
Di tengah sebuah hutan di Texas, terdengar suara tembakan yang tidak terputus. Suara baku tembak itu adalah peperangan antar kelompok Mafia. Saat Maxim kembali ke Texas, ia mengumpulkan ketua mafia untukndiajak berunding.
Sejak beberapa tahun yang lalu, kelompok Rubah Merah menjadi musuh bagi kelompok mafia yang lain karena sikapnya yang seenaknya saja dan kejam. Mereka sering membuat kerusuhan dan juag menyerang kelompok mafia lain untuk menguasai.
Pemerintah setempat juga sudah jengkel pada rubah merah. Mereka sering menculik anak-anak dan juga para wanita. Mereka juga sering melakukan lerampokan dan penjarahan. Kelompok ini sudah sangat meresahkan.
Awalnya Maxim tidak ingin repot-repot berurusan dengan Rubah Merah ini. Meskipun dari dulu sudah banyak yang mengajaknya bekerja sama untuk menumpas kelompok ini tetapi Maxim hanya diam dan memgamati. Namun kali ini Rubah Merah sudah keterlaluan. Menculik cucu-cucu kesayangannya. Lebih parah lagi adalah mereka berani menculik para ilmuan untuk menciptakan virus yang sangat berbahaya.
Itulah sebabnya Maxim mengumpulkan para ketua Mafia untuk meminta bantuan mereka untuk menumpas mafia ini sampai akarnya.
Rubah Merah ada di mana-mana. Markas mereka tersebar di seluruh penjuru. Itulah mengapa Maxim membutuhkan bantuan mafia yang lain untuk menumpas akar-akar Rubah Merah Ini semua agar tidak ada anggota Rubah Merah yang tertinggal. Sedangkan Maxim berasa Big Lion dan para ketua dari mafia-mafia tersebut akan menyerang markas pusat mereka yang ada di tengah hutan.
Tidak membutuhkan banyak waktu untuk berpikir. Rubah Merah memiliki perangai yang licik dan juga cerdik. Jika rencana ini sampai di dengar ketua kelompok ini, maka mereka akan menemukan siasat untuk mengalahkan semua yang akan menyerang mereka dengan cara yang licik. Jadi mereka langsung bergerak begitu kesepakatan mereka buat.
Para ketua segera menghubungi anak buah mereka untuk bergerak. Sedangkan mereka akan ikut dengan Maxim dan Justin menyerang markas pusat.
Suara tembakan belum berhenti sejak satu jam dari suara tembakan yang pertama terdengar. Banyak korban yang berjatuhan dari kedua belah pihak.
Maxim sendiri juga ikut turun tangan dalam masalah ini. Ia ada di garis depan untuk mencari celah menerobos pertahanan dan menyerang ketua Rubah Merah yang bersembunyi di dalam markas.
Setelah melumpuhkan orang-orang yang menghalangi di sepanjang jalan, Maxim berhasil menemukan ketua Rubah Merah yang sedang menonton bagaimana penyerangan yang ada di markasnya memalui CCTV. Ia hanya tersenyum saat melihat Maxim masuk bersama dengan Justin dan beberapa orang yang lain.
"Selamat datang! Aku tidak menyangka jika ketua Big Lion sendiri sampai turun tangan dalam masalah ini." Seorang pria dengan rambut setengah memutih karena usia menyangga dagunya dengan kedua tangannya. Tersenyum ramah menatap semua orang yang melihatnya dengan penuh kebencian.
"Tentu saja. Aku sudah lama ingin bertemu dengan ketua Rubah Merah yang terkenal hebat." Maxim membalas senyumnya dengan tak kalah ramah.
"Aku secara pribadi merasa kagum pada kemampuan dari Big Lion. Sejak tadi aku sudah menikmati permainan yang menyenangkan. Jumlah Anak buahku jelas lebih banyak dua kali lipat, tapi dalam waktu satu jam saja mereka hampir dikalahkan oleh Big Lion. Sungguh membuat orang iri."
__ADS_1
"Tidak perlu basa basi. Aku ke sini untuk menanyakan perihal penelitianmu di salah satu pulau di Indonesia."
"Oh yang itu. Aku tidak menyangka jika proyek itu menarik perhatian ketua besar Bog Lion. Aku sungguh merasa terharu."
"Katakan! Dimana lagi kalian melakukan hal seperti itu?"
"Proyek seperti itu adalah proyek yang besar. Membutuhkan banyak uang. Dan yang paling penting membutuhkan orang-orang yang tidak bisa diambil sembarangan. Aku sudah mengumpulkan ilmuan dari beberapa negara di dunia. Jadi selain di sana tidak ada lagi proyek seperti itu. Dan sekarang hanya karena dua anak kecil proyek masa depan Rubah Merah sudah hancur. Jadi dapat dipastikan jika tidak ada proyek hebat itu lagi. Hehehe...." pria tua itu tertawa.
"Kalian sudah jauh-jauh datang ke tempatku ini kan? Bunuh aku sekarang. Aku sudah kalah sejak proyek itu hancur. Sungguh ironis! Aku dikalahkan oleh dua anak kecil."
"Menyerahlah! Kami akan membawamu kepada pemerintah untuk menghukummu." Maxim berkata dengan serius.
"Maaf aku tidak bisa. Daripada aku harus menyerah, lebih baik aku mati." Pria itu mengambil pistol yang ada di bawah mejanya dan menembak kepalanya sendiri hingga kepala itu terkulai jatuh di meja. Tanpa diperiksa pun smua orang sudah tahu jika orang itu sudah mati.
Di luar, orang-orang yang sedang melakukan baku tembak mendengar suara tembakan dari dalam. Mereka sama-sama tidak tahu siapa yang tertembak di dalam markas. Jadi mereka hanya terganggu sebentar sebelum melanjutkan peperangan mereka.
"Menyerahlah! Ketua kalian sudah kalah." Teriak Justin memandang dingin keadaan di depannya. Mayat dengan luka tembak bersimbah darah tergeletak di mana-mana. Bau amis darah menyebar di udara.
Mendengar perkataan Justin, semua orang menurunkan senjata mereka. Anak buah Big Lion tersenyum senang. Sedangkan anak buah Rubah Merah mengangkat senjata mereka kembali dan melakukan hal yang sama dengan ketua mereka. Merka lebih baik mati daripada menyerah pada lawan.
Maxim menghembuskan napas tidak berdaya. "Sebenarnya mereka semua memiliki kesetiaan yang patut diacungi jempol. Sayang sekali mereka berbuat keluar dari jalurnya." Pria tua itu menggelengkan kepalanya. "Justin urus semuanya." Lanjutnya sebelum ia pergi bersama ketua mafia yang lain.
Semua orang bahagia mendengar jika Rubah Merah berhasil ditumpas. Kelompok meresahkan itu sudah banyak memakan korban. Meskipun banyak mafia hitam yang menjadi musuh pemerintah dan masyarakat yang lainnya, tapi Rubah Merah lah yang paling meresahkan. Apalagi dengan kehancuran Rubah Merah juga menjadi pembelajaran untuk mafia hitam agar tidak bertindak kelewatan.
"Kami sangat senang tuan Maxim kembali." Kata seorang ketua mafia dengan tulus.
"Sebenarnya Aku tidak kembali. Aku kembali hanya untuk menyelesaikan masalah yang seharusnya aku selesaikan sejak dulu." Ucao Maxim pada para ketua mafia yang mengikutinya sampai di markas.
__ADS_1
"Tuan Maxim sangat hebat dan berwibawa. Jika tuan mengundurkan diri dari sini kami akan kehilangan sosok yang bisa kami jadikan contoh." Salah satu ketua mafia berkata.
"Aku ini sudah tua. Tidak sehebat dulu. Lihatlah bahuku sudah terkena tembakan." Maxim melihat bahunya yang diperban. Entah bagaimana ia akan menjelaskan pada Laura nanti. Pasangan tuanya itu pasti akan khawatir melihatnya yang terluka.
"Tapi tuan Maxim juga tidak usah khawatir. Meskipun Justin masih muda, dia benar-benar mewarisi kehebatan tuan. Beberapa tahun ini Big Lion selalu memperoleh prestasi yang membanggakan."
"Hahahaha. Dia memang anakku. Aku sendiri juga bangga padanya."
"Benar. Jika kami memiliki putra seperti Justin kami juga akan tenang."
"Sekarang Rubah Merah sudah dimusnahkan. Tetapi tidak menjamin sisa-sisa dari mereka tidak akan membuat kelompok lain. Jadi aku minta pada kalian untuk selalu mengawasi keadaan. Jangan biarkan mereka tumbuh lagi."
"Baik tuan." Jawab semua orang kompak.
"Ya sudah. Kalian pulanglah. Aku ingin segera tidur." Maxim melambaikan tangannya mengusir semua orang dari ruangannya.
"Baik tuan. Kami pamit. Semoga lekas sembuh." Setelah mereka membungkuk, mereka meninggalkan Maxim seorang diri.
"Marcell, aku tidak menyangka pada akhirnya kita akan saling berhadapan sebagai musuh." Maxim memandangi foto lama yang ia ambil dari dalam dompetnya. Fotonya saat masih muda bersama pria muda lainnya. Pemuda di foto yang dipanggil Marcell memiliki wajah tampan yang mirip dengan pria tua yang baru saja bunuh diri itu. Memang mereka adslah orang yang sama.
Pada awalnya, Maxim dan Marcell berteman akrab. Mereka membangun kelompok Mafia mereka sendiri. Tetapi seiring berjalannya waktu, Rubah Merah yang diketuai Marcell berubah menjadi mafia dengan aliran hitamnya. Berulang kali Maxim mengingatkan untuk segera merubahnya. Tetapi Marcell tidak mau dan masih pada pendiriannya.
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir π