Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
Bab_75. Kondisi Evelyn


__ADS_3

Laura dan Maxim berdiri di depan sebuah kaca. Di ruagan yang dibatasai oleh kaca itu, seoramg bayi yang sangat kecil terbaring di sana. Bayi dengan berat tubuh sembilan belas ons tidur di dalam kotak khusus inkubator. Bayi perempuan yang baru saja dilahirkan Evelyn dengan cara operasi caesar itu lahir dengan prematur.


Langkah ini terpaksa diambil untuk menyrlamatkan ibu dan bayinya.


Kondisi Evelyn yang parah akibat kecelakaan membuatnya memgalami pendarahan yang hampir menghilangkan bayi di dalam kandunganya. Jika saja Mona tidak cepat membawanya ke rumah sakit dan berani mengambil keputusan, kemungkinan ibu dan anak itu tidak akan selamat.


Tidak jauh berbeda dengan keadaan sang putri, Evelyn juga belum sadarkan diri pasca operasi yang membutuhkan waktu hingga tiga jam.


Saat ini ia sudah dipindahkan ke ruang rawat dengan Sean yang terus menjaganya. Bryan dan Berlian juga datang setelah membantu Justin mencari tahu siapa pelaku yang telah mencelakai mommy mereka.


Kedua anak itu datang dan melihat kondisi mommy dan adik mereka. Berlian dan Bryan tidak bisa menyembunyikan kesedihan mereka. Keduanya menangis melihat bagaimana keadaan Evelyn.


Kepala Evelyn terluka. Perban melingkar di kepalanya dengan jejak darah yang masih terlihat. Siku kanannya juga terluka. Yang paling parah adalah kakinya. Kaki kiri Evelyn mengalami patah tulang.


Bryan dan Berlian menunggu mommy mereka sampai dua jam lamanya, tetapi mommy mereka masih juga belum menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan bangun. Akhirnya Sean memaksa mereka untuk pulang dan istirahat.


"Kasihan sekali cucu kita pi." Ucap Laura sambik menyeka air matanya untuk yang kesekian kali.


"Kita hanya bisa berdo'a agar semuanya segera baik-baik saja mi." Maxim menarik kepala Laura dan mengecup pucuk kepalanya.


"Aku tidak habis pikir siapa yang tega menargetkan Evelyn yang sedang hamil? Apakah mereka tidak berpikir bahwa mereka bisa merenggut dua nyawa sekaligus." Laura mengelus permukaan kaca seperti ia bisa menyentuh bayi di dalam kotak kaca.


"Orang yang sudah dikuasai dendam mampu melakukan segalanya sayang. Mereka tidak lagi bisa berpikir jernih. Mereka bahkan sudah tidak memikirkan nyawanya sendiri."


"Apa papi sudah tahu siapa pelakunya?" Laura menoleh pada Maxim.


"Sudah. Justin tadi sudah memberitahuku."


"Lalu apakah sudah ditangkap?"


"Pelaku yang telah menabrak Evelyn sudah tertangkap. Tetapi dalang yang mengaturnya masih belum ditangkap."

__ADS_1


"Siapa yang memiliki dendam begitu besar pada Evelyn? Apakah ada hubungannya dengan keluarga kita?"


"Pelakunya adalah Ani. Tetapi Ani bukanlah otak dari kecelakaan ini. Dia hanya dimanfaatkan sisa-sisa orang dari Rubah Merah yang lolos dari penangkapan. Mereka mendirikan kembali gang mafia di negara Argentina dengan nama baru. Tapi aku bawahanku sudah memastikan jika ini adalah organisasi yang sama." Maxim tidak menyembunyikan apalun dari Laura. Laura berhak tahu karena ini menyangkut keselamatan keluarganya.


"Huh! Padahal Ani adalah seorang wanita dan juga seorang ibu. Bagaimana bisa ia melakukan hal ini pada wanita yang tengah mengandung. Apalagi Ani dan Evelyn pernah tinggal bersama sebagai ibu dan anak."


"Bukankah dia melakukannya juga karena membalaskan dendam untui putrinya?" Maxim mencibir.


"Bukankah Evelyn juga adalah putrinya?"


"Putri tiri bagaimana bisa dibandingkan dengan putri kandung. Terlebih semua orang tidak bisa dibandingkan. Semua orang memiliki sifatnya sendiri."


Laura menghela napas pasrah. Yang dikatakan Maxim ada benarnya. Ia tidak bisa membandingkan antara dirinya dengan Ani karena memang jelas-jelas berbeda. Semua orang di dunia tidak ada yang diciptakan memiliki sifat dan pemikiran yang sama.


"Sebaiknya kita temui Sean. Dia belum makan sejak tadi." Maxim merangkul pundak Laura agar pergi dari sana. Sean juga membutuhkan semangat dari mereka.


Laura menghembuskan napasnya sebelum ia menurut dan pergi bersama Maxim untuk menemui Sean di ruang rawat Evelyn.


Di depan ruangan Evelyn, beberapa orang berjaga di sana. Soni juga duduk di kursi tunggu di depan kamar. Di sampingnya ada kotak nasi yang diminta Maxim padanya.


"Nanti jangan beritahu dulu pada Sean sebelum ia mau makan." Ucap Maxim tegas.


"Baik tuan." Soni menyerahkan paper bag berisi kotak nasi pada Laura. Dirinya tidak akan ikut masuk.


Sean menoleh saat mendengar suara pintu terbuka. Maxim dan Laura masuk dan duduk di sofa. Sean kembali memusatkan perhatiannya pada Evelyn yang masih saja menutup kedua matanya.


"Makanlah dulu Sean." Maxim berkata dengan tegas.


"Aku tidak lapar pi." Sean menggelenglan kepalanya dengan lemas.


"Kalau kamu tidak bisa menjaga dirimu sendiri, siapa lagi yang akan menjaga putriku? Kami ini sudah tua. Tidak mungkin bisa terus menjaganya." Maxim berkata dengan marah.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja pi."


"Di luar ada Soni. Dia mau melaporkan padamu bahwa ia sudah mengetahui siapa pelakunya." Mendengar ucapan Maxim, Sean segera bangun dan berjalan ke arah pintu. Tapi betapa terkejutnya ia saat pintu itu tidak bisa dibuka.


"Aku sengaja menyuruh mereka menguncinya dari luar. Tanpa perintah dariku mereka tidak akan pernah membuk pintunya." Ucap Maxim santai. Ia sudah menyuapkan beberapa sendok makanan ke dalam mulutnya.


"Makanlah dulu Sean. Tidak baik seperti itu. Yang dikatakan papimu benar. Kami mengandalkanmu untuk menjaga Evelyn, putri kami. Jika kamu sendiri tidak bisa menjaga dirimu sendiri, kami merasa kami yelah salah orang telah percaya padamu."


"Aku akan makan setelah menangkap pelakunya dan memberinya pelajaran yang setimpal."


"Tenangkan dirimu. Kamu patut bersyukur memiliki anak-anak yang cerdas seperti Bryan dan Brily. Berkat mereka pelakunya sudah tetangkap. Jadi kamu harus mengisi tenagamu agar bisa memberi pelajaran pada pelakunya."


"Makan!" Maxim mendorong kotak nasi bagian Sean pada menantunya. Akhirnya mau tidak mau Sean duduk dan makan bersama kedua mertuanya.


"Ikutlah dengan Soni. Dia akan membawamu ke tempat dimana Justin mengurung pelaku yang menabrak Evelyn." Ucap Maxim setelah Sean menghabiskan jatah makannya dengan cepat.


"Baik pi."


"Selain pelaku itu, ada pelaku lain yang menjadi otak kecelakaan ini. Dan kamu dan Justin harus bekerja sama untuk menangkapnya."


"Aku mengerti." Sean mengangguk paham. Maxim segera memberi tahu anak buanya yang mengunci ruangan untuk segera membukanya kembali. Soni masuk setelah pintu terbuka.


Sean menghampiri Evelyn. Mencium pipi dan keningnya. Lalu duduk sambil menggenggam tanganya yang terasa hangat. "Sayang, aku pergi dulu. Kamu tenang saja. Aku akan membuat orang yang mencelakaimu juga merasakan apa yang kamu rasakan bahkan lebih parah." Ucap Sean sambil mengecupi tangan Evelyn.


"Mami, papi, aku pamit dulu." Ucap Sean sebelum ia kelua dari ruang rawat Evelyn.


"Pikirkan baik-bauk apa yang akan kamu lakukan. Mengenai Evelyn kamu jangan khawatir, tanpa kamu minta pun kami akan melakukannya." Pesan Laura sebelum Sean benar-benar pergi bersama dengan Soni.


*


*

__ADS_1


*


Terima kasih sudah mampir ☺


__ADS_2