
Satu keluarga terdiri dari lima orang berpakaian formal dengan penampilan terbaik mereka hari ini. Wanita dewasa terlihat anggun dengan gaun sederhana berwarna putih. Namun begitu, aura kecantikannya tidak bisa dibantah oleh siapapun. Sedangkan pasangannya juga memakai setelan putih sama dengannya. Begitu juga dua anak kecil berusia tujuh tahun dan adik mereka yang baru berusia enam bulan. Mereka semua menganakan pakaian putih. Begitu juga dengan semua orang yang ada di halaman belakang mansion Kingston. Mereka saat ini sedang merayakan kesembuhan Evelyn.
Acara sederhana hanya dihadiri oleh orang-orang terdekat mereka, tidak sampai dua puluh orang yang hadir dalam acara itu. Semua bersuka cita dan tertawa bersama.
Sayangnya, suasana yang harmonis itu tidak berlangsung sampai akhir acara. Di saat semua orang sedang bersenang-senang, seorang pelayan memberitahu Sean jika ada seorang laki-laki paruh baya yang ingin menemui Evelyn.
"Siapa yang datang Sean?" Laura bertanya setelah melihat wajah menantunya yang suram.
"Tuan Tomy." Jawab Sean singkat.
"Untuk apa lagi dia datang?" Dengan geram Maxim berdiri dari tempatnya. Ia ingin menghajar ayah kandung Evelyn itu.
"Tidak tahu. Biar aku yang menemuinya."
"Apa dia datang mencariku?" Evelyn memegang lengan Sean.
Sean mengangguk. Laki-laki itu mengelus kepala Evelyn. "Kamu di sini saja. Biar aku yang temui."
"Tidak Sean. Biarkan aku ikut. Dia datang pasti ada hal penting."
"Hal penting apa? Pasti dia datang demi wanita tua itu." Cibir Sean.
"Mi tolong bantu jagakan Sylvia dulu." Evelyn menyerahkan Sylvia yang ada di gendongannya pada Laura. Ia merasa harus menemui Tomy.
Evelyn meraih tangan Sean dan menariknya ke ruang tamu untuk menemui Tomy. Sean hanya bisa menurut setelah menghela napas. Istrinya ini kadang keras kepala.
Di ruang tamu, Tomy duduk di sofa dengan tenang. Pria tua itu mendongak saat mendengar suara langkah kaki yang mendekat.
"San...Evelyn bagaimana kabarmu nak?" Tomy segera bangkit dan tersenyum saat melihat Evelyn datang bersama Sean.
"Yah seperti yang papa lihat. Aku baik-baik saja."
"Baguslah. Papa lega mendengarnya." Tomy menggosok telapak tangannya. Ia kembali duduk setelah Sean dan Evelyn duduk di depannya.
__ADS_1
"Maafkan papa yang tidak sempat menjengukmu selama ini. Kamu tahu sendiri papa juga harus bekerja di perusahaan. Selain itu, papa juga harus menyisihkan waktu untuk merawat Vina. Apalagi keadaan anak itu memburuk dari waktu ke waktu. Tapi papa senang melihatmu yang baik-baik saja."
"Tidak perlu basa basi. Ada perlu apa anda kemari?"
"Jangan seperti Evelyn. Papa hanya ingin memberikan ini pada cucu papa. Papa membelikan banyak barang untuknya. Papa yamin dia pasti seimut dan secantik waktu kamu kecil dulu." Tomy mengangkat bawaanya ke atas meja. Evelyn hanya meliriknya sekilas.
"Terima kasih atas hadiahnya. Jika tidak ada apa-apa lagi kami masih ada acara." Evelyn dan Sean baru akan bangkit saat Tomy mencegahnya.
"Sebentar. Masih ada yang ingin papa bicarakan."
"Apa lagi? Cepat katakan?" Tanya Sean dengan suara keras.
"Papa melihat kamu sudah baik-baik saja. Apa kamu bisa memaafkan mamamu nak?" Tanya Tomy penuh harap.
"Bagaimana pun, mama pun sudah merawatmu sejak kamu masih kecil. Setidaknya pikirkan papa dan Vina yang tidak ada yang merawat jika mamamu dipenjara." Lanjut Tomy saat melihat Sean dan evelyn hanya diam tanpa ekspresi. Lagi pula mereka sudah menduga tujuan Tomy datang. Jadi mereka tidak terkejut.
"Biar aku luruskan di sini. Jika yang dinamakan merawat adalah meminta seorang anak berusia lima tahu mengerjakan pekerjaan rumah baru diberi makan itu dinamakan merawat aku tidak akan menyangkalnya. Jika yang dinamakan merawat adalah seorang anak SMP harus bekerja untuk membiayai sekolahnya sendiri itu dinamakan merawat aku juga tidak menyangkal. Apa itu maksud anda Tuan Tomy?"
"Huh! Dimana anda saat wanita itu memjkulku habya gara-gara aku mengambil sepotong ayam goreng? Dimana anda saat aku harus menjadi kuli payung untuk membeli peralatan sekolah? Dimana anda hiks hiks." Evelyn tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Sean segera memeluknya.
"Anda tidak pantas menjadi seorang ayah. Aku tidak bisa membayangkan jika Evelyn harus tinggal di rumah yang buruk seperti itu."
"Tuan Sean, meskipun anda hebat, anda tidak bisa menuduh saya seperti itu."
"Memang apa lagi yang salah? Selama Evelyn tidak sadarkan diri gara-gara ulah istri anda, dimana anda? Pernahkah anda datang meskipun hanya untuk menanyakan kabarnya?"
"Itu karena saya sibuk mengurus Vina dan juga kasus Ani."
"Sudah sampai seperti ini anda masih bisa membela diri. Hari ini anda tidak datang untuk melihat keadaan Evelyn, tetapi untuk meminta pengampunan untuk orang yang telah mencelakai putri kandung anda sendiri. Sungguh perilaku yang memalukan. Sebaiknya anda pulang. Rumahku tidak menerima orang seperti anda." Sean menatap tajam Tomy.
"Sandra, tarik tuntutan kalian pada Ani. Kalau tidak aku tidak akan menghancurkan rumah peninggalan ibumu itu." Ancam Tomy.
"Benarkah? Sungguh menggelikan. Coba saja jika berani." Evelyn kembali emosi saat mendengar ancaman Tomy.
__ADS_1
"Jangan menantangku Sandra!"
"Aku bukannya menantang. Aku hanya mengancam. Apa anda pikir aku tidak tahu kejadian di masa lalu?"
"Apa maksudmu?"
"Aku sudah tahu apa yang terjadi pada mama yang membuat mama jatuh sakit dan akhirnya meninggal. Aku tahu jika Anda dan Ani mengganti obat yang rutin diminum mama dengan racun hingga membuat kondisi mama semakin memburuk dan akhirnya meninggal." Evelyn menatap tajam Tomy. Awalnya ia ingin melupakan semuanya. Tapi laki-laki di depannya ini sunggu tidak bisa dikasihani.
"Jangan mengarang cerita."
"Aku tidak mengarang. Apa anda pikir aku berbohong? Aku sudah memiliki bukti yang cukup untuk memasukkanmu ke penjara juga. Bersama istri pelakor tercintanu itu. Memang sudah serasi jika pelakor hidup bersama penghianat." Evelyn menatap Tomy tajam.
"Kamu pasti berbohong." Tomy takut di dalam hatinya. Tetapi ia tidak boleh menunjukkannya di depan.
"Awalnya aku mau memberi kesempatan kedua untuk berubah. Tapi kini aku sadar jika tidak semua orang pantas mendapat kesempatan kedua. Aku benar-benar kecewa. Sean." Evelyn menatap Sean. Sean mengerti apa yang dimaksud Evelyn. Ia segera memanggil anak buahnya untuk menangkap Tomy.
"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Tomy panik melihat beberapa orang mendekatinya.
"Melakukan hal yang seharusnya dilakukan sejak awal." Jawab Evelyn dingin. "Aku akan mengajukan kasus ini. Sampai jumpa di pengadilan." Ucap Evelyn sebelum ia berbalik dan pergi meninggalkan Tomy yang meronta ingin dilepaskan.
"Tenangkan dirimu sayang." Sean memeluk Evelyn begitu mereka meninggalkan ruang tamu. Air mata Evelyn yang seudah ditahannya tidak bisa lagi dibendung.
"Aku hanya ingin kehidupan yang normal Sean. Makanya aku lebih memilih untuk memaafkan mereka. Tali mereka malah semakin menjadi. Mereka seperti tidak rela melihatku hiduo dnegan nyaman." Isak Evelyn di dada Sean.
"Masih banyak yang menginginkan kebahagianmu sayang. Jangan pikirkan lagi orang-orang itu. Mereka tidak pantas dipandang."
*
*
*
Terima kasih sudah mampir π
__ADS_1