Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
Bab_55. Kekacauan Kecil


__ADS_3

Sean dan Evelyn masih saling berpandangan. Berkomunikasi melalui pandangan mata mereka. Akhirnya mereka sepakat untuk tidak membahas masalah kedua anak mereka.


Evelyn mengangguk dan mulai merubah raut wajahnya dalam sekejap.


“Malam ini kita menginap di rumah Daddy. Mau?” Tanya Evelyn dengan wajah yang bahagia. Sean juga memasang wajah yang sama. Dia duduk di samping Bryan. Mengelus kepala putranya.


“Daddy sudah sangat merindukan kalian. Apa kalian juga merindukan Daddy?” Ucap Sean sendu.


Bryan dan Berlian saling memandang. Kemudian keduanya sepertinya juga melakukan komunikasi melalui tatapan mata. Seperti Daddy dan mommy mereka sebelum akhirnya mengangguk bersama.


“Kami sangat merindukan Daddy.” Ucap Bryan sambil berdiri dan memeluk Sean. Berlian juga ikut masuk ke dalam pelukan.


Sean dan Evelyn tahu ada sesuatu yang disembunyikan keduanya dan mereka mencoba mengalihkan pembicaraan kedua orang tua. Jadi Sean dan Evelyn mau tidak mau ikut bekerja sama untuk melupakan saja masalah itu. Mereka hanya berharap masalah itu bukan masalah serius.


Akhirnya, setelah berpamitan pada Maxim dan Laura, keduanya membawa Berlian dan Bryan pulang ke rumah Sean.


Kamar milik Bryan dan Berlian di rumah Sean sudah selesai disiapkan. Keduanya memiliki kamar yang terpisah. Kedua anak itu sudah semakin besar sekarang. Mereka sudah sekolah. Jadi lebih baik kamar mereka dipisah. Apalagi mereka sepasang. Laki-laki dan perempuan.


Berada di rumah Sean, keadaan hati kedua anak itu sudah membaik. Mereka sudah kembali ceria seperti tidak ada masalah Sebelumnya. Mereka menginap selama tiga malam di rumah besar itu. Jadi pagi ini mereka berangkat dari rumah Sean menuju ke kantor dan ke sekolah. Sean yang mengantarkan mereka secara pribadi.


Setelah itu, kejadian yang terjadi seperti tidak pernah terjadi. Mereka menjalani kehidupan seperti biasa hingga akhirnya hari pernikahan Evelyn dan Sean dilaksanakan.


Upacara pernikahan telah dilaksanakan pagi harinya. Upacara itu hanya dihadiri beberapa orang saja. Dan malam ini adalah malam perjamuan.


Sebuah hotel mewah milik Sean sudah dipersiapkan dengan sangat baik untuk acara ini. Selama dua hari, hotel itu dikosongkan dari para tamu lainnya. Hotel benar-benar disiapkan untuk para tamu.


Setiap sudut hotel sudah dihias dengan sangat indah. Benar-benar sesuai dengan Sean yang sedang berdiri di puncak kariernya.


Evelyn dan Sean memakai gaun pesta berwarna putih yang sangat indah. Bryan dan Berlian juga mengenakan gaun yang sama dengan orang tua mereka. Kedua orang itu berdiri di atas panggung kecil yang menjadi pusatnya. Sedangkan kedua anak mereka sudah berlarian entah kemana.


Maxim dan Laura tak hentinya menyunggingkan senyum mereka. Melihat putri mereka bahagia tentu saja membuat mereka juga ikut bahagia. Justin di samping mereka juga ikut bahagia.


Meskipun ia masih menganggap bahwa Sean belum layak untuk mendampingi adiknya, ia masih lebih menyukai Sean di banding Derry. Justin tentu saja niat Derry sejak awal ingin mendekati Evelyn.

__ADS_1


Tapi sikap Derry yang cenderung pasif dan tidak memiliki kemauan yang kuat membuat Justin tidak menyukai laki-laki yang sebenarnya sangat baik itu.


Derry juga hadir dalam pernikahan ini. Tapi ia sudah kembali lebih awal setelah memberikan ucapan selamatnya pada Evelyn dan Sean. Lima tahun mencintai Evelyn dalam diam tentu saja membuatnya merasa sakit saat melihat Evelyn bersanding dengan pria lain. Tetapi Derry memilih berbesar hati dan merelakan Evelyn bahagia bersama Sean.


Satu persatu tamu undangan maju untuk memberikan selamat. Dan juga beberapa ucapan menyanjung dan menjilat. Bagaimanapun kedua mempelai adalah tokoh penting dalam dunia bisnis.


Namun suasana yang damai di atas panggung tidak sesuai dengan yang terjadi di salah satu sudut ruangan.


Di sana, Bryan yang sedang bermain bersama dengan Berlian sedang berkelahi dengan seorang anak kecil sebayanya yang merupakan temannya di sekolah.


“Bryan sudahlah jangan membuat kacau.” Berlian memegangi lengan saudara kembarnya. Menghalanginya agar tidak melayangkan pukulannya pada musuhnya yang sudah ia angkat di udara.


Menjalani pelatihan rutin dari Justin selama di Texas membuat Bryan memiliki kekuatan di atas anak seusianya. Dengan kemampuan bela dirinya, ia bahkan bisa mengalahkan seorang pengawal di villanya.


“Biarkan saja Brily. Aku sudah muak pada anak ini sejak awal. Jika bukan karena larangan mommy untuk tidak membuat masalah di sekolah, aku sudah lama menghajarnya. Sekarang tidak di sekolah. Jadi aku bisa Menghajarnya sampai puas.” Bryan berusaha melepaskan tangannya dari Berlian. Tetapi Berlian juga memiliki cukup kekuatan untuk menahannya.


“Bryan jangan kurang ajar! Aku akan membuatmu menyesal.” Teriak anak itu dengan marah.


“Bryan sudahlah. Jangan sampai merusak acara ini. Dan kamu Daniel jangan buat Bryan marah lagi. Diam saja.”


“Dengarkan adikmu. Papaku mengenal orang yang membuat pesta ini. Jika sampai papaku tahu kamu menindasku kamu akan segera diusir dari sini.” Ucap anak bernama Daniel itu arogan.


Bryan pun menurunkan Daniel dengan kesal. Tentu saja bukan karena takut ancaman Daniel. Tapi karena takut merusak pesta Daddy dan mommynya.


Sedangkan Daniel, yang baru saja diturunkan Bryan dengan keras segera mengaduh kesakitan. Setelah itu ia dengan cepat berdiri dan menepuk celananya yang kotor. Bryan memalingkan wajah sambil melipat kedua tangannya. Ia mendengus beberapa kali untuk menghilangkan amarahnya.


Seorang wanita muda yang cantik datang setelah melihat keributan kecil itu. Dia adalah mama dari Daniel. Ia mendengar suara anaknya yang mengaduh dan meringis kesakitan. Ia penasaran dan mendatangi ketiga anak tersebut.


“Sayang kamu kenapa?” tanya wanita bernama Diana itu. Ia mendekati putranya dan mengelus pundaknya. Ia memeriksa kondisi Daniel dari atas sampai bawah.


“Dia anak kurang ajar ma. Beritahu papa biar meminta temannya mengusirnya dari sini.” Adu Daniel pada Diana.


“Tidak boleh seperti itu.” Diana menegur Daniel yang menurutnya keterlaluan. “Nak sebenarnya apa yang terjadi?” Diana mengalihkan pandangannya pada Berlian yang sepertinya paling dewasa dari kedua anak lainnya.

__ADS_1


“Itu Tante, Daniel ini tidak tahu malu.” Ucap Berlian ragu. Ia malu jika harus menceritakan yang sebenarnya.


“Daniel apa yang kamu lakukan?” tanya Diana. Sorot matanya kini dengan tajam menatap putranya.


“Salah siapa pipinya itu terlihat lembut. Aku jadi ingin memakannya. Pasti manis.” Ucap Daniel tanpa ragu.


Diana yang mendengar penuturan Daniel mengedipkan matanya dua kali. Apakah itu maksudnya putranya yang masih berusia lima tahun ini berniat mencium Berlian? Perlahan dia melihat Berlian yang tersipu. Sepertinya memang benar seperti itu.


“Aduh duh duh mama. Sakit ma!” pekik Daniel saat telinganya ditarik keras oleh Diana. Bryan melihatnya dengan puas. Ia menjulurkan lidahnya mengolok Daniel yang kini kesakitan.


“Siapa suruh kamu kurang ajar. Itu hukuman untukmu.” Diana melotot tajam.


“Papa tolong aku pa!” teriak Daniel keras.


Seketika, pandangan semua orang menatap ke arah mereka. Antoni yang merupakan papa Daniel segera berlari mendekat saat melihat istrinya sedang menjewer putra mereka. Sen dan Evelyn juga mendekat karena melihat anak-anak mereka ada di tempat kejadian.


“Ada apa ini?” tanya Antoni. Daniel segera melepaskan diri dari Diana dan berlari memeluk papanya.


“Ada apa Diana? Apa yang membuat mu begitu marah?”


Belum sempat Diana menjawab, Sean datang dan menanyakan yang terjadi.


“Daddy, Daniel mau mencium Berlian!” teriak Bryan keras.


Ketiga orang dewasa yang baru saja bergabung dalam keseruan memasang wajah heran mereka.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 🤩

__ADS_1


__ADS_2