Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
S2_13. Bagaimana?


__ADS_3

Hari ini dilalui dengan tidak mudah. Rezvan juga tidak muncul lagi sejak ia bertemu dengan Berlian. Clara berulang kali melongok untuk mencari keberadaan teman barunya itu. Sedangkan Berlian sudah tidak memperdulikannya lagi. Status yang ia yakini bahwa Rezvan saat ini sudah tidak berada di lingkungan sekolahan. Melihat dari karakter Rezvan, pemuda itu pasti tidak akan mau repot-repot menyelesaikan masalah yang ia timbulkan.


Clara berkata bahwa hari ini ia tidak dijemput. Jadi ia meminta tumpangan pada Berlian. Ketika waktu pulang telah tiba, keduanya berjalan bersama ke luar gerbang. Keduanya tidak lagi memakai atribut  seperti tadi pagi. Acara MOS ditutup dengan melepaskan atribut yang mereka pakai. Dan dengan itu mereka sudah resmi menjadi siswa SMS.


Lagi-lagi Johan dikerumuni oleh para gadis. Hari ini bahkan ada lebih banyak. Berlian mendesah pelan melihatnya.


"Aku tidak mengerti selera mereka. Dibandingkan dengan Raka jelas sangat jauh dibawahnya." Berlian mendengar suara seorang gadis yang dilewatinya. Ada tiga gadis di sana. Yang berbicara adalah gadis cantik dengan rambut lurus dengan pita biru di rambutnya. Namanya Nina. Di depannya, gadis yang cantik yang memiliki mata cerah terrlihat manis dan memikat. Namanya Donna. Salah satunya lagi gadis yang juga cantik. Ada lesung pipit di pipi kirinya. Namanya Ruli.


"Benar. Tampan seperti apapun dia tetap seorang sopir. Dia tidak level dengan kita." Ruli menanggapi.


"Kalau bukan sopir?" Donna menatap kedua temannya. Lagipula tidak ada yang tahu identitas Johan sebenarnya. Donna tentunya juga bisa melihat bahwa Johan tidak memakai seragam layaknya sopir kebanyakan. Dia terlihat rapi dan formal setiap saat. Kedua temannya tidak menjawab.


"Kak Jojo semakin terkenal Bril. Bantulah aku untuk mengejarnya." Clara melingkarkan tangannya di lengan Berlian.


"Kak Johan tidak lari. Kenapa harus dikejar?"


"Aku serius Brily. Kita sudah bersahabat lama. Kamu tahu betul kalau aku sangat mencintai kak Jojo."


"Kita masih kecil Cla. Belum waktunya memikirkan tentang pasangan."


"Kutai sudah SMS.  Lihatlah seragam yang kita pakai. Ini sudah putih abu-abu. Bukan lagi putih biru. Dulu kamu pernah berjanji akan membantuku kan?"


"Heh..." Berlian menghela napas. Ia memang pernah berjanji untuk membantu Clara mengejar Johan. Tapi itu karena ia tidak mau sahabatnya ini menjadi tidak fokus pada pelajaran dan mengatakan bahwa ia masih terlalu kecil. Dan Johan tidak akan menyukai gadis yang tidak mau belajar.


"Baiklah. Apa yang bisa aku bantu?" Berlian akhirnya menyerah.


"Bagaimana kalau akhir pekan ini ajak kak Joko untuk keluar. Nanti kita ajak Rezvan juga. Jadi kamu nanti bisa jalan sama Rezvan dan kak Joko denganku. Bagaimana?" Mata Clara  berbinar saat memberitahukan rencananya.


Berlian berpikir sebentar. Mengingat jadwalnya yang lumayan sibuk akhir-akhir ini. Ia harus membantu teman-teman di organisasi untuk menyelesaikan kasus. "Baiklah." Setelah memastikan bahwa jadwalnya kosong akhir pekan ini ia mengangguk. Clara langsung bahagia dan memeluknya


"Terima kasih Brily. Kamu adalah sahabat terbaikku." Berlian hanya berdehem.


"Selamat siang kak Jojo." Sapa Clara saat melihat Johan di depan mobil. Johan mendongak dan tersenyum. Membuat gadis-gadis di kerumunan berteriak histeris. "Hari ini aku tidak dijemput. Bolehkan aku pulang bersama?" Johan melirik Berlian yang diam di samping Clara. Itu artinya Berlian memang sudah tahu setelah melihat tidak ada perubahan di raut wajahnya.


"Tidak masalah." Johan mengangguk.


"Terima kasih kak Jojo." Clara tersenyum bahagia. Ia melompat sebelum menarik Berlian untuk segera masuk ke dalam mobil.


Johan juga masuk setelah melirik sekilas Berlian.


Sepanjang perjalanan Clara terus berbicara. Suaranya mendominasi. Berlian dan Johan hanya sesekali menanggapi saat nama mereka disebutkan oleh Clara. Tak terasa mereka akhirnya sampai di rumah Clara.

__ADS_1


"Baiklah. Terima kasih tumpangannya. Kak Jojo. Brily." Ucap Clara setelah ia turun dari mobil.


"Sama-sama." Berlian dan Johan menjawab serempak. Clara memandang keduanya bergantian.


"Kompak sekali kalian." Clara memiringkan matanya.


"Memang ada lagi yang bisa diucapkan selain sama-sama? Apa kamu berharap kalau aku akan mengatakan melarangmu untuk menumpang lagi?" Berlian berkata dengan serius.


"Eh tidak-tidak. Benar juga apa yang kamu katakan. Ya sudah aku masuk dulu. Sekali lagi terima kasih." Kali ini Berlian dan Johan mengangguk. Dan lagi-lagi mereka bersama-sama. Seirama. Seperti mereka berada dalam satu kendali.


Clara juga melihat itu. Dia sedikit canggung dan berusaha untuknya tersenyum.  "Baiklah kalau begitu sampai jumpa besok."


"Ya." Kali ini hanya Berlian yang menjawab. Sedangkan Johan sudah meletakkan tangannya di atas kemudi. Clara melarikan sekilas sebelum akhirnya ia berbalik dan benar-benar berjalan masuk ke dalam rumahnya. Mobil yang dikemudian Johan juga segera melaju. Keluar halaman dan berbaur dengan kendaraan mobil di jalan raya.


"Bagaimana hari ini?" Suara bariton Johan membuat Berlian mendongak.


"Lumayan." Jawab Berlian singkat sebelum kembali fokus pada ponsel di tangannya.


"Apa ada teman baru?"


"Hem.. ya."


"Laki-laki. Dia membawa motornya sendiri. Jadi kami tidak pernah keluar bersama."


"Oh..." johan menganggukkan kepalanya.


"Akhir pekan ini kami akan jalan-jalan di mall. Tolong antarkan aku nanti."


"Dengan teman baru itu?" Johan melirik Berlian dari spion tengah.


"Ya. Dengan Clara juga." Johan menganggukkan kepalanya.


"Kenapa?"


"Tidak. Aku rasa itu bagus juga. Aku bisa mengetahui siapa teman barumu itu."


"Apa itu penting?"


"Tentu saja. Tuan Sean memerintahkanku untuk menjagamu."


"Aku bisa menjaga diriku sendiri."

__ADS_1


"Bagaimanapun kamu adalah anak perempuan. Tuan Sean melakukan itu sedemikian kebaikanmu."


"Aku tahu. Memang kak Johan lah yang paling mengerti daddy. Aku jadi curiga kalau sebenarnya  kak Johan juga salah satu anaknya daddy?" Berlian memicingkan matanya. Menatap Johan penuh selidik.


Mendengar analisis seenaknya Berlian membuat Johan terbatuk keras. "Tidak..uhuk uhuk.. tidak benar. Aku bukan anak dari Tuan Sean." Ucap Johan dengan kesulitan.


"Lalu kenapa kak Johan seperti bisa membaca pikiran daddy?"


Johan berkesempatan untuk menghentikan batuknya. "Semua orang tua apalagi seorang ayah akan berpikiran yang sama. Bagi seorang ayah, yang paling membuatnya khawatir adalah keselamatan putrinya."


"Apa kak Johan sudah pernah menjadi seorang ayah?"


"Tidak perlu menjadi ayah untuk mengerti semua ini. Semua laki-laki pasti tahu."


"Sepertinya kak Johan sudah siap untuk memiliki  pasangan. Aku punya kandidat yang cocok."


"Tidak perlu. Aku masih muda."


"Tidak mengapa. Lagipula tidak harus langsung menikah kan?"


"Brily sebaiknya jangan membahas ini lagi."


"Kenapa? Apa kak Johan sudah memiliki gadis yang disukai?"


"Kalau aku bilang gadis yang aku sukai adalah kamu, bagaimana?"


*


*


*


Terima kasih sudah mampir ~>(*,*)<~


*


*


*


Terima kasih sudah mampir ~>(*,*)<~

__ADS_1


__ADS_2