
Sementara Evelyn yang dilanda kekhawatiran, Sean yang sedang berusaha mencari informasi tentang Evelyn mendapatkan jalan buntu. Dari informasi yang dia dapatkan dari anak buahnya, Evelyn baru tiba di Indonesia setelah tinggal selama bertahun-tahun di luar negeri yang bahkan tidak berhasil mereka lacak asalnya.
Informasi pribadi mengenai Evelyn seperti nya sengaja dihilangkan. Informasi yang diperoleh Sean hanya lah tentang prestasi dan kemampuan kerja Evelyn. Bahkan nama orang tua wanita itu pun tidak dia ketahui. Yang lebih mengejutkan riwayat perjalanan penerbangannya pun tidak dapat ditemukan. Sepertinya, di belakang Evelyn ada orang kuat yang mendukungnya.
Orang-orang yang mengintai Evelyn selalu kehilangan jejaknya. Mobil yang ditumpangi Evelyn selalu saja berhasil lolos dari pengintaian. Anak buah Evelyn sepertinya sangat ahli dalam hal ini.
Sean melempar berkasnya frustasi setelah anak buahnya keluar ruangan. Sudah seminggu tidak satupun informasi yang lebih detail yang ia dapatkan.
“Masuklah.” Kata Sean melalui interkom. Tak berapa lama Soni masuk ke dalam ruangan. Membungkukkan badannya sebelum berdiri di depan Sean menunggu perintah.
“Ikut aku ke Marcus Corp.” Perintah Sean.
“Tapi kita tidak memiliki jadwal ke sana.” Soni keberatan. Di kantor sedang banyak pekerjaan. Jika mereka pergi ke Marcus Corp tanpa ada tujuan bukankah hanya akan membuang waktu?
“Memang aku perlu alasan untuk pergi ke suatu tempat?” kata Sean tak terbantah. Soni hanya bisa menurut.
Soni saat ini dalam suasana hati yang kacau. Sampai sekarang bisa masih tidak mengerti mengapa Sean menyetujui kontrak yang diajukan Marcus Corp tanpa menolak sedikit pun. Dan sekarang bosnya itu bahkan ingin bertindak yang tidak sesuai dengan prosedur.
“Tuan, saya akan atur jadwal untuk bertemu dengan pihak Marcus Corp untuk pemantapan proyek kerjasama yang seharusnya dijadwalkan tiga hari mendatang.” Ucap Soni pada akhirnya.
“Jika bisa dilakukan sekarang kenapa harus mengulur waktu? Lakukan dengan segera! Undang pemimpin perusahaan itu untuk makan siang denganku nanti. Tapi ingat untuk menekankan pemimpin perusahaan. Itu artinya nona Evelyn. Bukan yang lain. Katakan pada mereka jika aku tidak menerima adanya pengganti.”
“Baik.” Soni segera membungkukkan badannya. Pergi meninggalkan ruangan Sean untuk mengerjakan tugasnya.
Undangan dari Sean dengan terpaksa disetujui oleh Evelyn. Apalagi kali ini pertemuan pemantapan proyek yang akan dimulai bulan depan. Jadi pertemuan kali ini sangatlah penting.
Sean berjalan dengan santai di gedung kantor Marcus Corp. Semua karyawan yang melihatnya tidak bisa untuk tidak mengalihkan pandangannya padanya. Bahkan petugas resepsionis yang seharusnya menghentikan Sean untuk masuk tanpa pemberitahuan mengabaikan tugasnya dan membiarkan Sean dan Soni masuk dengan lancar.
Saat Sean dan Soni hendak masuk ke dalam lift, lift khusus petinggi perusahaan terbuka. Dari dalamnya keluar Evelyn, Carlos dan juga Rose. Ketiga orang itu selalu pergi bersama-sama.
__ADS_1
Evelyn sangat terkejut melihat Sean ada di kantornya. Namun dalam sekejap wanita itu berusaha menormalkan dirinya.
“Selamat siang nona Evelyn.” Sean melancarkan aksinya. Ia mendekati Evelyn yang kini tampan cemas.
“Selamat siang tuan Sean. Ada apa anda datang kemari? Bukankah pertemuan kita ada di restoran?” tanya Evelyn memberanikan diri.
“Kami kebetulan lewat. Jadi mampir untuk menjemput kalian.” Soni yang mendengar alasan Sean mencibir dalam hati. Kebetulan lewat dari mana jika letak kantor mereka saling berlawanan arah. Soni bahkan seperti tidak mengenal bosnya dengan karakter yang ini.
Alis Evelyn mengerut. Meskipun ia hanya sekali pergi ke Kingston Company, tetapi ia masih ingat jika letak kantor mereka sangat berjauhan. “Terima kasih tuan Sean. Maaf merepotkan Anda.” Ucap Evelyn akhirnya. Ia tidak mau berdebat dengan laki-laki mesum itu di depan banyak orang.
Sean tersenyum puas. Ia tahu betul jika Evelyn tidak akan melawannya di depan umum. “Tidak masalah nona Evelyn. Untuk wanita semenarik anda apapun tidak akan menjadi masalah.”
“Baiklah. Karena tuan Sean sudah sampai di sini bagaimana jika berangkat sekarang saja?” Evelyn masih mempertahankan senyum bibirnya.
“Tentu saja. Silahkan.” Sean melambaikan tangannya. Memberi isyarat agar Evelyn berjalan terlebih dahulu.
Di tempat lain, Bryan dan Berlian yang sudah mulai bersekolah juga sedang istirahat. Mereka berdua duduk di taman. Bryan memainkan yoyo di tangannya. Mainan itu bergerak naik turun dengan lincah di bawah kendali bocah cilik yang tampan itu.
“Bry mommy bergerak.” Ucap Berlian saat posisi Evelyn mulai bergerak meninggalkan kantor. Bryan yang mendengar ucapan Berlian segera menghentikan permainannya. Ia mendekati saudarinya dan duduk di sebelahnya.
“Mommy mau pergi kemana?”
“Entahlah. Aku juga baru membuka ponsel.”
Bryan menganggukkan kepalanya. Keduanya kembali memperhatikan layar ponsel. Mereka menajamkan pendengaran mereka. Mencoba menguping pembicaraan mommy mereka yang ada di kejauhan. Suara Evelyn juga terdengar bersama dengan dua suara lainnya. Suara milik Carlos dan Rose. Pembicaraan mereka hanya mengenai pekerjaan. Dan jika di dengar dari percakapan mereka, Carlos dan Rose adalah bawahan Evelyn di kantor.
Tiba di restoran mobil yang membawa Evelyn berhenti. Diikuti mobil Sean dan Soni yang juga ikut berhenti. Berlian segera membuka laptop yang ia gunakan untuk mencari tahu lokasi Evelyn. Dan setelah mendapatkan lokasi keberadaan Evelyn, ia meretas CCTV restoran tersebut.
“Brily sepertinya dua orang ini mengikuti mommy.” Bryan menunjuk gambar Sean dan Soni di layar.
__ADS_1
“Mereka pasti klien mommy. Lihatlah salah satu mereka membawa berkas di tangannya.” Ucap Berlian.
“Kamu benar. Eh tapi pria yang berjalan bersama mommy ini terlihat tampan.” Puji Bryan setelah memperhatikan Sean.
“Hm. Bukankah kamu memujinya karena dia mirip denganmu? Tunggu! Pria ini mirip denganmu. Jangan-jangan dia ini Daddy kita!” pekik Berlian menyadari sesuatu.
“Ah benar. Setelah diperhatikan dia memang mirip denganku. Tapi aku masih lebih tampan darinya. Dan lihatkah alisnya yang tajam itu. Alis itu sama seperti milikmu.” Ungkap Bryan setelah memperhatikan Sean dan Berlian bergantian.
“Tidak. Aku lebih mirip mommy. Lihatlah aku secantik mommy. Alis sempurna ini juga aku dapatkan dari mommy.” Bantah Berlian.
“Ah sudahlah. Itu tidak penting.” Bryan memutar bola matanya malas. “Sepertinya dia memang Daddy kita. Lihat saja mommy sampai kesal seperti itu. Dia kelihatan hebat. Meskipun mommy kesal seperti itu mommy masih terus bersamanya dan juga masih bisa tersenyum meski itu menakutkan.” Bryan mengelus dagunya.
“Kamu benar. Sebaiknya kita cari tahu tentang pria ini. Jika pria ini memang hebat kita akan membuatnya bersama mommy. Tapi jika dia tidak sehebat kelihatannya, jangan pernah anggap dia Daddy kita meskipun itu benar.”
“Hump!” Bryan mengangguk setuju.
Di layar yang sedang dua anak kecil itu perhatikan, laki-laki yang sedari tadi mereka nilai mendadak merasakan dingin di punggungnya.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 🤩
Like 👍
Vote 🤩
__ADS_1
Hadiah juga boleh ?
Komen2 juga dong biar rame 🔥