
Karena Berlian datang nyaris lima menit sebelum bel tanda masuk berbunyi, banyak siswa yang sudah datang. Pagi ini di gerbang sekolah, keadaan tidak seperti kemarin yang tenang. Tapi bukan karena waktu yang sudah mepet, tetapi karena banyaknya siswi yang berkumpul di sana. Sejak kejadian siang hari kemarin, forum Whatsap sekolah sudah penuh dengan gosip.
Forum ini dibuat oleh Team OSIS agar memudahkan untuk menyebarkan informasi di sekolah. Dan di forum ini, hanya ada dua guru yang menjabat sebagai pengawas OSIS. Jadi banyak siswa yang menggunakan Forum ini untuk menyebarkan gosip. Baik OSIS maupun guru pengawas akan mengabaikan saja selagi itu tidak keterlaluan.
Siang kemarin, ada siswa yang menyebarkan foto Johan yang berdiri depan mobil Bentley Continental dengan kaca mata hitam bertengger di hidungnya. Terlihat misterius dan juga tampan. Dan sejak saat itu, banyak gosip mulai beredar.
Itulah mengapa, hari ini banyak siswi ya g sengaja datang lebih pagi hanya untuk membuktikan kebenaran gosip yang sedang beredar di forum. Karena siswa baru belum dimasukkan, Berlian secara otomatis juga tidak tahu hal itu.
Setelah mengucapkan terima kasih pada Johan, Berlian segera turun dan berjalan dengan santai melewati kerumunan dan masuk ke dalam gerbang. Ia tidak mengerti mengapa semua gadis ini masih saja berdiri di depan gerbang meskipun bel tanda masuk sudah berbunyi sejak beberapa saat yang lalu.
Para gadis itu tidak bisa melihat ke dalam mobil yang dikendarai Johan. Jadi mereka tidak tahu jika pria tampan yang mereka tunggu sebenarnya baru saja pergi.
Mereka baru bubar setelah petugas security memberi tahu mereka bahwa gerbang akan segera ditutup. Baru setelah itu, mereka pun pergi dengan enggan.
Berlian tidak masuk ke kelas. Ia langsung menuju Aula untuk mengikuti kegiatan. Clara sudah menunggunya di depan aula. Jadi saat dia melihat Berlian datang, ia segera mendekatinya dan mengaitkan lengannya di lengannya kemudian masuk bersama dengan senyum di bibirnya.
Berlian menaikkan alisnya saat melihat Rezvan sudah duduk di samping tenpat duduknya. Pemuda tampan itu tersenyum dengan manis. Namun Berlian tahu dalam senyumnya itu tersimpan maskud yang dalam.
"Kita biasanya bertiga dengan Bryan. Jadi saat hanya ada kita berdua aku merasa ada yang kurang. Kebetulan, Rezvan ini sedikit mirip dengan Bryan dalam hal sikapnya. Jadi aku rasa bisa menambahkan dia di kelompok kita. Kamu tidak keberatan kan Bril?" Clara segera menjelaskan. Sebenarnya memang sikap Rezvan ini memang sedikit mirip dengan Bryan. Tengil dan kurang ajar. Tapi sebenarnya bukan itu alasan terbesar Clara membiarkan Rezvan ada di sana. Melainkan ia ingin jika Berlian bisa berteman dengan orang lain. Jika orang lain itu memiliki sikap seperti saudara kembarnya, Clara harap ini akan mudah. Tapi yang tidak Clara ketahui adalah, bahwa sebenarnya bagaimana dekatnya Berlian dan Bryan tidak lebih karena mereka adalah saudara.
"Terserah." Clara tersenyum canggung mendengar jawaban Berlian. Ia tidak berharap Berlian akan memperlakukan Rezvan dengan baik, tetapi melihat bagaimana sikap Berlian, ia jadi merasa tidak enak pada Rezvan. Ia takut Rezvan akan sakit hati melihat reaksi Berlian.
Namun apa yang ditakutkan tidak terjadi. Nyatanya, Rezvan menanggapinya dengan santai. "Tidak apa. Aku juga terkadang sulit menerima orang baru." Ucapnya membuat Clara menghela napas lega.
__ADS_1
Agenda kegiatan MOS hari ini adalah permainan tim.
Ada empat ratus siswa baru dari semua jurusan. Mereka dibagi menjadi empat kelompok besar. Lalu dibagi lagi menjadi sepuluh kelompok.
Banyak permainan yang mereka lakukan. Namun kebanyakan tidak menghabiskan energi karena semua permainan bersifat mengasah kemampuan berpikir.
Tak terasa akhirnya dua jam berakhir sudah. Dibandingkan kemarin, kegiatan hari ini lebih menyenangkan. Mereka keluar dari aula dengan tertawa bahagia.
Karena kegiatan ini adalah berfokus pada peserta, mereka mulai menemukan beberapa siswa yang unggul dan menyedot lerhatian baik peserta lain maupun pengurus OSIS.
Beberapa orang akhirnya menemukan Berlian. Para pria tidak hentinya mengungkapkan kekagumannya pada wajah Berlian yang cantik dan sikap diginnya yang menawan. Kecantikan seperti ini sangat berbeda dengan gadis-gadis di sekitar mereka. Mereka tidak bisa untuk tidak melihat ke arah Berlian dari waktu ke waktu.
Namun bukan para siswa saja yang mulai tertarik pada Berlian. Para Gadis juga tertarik dalam arti yang lain. Mereka mengenali Berlian sebagai gadis yang masuk ke dalam mobil yang sama dengan pemuda tampan yang mendadak menjadi idola mereka.
"Hai, boleh aku tahu namamu? Aku Dona."
"Kalau aku Kiara."
"Aku Hera. Jangan lupa ya."
Ada sekitar sepuluh gadis yang berkumpul di sekitar Berlian dan Clara. Mereka satu persatau menyebutkan namanya dengan gaya mereka masing-masing. Mereka begitu antusias hingga mereka tidak memberi kesempatan Berlian dan Clara untuk bicara. Clara mengulas senyuman canggung. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi.
Setelah semua menyebutkan namanya, Berlian pergi dengan acuh meninggalkan mereka membuat sepuluh gadis itu memgumpat kesal. Mereka tidak menerima diperlakukan dengan begitu arogan.
__ADS_1
"Kak, saat acara nanti atur agar gadis bernama Berlian otu untuk maju ke depan." Salah seorang peserta MOS berbicara pada sepupunya yang merupakan anggota OSIS.
"Kenapa?" Siswa bernama Rudi itu mengernyitkan alisnya. Beberapa senior juga membicarakan Berlian. Tapi selain wajahnya yang cantik tidak ada alasan untuk memberinya masalah.
"Dia adalah siswa yang dijemput oleh pria tampan yang sednag dibicarakan di forum. Pikirkan betapa meriahnya nanti." Siswi itu adalah Hera, yang merasa direndahkan oleh Berlian. Jadi ia ingin sedikit memberi pelajaran pada Berlian.
Saat di kantin tadi, ia mendengar beberapa siswi kelas atas yang membicarakan gosip di forum. Kemarin ia juga melihat sendiri kalau Berlian lah siswi yang sedang dibicarakan. Jadi kalau dia tidak bisa mencari informasi dengan cara yang baik, ia hanya bisa mengambil jalan untuk mendorong Berlian memberikan informasinya.
"Benarkah?"
"Ya." Rudi tersenyum penuh makna. Dia adalah ketua sie kegiatan kali ini. Jadi suksesnya kegiatan ini akan menjadi prestasinya.
Rudi dan Hera berbicara di salah satu sudut yang jarang dilewati. Itu adalah di samping tangga yang mengarah ke loteng tempat penampungan air di sebelah gudang. Jadi tidak ada siswa yang akan datang ke sana dan akan mengetahui rencana curang mereka.
Tapi yang meereka tidak tahu, ada tempat yang lebih tersembunyi dari tempat mereka. Itu adalah tepat di bawah tangga. Ada beberapa meja yang sudah cacat yang tidak dipakai. Di atas meja-meja itu, ada sesosok pria tampan yang sedang tidur siang. Pria itu adalah Rezvan yang terganggu karena kedatangan keduanya.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir ~>(*,*)<~
__ADS_1