
Hari selanjutnya tidak mudah bagi Berlian. Dengan Daniel yang terus menempel padanya membuatnya sangat tidak nyaman. Kelas mereka berbeda. Kelas Berlian sudah penuh saat itu dan tidak mungkin memasukkan atau mengeluarkan satu orang. Jadi, Daniel hanya bisa menerima untuk memiliki kelas yang berdampingan dengan kelas Berlian.
Daniel akan menunggu Berlian di pagi hari dan mengikutinya ke dalam kelas. Dia baru keluar dari kelas Berlian saat bel tanda masuk berbunyi. Pun ketika saatnya waktu istrirahat. Dia akan bergegas begitu ia keluar dari kelasnya sendiri.
Kelompok Berlian yang terbiasa dengan tiga orang, kini terbiasa dengan penambahan satu orang setiap mereka berkumpul di sana.
Melihat hal ini, para pengamat tidak bisa tidak menyebarkan gosip dan berita. Pada akhirnya, mereka bahkan menjadi pasangan yang terlihat serasi dan penuh cinta dilihat dari sudut para pengamat.
Berlian tentu saja menyadari pandangan orang lain padanya. Pada akhirnya dia mulai menjauh dan menghindari kontak berlebihan dengan Daniel. Dia akan menyelinap pergi dan bersembunyi di perpustakaan atau galeri seni sementara Daniel akan mencarinya hingga dapat menjungkirbalikkan sekolah. Dia tentu saja tidak akan mencari Berlian di dua tempat itu karena saat dia masih kecil, dia tidak mengetahui jika Berlian akan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk membaca buku atau melukis. Dan satu tempat lagi adalah UKS. Dia alergi pada bau obat-obatan.
Namun saat ini, Berlian tidak beruntung. Begitu dia keluar untuk istrirahat makan siangnya, Daniel sudah menunggunya di depan kelas. Beberapa teman bahkan berteriak menggodanya.
"Lihatlah Berlian, kamu beruntung memiliki pacar seperti Daniel. Tidak hanya tampan. Dia juga baik dan perhatian. Kamu benar-benar membuat kami iri!" Salah satu gadis di depan meja Berlian menoleh ke belakang saat guru baru saja keluar dari kelas mereka. Berlian melirik Daniel yang sudah berdiri di depan kelasnya.
Berlian mendengus. Ia terlalu malas untuk menjelaskan. Ia hanya berdiri dan keluar bersama dengan Clara karena hari ini Rezvan entah tidur dimana. Ia keluar pada saat pergantian jam pelajaran kedua.
Pada saat pulang sekolah, Johan menjemput Berlian seperti biasanya. Dia menunggu Berlian sambil mengerjakan pekerjaannya dengan laptop di pangkuannya.
Meskipun mata Johan menatap fokus pasar layar laptopnya yang menampilkan diagram rumit beserta penjelasannya yang panjang, ia mendongak begitu Berlian terlihat.
Johan mengernyitkan alisnya saat melihat Berlian ya gak berjalan dengan gontai terlihat tidak bersemangat. Yah, meskipun Berlian memang hampir tidak pernah terlihat penuh dengan semangat, tetapi penampilan Berlian saat ini dengan mudah dapat dijelaskan bahwa gadis itu sedang dalam keadaan yang tidak baik.
Berlian masuk dengan menutup pintu dengan lebih keras dari biasanya. Setelah itu ia langsung meletakkan tasnya di sampingnya begitu saja dan menyadarkan kepalanya. Matanya juga tertutup. Bibir tipisnya mengerucut hingga terlihat lucu. Tiga garis hitam muncul di atas dahinya. Jelas terlihat bahwa dia sedang berpikir keras.
"Ada apa?" Tanya Johan khawatir.
__ADS_1
"Lelah. Ayo pulang." Jawab Berlian tanpa minat. Ia bahkan tidak repot-repot untuk membuka matanya.
Johan menghela napas sebelum ia menyalakan mobilnya dan melaju meninggalkan sekolah. Saat ini Berlian tidak akan mengatakan yang sebenarnya padanya. Dia sendiri sudah berjanji tidak akan memaksa dan membuat semuanya berjalan sesuai dengan jalannya. Jadi, dia akan membiarkan Berlian menjalani masa SMA nya secara normal.
Berlian sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Johan tahu bahwa itu bukan karena kondisi fisiknya. Tetapi karena kondisi pikirannya. Berlian pasti sedang memiliki banyak pikiran dan tertekan untuk saat ini. Jadi Johan tidak membawanya pulang secara langsung. Namun ia membawanya ke sbuah mall.
Bukannya Johan tidak mengetahui jika Berlian tidak menyukai tempat ramai seperti mall. Tapi, Johan ingin jika Berlian sesekali membuka diri untuk hal baru.
Kebetulan, Johan memiliki urusan di mall. Jadi dia bisa selain membawa Berlian jalan-jalan.
Sebenarnya, Johan berencana untuk pergi setelah mengantarkan Berlian untuk pulang. Tapi saat ini, penting baginya untuk mengetahui apa yang terjadi pada Berlian dan menghiburnya.
Berlian sendiri tidak menyadari bahwa ia tidak dibawa pulang melainkan ke mall. Ia sudah menutup mata sejak awal meskipun ia tidak tidur. Dia hanya membuka matanya saat Johan memperlambat laju mobilnya dan bergerak seperti berusaha untuk memastikan mobil dengan sempurna.
Begitu ia membuka mata, ia melihat bahwa mereka sudah berada di bessmen. Ia memandang Johan penuh tanya. "Kenapa kita kesini?"
Berlian turun setelah ia memasang kembali tas ranselnya di punggungnya.
"Tuan Sean memerintahkanku untuk memeriksa pemasaran produk terbaru yang baru saja dilaunchingkan akhir bulan kemarin." Jelas Johan yang membawa map di tangannya. Matanya
"Ooh..." Berlian mengangguk paham.
Keduanya berjalan menyusuri mall. Mereka hanya berkeliling tanpa membeli satupun barang. Dan bahkan, Johan yang berkata bahwa ia datang ke mall untuk melakukan pemeriksaan justru menghabiskan waktu dengan terus berjalan seperti orang pengangguran yang santai. Map di tangannya masih belum ia buka sama sekali.
"Kak Johan akan memeriksa produk apa? Kita sudah berjalan tapa arah selama hampir satu jam." Gerutu Berlian yang akhirnya tidak tahan lagi.
__ADS_1
"Ooh itu hanya sebuah botol minuman. Di pasaran, sebenarnya ada beberapa produk lokal yang mencoba membuat dengan produk yang sama. Jadi aku akan memeriksa bagaimana dampaknya pada penjualannya." Ucap Johan menjelaskan. Meskipun Berlian tidak begitu memikirkannya, itu masih dia memiliki Ekspresi yang salah.
"Kenapa dari tadi kak Johan hanya berjalan secara acak?" Berlian menaikkan alisnya yang kecil dan bergerak lucu. Matanya memicing curiga.
"Kamu harus mengganti seraga itu dulu. Baru bisa berkeliling mall dengan santai." Jawab Johan saat ia mengulurkan tangannya dan meraih tangan Berlian untuk dia bawa masuk ke drama sebuah toko baju yang ada di dalam mall.
Berlian merasakan telapak tangan dingin yang kokoh tiba-tiba menangkap tangannya. Namun dia tidak merasa tidak nyaman dengan ini. Melainkan dia merasa aman. Ia memandangi dua tangan yang menjadi satu dengan tatapan yang rumit saat ia mengikuti Johan begitu saja. Rona merah menyebar di kedua pipi Berlian saat ia tiba-tiba merasakan rasa aman yang aneh itu. Itu nyaman.
Tidak menyadari perubahan ekspresi Berlian, Johan sudah meminta pelayan toko untuk memilihkan baju yang cocok untuk Berlian. Tentu saja itu adalah baju yang cocok digunakan untuk jalan-jalan santai.
Berlian menggerakkan tangannya. Tapi gerakan itu membuat Johan terkejut. Dia pun menatap kedua tangan yang terpaut.
"Ehem. Maaf aku tidak sengaja. " Johan segera melepaskan tangannya.
Seketika, dua orang itu pada akhirnya berakhir dengan canggung. mereka tidak bicara satu sama lain Hingga pelayan toko datang kembali dengan membawa beberapa baju yang sesuai.
"Pilihlah yang sesuai denganmu." Ucap Johan mendorong Berlian agar ia bisa meredakan rasa gugup di hatinya.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir ~*(^,^)*~
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan Vote ya....