
Semua orang yang terlibat dalam pertempuran itu berhenti untuk memperhatikan apa yang dilakukan Felix. Di tangan kanan pria itu, sebuah tombol berwarna merah siap untuk ditekan.
Suasana menjadi tegang. Luka yang tercipta di beberapa bagian tubuh mereka seperti tidak terasa.
"Sekarang, panggil anak-anak nakal itu keluar. Aku tahu mereka ada di sini." Perintah Felix pada Justin.
Justin tersenyum melihat wajah putus asa Felix yang ditutupi dengan senyum kemenangan palsu. "Kenapa? Apa kalian tidak bisa mengatasi keponakanku hingga mereka bisa kabur?" Ejeknya.
"Huh! Sepintar apapun mereka, pada akhirnya mereka hanya akan mejadi anggota dari Rubah Merah." Felix mendengus mendengar ejekan Justin.
"Kalian begitu tidak bisa mendapatkan pewaris hingga ingin merebut keturunan orang lain?"
"Aku tidak main-main. Begiu aku menekan tombol ini, seluruh bon di pulau ini akan meledak bersama-sama."
"Bukankah kamu juga akan meledak nantinya?"
"Aku tidak taku. Aku lebih baik mati daripada gagal menyelesaikan tugasku." Felix menunjukkan wajah beraninya.
Justin terkekeh. "Aku percaya. Itu karena meskipun kamu kembali dalam keadaan utuh, setiap hari kehidupanmu akan lebih menyakitkan dari pada kematian saat sebuah tugas gagal kamu lakukan. Rubah merah benar-benar kejam memperlakukan anggotanya."
"Diam kamu! Tidak ada yang boleh mempertanyakan kebijakan Rubah Merah."
Justin mengangkat bahunya.
"Hei anak kecil! Keluarlah kalian! Aku tahu kalian ada di sekitar sini. Jika kalian tidak keluar, aku akan meledakkan semua pulau ini dan kita akan mati bersama-sama."
"Beraninya mengancam anak-anakku!" Sean menatap Felix dengan muak.
"Kau seharusnya meminta mereka keluar. Aku akan membawa mereka pergi dari sini. Kamu benar-benar orang tua egois."
"Kau akan menyesal telah melakukan hal ini pada anak-anakku."
"Tenanglah tuan Sean. Paling tidak di sisa kehidupanmu yang hanya tinggal sebentar ini kamu tidak menghabiskannya dengan mengancam orang." Felix menatap jengah Sean.
"Hei kalian! Aku akan menghitung sampai tiga!" Mendengar suara teriakan Felix, semua orang berdiri dengan kaku. Baik orang Rubah Merah maupun Big Lion sebenarnya adalah manusia yang takut mati.
"Satu..." Felix mulai menghitung. Semua orang saling memandang dengan khawatir. Mereka mengedarkan pandangan mereka untk menemukan keberadaan dua anak kecil yang sedang mereka cari.
"Dua..."Justin tersenyum miring. Wajah Felix yang frustasi terlihat menarik untuk dilihat.
__ADS_1
Jari telunjuk Felix sudah menempel di atas tombol merah. Dengan sedikit tekanan saja, semua bom yang tersambung dengan tombol itu akan meledak. Meledakkan semua isi pulau.
"Ti.." hitungan berhenti saat seorang anak kecil berjalan dengan santai ke arah mereka.
"Paman mencariku? Kenapa tidak memanggilku?" Bryan, anak kecil itu menjadi pusat perhatian.
"Dimana saudaramu?" Felix bertanya dengan marah. Bukankah mereka seharusnya ada dua. Kemana yang satunya lagi?
"Aku belum memiliki saudara paman. Yang aku miliki hanya saudari kembar." Jawab Bryan asal.
"Terserah katamu. Dimana dia?" Bryan memgangkat bahunya tidak tahu.
"Mana aku tahu? Aku dari tadi sendirian menonton pertunjukan seru."
"Berhenti main-main. Dimana saudarimu?" Felix menekan kata saudari. Ia tidak mau lagi dipermainkan anak kecil ini.
"Sudah aku bilang aku tidak tahu. Tadi kami berpisah saat melihat ada yang menarik perhatian kami. Aku sangat menyukai senjata api. Dan tanpa sengaja melihat senjata yang bagus di markasmu ini. Jadi aku sekalian ingin meminta izin untuk memilikinya. Boleh kan paman?" Bryan menunjukkan benda yang ia keluarkan dari balik bajunya.
Sebuah pistol besar yang terlihat kokoh. Pistol dengan kemampuan jarak tembak yang sangat jauh.
Felix membeku menatap anak kecil di depannya ini. Pistol yang dibawanya ini seharusnya ada di dalam brangkas di dalam kamar pribadinya yang selalu ia kunci dengan rapat. Bagaimana bisa anak ini dapat menemukannya?
"Letakkan kembali pistol itu atau aku akan menekan tombol ini." Felix mengancam.
"Katakan! Dimana anak yang satunya!" Felix menatap geram pria kecil yang berdiri tanpa takut di sana.
"Aku sudah bilang aku tidak tahu paman. Kami sudah berpisah sejak aku melihat-lihat barang-barang bagus di sini." Jawab Bryan tanpa rasa bersalah.
"Aku tahu kamu di sekitar sini. Keluarlah." Teriak Felix setelah gagal meminta Bryan memanggil Berlian.
"Paman, saudariku itu sedikit angkuh. Jika kamu tidak memanggil namanya, dia tidak akan keluar." Ejek Bryan. Sedangkan di tempat persembunyianya, Berlian berdecak kesal mendengar ejekan yang dilontarkan Bryan.
"Ah kenapa ini susah sekali." Keluh Berlian saat ia belum juga berhasil melakukan aksinya. "Semoga kali ini Bryan dapat diandalkan." Gumam Berlian menatap serius layar laptop yang ia ambil dari salah satu kamar yang ada di bangunan itu.
"Katakan siapa nama saudarimu itu." Felix sudah merasa sanat kesal. Jika saja kedua anak ini harus ia pertahankan, ia sudah lama sudah menghancurkan mereka.
"Aduh paman bukan begitu cara berkenalan. Paman saja belum tahu namaku." Bryan cemberut. Bibir kecilnya mengerucut lucu.
"Aish dasar menyebalkan. Katakan! Siapa namamu?"
__ADS_1
"Hehehe paman, namaku bukannya bisa diberitahukan dengan sembarangan. Apa hadiah perkenalan yang laman berikan untukku?"
"Kamu tenang saja. Saat kita kembali ke markas Rubah Merah. Kamu akan mendapatkan semua jenis pistol terbaru yang ada di dunia ini."
"Baik. Setuju. Namaku Bryan paman. Bryan Kelviano Marcus. Paman harus ingat nama itu baik-baik." Jawab Bryan bangga.
"Sekarang beritahu nama saudarimu."
Sementara dua orang pria beda generasi ini melakukan perbincangan yang aneh, semua orang yang ada di sekitar mereka memperhatikan tingkah mereka. Jusrin dan sean menggelengkan kepalanya saat mereka menyadari jika satu orang dewasa lainnya telah masuk ke dalam permainan anak itu.
Di sisi lain, Felix sudah mulai menghitung mundur setelah ia mengetahui nama Berlian setelah melalui perdebatan yang cukup menguras emosinya. Mau tidak mau, Berlian memang harus segera menampakkan dirinya. Sebelum pergi, ia melirik sekilas layar laptop yang baru saja menampilkan notifikasi.
"Paman mencariku?" Berlian dengan santai keluar dari persembunyiannya. Lalu berdiri di samping Bryan.
"Kalian tangkap mereka!" perintah Felix pada anak buahnya. dalam sekejap, Bryan dan Berlian sudah dikepung.
"Hei kalian janga macam-macam. Berani kalian menyentuh anak-anakku kalian akan segera habis!" teriak Sean yang tidak terima saat melihat orang-orang itu mendekati Bryan dan Berlian.
Berlian menatap Sean dan Justin. ia membuka mulutnya dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Sean dan Justin mengerti dan menganggukkan kepala mereka samar. diam-diam mereka kembali mempersiapkan senjata mereka.
Bryan dan Berlian melakukan perlawanan dengan tangan kosong. Keduanya berhasil menumbangkan para penjaga yang mengepungnya hingga mereka selamat dan segera berlari menghampiri Sean dan Justin.
Mengetahui anak buahnya telah gagal, Felix segera mengangkat tanganya. "Beraninya kalian! Cepat masuk ke dalam heli dan omut aku pergi. Jika kalian menolak, aku tidak akan segan-segan menekan tombol ini agar semua orang di sini mati."
"Apa itu tombol seperti kembang api?" tanya Berlian.
"Ini adalah bom. Apa kamu takut gadis kecil?"
"Tidak." Berlianenggelengkan kepalanya, laku saat ia mengeleng, ia memberi kode agar Sean dan Justin kembali menyerang.
"Aku sudah tidak tahan. Biarlah kita mati bersama-sama." teriak Felix frustasi melihat anak buahnya hampir habis tetembak. Felix mmenggertakkan giginya sebelum ia menekan tombol merah di tangannya.
DUAR! Terdengar suara ledakan yang sangat besar dari salah satu sisi pulau. Felix tertawa bahagia saat mendengar suara ledakan.
Semua orang tercengang. Saat mereka mendengar suara keras dari ledakan bom, Mereka sudah berputus asa. Mereka merasa bahwa mereka akan mati di tempat ini dengan cara ya g sangat mengenaskan. Mungkin saja tubuh mereka bahkan tidak dapat ditemukan dan dikenali.
*
*
__ADS_1
*
Terima kasih sudah mampir π