Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
Bab_39. Dad...


__ADS_3

Evelyn mematung di ambang pintu. Di depannya, ia melihat putranya sedang terbaring di atas ranjang periksa. Wanita muda berpakaian dokter berdiri di sebelahnya sambil membawa suntikan dan siap untuk menancapkan jarumnya di lengan atas bocah kecil yang terbaring.


“Hentikan dokter! Sudah dibilang aku tidak mau disuntik!” Teriak bocah kecil yang sedang terbaring tak berdaya. Kakinya dipegang erat oleh Laura. Sedangkan tangannya, menjadi bagian saudari kembarnya untuk mengamankannya.


“Menurutlah Bry! Kamu harus disuntik anti tetanus.” Bibir kecil Berlian berdecak kesal setiap saudaranya Itu bergerak keras. Tenaganya jelas kalah dari Bryan.


“Nenek jangan biarkan dokter itu menyuntikku!” teriak Bryan sekali lagi. Mencoba mencari bantuan neneknya.


“Salah sendiri keras kepala. Jarimu terkena jepit rambut. Jadi harus disuntik.” Jelas Berlian.


“Tidak!” teriak Bryan sambil terus meronta.


“Ini tidak akan sakit. Hanya seperti digigit semut.” Rayu dokter itu sambil tersenyum lembut.


“Aku tidak takut disuntik dokter! Enak saja bilang aku takut!” teriak Bryan Tidak terima.


“Bryan.” Suara seseorang yang sangat dikenalnya membuat Bryan berhenti meronta. Bahkan bibirnya diam tertutup rapat saat merasakan sakit ketika jarum suntik menembus kulit dan dagingnya. Hingga cairan di dalam tabung suntik habis dikeluarkan di dalamnya lalu ditarik kembali.


“Mommy.” Panggil Bryan dan Berlian bersamaan.


“Apa yang terjadi?” tanya Evelyn dengan nada rendah.


“Kami bisa menjelaskan nya mom.” Bryan buru-buru berkata.


“Sudahlah sayang, yang penting putra kita baik-baik saja.” Sean yang masuk setelah mendengarkan penjelasan dari Maxim mengerti apa yang terjadi.


“Mereka masih anak-anak, membuat sedikit masalah bukanlah hal besar.” Sean memeluk bahu Evelyn. Menepuknya pelan untuk meredakan amarah wanita itu.


“Huft.” Evelyn menghela napas panjang. Ia bukan sedang marah. Ia hanya khawatir. Sedikit berlebihan mungkin. Tapi ia benar-benar khawatir tentang keadaan Bryan. “Jadi bagaimana keadaan putra saya dokter?”


“Putra anda tidak apa-apa. Lukanya sudah kami rawat sesuai prosedur. Karena jepit rambut yang melukainya berbahan besi, jadi kami harus menyuntikkan obat anti tetanus agar hal yang tidak diinginkan dapat dihindarkan. Setelah ini juga bisa langsung dibawa pulang.” Jelas dokter itu sabar.

__ADS_1


“Terima kasih dokter.” Evelyn bersyukur putranya baik-baik saja. Ia segera mendatangi Bryan yang masih terbaring di atas ranjang. Mengangkat tangan kanan Bryan yang terlilit perban di ujung jari telunjuknya.


“Sakit mom.” Rengek Bryan sambil menampilkan wajah memelasnya.


“Sudah diobati. Kamu akan baik-baik saja nanti. Mari kita pulang.” Ucap Evelyn sambil mengelus kepala putranya dengan sayang.


Ia mengecup kain kasa yang membalut luka Bryan.


“Baiklah biarkan Daddy yang menggendongmu.” Sean maju dan menggendong Bryan. Evelyn menemui dokter dan meminta resep obat untuk Bryan. Setelah urusan selesai mereka segera pergi.


Melihat Bryan yang ada di gendongan Sean membuat Evelyn merasa iri. Ia juga ingin digendong Daddy mereka.


“Dad...” suara kecil Berlian membuat Sean menghentikan langkahnya. Selama ini kedua anaknya tidak pernah memanggil nya Daddy meskipun mereka tahu jika ialah Daddy mereka, jadi saat ia mendengar Berlian untuk pertama kali memanggilnya dengan sebutan Daddy, hatinya merasa sangat bahagia. Baru kali ini Sean merasa bahagia hingga ia merasa bunga-bunga mekar di sekelilingnya


Sean menundukkan dirinya dengan Bryan di gendongannya. Berjongkok di depan Berlian yang menatapnya dengan tatapan penuh damba. “Bisa mengulanginya lagi?”


“Dad... Daddy, bisakah aku juga digendong seperti Bryan?” bibir kecil itu bergerak lucu seperti keinginan Sean.


Sean berbinar senang. Evelyn yang ada tak jauh dari mereka juga merasa hangat di hatinya. Ia melihat bagaimana kedua anaknya sangat bahagia. Kini ia yakin keputusannya untuk menerima Sean adalah keputusan yang benar.


“Tenang saja. Daddy kalian ini kuat. Mama kalian saja sering Daddy gendong. Auch.” Pekik Sean saat Evelyn mencubit lengannya.


“Sakit sayang.” Keluhnya menatap Evelyn tak terima.


“Itu hukuman karena berbicara omong kosong di depan anakku.” Ucap Evelyn dengan kesal. Bagaimana bisa Sean mengucapkan hal itu dengan tanpa berdosa pada anak-anak mereka? Tidakkah Sean merasa malu?


“Mommy, apakah mommy sering minta digendong Daddy. Mommy kan sudah besar. Kenapa masih minta gendong?” Bryan bertanya dengan serius. Ia menatap mommynya penuh tanya.


“Mommy kalian terkadang merasa capek Jadi daddy bantu mommy kalian. Sudah jangan bertanya lagi. Sini Brily biar Daddy menggendongmu juga.” Potong Sean cepat. Kedua anaknya ini terlalu tanggap bukan? Jika ia biarkan dua bocah ini terus bertanya. Ia khawatir tidak akan bisa menggendong mommy mereka di masa depan.


Berlian segera mendekat dan membiarkan Sean merangkulnya dan menggendongnya di tangan kanan yang berlainan dengan saudara kembarnya.

__ADS_1


Sean berdiri dengan mudah meskipun dengan dua anaknya di kedua tangannya. Ia berjalan dengan santai seperti tanpa beban. Evelyn ikut berjalan di sampingnya.


Tidak jauh dari mereka, Laura dan Maxim memandang ke arah mereka dengan senyum di bibir tua mereka. Melihat kebahagiaan mereka, Maxim dan Laura ikut merasa bahagia.


Melihat kebahagiaan keluarga kecil yang sempat terpisah dan sebentar lagi akan bersama kembali membuat mereka terharu.


“Sudah saatnya kita melepaskan putri dan cucu kita sayang.” Maxim memandang istrinya yang bersandar di bahunya. Sedang menitikkan air mata kebahagiaan. Istrinya hanya mengangguk sebagai jawaban.


“Kenapa kamu malah menangis? Kamu tidak bahagia Evelyn kesayangan kita mendapatkan kebahagiaannya?” Maxim menggerakkan jarinya menghapus air mata yang mengalir dari ujung mata Laura.


“Ini air mata kebahagiaan. Aku tentu saja bahagia melihat mereka bahagia. Sean pemuda yang baik. Ia bisa menjaga Evelyn kita dengan baik.” Laura tersenyum bahagia.


“Aku yakin itu. Sean adalah orang yang tepat bersama Evelyn. Dia pria yang mampu melindunginya.”


“Hem. Yang paling penting Evelyn bahagia bersamanya.” Laura bersyukur keputusannya membawa Evelyn kembali ke Indonesia membawa kebahagiaan untuk putrinya.


Melihat senyum di bibir Evelyn membuatnya lega. Setelah bertemu Sean, ia juga melihat hidup putrinya lebih berwarna. Putrinya yang biasanya terlihat serius dan datar kini terlihat jauh berbeda. Meskipun terkadang ia melihat putrinya pulang dengan wajah kesal dan terlihat lelah, ia bisa melihat kebahagiaan yang tersimpan di dalam hatinya


“Tentu saja bahagia. Lihatlah dia bahkan melupakan kita dan meninggalkan kita di sini. Aku tidak yakin mereka akan ingat kita malam ini.” Maxim memicingkan matanya. Mengingat bagaimana Sean, ia menduga jika laki-laki itu akan membawa Evelyn dan kedua anak mereka pulang ke rumahnya sendiri.


“Biarkan saja sayang. Ayo kita pulang juga.” Laura menepuk lengan Maxim. Di keluarga ini, Maxim lah yang paling menyayangi Evelyn. Jadi jika Evelyn akhirnya akan menikah dan dibawa pergi oleh Sean, pria tua itu yang akan merasa paling kehilangan.


“Hum. Putriku dibawa kabur.” Maxim mencebikkan bibirnya. Laura hanya bisa kembali mengelus lengan suaminya. “Jika besok Sean tidak mengembalikan mereka, aku akan membawa mereka kembali ke Texas.” Lanjutnya serius. Laura yang mendengar ancaman suaminya hanya memutar bola matanya malas. Jika mode kekanakan suaminya sedang diaktifkan, dirinya juga tidak bisa mengerti.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 🤩

__ADS_1


Jangan lupa klik like dan vote juga ya...🥰


Sempatin juga kasih komentar biar akoh semakin semangat nulisnya. 👌


__ADS_2