
Evelyn masih marah hingga paginya. Setelah sarapan, Evelyn berkata pada anak-anaknya bahwa ia akan mengantar mereka pergi ke sekolah. Kedua anak itu tentu saja sangat senang.
"Apa mommy benar-benar marah pada Daddy?" Berlian bertanya saat mereka sudah berada di perjalanan.
"Tentu saja marah. Wanita mana yang tidak marah jika dikatakan jarinya kayak sosis. Apa daddy tidak berpikir jika apa yang terjadi pada tubuh mommy adalah ulanhnya juga?"
"Iya. Mommy benar juga. Tapi apa ini sudah tidak keterlaluan?" Bryan juga tahu jika daddynya memang salah. Tapi ini bukan sepenuhnya salah Sean yang memang tidak mengerti hal ini sebeleumnya. Jadi memberi pelajaran tadi malam Bryan rasa sudah bisa membuat Daddynya jera.
"Hahahaha. Memang benar. Tapi sebenarnya momny marah hanya malam tadi. Pagi ini mommy sudah tidak marah lagi." Evelyn tertawa ringan. Berlian dan Bryan memandang Evelyn bingung.
"Mommy memang kesal. Tapi mommy juga tidak.bisa menyalahkan daddy kalian. Dia memang mengatakan yang sebenarnya. Lihatlah, jari-jari mommy memang seperti sosis kan?" Evelyn kembali terkekeh.
Awalnya Evelyn memang marah. Tapi setelah memikirkannya saat ia mengunci Sean di luar kamar, Evelyn menyadari jika Sean sebelumnya memang seperti itu. Mengatakan apa yang ada di pikirannya dengan tanpa berpikir. Lalu saat ia berniat untuk membuka pintu kamar untuk Sean, Evelyn tidak sengaja menemukan surat undangan penghargaan untuk Sean. Jadi Evelyn berniat menberikan kejutan untuk Sean sepulang dari kantor nanti. Dan mengantarkan si kembar ke sekolah hanyalah alasan yang dibuatnya agar ia bisa mempersiapkan kejutan itu untuk suami tercintanya.
"Daddy pasti sangat senang nanti." Brtan bersorak saatendnegar penjelasan Evelyn.
"Mommy bilang saja pada kami jika membutuhkan bantuan. Kami akan membantu mommy." Berlian juga ikut bersemangat.
"Baiklah. Kalau begitu nanti pulang sekolah cepat-cepat pulang dan bantu mommy menyiapkan segalanya nanti." Si kembar mengangguk dengan semangat.
Bryan dan Berlian segera turun dari mobil ketika mereka sampai. Evelyn juga ikut turun untuk mengantar anaknya samlai di depan gerbang dalam. Ia tidak menyadari jika ada seseorang yang tengah memperhatikannya. Evelyn dan Berlian tidak memperhatikan, tapi Bryan merasakan ada yang sedang memperhatikan mereka. Ia segera menolehkan kepalanya ke segela arah. Mencari tahu dari arah mana aura jahat yang ia rasakan.
"Ada apa Bry?" Tanya Berlian saat melihat tingkah Bryan.
"Tidak apa-apa. Mungkin hanya perasaanku saja." Bryan menggelengkan kepalanya dan berkata sambil tersenyum. Tapi di dalam hatinya ia merasa bahwa aura jahat ya g dirasakannya tidak bisa diabaikan.
"Baiklah mommy pergi dulu. Kalian belajarlah rajin-rajin." Evelyn mengecup kening Bryan dan Berlian sebelum pergi dan melambaikan tangannya pada mereka. Bryan dan Berlian memandangi mommy mereka yang pergi menjauh sambil memegang pinggang belakangnya. Hamil besar benar-benar terasa berat.
Evelyn pergi ke mall. Berkeliling membeli beberapa barang untuk membuat pesta untuk Sean nanti malam. Dengan ditemani Mona, Evelyn membeli banyak barang.
"Lihat Mona! Baju bayi itu terlihat lucu." Evelyn berbinar melihat baju bayi yang dipajang. Ia segera masuk ke dalam toko diikuti Mona.
__ADS_1
Evelyn langsung mengambilnya. Mengelus baju bayi perempuan berwarna pink itu dengan perlahan.
"Nyonya, bukankah kata dokter ini adalah bayi laki-laki?" Tanya Mona heran. Seisi rumah sudah tahu jika hasil USG selama ini selalu menunjukkan jika bayi yang ada di kandungan Evelyn adalah seorang bayi laki-laki. Dan hal ini membuat Bryan dan Berlian sempat marah beberapa hari.
"Iya. Tapi baju ini sangat lucu. Aku benar-benar ingin membelinya."
Evelyn beralih melihat pakaian lain yang tak kalah lucunya. Ia pun mengambilnya. Begitu hingga akhirnya Evelyn mengumpukkan belasan pakaian bayi yang menurutnya lucu. Selain baju-baju itu, Evelyn juga membeli perlengkapan bayi dengan dominasi warna untuk perempuan.
Setelah merasa semua sudah ia beli, Evelyn memutuskan untuk pulang. Beberapa barang langsung di kirim ke mansionnya, jadi tidak banyak yang dibawa keduanya.
Sesampainya di mansion, Evelyn segera memerintahkan pelayan untuk membantunya menyiapkan pesta. Membuat kue-kue dan juga makanan. Selain itu ia juga meminta pelayan untuk membersihkan rumah dan menata semuanya agar terlihat rapi. Malam ini ia mengundang Maxim dan Laura juga. Kebetulan Justin juga sedang ada di Indonesia. Kali ini Justin datang untuk memperkenalkan pacarnya.
Sore harinya, Sean pulang seperti biasa. Ia tidak menyadari ada yang salah. Sean masuk ke dalam kamar. Ia tidak mendapati Evelyn di sana. Sean mengeluarkan kotak berisi gelang berlian yang indah dan meletakkannya di atas meja. Ia sudah menyiapkannya sebagai hadiah untuk Evelyn. Ia akan mencari Evelyn dan memberikannya setelah ia mandi nanti.
Sean kembali memasukkan kotak berisi gelang ke dalam sakunya. Lalu keluar kamar untuk mencari Evelyn.
Sean sudah berkeliling di setiap ruangan tapi Evelyn tidak juga ditemukan. Ia juga sudah bertanya pada para maid yang berpapasan dengannya. Namun mereka menjawab bahwa mereka juga tidak mengetahui keberadaan Evelyn.
Dengan semangat Sean pergi ke halaman belakang. Ia semakin mempercepat langkahnya saat mendengar suara Bryan yang sedang tertawa dan suara-suara yang ia kenali di sana. Tapi ia tidak mendengar suara Evelyn disana.
"Dimana dia?" Gumam Sean saat ia benar-benar tidak menemukan suara Evelyn diantara orang-orang yang sedang berbicara.
"Kejutan!" Sean sangat terkejut saat Evelyn berdiri di depannya sambil membawa nasi kuning yang dibentuk kerucut di atas sebuah nampan.
"Sayang. Ada apa ini?" Semua orang yang ada di halaman belakang juga berhenti bicara dan berjalan menghampiri Sean dan Evelyn.
"Apa kamu hanya akan melihatnya saja?" Evelyn menatap Sean penuh harap.
"Baiklah." Sean mengambil sendok dan mengambik sesendok lalu menyuapkannya pada Evelyn.
"Untukku?" Tanya Evelyn saat Sean hendak memasukkan nasi kuning itu ke dalam mulutnya.
__ADS_1
"Iya." Sean mengangguk dan tersenyum. Lalu mendorong masuk sendok berisi nasi kuning ke dalam mulut Evelyn.
"Sekarang ada yang bisa menjelaskan ada apa ini?" Tanya Sean akhirnya. Ia benar-benar tidak mengerti semuanya. Tapi sepertinya perayaan ini untuknya.
"Kamu ini kenapa menyembunyikannya dari kami?" Evelyn menyerahkan nasi kuning pada Laura.
"Menyembunyikan apa?" Sean masih tidak mengerti. Ia benar-bensr merasa bahwa ia tidak menyembunyikan apapun dari Evelyn.
"Ini?" Evelyn menunjukkan undangan yang tidak sengaja ia temukan. "Hal sebesar ini tidak ingun memberitahu kami?"
"Oh. Itu hal kecil untukku. Lagi pula apa yang lebih besar dai aku memiliki Kalian?" Ucap Sean bersungguh-sungguh. Lagipula undangan dan penghargaan seperti itu ia sudah setiap tahun mendapatkannya. Jadi dia sudah terbiasa dan tidak ada istimewanya lagi yang merasa penting untuk menunjukkannya pada Evelyn.
"Gombal." Evelyn merasa terharu. Tapi ia juga tidak menunjukkannya.
"Benar. Yang seperti ini sudah biasa. Tapi jika kamu mau menemaniku untuk menerima penghargaan ini baru namanya istimewa."
"Tentu saja."
"Kalian mau terus bermesraan sampai kapan? Kami sudah lapar menunggu di sini." Justin membubarkan kemesraan Sean dan Evelyn yang sedang berpelukan mesra.
"Kalian lanjutkan saja. Aku dan istriku ada sesuatu yang harus kami lakukan." Tanpa menunggu Sean sudah mengangkat tubuh Svelyn dan memebawanya pergi dari halaman belakang.
"Dasar anak muda jaman sekarang. Sudahlah jangan memperdulikan mereka. Kita lanjutkan saja acara makan kita ini." Ucap Maxim yang juga disetujui oleh semua orang.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir π
__ADS_1