Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
S2_63. Clara Akan Membuat Perhitungan


__ADS_3

Clara baru bisa menjenguk Berlian yang sudah dipindahkan ke rumah sakit di kota setelah lima hari berlalu. Tapi Clara selalu menghubunginya setiap hari untuk menanyakan kondisinya. Clara tidak bisa datang secara langsung karena ia harus belajar dengan rajin. Saat ini waktunya ujian semester akhir. Mamanya mengancam jika ujian kali ini nilainya ada yang merah, uang saku bulanannya akan dipotong. Tentu saja Clara tidak mau sampai hal itu terjadi.


Dan karena kondisinya, Berlian mengikuti ujian akhir semester di rumah sakit. Beberapa guru akan datang bergantian untuk membawakannya soal-soal ujian ke sana dan menunggu Berlian selesai mengerjakannya setiap harinya.


Johan selalu menjaga Berlian di dalam ruangannya. Setiap gurunya datang, pria itu akan duduk tenang di sofa tanpa mengganggu. Guru yang datang kebanyakan adalah guru perempuan dan masih muda. Jadi saat mereka melihat ada Johan yang ada di dalam ruangan, mereka sesekali akan melirik Johan. Berlian juga menyadari hal itu, jadi dia akan mempercepat mengerjakan soal agar guru tersebut segera keluar dari ruangannya.


Clara membawa buah-buahan dan juga beberapa camilan ringan di tangannya. Dia datang bersama Rezvan. Ketika mereka sampai di lobi, mereka tidak sengaja bertemu dengan Daniel yang juga datang untuk menjenguk Berlian. Jadi mereka bertiga sepakat untuk pergi ke kamar inap Berlian bersama-sama.


Dengan Clara berjalan di depan, dan dua orang pria tampan berjalan di belakangnya. Membuat mereka bertiga menjadi pusat perhatian. Apalagi Daniel yang membawa bunga mawar putih di tangan kanan yang ia depap di depan dadannya dan keranjang buah di tangan kirinya. Rezvan dengan santai tidak membawa apa-apa di tangannya. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Meskipun ia satu-satunya orang yang tidak membawa barang, ia bersikap bahwa seperti tidak ada yang salah dengannya.


Terry berjaga di depan ruangan. Selain Terry ada tiga orang lain yang juga berjaga di sana. Mereka tidak berdiri di depan pintu, melainkan duduk di kursi tunggu. Terry mengenali Clara dan Rezvan. Tapi tidak mengenal Daniel. Jadi saat ia melihat Daniel datang bersama dengan Clara, ia tidak bisa tidak memandang Daniel dengan tatapan menyelidik.


"Pandangan mata apa itu kak Terry?" Clara memandang aneh Terry yang bersikap terlalu waspada.


"Ehem. Maaf nona Clara, sesuai instruksi kak Johan, kami harus memeriksa setiap orang yang datang." Terry berberdehem sebelum berbicara. Ia melirik Daniel saat ia berbicara.


"Kak Jojo di dalam?" Clara mengabaikan apa yang dikatakan Terry dan fokus pada Johan yang ada di dalam ruangan. Clara sudah lama tidak melihat pria idamanya itu. Selama Berlian tidak masuk sekolah, otomatis ia juga tidak bisa bertemu dengan Johan. Bahkan chat dan teleponnya tidak pernah dibalas dan tidak diangkat juga. Jadi saat ia tahu Johan ada di dalam, ia segera maju adanya berniat membuka pintu.


Namun, saat pintu hanya terbuka beberapa centi, Terry menahannya. Clara melirik ke dalam ruangan dan terkejut melihat Johan sedang menyuapi Berlian. Ia juga mendengar keduanya berbicara Dengan romantis. Clara perlahan mundur dan duduk di kursi. Meletakkan semua bawaannya di atas kursi. Terry segera menutup pintu kembali.


Melihat raut wajah Clara, Rezvan mengerucutkan bibirnya. Ia mengintip daripada di pintu dan melihat pemandangan yang sama dengan apa yang dilihat Clara. Ia hanya mengeluarkan oh-ria sebelum ia ikut duduk di samping Clara.  Menepuk pundaknya. Daniel yang juga penasaran pun melihat ke dalam.


"Siapa dia?" Daniel terkejut saat melihat Berlian dekat dengan seorang pria. Meskipun ia tidak melihat wajahnya, ia yakin bahwa itu bukan Bryan. Dan ia juga yakin jika pria yang berhasil menghapus jarak dari Berlian seharusnya merupakan pria yang luar biasa.


"Kak Jojo." Clara menjawab Daniel dengan hati yang sakit. Ia merasa hatinya dicubit sedemikian rupa. Daniel meliriknya sekilas sebelum kembali menatap ke dalam.

__ADS_1


"Bukankah aku sudah pernah memperingatkanmu sebelumnya?" Rezvan menoleh dan menatap Clara yang menyadarkan kepalanya di bahunya.


"Aku sedang sedih Van. Tidakkah kamu menghiburku daripada memarahiku?" Clara tahu semua ini mungkin akan terjadi. Tapi dia tidak pernah mengira bahwa rasanya akan sangat sakit saat melihat Johan akhirnya bersama Berlian. Ia mulai terisak.


"Ck! Sudahlah. Apa yang kamu tangisi?" Rezvan berdecak saat ia mengelus kepala Clara. Ia tidak pernah menghibur gadis mana pun sebelumnya. Jadi dia tidak tahu bagaimana caranya.


"Ini terlalu sakit Van." Clara menghapus air mata yang terus jatuh.


"Berhenti menangis. Kamu akan terlihat jelek jika menangis." Rezvan menarik bahunya. Memaksa Clara menegakkan kepalanya. Rezvan menangkup kedua pipi Clara. Menghapus air mata di pipi gadis itu.


"Kamu masih muda. Perjalananmu masih panjang. Laki-laki tampan tidak hanya kak Johan saja di bumi ini. Kamu masih bisa berkeliling dunia untuk mencarinya. Jangan bilang mereka tidak akan sama dengan kak Johan, semua orang memang akan berbeda. Tapi diantara mereka pasti akan ada orang yang mencintaimu dan kamu cintai juga. Jangan terpukau hanya pada seseorang. Kalau di bumi tidak cukup, kamu bisa mencarinya di Mars." Rezvan menatap mata Clara dalam. Clara memukul lengan Rezvan saat pemuda tampan itu selesai berbicara. Clara tersenyum. Ia sedikit terhibur dengan guyonan receh Rezvan.


"Tapi kenapa mereka berdua tega pada Van? Brily mengkhianati ku." Clara mengepalkan tangannya dan memukul pahanya. Wajahnya berubah kecewa sekali lagi.


"Hei, Berlian tidak pernah mengkhianatimu. Apa kamu lupa apa saja yang dilakukan Berlian untuk membuatmu dekat dengan kak Johan?" Rezvan memang tidak banyak berkomentar selama ini. Tapi ia melihat semaunya dari samping.


"Aku memang belum pernah jatuh cinta sebelumnya. Tapi aku tahu jika sesuatu yang dipaksakan Itu tidak akan berakhir menyenangkan. Misalnya saat kamu yang tidak suka memakan nasi goreng, lalu suatu saat kamu dipaksa makan itu. Apa kamu akan bahagia saat memakannya?" Clara menggelengkan kepalanya. Sejak kecil Clara tidak menyukai nasi goreng menurutnya nasi goreng itu penuh dengan minyak dan ia akan merasa tidak nyaman untuk memakannya. Jadi Clara tidak perlu berpikir dua kali untuk pertanyaan ini.


"Pada dasarnya itu sama dengan cinta. Jika kamu memaksakan cinta pada seseorang, pada akhirnya kamu tidak akan bahagia meskipun kamu akhirnya bersama dengan orang yang kamu cintai." Clara masih terus berpikir.


"Contoh yang paling mendekati, misal ya. Ini cuma misal." Rezvan menekankan kata 'misal' agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. "Misalnya aku menyukai kamu. Ini misal ya. Misal aku menyukai kamu." Lagi-lagi Rezvan menekan kata misal. Membuat Clara berdecak. Ia mengerti hal itu. Tidak perlu Rezvan harus mengulanginya beberapa kali.


"Iya aku tahu. Aku juga tidak bodoh-bodoh amat. Aku tahu kamu mau bilang misal jika kamu menyukaiku dan memaksa ku untuk mencintaimu kan?" Clara mengerucutkan bibirnya.


"Ya itu maksudku. Bagaimana perasaanmu jika itu terjadi?" Rezvan mengangguk senang. Ia tahu Clara akan mengerti.

__ADS_1


"Tentu saja aku menolak. Kamu kan pemalas, jorok dan songong. Tentu saja aku menolak."


"Heh kenapa jadi mengejek ku sih?! Aku kan hanya ingin membuatmu terhibur." Rezvan kesal. Memang sepertinya ia memang seperti yang Clara katakan barusan, tapi ia juga merasa marah jika ada orang yang mengatainya tepat di depannya.


"Iya-iya terima kasih ya Van. Aku sebenarnya tahu hal ini akan terjadi. Hanya saja aku masih sulit menerimanya." Clara akhirnya menarik sudut bibirnya.


"Nah itu baru Clara. Kamu tenang saja. Lama kelamaan kamu juga akan melupakan rasa sakit ini."


"Yah. Tapi aku masih harus memberi mereka pelajaran." Mata Clara berkilat.


"Clara jangan mulai lagi deh." Rezvan menjatuhkan bahunya. Ia sudah senang usahanya untuk membuat Clara sadar membuahkan hasil, ia tidak menyangka akan mendengar Clara masih akan membuat perhitungan pada Johan dan Berlian.


"Kamu tenang saja. Aku tidak akan mengganggu hubungan mereka lagi. Tapi aku masih harus memberi mereka pelajaran karena mereka menyembunyikan semua ini dariku. Aku menghubungi Brily setiap hari, tapi Brily tidak mengatakan apapun padaku mengenai perkembangan hubungannya dengan kak Jojo. Apa dia masih berpikir aku sahabatnya?"


Clara kesal sekarang. Ia bukan sahabat yang akan tega mencekik sahabatnya hanya demi laki-laki. Ia selama ini tidak menyerah mengejar Johan meskipun tahu jika Johan menyukai Berlian hanya karena Berlian belum menyadari bahwa dia juga mencintai Johan. Tetapi saat ini dia tahu bahwa Berlian sudah menyadari perasaannya. Jadi sebagai sahabatnya, ia tentu saja harus mendukungnya alih-alih menentangnya.


Rezvan menghela napas lega. Ia tersenyum melihat wajah Clara yang sudah kembali ceria.


Sementara itu, Daniel yang masih berdiri di tempatnya dengan mata yang terus menatap apa yang ada di balik pintu mendengar semua yang dibicarakan Clara dan Rezvan. Ia bisa mengambil kesimpulan bahwa hati Berlian sudah ada yang menempati.


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir ~*(^,^)*~


Jangan lupa like, komen dan  Vote ya....


__ADS_2