Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
S2_77. Alasan Berlian


__ADS_3

Sylvia sudah mantap dengan keputusannya. Meskipun semua orang menasihatinya agar mengurungkan niatnya, dia masih saja berkeras. Melihat tekad bulat Sylvia akhirnya semua orang dengan berat hati mengizinkannya untuk pindah sekolah ke luar negeri. Besok akhirnya menjadi hari keberangkatan Sylvia.


Berlian berkedut setelah mengetahui negara mana yang dipilih Sylvia. Itu adalah Korea. Negara tempat para oppa idola Sylvia berada. Pantas saja Sylvia berkeras hati untuk datang.


Saat ini pandangan Berlian pada adiknya berubah lagi. Sebelumnya ia masih berpikir bahwa adiknya sangat menderita. Tapi sekarang tampaknya itu memang sudah sesuai dengan mimpinya.


Saat ini Sylvia sedang berkemas. Memasukkan beberapa baju yang baru saja ia beli melalui online shop. Wajahnya yang beberapa hari suram kini terlihat kembali bersemangat. Mengingat betapa mendungnya adiknya setelah kepergian orang tua mereka, Berlian akhirnya menghela napas lega. Setidaknya adiknya menemukan hal yang menghiburnya.


"Sepertinya kamu lebih mirip untuk pergi berlibur daripada pergi untuk bersekolah." Berlian yang duduk di atas ranjang mendengus melihat semua pakaian yang adiknya masukkan ke dalam koperasi besar berwarna pink muda di depannya. Beberapa baju ia beli dari online shop luar negeri.


"Di sana semuanya melihat melalui mode kak. Jika aku tidak bisa mengimbangi, aku akan ditendang saat aku baru melangkahkan satu kakiku ke sana." Jawab Sylvia ringan sambil memasukkan beberapa kebutuhan kecil ke dalam pounch sebelum memasukkannya ke dalam koper.


"Kamu harus jadi dirimu sendiri."


"Aku tahu." Sylvia mengangguk. Masih banyak yang perlu ia persiapkan. Ia bahkan memiliki catatan panjang memgenai apa saja yang perlu dia bawa.


Sylvia nantinya akan tinggal di asrama selama di sana. Sebenarnya mereka memiliki kerabat jauh yang bisa dipercaya untuk tuk menampung Sylvia selama dia tinggal di sana. Tetapi Sylvia menolak dengan tegas dan mengatakan bahwa ia ingin belajar mandiri. Semua orang lagi-lagi menyetujui dengan santai tetapi masih akan ada orang yang akan mengawasi dan menjaga Sylvia sepanjang waktu.


"Apa kak Brily sudah membuat keputusan?" Sylvia tiba-tiba bertanya saat ia selesai dan duduk di sampingnya. Berlian melirik nya dengan penasaran.


"Keputusan apa?"


"Aku sudah akan pindah. Seharusnya kakak susah bisa memutuskannya kan?" Sylvia menatap Berlian yang terkejut. Saat Johan mengatakan niatnya pada Berlian saat itu Sylvia tanpa sengaja mendengar percakapan keduanya. Saat itu ia turun untuk mengambil air minum di tengah malam.


Saat ia baru menginjakkan kakinya di tengah tangga ia mendengar sayup-sayup suara orang berbicara. Dari suaranya ia langsung mengenali keduanya bahwa orang yang sedang berbicara itu adalah Berlian dan Johan. Dia ingin mengabaikannya dan berjalan ke dapur dengan hati-hati dan mengambil minuman yang lalu kembali dengan cara yang sama. Tetapi saat ia akan mengambil langkah berikutnya, ia mendengar Berlian menyebut namanya dalam pembicaraannya.

__ADS_1


"Sylvia terbiasa dengan banyak orang di sekitarnya. Meskipun kakek dan nenek baik, Sylvia tidak akan hidup bersama mereka. Sylvia memang terlihat mudah bergaul dan mudah akrab dengan siapa saja. Tapi pada dasarnya dari kami bertiga, dialah yang paling sulit percaya pada orang . Jika aku meninggalkannya di sini dengan kakek dan nenek, aku takut dia akan kesepian." Suara Berlian menghentikan langkah Sylvia. Ia tidak menyangka bahwa kakak perempuan yang selalu berdebat dengannya ternyata mengerti dirinya dengan dalam.


"Baiklah. Kalau begitu kita bisa membicarakannya setelah semuanya normal." Johan juga tidak mendebatnya.


Saat itu Sylvia menyadari bahwa dia sebenarnya tanpa sadar telah meninggalkan beban pada saudarinya. Sylvia berbalik dan kembali ke kamarnya tanpa air yang dia inginkan.


"Maaf aku tidak sengaja mendengar saat kakak berbicara dengan kak Johan saat itu. Aku tahu aku manja dan membutuhkan orang lain untuk menemaniku. Tapi aku tidak akan membiarkan diriku merusak kebahagiaanmu." Sylvia menundukkan kepalanya.


"Gadis konyol! Sebenarnya apa yang kamu pikirkan selama ini? Kenapa kamu nisa berpikir seperti itu? Dasar narsis!" Berlian mendorong kepala adiknya dengan lembut.


"Bukankah itu benar? Kak Brily menolak lamaran kak Johan karena aku kan?" Sylvia terkejut.


"Hahahaha. Siapa yang menolak kak Johan karenamu? Siapa juga tidak menolaknya. Aku menyukainya kamu tahu?" Berlian terkikik.


"Lalu?"


Sylvia berkedip dua kali saat ia menyadari bahwa ternyata ia berpikiran terlalu banyak. Bahkan ia berpikir selama berhari-hari sampai ia dapat memutuskan untuk pergi ke luar negeri untuk belajar. Jika dia tahu semua ini, seharusnya ia tidak pergi sejauh awal.


"Pemikiran konyol apa itu? Ck. Berpikir dirinya paling penting hingga aku harus mengorbankan cinta. Huh!" Berlian mencibir. Tapi bibirnya melengkung. Hatinya menghangat saat mengetahui jika Sylvia begitu memikirkannya.


"Jadi sebenarnya aku tidak perlu pergi?"


"Mengapa tidak? Lihatlah semua persiapan yang kamu buat. Lagipula siapa yang merengek beberapa hari yang lalu hanya demi diizinkan untuk pergi? Apa kamu mau menelan lagi semua perkataan yang terlanjur kamu ludahkan hingga jauh?" Ejek Berlian.


Sylvia menjatuhkan rahangnya. Kakak perempuannya yang sebenarnya dia pikirkan kesejahteraannya ternyata begitu tega padanya!

__ADS_1


Melihat wajah masam Sylvia Berlian tersenyum menang.


"Sebenarnya baik jika kamu pergi. Jika aku memiliki sedikit saja kehangatan dan keceriaan sepertimu aku juga ingin pergi. Kamu bisa melihat dunia yang lebih luas. Dengan kemampuanmu kamu juga akan mendapatkan banyak sekali teman. Kamu tidak akan lagi kesepian." Wajah masam Sylvia meredup. Ia mengerti maksud Berlian. Sejak kecil teman yang dimiliki Berlian b siapa dihitung dengan satu tangan. Dan sekarang bahkan bisa dikatakan bahwa katanya tidak memiliki satu pun tanpa di sisinya. Clara dan Rezvan dikirim ke luar negeri untuk kuliah dan meninggalkannya sendirian di sini. Bahkan setsetelah satupun tahun berada berada di universitas, dia masih tidak mendapatkan satu pun teman.


"Makanya setuju saja dengan kak Johan. Dengan begitu kakak Brily tidak perlu lagi sendirian."


"Tunggu sebentar lagi." Berlian tersenyum penuh keyakinan.


Johan yang sedang dibicarakan kembali ke tempatnya setelah ia menampilkan Berlian selama tiga hari. Dan setelah itu ia hanya beberapa kali datang untuk melihat keadaan Berlian dan untuk membicarakan rencananya untuk segera menikahinya. Tapi setelah Berlian memintanya untuk memberinya sedikit waktu, Johan akhirnya kembali dan membuat pengaturan untuk melindungi Berlian dari Alisya.


Dia bisa mengecoh Alisya beberapa kali saat ia pergi menemui Berlian, tetapi ia tidak mungkin bisa menutupinya selamanya. Suatu saat Alisya pasti akan curiga dan memeriksanya. Saat itu terjadi Berlian mungkin berada dalam bahaya. Jadi saat ia mengetahui bahwa ia tidak bisa membawa Berlian di sampingnya ia harus merubah rencananya.


"Semua persiapan sudah siap tuan." Johan menmengangguk setelah mendengar laporan dari asisten kepercayaannya.


"Oke. Mari kita lakukan awal bulan depan."


"Dimengerti." Dika menganggukkan kepalanya mengkonfirmasi.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir ~*(^,^)*~

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan  Vote ya....


__ADS_2