paling dekat darinya. “Pasti dia sering membawa perempuan pulang ke rumahnya hingga ada begitu banyak pakaian yang ada di sini.” Gumamnya.
Tangannya bergerak mengambil baju yang lain. Setelan kerja yang terlihat elegan berwarna merah maroon. Ia segera memakainya. Evelyn sedikit terkejut saat melihat pakaian yang ia ambil ternyata pas di tubuhnya. Sepertinya, pakaian itu memang di uat sesuai ukurannya. Bahkan dalaman yang tersedia di salah satu rak juga sesuai ukurannya.
Setelah berganti pakaian, Evelyn keluar dengan rambut yang tergerai setengah basah.
“Duduklah di sini. Aku akan mengeringkan rambutmu.” Sean yang duduk di atas ranjang menunjuk meja rias tak jauh dari ranjang. Evelyn hanya bisa menurut. Jika tidak, ia yakin Sean akan semakin mempersulit dirinya.
__ADS_1
Evelyn duduk menghadap cermin besar. Sean memberitahunya untuk memakai alat make up yang tersedia. Semuanya masih baru. Sama dengan merk yang biasa Evelyn gunakan. Tanpa ragu Evelyn segera merias wajahnya. Sedangkan Sean, berdiri di belakangnya memegang hairdryer di tangan kanan dan tangan kirinya menyisir kasar rambut Evelyn menggunakan jarinya.
“Sepertinya tuan Sean sangat ahli melakukannya, apakah itu karena sudah terlatih memperlakukan wanita-wanita yang sering anda bawa pulang?” sindir Evelyn.
Sean yang sedang mengeringkan rambut Evelyn menghentikan aktivitasnya. Memandang Evelyn dengan serius dari cermin. “Percaya atau tidak, aku tidak pernah membawa wanita pulang ke rumah. Kamulah yang pertama dan satu-satunya.”
Ingin rasanya Evelyn tidak mempercayai ucapan Sean, tapi melihat wajah dan sorot mata matanya dapat dilihat jika Sean berkata jujur. Menyadari arti kalimat Sean membuat hari Evelyn tidak bisa untuk tidak terenyuh. Tiba-tiba ia merasa Bangga.
Sean mematikan hairdryer dan meletakkannya di atas meja rias. Kemudian, meletakkan tangannya melingkar di kedua bahu Evelyn dengan dagu yang ia sandarkan di atas bahu wanita itu.
“Dengarkan aku Evelyn, aku menyukaimu.” Ucap Sean serius. Evelyn tanpa sadar menelan salivanya mendengar ucapan Sean.
“Kamu milikku. Jangan pernah dekat dengan laki-laki lain atau kamu akan tahu apa yang akan aku lakukan.” Sorot mata Sean terlihat tajam di cermin.
“Kamu bukan siapa-siapa ku. Kita hanya rekan bisnis. Kamu tidak punya hak melarangku dekat dengan siapapun.” Balas Evelyn.
“Kamu wanitaku. Lihat. Emph.” Sean mendaratkan bibirnya di leher Evelyn. Membuat satu kissmark baru yang dapat dilihat dengan mudah.
“Sean! Apa yang kamu lakukan?” Evelyn dengan panik menutupi tanda merah yang baru dibuat Sean dengan rambutnya.
“Membuat tanda. Jadi siapapun akan melihat jika kamu sudah ada yang punya.” Jawab Sean enteng sambil menyentuh tanda yang baru ia buat.
“Sudah cukup hari ini Sean. Antarkan aku ke kantor. Ada rapat yang harus aku hadiri.”
“Siap My Queen.” Sean mencium pipi Evelyn sebelum ia berdiri dan menggait tangan Evelyn untuk diajaknya keluar.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 🥰
BAPER?
Sama! Akoh juga 😬
__ADS_1