
Clara menarik Berlian masuk ke dalam kelas. Sejak awal masuk, mereka sudah dibagi-bagi menjadi beberapa kelas. Berlian dan Clara sama-sama memilih kelas jurusan IPS. Padahal jika dilihat dari hasil uji kompetensi saat masuk, Berlian bisa saja masuk ke dalam kelas IPA unggulan yang menjadi impian semua siswa. Tetapi jika ia masuk ke sana, dia tidak akan lagi bisa satu kelas bersama dengan Clara. Lagipula, masuk kelas manapun sama bagi Berlian.
Seperti kelas IPS lainnya, kelas itu selalu ramai meskipun itu adalah kelas IPS unggulan. Saat Berlian dan Clara masuk, sudah banyak siswa di dalam. Mereka berkelompok. Saling berkenalan dan bercanda ringan. Berlian hanya melirik mereka sebelum ia duduk di bangku yang telah dipilih Clara sebelumnya. Tidak ada yang memperhatikan mereka.
Berlian duduk dengan malas setelah meletakkan tas miliknya. Lalu mengeluarkan ponselnya. Sebelum ia turun tadi, ia menerima kasus dari sebuah perusahaan yang sedang dibajak. Teman-teman lainnya anggota Deep Line sudah mencoba dan menyerah. Akhirnya mereka hanya bisa mendesak Berlian untuk mengambil kasus itu. Biasanya Berlian paling jarang mengambil kasus karena ia adalah anggota termuda dan masih duduk di bangku sekolah. Jadi dia tidak terlalu dibebankan untuk tugas yang menyita banyak waktu. Ia kadang hanya diminta untuk membantu jika anggota lainnya mengalami kesulitan.
Di mobil, Berlian hanya melihat sekilas informasi mengenai perusahaan yang berada di Belanda itu. Jadi saat ini ia akan mempelajarinya secara mendetail. Setelah ia mengambil kasus, tentu saja ia harus mengerjakannya dengan serius.
"Brily, sekarang kita sudah SMA. Apa kamu tidak mau berganti pacar?" Berlian mengernyitkan alisnya saat mendengar pertanyaan Clara. Ia tidak pernah punya pacar sebelumnya. Jadi pacar mana yang ia maksud?
Mengetahui ketidakpahaman temannya, Clara segera menjelaskan. "Lihatlah gadis lainnya yang sudah mulai mengepakkan sayap mereka. Apa kamu akan terus pacaran dengan ponselmu itu?" Clara mengedarkan pandangannya pada gadis-gadis teman sekelasnya yang sepertinya sudah mulai menetapkan target cinta mereka.
Berlian selesai membaca informasi dan menutup ponselnya. Meletakkanya di atas meja dan mengetukkan kukunya di atasnya. Dia sedang berpikir bagaimana cara untuk melawan sistem yang sangat menjengkelkan dan bandel itu.
"Brily apa kamu mendengarku?" Clara akhirya kesal dan menggoyangkan lengan Berlian.
"Aku mendengarmu." Jawab Berlian dengan malas.
"Lalu kenapa kamu tidak menjawabnya?" Sambil mencebikkan bibirnya, Clara menggoyangkan lengan Berlian lagi.
"Aku tidak sama dengan mereka." Jawaban Berlian membuat Clara ingin sekali memukul kepala temannya itu.
"Brily, apakah kamu tidak ingin seperti gadis normal pada umumnya?"
"Memangnya aku tidak normal?" Ini yang paling tidak disukai dari Berlian. Jika tidak menjawab pertanyaanya, Berlian akan menggantinya dengan pertanyaan lain yang membuatnya jengkel.
"Huh! Aku sudah berkali-kali berkata padamu untuk berhenti menjadi begitu dingin dan sok misterius. Biasanya yang dingin dan misterius itu adalah karakter CEO di dalam novel. Bagaimana kamu bisa seperti itu?" Clara berkata dengan jengkel.
"Aku tidak tahu." Berlian menggedikkan bahunya. Ia juga tidak mengerti apa yang beda darinya dan para gadis lainnya. Yah. Berlian akui memang sepertinya memang ada pererbedaan. Tetapi bukankah setiap manusia diciptakan berbeda satu dengan yang lainnya? Jadi dia masih bisa dimaklumi.
Bel panjang berdering dengan keras. Semua siswa keluar ke lapangan untuk upacara bendera sekaligus pembukaan acara MOS.
Clara hampir menggebrak meja jika saja bel itu tidak berbunyi. Ia segera menarik tangan Berlian untuk pergi ke lapangan. Keduanya segera memasuki barisan. Setiap baris memiliki nama kelas mereka. Jadi semua orang tahu dimana tempat mereka berdiri.
Dari dulu, Berlian tidak begitu suka kegiatan di luar ruangan. Dia benci berkeringat. Di SMP dulu, ia akan berdiri di barisan paling belakang untuk berteduh di bawah pohon untuk menghindari panas selama upacara. Tapi sayangnya, tidak ada tempat yang teduh di barisannya saat ini.
__ADS_1
Upacara berjalan seperti biasanya. Namun waktu yang dibutuhkan sedikit lama karena ada pembukaan MOS juga. Berlian mulai merasa pusing. Selain tidak suka berkeringat, alasan Berlian tidak menyukai aktifitas di luar ruangan karena ia tidak begitu tahan dengan panas matahari. Jika ia berada di bawah panas matahari satu jam saja, ia akan merasa pusing.
Clara melihatnya yang menjadi pucat. Ia segera menawarkan diri untuk mengantarnya ke UKS. Berlian tahu kemampuan dirinya, jadi ia segera mengiyakan dan berjalan bersama dengan Clara ke ruang UKS.
"Kenapa?" Tanya seorang siswi yang memakai Jas anggota OSIS saat mereka baru sampai di belakang barusan. Dia adalah salah satu Sie keamanan yang bertugas menertibkan para siswa.
"Temanku pusing kak. Dia tidak tahan panas matahari." Jawab Clara sambil menahan tangan Berlian.
"Hanya pusing kan? Biarkan dia masuk sendiri. Kamu kembali ke barisan." Ucapnya galak.
"Tapi kak..." Clara hendak protes tapi ia tidak memiliki kesempatan.
"Kamu kembali atau kalian berdua kembali." Potongnya cepat.
"Baiklah kak biarkan temanku istirahat di UKS. Brily, maafkan aku ya. Aku akan segera menemuinu begitu ini selesai." Ucap Clara melepaskan tangan Berlian dengan enggan.
"Tidak apa. Aku bisa sendiri." Berlian tersenyum sebelum ia berjalan sambil memijit pelipisnya dengan lembut. Ia selalu memiliki keluhan tentang kelemahannya ini. Tapi tidak ada yang bisa ia lakukan.
Berlian berjalan ke UKS dengan bantuan petunjuk arah. Seorang dokter tersenyum saat melihatnya masuk.
"Hanya pusing dok. Tidak masalah. Aku selalu lemah jika itu menghadapi panas matahari." Jawab Berlian malu-malu.
"Oh... aku tidak heran. Gadis cantik dengan kulit indah sepertimu memang tidak cocok berteman dengan sinar UVI." Ada jejak sindiran dalam kata-kata dokter itu. Berlian tahu jika mungkin dokter itu mengira bahwa ia berbohong tentang kondisinya. Dokter itu berlalu tanpa melakukan apa-apa padanya. Berlian juga enggan untuk menjelaskan. Menurutnya tidak akan ada gunanya menjelaskan pada seseorang yang telah menilai buruk padanya.
Berlian tidak ambil pusing. Kepalanya saja sudah hampir copot rasanya. Ia segera naik ke atas ranjang dan berbaring di sana sambil terus memijit pelipisnya.
Ding...
Ponselnya berbunyi. Berlian mengeluarkannya dari dalam saku kemeja seragamnya. Ia membaca pesan di emailnya.
Berlian menarik tubuhnya menjadi setengah duduk. Itu adalah informasi terbaru mengenai perusahaan yang telah resmi menjadi kliennya beberapa saat yang lalu.
Berlian mengaktifkan akun Weibo nya.
Diamond : [Sudah berapa lama hingga menjadi begitu parah?]
__ADS_1
Sun bercahaya: [Diamond, aku tidak bermaksud untuk mendesakmu. Tetapi kondisi sudah semakin kacau. Jika ini dibiarkan aku takut mereka bahkan tidak akan mempunyai uang untuk membayar meskipun kamu berhasil pada akhirnya.]
Star menari : [Sun Bercahaya benar. Sebaiknya kamu cepat menyelesaikan kasus ini.]
Mari berbicara : [Hei! Kalian juga tahu mereka sulit dihadapi. Kenapa harus mendesak Diamond?]
Sun Bercahaya : [...]
Star Menari : [Aku hanya sudah tidak sabar bagaimana Diamond kita akan menunjukkan keajaibannya dan membuat mereka menangis]
Diamond : Off
Berlian tidak lagi mengikuti obrolan dan keluar. Mereka yang ada di grub berdecak saat melihat jika Diamond Off. Mereka selalu penasaran dengan anggota yang satu itu. Dia terlalu misterius. Mereka kadang ragu jika dia masih duduk di bangku sekolah. Mereka hanya sebatas menghubungi saja. Jadi tidak pernah bertemu secara langsung.
Berlian mengabaikan sakit kepalanya. Ia segera memasukkan kode untuk mengubah ponselnya menjadi ponsel mata-mata. Sebuah sistem operasi mucul di layar ponselnya. Ia segera menggerakkan jarinya di atas layar. Kode-kode hijau segera muncul sebelum kode silang merah besar dengan suara yang paling Berlian benci keluar.
"Sial! Aku hampir berhasil masuk." Decaknya kesal. Ia hampir melempar ponselnya. Berlian berhenti sebentar. Menganalisis apa yang salah dengan langkahnya barusan sebelum matanya berbinar dengan cemerlang. "I got you!" Ucapnya saat jari-jarinya kembali menari di atas layar ponsel. Beberapa daat kemudian, perlahan ia dapatkan sebelum akhirnya ia bisa memblokir lawan dan berhasil menyelamatkan data-data yang dibajak.
Tak berselang lama setelah ia memenangkan pertempuran di dunia maya, ponselnya berdering. Ia melirik namanya yang tertera di atasnya dan mengangkatnya dengan malas.
"Diamond! Aku tidak menyangka kamu akan berhasil. Tunjukkan padaku bagaimana caranya!" Suara pria dengan ID Star Menari itu terdengar jelas di telinganya.
"Aku tidak punya waktu. Pastikan mereka membayarnya dengan penuh."
"Oke-oke. Itu masalah gampang. Tapi pikirkan lagi untuk menjadikanku muridmu."
"Aku tidak tertarik."
"Ak...tut tut tut." Star Menari mengumpat di seberang sana. Dia sebenarnya adalah seorang penyanyi pop Korea yang juga merupakan anggota Deep Line.
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir ~>(*,*)<~