Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
Bab_74. Gara-gara Telur Gulung


__ADS_3

Sean berjalan mondar mandir di depan ruang operasi. Di dalam, dokter sedang berusaha menyelamatkan Evelyn dan bayinya. Selain Sean, Maxim yang duduk  bersama Laura juga tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran mereka. Bryan dan Berlian sendiri belum tahu kondisi mommy mereka karena mereka masih ada di sekolah. Pacar Justin lah yang diberi tugas untuk menjemput mereka nantinya. Sedangkan Justin pergi sesaat setelah ia sampai. Ia akan menyelidiki kecelakaan yang menimpa adik tersayangnya.


Sudah hampir satu jam Evelyn ada di dalam. Saat ketiga orang itu datang, Evelyn sudah masuk ke dalam ruang operasi. Kondisi Evelyn parah. Jadi mereka akhirnya meminta persetujuan Mona untuk segera mengambil tindakan.


Ketiga orang itu menoleh saat mendengar suara ketukan sepatu yang mendekat. Mereka mendapati Mona yang datang sambil menundukkan kepalanya. Gadis itu merasa bersalah atas apa yang menimpa majikannya.


Sean memberi Mona tanggung jawab untuk menjaga keselamatan Evelyn. Tapi sekarang Evelyn celaka akibat keteledorannya. Tentu saja Mona sangat merasa bersalah.


"Sekarang jelaskan apa yang terjadi? Bagaimana Evelyn bisa mengalami kecelakaan?" Sean menghampiri Mona menarik kerah bajunya dan menyudutkannya di tembok. Saat ini Sean sedang kalap. Ia tidak lagi memandang Mona sebagai seorang perempuan.


Laura segera menghampiri. Memegangu tangan Sean yang menekan leher Mona. "Sudah Sean. Bicarakan baik-baik. Jika kamu seperti ini, kita juga tidak bisa mendapatkan apa-apa dari Mona."


"Uhuk uhuk uhuk!" Mona terbatuk setelah Sean menghempaskan tubuhnya dengan kasar. Laura menggelengkan kepalanya. Sedangkan Sean sendiri menjauhi Mona. Tetapi pria itu menatap Mona dengan tajam.


"Sekarang coba beritahu kami apa yang terjadi?" Laura membantu Mona untuk bangun.


"Saat itu nyonya memintaku untuk mengantarnya ke vila. Tuan tidak bisa menemani nyonya untuk periksa kandungan. Jadi hendak meminta nyonya Laura untuk menemani. Lalu di tengah jalan, nyonya meminta berhenti."


"Kenapa kamu turuti?" Sean kembali bertanya dengan marah. Namun Laura segera menghalangi Sean yang hendak menyerang Mona lagi.


"Aku sudah memperingatkanmu untuk hati-hati kan? Kenapa kamu lalai?"


"Mohon maafkan saya tuan. Waktu itu nyonya berkata bahwa ia ingin membeli jajanan yang dijual di depan sekolah SD." Sean semakin membelalakkan matanya mendengar penjelasan Mona. Ingin rasanya ia menghajar gadis ini.


"Saya meminta nyonya untuk tetap di dalam mobil sementara saya pergi membelikannya."


"Kalau di dalam mobil bagaimana bisa tertabrak?"


"Mungkin nyonya menunggu terlalu lama. Saat itu antri sangat banyak. Dan membuat telur gulung itu harus satu-satu."


"Kenapa kamu tidak membeli dengan gerobaknya?"

__ADS_1


"Diam Sean! Kalau kamu terus menyela bagaimana bisa Mona menyelesaikan ceritanya?" Laura akhirnya ikut emosi dan memarahi Sean. Membuat pria tampan itu melengos melipat kedua tangannya. Namun cara itu ampuh. Sean sudah tidak lagi menyela Mona.


"Saya juga tidak menyangka jika nyonya akan keluar. Padahal saat itu pesanannya sudah siap. Saya sudah akan kembali. Tapi begitu saya berbalik, saya sudah mendapati nyonya ditabrak oleh mobil. Nyonya sudah tidak sadar. Darah nyonya sangat banyak. Semua orang di sekitar membantu saya membawa nyonya masuk ke dalam mobil."


"Apa kamu tadi lihat plat nomorya?"


Mona menggeleng. "Tidak ada platnya. Tapi saya sempat mengambil fotonya." Mona menyerahkan ponselnya setelah memperlihatkan foto mobil yang menabrak Evelyn pada Laura. Laura melihatnya dan memperlihatkan pada Maxim dan Sean.


"Benar-benar tidak ada platnya. Ini pasti disengaja."


"Beberapa hari ini kami memang diikuti. Tapi mobil yang digunakan berbeda-beda. Jadi saya rasa ini bukan diikuti melainkan kebetulan." Jelas Mona.


"Apa kamu juga mempunyai foto mobil lain yang mengikuti?" Tanya Maxim.


"Tidak tuan. Tetapi di depan dan belakang mobil ada CCTV yang dipasang nona Berlian. Saya rasa itu bisa mengetahui pelakunya."


"Kenapa tidak bilang dari tadi?" Sean kembali emosi. Jika diberitahukan sejak awal mereka tidak perlu mendengar cerita yang sangat panjang.


Sean mengusap wajahnya frustasi. "Sebenarnya majikanmu itu aku apa Berlian?" Tanya Sean tidak habis pikir.


"Tentu saja tuan. Tapi nona Berlian memaksa saya untuk berjanji." Tutur Mona. Sean benar-benar tidak percaya. Dia lah yang memilih Mona untuk menjadi bodyguard karena Mona lah yang paling mampu di antara pelamar yang lain. Dan sekarang sepertinya ia telah salah memilih Mona. Mona memang hebat dalam hal beladiri, tetapi sepertinya tidak begitu pintar dalam bertindak.


"Sudahlah. Sekarang yang paling penting adalah mencari Berlian untuk melihat CCTV itu."


"Papi benar." Sean mengangguk.


"Minta Justin untuk menemui Berlian." Maxim menoleh pada Laura. Meminta Laura melakukannya.


Setelah itu semua orang diam. Sean yang sudah menenangkan dirinya duduk sendirian. Maxim dan Laura duduk tak jauh darinya. Mona juga duduk sambil memegangi lengan kirinya. Semua orang diam.


"Tuan Sean, saya juga meminta maaf atas kelancangan saya." Ucap Mona setelah mengumpulkan keberaniannya.

__ADS_1


"Apa lagi yang kamu lakukan?" Sean melirik Mona yang terlihat ketakutan.


"Tadi dokter berkata jika harus mengambil tindakan cepat. Jadi, saya menyetujui untuk tindakan operasi ini. Saya minta maaf atas kelancangan saya ini."


"Tidak apa. Kami seharusnya berterima kasih. Ini semua sudah direncanakan oleh seseorang. Meskipun mereka hari ini tidak berhasil, mereka juga akan bertindak lagi sampai berhasil." Laura yang menjawab.


"Apa kamu juga menyumbangkan darahmu?" Maxim melirik lengan Mona.


Mona menganggukkan kepalanya. "Iya. Golongan darah nonya adalah O. Dan saat ini cadangan darah disini kurang. Jadi saya menawarkan diri."


"Terima kasih banyak Mona. Meskipun aku sependapat dengan Sean bahwa kejadian ini sebagiannya adalah kesalahanmu, tapi aku juga tidak bisa mengabaikan jasamu. Jika bukan tindakan cepatmu, mungkin kami tidak akan menunggu di sini."


"Tuan jangan berkata seperti itu. Tuan dan keluarga sudah sangat baik." Ucap Mona malu-malu.


"Sebaiknya kamu pulang dan istirahatlah. Jika ada sesuatu yang memerlukan bantuanmu kami akan memanggilmu." Laura menatap Mona dalam. Wajah Mona saat ini sangat pucat. Kejadian ini pasti membuatnya panik dan terkejut. Apalagi darahnya baru diambil sampai dua kantong. Jadi Mona membutuhkan istirahat yang cukup untuk memulihkan usahanya.


**


Justin segera menemui Bryan dan Berlian di sekolahnya. Karena masih jam pelajaran berlangsung, Justin pergi ke kantor kepala sekolah untuk melapor. Kepala sekolah sangat terkejut mendengar bahwa Evelyn mengalami kecelakaan karena pagi ini ia masih bertemu dengan Evelyn saat mengantar Bryan dan Berlian.


"Saya minta untuk merahasiakam hal ini. Jangan sampai kabar ini tersebar." Justin berkata dengan serius.


"Baik saya mengerti. Kalau begitu saya akan memanggil Bryan dan Berlian." Kepala sekolah segera keluar untuk meminta orang untuk memanggilkan Bryan dan Berlian.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 😊

__ADS_1


__ADS_2