Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
Bab_30. Hukuman Si Kembar


__ADS_3

Semua benda kesayangan si kecil telah disita Evelyn. Ibu muda itu telah memasukkan barang-barang kesayangan kedua anaknya ke dalam gudang dan menguncinya. Dua orang juga ditugaskan berjaga di sana.


Kamar anaknya yang tadinya penuh dengan berbagai barang yang tidak lazim berada di kamar anak kini kosong melompong. Hanya ada ranjang, meja belajar dan lemari yang semuanya ada dua buah. Di dua sisi yang kosong itu ada rak-rak yang tadinya tempat barang-barang koleksi sang anak.


Dua bocah pemilik kamar itu duduk di atas ranjang dengan wajah tertunduk. Meratapi kekosongan kamar mereka. Saat ini mereka seperti kehilangan nyawa mereka.


Sore tadi, saat keduanya baru pulang sekolah, Evelyn sudah menunggu mereka di ruang tamu. Saat itu juga mereka disidang oleh mommy mereka.


“Apa mau kalian sebenarnya?” suara rendah Evelyn akhirnya terdengar setelah ceramahnya panjang kali lebar.


“Maafkan kami mommy. Kami tidak bisa berbuat apa-apa saat paman itu memaksa kami memberikan rambut kami.” Ucap Bryan sambil memberikan tatapan tak berdayanya.


“Cih! Apa kalian pikir mommy akan percaya begitu saja?” Siapa yang tidak mengetahui jika tidak pernah ada orang yang berhasil memaksa kedua bocah itu sebelumnya. Jadi saat ada orang yang berhasil melakukannya, itu pasti adalah Evelyn, mommy mereka.


“Mommy, paman itu begitu kuat. Dia juga besar, tinggi dan juga tampan.” Lanjut Bryan. “Dan kami yang masih kecil dan imut ini sama sekali tidak bisa melawannya. Mommy pasti tahu betapa takutnya kami saat paman itu memaksa kami.”


Berlian yang ada di samping Bryan memutar bola matanya mendengar cerita karangan yang terlalu lebay. Jelas sekali itu bukanlah cerita yang sesungguhnya. Berlian merutuki saudara kembarnya yang bertindak bo doh di saat yang tidak tepat.


“Mommy tidak percaya. Mulai sekarang kalian akan diawasi dengan ketat. Jangan berpikir untuk kabur lagi.” Ucap Evelyn tegas. “Dan ya, yang paling penting adalah semua barang-barang kalian akan mommy sita sebagai hukuman untuk kalian.” Lanjutnya.


“Mommy please jangan lakukan itu ya! Mommy tahu sendiri mereka adalah sebagian nyawa kami.” Protes Berlian yang sedari tadi hanya diam.


“Jika kalian mengerti itu, kenapa kalian tidak berpikir sebelum bertindak?” Evelyn berlalu tanpa peduli. Kedua bocah itu sudah menguji dirinya. Ia tidak menyangka jika anak-anaknya yang sangat ia sayangi malah menjualnya pada laki-laki asing yang entah mereka kenal dari mana. Yah meskipun laki-laki itu adalah Daddy mereka, tetap saja ia adalah orang asing bagi kehidupan mereka.


“Huft, Daddy, kami sudah berkorban banyak untukmu. Kami harap Daddy tidak mengecewakan kami.” Bryan mendesah. Menatap tempat kosong dimana sebelumnya pistol-pistol koleksinya berada. Berlian hanya meliriknya sekilas.


“Brily, apa kamu yakin jika Daddy bisa diandalkan?” Bryan melirik saudarinya yang tepat berada di sebelahnya.


“Jika Daddy masih bergerak lambat seperti itu, aku tidak yakin. Untuk itu kita perlu sedikit dorongan.” Berlian tersenyum smirk di akhir kalimatnya. Matanya berkilat dengan licik memikirkan rencana briliant yang tiba-tiba muncul di otak cantiknya.


“Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Bryan penasaran.


“Tunggu dan lihat saja. Sebentar lagi pertunjukan menarik akan terjadi.” Berlian mengusap telapak tangannya.


**

__ADS_1


Evelyn sudah duduk dengan tenang di restoran yang diminta Laura untuk ia datangi. Ibu angkatnya itu bahkan memberikan nomor meja yang harus ia tempati. Laura berkata ada seseorang yang harus ia temui.


Di tangannya, tablet khusus yang selalu ia bawa sedang menampilkan diagram-diagram yang harus ia pelajari untuk meeting keesokan harinya.


Seseorang duduk di seberang mejanya dan berdehem. Membuatnya menarik perhatiannya dari layar tablet dan melihat seorang yang datang.


“Selamat malam nona Evelyn.” Sapa Sean tersenyum maksimal yang akan membuat Soni pingsan jika sampai melihatnya.


“Kenapa anda ada di sini? Maaf, saya sedang menunggu seseorang.” tanya Evelyn heran.


“Aku tidak keberatan menemanimu hingga orang yang kamu tunggu datang.” Sean tersenyum puas. Tanpa menunggu persetujuan dari Evelyn, ia segera memanggil pelayan untuk memesan makanan.


“Nona...” pelayan beralih pada Evelyn saat Sean selesai menyebutkan pesanannya.


“Saya nanti saja. Saya masih menunggu seseorang.” Jawab Evelyn.


“Kenapa tidak memesan sesuatu? Kasihan jika pelayan harus bolak-balik ke meja kita.”


“Heh.” Evelyn mendengus. Tapi tak urung menyebutkan pesanannya juga.


Evelyn melihat jam di tabletnya. Sudah lebih dari setengah jam lewat dari waktu perjanjian. Tetapi orang yang ia nanti belum juga datang. Ia segera mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Laura. Tetapi ponsel milik Laura yang tidak pernah tidak aktif mendadak tidak bisa dihubungi.


“Ish. Mami kenapa tidak bisa dihubungi sih.” Gerutu Evelyn dengan wajah kesalnya. Sean yang melihat itu tersenyum dalam hati. Anak-anaknya mengatur pertemuan ini untuknya dan Evelyn.


Beberapa kali Evelyn mencoba menghubungi Laura, tetapi satu pun tidak dapat tersambung. Dan anehnya, saat ia mencoba menghubungi wanita itu melalui telepon rumah, panggilannya selalu ditolak.


Sadar jika ia sedang dikerjai, Evelyn berniat untuk segera pergi. Namun saat ia baru saja akan berdiri, pelayan yang membawa pesanannya datang.


Dengan terpaksa Evelyn menunggu sampai pelayan menata semua menu yang dipesan di atas meja.


“Mau kemana? Makanannya baru saja datang.” Ucap Sean saat Evelyn tiba-tiba berdiri.


“Saya mendadak ada kepentingan. Jadi silahkan nikmati makanan anda.” Evelyn beranjak dan berjalan melewati Sean, tapi tangannya segera dicekal oleh Sean. Sean menariknya hingga membuatnya jatuh terduduk di pangkuan Sean.


“Tuan Sean apa yang anda lakukan?” tanya Evelyn geram saat melihat tangan Sean melingkar di pinggangnya.

__ADS_1


“Nona Evelyn sungguh tidak berperasaan. Memesan banyak makanan dan berniat meninggalkan semuanya untukku. Kenapa bukan meninggalkan dirimu saja untukku?” bisik Sean di akhir kalimatnya.


“Tuan Sean jangan macam-macam. Ini di depan umum.”


“Aku tidak peduli. Siapa yang akan keberatan dengan apa yang aku lakukan?”


“Jangan tidak sopan tuan Sean! Lepaskan saya.”


“Aku tidak akan melepaskan mu jika kamu tidak kembali duduk dan menghabiskan makananmu. Apa kamu mau aku suapi?” Sean sudah mengulurkan tangannya untuk mengambil makanan di piring untuk menyuapi Evelyn yang ada di pangkuannya.


“Turunkan saya tuan Sean. Saya akan kembali duduk dan makan.” Sean tersenyum menang. Bukannya langsung menurunkan Evelyn, pria itu justru meletakkan tangannya di lipatan lutut Evelyn dan menggendongnya.


“Ah!” pekik Evelyn terkejut saat tubuhnya tiba-tiba melayang di udara. “Turunkan aku Sean!” teriak Evelyn panik.


“Tidak perlu berteriak kencang. Aku hanya ingin membantumu duduk dengan nyaman.” Sean mendudukkan Evelyn di kursinya. Kemudian Sean menarik kursinya dan mendekatkannya di kursi Evelyn. Hampir menempel dengan milik wanita itu.


“Tuan Sean, di sini tidak kekurangan tempat, kenapa anda mendesak saya?” kesal Evelyn melihat posisinya yang kini menempel dengan Sean.


“Malam ini sangat dingin. Saya merasa kedinginan. Saat menggendongmu tadi rasanya begitu hangat. Jadi aku merasa sangat nyaman.” Ucap Sean tanpa dosa.


"Menjauhlah tuan Sean. Banyak orang melihat kita.”


“Kalau kamu tahu mereka melihat kita, kamu diam saja. Mereka hanya iri. Ayo makan. Nanti makanan akan dingin dan tidak enak lagi.”


Evelyn mendesah panjang dan menurut. Ia tidak memilik cara lain saat ini. Ia tahu semakin ia melawan, Sean akan semakin tidak tahu malu.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 🤩


Jangan jadi gost reader ya 🤪

__ADS_1


__ADS_2