
Seperti dugaan Maxim, malam ini Sean membawa Evelyn dan anak-anak mereka pulang ke rumahnya. Masih seperti saat mereka meninggalkan rumah sakit. Sean keluar terlebih dulu dan kembali untuk membawa kedua anaknya dalam gendongannya.
Evelyn yang sudah mulai akrab dengan rumah besar milik Sean turun dengan tenang. Berjalan di samping Sean dan kedua anak mereka.
“Ini rumah siapa dad?” Tanya Bryan penasaran.
“Rumah Daddy, mulai sekarang ini juga akan menjadi rumah kalian. Apa kalian suka?” Sean berkata dengan sungguh-sungguh.
“Suka Dad. Rumah Daddy lebih besar dari rumah kakek yang di sini. tapi kalau dibandingkan dengan yang ada di Texas masih kalah jauh. " Bryan sedang membandingkan ketiga bangunan yang ia tinggali.
"Apakah mulai sekarang kita akan tinggal di sini Mom?” Berlian bertanya dengan sungguh-sungguh.
“Ah. Tidak mulai sekarang juga.” Evelyn menggaruk tengkuknya. Bagaimana pun ia dan Sean belum menikah. Jika ia dan anak-anaknya tinggal di sana setiap saat pasti tidak akan baik bagi semuanya.
Melihat kedua anaknya yang berwajah masam, Evelyn segera menambahkan ucapannya. “Tapi malam ini kita bisa tinggal. Tapi Besok kita harus pulang. Tunggu Daddy kalian membawa kita secara resmi.” Ucap Evelyn melirik Sean yang senang mendengar ucapan Evelyn. Itu artinya Evelyn tidak masalah jika pernikahan mereka dipercepat.
“Benarkah begitu Dad?” Berlian bertanya serius.
“Yah. Daddy akan segera membawa kalian pulang.”
Sean mengangguk mengiyakan.
“Yeah!” seru Berlian dan Bryan senang.
Sean membawa ketiga orang yang ia cintai masuk ke dalam mansionnya. Pak Burhan tetap seperti biasa menyambut kedatangan tuannya memimpin para maid yang lain.
Pak Burhan dan para maid membungkukkan badan mereka saat empat orang melewati mereka. Setelah mereka berlalu, para maid mulai saling berbisik.
Mereka kerap melihat Sean mengajak Evelyn pulang bersamanya. Dan mereka sudah terbiasa dengan itu. Pak Burhan bahkan pernah menegur para maid yang sedang bergosip dan memberitahu mereka bahwa Evelyn adalah nyonya masa depan mereka. Setelah itu mereka mulai menghormati Evelyn setiap kali wanita itu datang.
Dan sekarang, tuan mereka membawa calon nyonya mereka dan dua anak kecil yang mirip dengan tuan mereka. Mereka yakin jika kedua anak itu adalah anak dari tuan mereka dan juga calon nyonya mereka. Sekarang, rasa hormat mereka pada Evelyn semakin meningkat.
Sean membawa Evelyn dan anak mereka masuk ke dalam kamarnya. Saat ini kamar untuk anak-anak itu belum dia persiapkan. Untuk kamar mereka berdua tentu saja harus ia persiapkan dengan sempurna. Ia tidak menyangka Sebelumnya jika kedua anaknya akan tinggal di rumahnya meskipun hanya dalam satu malam.
Baru malam ini Evelyn setuju untuk menikah dengannya. Dan sekarang, ia membawa anak-anak mereka ke rumah. Belum ada persiapan kamar yang dia rasa layak untuk keduanya. Jadi tempat terbaik adalah kamarnya, meskipun ia harus merelakan untuk hanya puas dengan memeluk Bryan dan Berlian, dan Evelyn tentu saja.
Sean meletakkan Bryan dan Berlian satu persatu. Evelyn membantunya menata tempat agar kedua anak mereka merasa nyaman untuk tidur. Ranjang Sean sangat besar, hingga Bryan dan Berlian hanya menempati sedikit bagian di atasnya.
Evelyn ikut membaringkan tubuhnya di sisi ranjang. Di sebelah Bryan yang masih manja dengan ujung jarinya yang terluka. Bocah cilik yang manis itu bahkan sedikit kesulitan meletakkan tangannya agar jarinya tidak terganggu.
Berlian dan Sean ada di sisi yang lain ranjang besar itu. Keempatnya berbaring di atas ranjang yang sama. Perasaan hangat tidak bisa tidak terasa. Keempat orang itu sedang berada dalam puncak kebahagiaan mereka.
__ADS_1
“Kalian harus tidur sekarang. Malam sudah sangat larut.” Ucap Evelyn mengelus kepala Berlian dan Bryan bergantian.
“Tapi mom, kami belum mengantuk.” Rengek Berlian yang masih enggang tidur. Ia masih ingin menghabiskan waktu dengan Daddy dan mommynya lebih lama.
“Sudah malam sayang. Apa kalian mau pulang sekarang?” kedua bocah yang enggan menutup mata mereka untuk mulai tidur.
Evelyn menepuk ringan ****2* Bryan dengan satu tangan dan mengelus kepalanya dengan tangan yang lain. Sean mengikuti tindakannya pada Berlian. Sebelum ini Sean tidak pernah dekat dengan anak-anak manapun. Bahkan ia akan segera menjauhkan anak-anak yang mendekatinya hingga satu meter.
Menurutnya anak-anak itu berisik dan menjengkelkan. Tapi saat ini, perasaan semacam itu sungguh tidak ada. Yang ia rasa hanya bahagia yang membuncah dan perasaan bangga yang tidak bisa ia ungkapkan.
Tak butuh waktu lama untuk membuat dua anak itu tidur. Malam juga sudah larut. Keduanya pasti sudah sangat mengantuk.
“Ev, aku harap apa yang kamu katakan pada mereka itu serius.” Ucap Sean menggenggam tangan Evelyn yang tadinya digunakan untuk mengelus kepala Bryan.
“Aku tidak pernah melihat mereka bahagia seperti ini. Aku pasti akan melakukan apapun yang membuat mereka bahagia. Jika dengan menikah denganmu akan membuat mereka selalu bahagia, aku akan melakukan nya.”
“Ev, apakah kamu mencintaiku?”
“Aku tidak tahu Sean. Yang aku tahu aku hanya ingin membuat mereka bahagia. Dan menikah denganmu sepertinya tidak buruk juga.”
“Tidak apa. Aku akan membuatmu mencintaiku nanti.”
Skip saja yang tidak suka yang HOT2
Evelyn tidak pernah mengunci pintu manapun Sebelumnya karena tidak akan pernah ada yang mengganggunya meskipun pintu kamarnya terbuka sekalipun. Tapi ia lupa, jika teman kamarnya malam ini bahkan tidak akan menganggap pintu dikunci adalah hal serius.
Dengan santai Evelyn melepas satu persatu pakaian yang melekat di tubuhnya. Ia terkejut mendapati tangan yang tiba-tiba melingkar di perutnya dan permukaan kulit yang menempel di punggungnya.
Bibir dingin juga ia rasakan menempel di bahu polosnya. Menghisapnya kuat dan membuat tanda di sana.
“Sean apa yang kamu lakukan?” tanya Evelyn panik.
“Mandi.” Jawab Sean tenang.
“Tapi kan aku lebih dulu masuk.”
“Jika kita mandi bersama, waktu yang diperlukan untuk mandi akan semakin singkat. Jadi ayo kita mulai mandi.” Sean melepaskan celananya.
“Aku...aku akan mandi di kamar lain.” Evelyn panik. Ia segera meraih handuk. Namun sebelum handuk berhasil ia dapatkan, tubuhnya sudah ditarik Sean dan dimasukkan ke dalam bathtub yang penuh dengan busa.
“Sean apa yang kamu lakukan?” Evelyn meringsek ke sisi bathtup dan menutupi bagian depannya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
“Kenapa jauh sekali. Mendekatkan dan biarkan aku membantumu menggosok punggung mu.” Sean mendekat.
“Tidak Sean. Jika kamu mendekat, kamu bukan hanya akan menggosok punggungku.”
“Memang apa yang akan bisa aku lakukan di tempat kecil seperti ini? Aku hanya akan membantumu menggosok punggung.” Kata Sean serius. “Ck CK, sepertinya otakmu itu sudah memikirkan hal mesum ya?” lanjutnya dengan senyum mengejek.
“Tidak. Aku tidak. Siapa yang berpikiran mesum.” Elak Evelyn.
“Jika kamu tidak memikirkan hal mesum kenapa begitu takut?”
“Aku tidak takut. Bantu gosok ya Bantu saja.” Evelyn berbalik dan memperlihatkan punggungnya. Sean tersenyum dan segera menggosok punggung Evelyn dengan lembut. Ia juga memberikan pijatan yang membuat otot-otot Evelyn terasa nyaman.
“Aah Sean!” de sah Evelyn saat tangan Sean tiba-tiba saja bergerak ke depan dan me re mas memelintir strawberry di puncak gunungnya.
“Ya sayang. Kenapa memanggilku dengan mesra?” Sean semakin mendekatkan tubuhnya. Kini tubuh keduanya menempel.
“Sean jangan macam-macam. Anak-anak ada di luar.” Ucap Evelyn saat merasakan benda keras menempel di belakangnya.
“Makanya jangan berteriak-teriak. Kita main tenang malam ini.” Tangan dan bibir Sean mulai beraksi. Men ja mah tubuh Evelyn dari belakang. Kini punggung Evelyn yang mulus sudah penuh dengan bercak-bercak merah.
Puas dengan bagian belakang, Sean membalik tubuh Evelyn. Meraup bibir manis yang menjadi candunya. Di Bawah air, tangan Sean bermain cantik di dalam gua.
“Ssh...” Evelyn menahan suaranya agar tidak keluar. Sean terkekeh melihat aksi Evelyn.
“Emp...” Evelyn mendekap mulutnya dengan kedua tangannya. Sedangkan Sean terus bergerak. Membalikkan tubuh Evelyn sekali lagi, mendorongnya ke pinggir bathtup. Ia menyerang dari belakang.
“Ah... Ini nikmat sayang.” Ucap Sean tertahan.
“Kamu be Reng sek Sean!” teriak Evelyn.
“Jangan berteriak seperti itu. Kalau tidak aku khawatir anak-anak kita akan masuk dan mendapati orang tua mereka sedang bermain air.”
Evelyn tidak bisa membantah ataupun melawan. Ia hanya bisa diam dan menerima. Membungkam mulutnya saat rasa yang ia bisa ia jelaskan mendorongannya tidak bisa ia tahan.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 😘
__ADS_1