
Rezvan menatap semua peralatan yang ada di atas meja dengan bibir sedikit terangkat. Dengan tenang ia mengambil wig dan menjapitnya dengan dua jarinya. Mengangkatnya ke udara dan memandangnya dengan tidak suka. Jelas bahwa itu adalah pandangan yang meremehkan.
"Kalian ingin aku mengenakan ini?" Rezvan melirik Wawan dan Heru bergantian. Apa-apaan mereka? Ia memilih untuk tidak memakai atribut yang menurutnya aneh itu. Dan sekarang malah memberikan barang-barang yang lebih aneh padanya.
"Ya. Karena kamu tidak mematuhi aturan, kamu harus mengenakannya." Heru melipat kedua tangannya di depan dada. Memandang Rezvan dengan mata tajam.
"Aturan mana yang aku langgar? Di sekolah, yang dipakai adalah seragam sekolah. Dari mana ada aturan yang mengharuskan siswa untuk memakai pakaian seperti ini?" Rezvan melemparkan wig itu ke atas meja kembali. Membuat Heru menggebrak meja dengan keras.
"Karena kamu tidak mau memakai semua ini. Kamu lari keliling lapangan sepuluh kali. Jangan berhenti jika belum selesai." Teriak Heru dengan marah.
"Tidak masalah." Rezvan berjalan keluar dari aula dengan menguap. Gadis-gadis menurunkan bahu mereka terkulai. Menyayangkan apa yang akan dialami Rezvan sebagai hukuman. Mereka sudah mulai merencanakan untuk membawakan handuk dan juga air dingin untuknya nanti. Mereka akan memberikannya pada Rezvan di saat yang tepat. Menggambar wajah mereka sendiri di mata Rezvan yang bahkan tidak pernah peduli pada mereka.
Setelah Rezvan keluar. Aula kembali riuh. Bisik-bisik terdengar diantara pada gadis yang membuat rencana.
Panitia MOS segera mengambil alih suasana dan menjelaskan apa yang harus mereka lakukan nantinya. Tatacaranya sederhana. Peserta harus mendatangi para senior OSIS dan mendapatkan tanda tangan mereka. Itu terserah pada senior untuk memberikan tanda tangan mereka dengan mudah atau mereka akan meminta para peserta untuk menuruti perintah mereka.
Ada enam orang yang wajib untuk dimintai tanda tangan. Raka sebagai ketua OSIS, dan juga wakilnya. Sekretarisnya dan wakilnya serta bendahara dan juga wakilnya. Selain itu mereka bebas memilih senior mana yang akan mereka datangi.
Clara menarik tangan Berlian begitu panitia mengumumkan bahwa waktu bisa dimulai. Secara teknis, enam orang yang diwajibkan ada tanda tangan mereka langsung diserbu. Mereka dikerumuni baik siswa maupun siswi. Clara juga menarik Berlian ikut bersama dengan kerumunan itu.
__ADS_1
"Jangan sekarang. Kita minta dulu dari yang lain." Berlian menahan tubuhnya yang ditarik Clara. Clara ikut berhenti dan menatap Berlian rumit.
Clara berpikir sebentar dan akhirnya mengangguk setuju. Ia kemudian menarik Berlian pergi menjauh dan mencari senior yang tidak begitu sibuk.
Pertama-tama mereka mendatangi Danang. Dia merupakan teman baik Raka. Dia berdiri tak jauh dari Raka yang sedang dikelilingi oleh para peserta MOS. Meladeni beberapa peserta juga dengan tenang. Senyumnya tampak ramah. Namun jika dilihat dengan seksama, senyumnya tampak seperti pemuda flamboyan.
Danang tidak suka berbelit-belit. Setiap siswa yang datang padanya langsung diberikan tanda tangan tanpa banyak permintaan. Ia hanya memberi perintah yang ringan dan sederhana seperti mengambilkan beberapa daun atau memasukkan sampah ke dalam tempatnya.
Melihat Berlian dan Clara yang mendekat ke arahnya, Danang menaikkan alisnya. Dia bukan orang yang terlalu cuek dan acuh pada sesuatu yang terjadi di sekitarnya. Bahkan dia adalah pemuda yang suka hal-hal semacam gosip yang beredar. Jadi dia juga tahu gosip yang tersebar di dalam forum dan mengenali Berlian.
Saat dilihat dari layar ponsel, wajah Berlian tidak terlihat begitu jelas. Tapi dapat dilihat dengan mudah bahwa dia memang cantik. Namun saat melihat dari jarak yang begitu dekat dan secara langsung. Danang bahkan lebih tercengang. Gadis di depannya ini, dapat disebutkan dengan dua kata. Cantik dan menarik.
"Selamat pagi kak." Clara sudah terbiasa menjadi juru bicara untuk Berlian yang terlalu malas untuk menggerakkan mulutnya.
"Kak, kami minta tanda tangannya dong." Clara dengan genit mengedipkan matanya. Clara manis. Dan tampilan seperti itu membuatnya menjadi terlihat lebih manis dan membuat orang tidak tega untuk menyakitinya.
"Mau tanda tangan? Boleh. Tapi kalian harus melakukan satu perintahku." Danang membelai janggutnya dengan senyum di bibirnya.
"Pertanyaan apa kak?" Mata Clara berbinar. Menatap Danang dengan antusias.
__ADS_1
"Perkenalkan diri kalian." Permintaan itu sederhana. Jadi Clara senang akan hal itu. Dia dengan semangat memperkenalkan dirinya. Menyebutkan nama lengkap, nama panggilannya juga. Bahkan Clara menyebutkan alamatnya pada Danang. Berlian mengernyitkan alisnya saat Clara mulai menyebutkan hal-hal dengan begitu detail. Hingga hobi dan hal-hal yang tidak dia sukai juga disebutkan olehnya.
"Hahahaha. Baiklah. Kamu sudah cukup. Sekarang giliran kamu." Danang mengalihkan pandangannya pada Berlian. "Kamu bisa melakukan seperti yang dilakukan oleh temanmu ini." Lanjutnya.
Di tempat lain, tepatnya di sisi lapangan. Rudi frustasi memandang Rezvan yang dengan malas duduk di kursi yang ada di bawah pohon di pinggir lapangan. Pemuda itu bahkan menguap beberapa kali sebelum benar-benar merebahkan dirinya dengan nyaman dan meringkuk di sana sambil menutup matanya.
Bukannya Rudi membiarkannya saja dengan tenang. Faktanya, beberapa kali Rudi memanggil bahkan berteriak pada Rezvan yang malah memperlakukannya seperti nyanyian pengantar tidur. Bahkan Rudi dengan sengaja menyenggol Rezvan menggunakan kakinya yang Terbalut sepatu sekolahnya9. Tetapi, pemuda itu bahkan bisa tidur dalam keadaan yang seperti itu seperti tanpa ada gangguan yama sekali.
Rudi mendengus kesal saat mendengar dengkuran halus pemuda tampan itu. Beberapa siswa yang lewat memperhatikan keduanya. Satu berdiri dengan wajah marah. Satu berbaring dengan nyaman. Tidak bisa tidak membuat para siswa itu mencibir. Rudi terkenal sebagai anggota OSIS yang kejam. Banyak yang sudah menjadi korban ketegasannya. Dan melihatnya saat ini mereka merasa cukup terhibur. Mereka seharusnya menyembah untuk keberanian Rezvan ini.
Rudi melihat ke sekelilingnya. Mencari temannya sesama sie keamanan namun tidak ada satupun yang terlihat. Bahkan anggota OSIS yang lain juga tidak terlihat. Mungkin mereka sedang sibuk dengan para siswa baru yang meminta tanda tangan.
Setelah mendengus kesal Rudi akhirnya pergi. Ia pergi ke kamar mandi untuk mengambil air untuk menyiram Rezvan yang malah tersenyum setelah Rudi pergi meninggalkannya.
Rezvan bangun dan memukul ringan celananya. Ia berdiri. Menghilangkan tanah yang mengotori celananya yang tadi disenggol Rudi dengan kakinya. Memasukkan tangannya di dalam saku dan pergi dari sana dengan santai. Wajahnya juga terlihat segar tanpa ada jejak kemalasan ataupun menunjukkan bahwa dia baru saja bangun tidur. Rezvan berbelok ke arah yang berlawanan arah dengan Rudi.
*
*
__ADS_1
*
Terima kasih sudah mampir ~>(*,*)<~