Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
S2_10. Hukuman Rezvan


__ADS_3

Berlian dan Rezvan melihat Clara yang sedang berbicara dengan siswi lainnya di depan aula. Calara menoleh dan melohat keduanya datang. Ia melambaikan tangannya.


"Brily! Rezvan!" Teriaknya keras. Para siswi yang tadi berbicara dengan Clara menoleh. Jika sebelumnya mereka lebih memperhatiakn ketampanan Johan yang terlihat dewasa, kini mereka mempehatikan ketampanan Rezvan yang sesuai dengan usianya. Meakipun penampilan Rezvan sering terlihat berantakan, tetapi kadar ketampanannya masih jelas terlihat unggul.


Johan, Raka dan Rezvan sebenarnya sama-sama tampan. Tetapi mereka memiliki sisi unggul mereka masing-masing. Jika Johan terlihat dewasa dan dingin, Raka tenang dan berwibawa. Sedangkan Johan terkesan nakal namun terlihat keren.


"Aku sudah menunggu kalian dari tadi." Clara memeluk lengan Berlian. Berjalan sejajar dengannya.


"Hm." Berlian mengangguk ringan.


"Rezvan kenapa kamu tidak memakai atribut? Apa kamu tidak takut dihukum?" Clara mengulurkan kepalanya dan melongok melihat Rezvan.


"Tidak. Lihatlah kalian ini terlihat aneh." Rezvan mencibir.


"Tidak apa-apa. Daripada dihukum. Kalau kamu dihukum nanti aku akan menertawakanmu dengan keras. Iya kan Bril?" Clara mencari dukungan.


"Yah." Berlian mengangguk.


"Tidak apa-apa. Ditertawakan oleh gadis-gadis cantik seperti kalian tidak akan membuatku malu." Jawab Rezvan. Meskipun kalimatnya menunjukkan bahwa ia tidak apa-apa. Tetapi raut wajahnya menunjukkan bahwa ia seperti tertekan. Berlian dan Clara tersenyum melihat Rezvan. Mereka seperti mendapatkan kembali Bryan di diri Rezvan.


Ketika ketiga orang itu masuk ke dalam aula, mereka menjadi pusat perhatian. Apalagi Rezvan yang tidak memakai atribut yang disaratkan untuk acara hari ini. Dan Rezvan bahkan tidak merasa bersalah sama sekali. Ia masih saja berjalan dengan santainya. Duduk bersama dengan Berlian dan Clara.


Bel masuk berbunyi. Aula penuh dengan siswa dengan plastik merah menjadi rompi bajunya. Rambut para siswi juga dikuncir dengan berwarna-warni pita. Sedangkan para siswa terlihat lucu dengan penampilan wajahnya. Aula riuh dengan suara mereka. Yang sibuk menilai penampilan satu dengan yang lainnya. Suara mereka seperti lebah yang berkerumun di sekitar sarangnya.

__ADS_1


Suara mereka baru berhenti saat panitia masuk dan berjajar di depan menggunakan jas kebanggaan mereka yang merupakan tanda bahwa mereka adalah anggota OSIS. Mereka berdiri sesuai dengan jabatan mereka. Di jas mereka terpasang papan nama dan jabatan yang diampunya. Ada sekitar tiga puluh orang di sana. Terlihat tampan dan cantik yang terlihat berwibawa dengan jas hijau tua mereka.


"Selamat pagi semuanya." Raka yang berdiri di tengah memegang mikrofon dan menyapa. Pandangannya menyapu seisi aula.


"Selamat pagi kak." Jawab serentak.


"Hari ini adalah hari terakhir MOS kita. Tidak terasa tiga hari sudah kalian resmi menjadi siswa SMA Bina Bangsa kita yang tercinta. Di sekolah inilah kalian nanti akan menghabiskan waktu tiga tahun untuk menimb ilmu. Untuk itu, gunakan waktu kalian dengan sebaik-baiknya. Apa yang ada di sekolah ini juga harus kalian gunakan dengan sebaik-baiknya. Untuk itu kalian harus mengenal dengan baik lingkungan dimana kalian akan belajar nantinya." Raka berhenti bicara dan menyapu kembali ke seluruh aula.


"Hari ini, sebagai pengukuhan bahwa kalian telah menjadi bagian dari SMA Bina Bangsa ini, kalian harus mendapatkan tanda tangan dari para senior panitia MOS yang berdiri di depan saat ini. Jumlahnya ada tiga puluh orang. Dalam satu hari ini, kalian harus mendapatkan tanda tangan mereka dan jika tanda tangan yang kalian dapatkan kurang dari setengah, kalian akan menerima hukuman. Apa kalian paham?" Tanya Raka. Peserta menjadi berisik sekali lagi. Mereka mulai merencakan pada siapa mereka akan meminta tanda tangan nantinya.


Raka baru akan melanjutkan ucapannya saat seseorang datang membisikkan sesuatu padanya. Raka mengangguk sekilas sebelum tersenyum.


"Tapi sebelumnya, seperti yang telah kami sampaikan kemarin, jika ada yang tidak memakai atribut yang telah kami sebutkan akan mendapatkan hukuman. Sebelumnya kami tidak berharap bahwa akan ada yang tidak menaati peraturan yang telah kami buat. Tetapi karena ada yang tidak menaatinya, kami harus berbiat adil dengan memberinya sedikit sanksi agar menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa sebagai seorang siswa adalah wajib untuk menaati praturan." Raka berhenti. Tatapannya memacu pada Rezvan yang duduk di samping Berlian.  Rezvan duduk dengan tenang. Seperti yang sedang dibicarakan Raka bukan lah dirinya. Tetapi orang lain.


"Ooh.. ada apa?" Rezvan dengan ringan menoleh dan bertanya.


"Silahkan bagi yang merasa tidak mematuhi peraturan maju ke depan." Ucap Raka terdengar jelas. Semua orang melihat Rezvan yang memang satu-satunya peserta MOS yang tidak mematuhi aturan.


"Van mereka menyuruhmu maju." Berlian menoleh dan berbicara.


"Baiklah kalau aku memang harus maju. Maka aku akan maju." Rezvan berdiri. Menepuk celananya yang kusut. Lalu menyugar rambutnya dengan gaya. Seperti ia sengaja menebarkan pesonanya. Melihat tampilan Rezvan saat ini, para gadis berharap bahwa Rezvan tidak dihukum dengan berat.


Berlian bahkan mendengar beberapa siswi di sekitarnya mendoakan Rezvan sambil menangkupkan tanganya. Berlian menggelengkan kepalanya. Apa para gadis ini menganggap kalau Rezvan saat ini akan menghadapi vonis hukuman mati?

__ADS_1


Tidak sepadan dengan kekawatiran para gadis yang mengkhawatirkannya, Rezvan jurlstru terlihat santai. Ia melangkah dengan ringan. Berjalan tanoa takut hukuman apa yang akan ia terima nantinya.


"Namamu siapa?" Yang berbicara kali ini adalah Heru. Kepala sie keamanan. Memang sudah menjadi tugasnya untuk menegakkan aturan dan memberikan hukuman.


"Apa kamu tidak tahu siapa aku?" Bukanya menjawab, Rezvan malah bertanya sambil menaikkan alisnya.


"Kenapa aku harus tahu siapa kamu?" Heru menatap Rezvan dengan kesal. Ia menggertakkan giginya. Murid baru ini terlalu meremehkannya.


"Tentu saja harus. Kalian memaksa kami untuk mengenal kalian. Apa kalian juga berusaha untuk mengingat kami?" Rezvan tidak takut untuk melawan.


"Kamu sungguh kurang ajar! Tidak perlu basa-basi. Wawan masukkan hukumannya." Heru mendengus. Ia sudah kehilangan kesabaran berdebat dengan Rezvan. Peserta MOS khususnya para gadis berdegup kencang saat menunggu hukuman apa yang sebenarnya disiapkan oleh panitia MOS untuk menghukum Rezvan.


Wawan yang tadi berbisik pada Raka masuk dengan membawa kardus berisi alat yang akan digunakan untuk menghukum Rezvan. Bukan merupakan hukuman yang akan melukai fisik tentu saja. Tetapi beberapa barang yang harus dipakai Rezvan sebagai ganti karena ia tidak mau memakai plastik Merah dan merias wajahnya.


Heru mengeluarkan semuanya dan meletakkan di atas meja. Ada wig kribo warna-warni. Baju longgar yang juga penuh warna dan rumbai-rumbai kain. Sepatu berwarna merah besar. Ada juga bola karet sebesar tomat berwarna merah terang. Itu adalah kostum badut. Yang disiapkan panitia MOS yang harus dipakai Rezvan sebagai hukuman.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir ~>(*,*)<~

__ADS_1


__ADS_2