Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
Bab_83. Happy Ended


__ADS_3

Sean dan Evelyn kembali ke perayaan bersama dengan orang-orang terkasih. Kedatangan Tomy memang membuat suasana Evelyn menjadi buruk. Tetapi melihat semua orang di sekitarnya yang mencitainya dengan tulus membuat suasana hatinya kembali menjadi lebih sulit.


Di masa lalu, dia memiliki keluarga. Memiliki ayah kandung dan seorang saudari seayah dengannya. Bisa dikatakan mereka memiliki darah yang sama yang mengalir pada tubuh mereka. Tetapi di rumah keluarganya itu, Evelyn bahkan tidak pernah merasakan hangatnya sebuah keluarga. Bahkan, hanya kesedihan dan kesulitan yang diberikan oleh keluarganya itu.


Meskipun begitu, Evelyn tidak pernah merasakan kebencian pada keluarganya itu. Dan saat dirinya diusir dari rumah, tidak dipungkiri jika Evelyn merasa sangat sedih dan kehilangan.


Namun saat melihatnya keluarganya saat ini, ia merasakan kehangatan keluarga yang dulu selalu ia impikan. Kehilangan keluarganya yang dulu bukanlah hal yang bisa disesali karena memang sejak awal mungkin keluarga itu memang bukan untuknya.


"Kenapa di luar? Dingin kan?" Sean menghampiri Evelyn yang sedang melamun di balkon kamar mereka. Memberikan coklat panas pada istrinya. Β 


"Terima kasih." Evelyn dengan senang hati menerimanya. Setelah memikirkan kejadian malam ini yang membuat syaraf nya sedikit tegang, meminum coklat panas memang sangat sesuai.


"Hem." Sean mengangguk. Ia kemudian berdiri di belakang Evelyn dan memeluknya dari belakang. Menikmati aroma manis yang selalu membuatnya tenang. Membiarkan Evelyn menikmati coklat panasnya dengan tenang.


"Sedang memikirkan apa?"


"Tidak ada." Evelyn dengan santai bersandar di dada Sean.


"Bernarkah?" Tanya Sean sambil mencium puncak kepala Evelyn.


"Hanya memikirkan betapa beruntungnya aku Sean." Evelyn berbalik. Menatap netra hitam milik Sean yang menatapnya hangat.


"Kamu memang pantas mendapatkan semua keberuntungan."


"Coklat panasnya sangat enak."


"Benarkah?" Evelyn mengangguk.


"Biarkan aku mencoba." Sean memagut bibir Evelyn. Dengan perlahan membalik tubuh indah itu.


"Ini memang enak." Sean menjilat bibirnya yang basah dengan ujung lidahnya.


"Tapi dibandingkan denganmu yang beruntung memiliki keluargamu itu, aku yang lebih beruntung lagi." Ucap Sean sungguh-sungguh.


"Benarkah?"


"Ya. Aku lebih beruntung karena aku memilikimu." Sean menatap Evelyn dengan penuh cinta. "I Love You, Evelyn." Lanjutnya dengan penuh perasaan.


"I Love You Too, Sean." Pandangan mata mereka bertemu. Mereka saling mendekat dan menyatukan bibir mereka. Dua bibir yang saling bertemu itu terus bergerak sesuai irama.


Tangan putih milik Evelyn melingar di leher kekar Sean. Sedangkan Sean juga merapatkan diri mereka dengan menekan Evelyn padanya dengan kedua tangan besarnya yang melingkar di pinggang Evelyn.

__ADS_1


Area 21 +


Part ini agak liar reader! Jadi yang gampang menghalu yang he a he a nggak usah baca dah. Darilada imut basah nantinya kan repot jadinya. Apalagi golongan reader yang jomblo. Terutama yang nggak suka part kayak gini mending skip aja deh.


Sean mengangkat tubuh Evelyn dengan mudah. Keduanya bergerak pelan masuk ke dalam kamar tanoa melepaskan diri mereka satu sama lain. Dibaringkannya tubuh Evelyn di atas ranjang. Tangan Evelyn segera meraih remot dan segera mengunci pintu dengan remot tersebut. Mereka sama-sama tidak mau hal baik mereka lagi-lagi diganggu.


"Aku mencintaimu sayang." Sean semain agresif menciumi Evelyn. Tangannya juga sudah berkelana menjelajahi setiap tempat yang sudah ia hapal.


"Aku juga mencintaimu Sean." Balas Evelyn. Ia juga tak tinggal diam. Tangannya ia gerakkan ke bawah. Dengan nakal membuka ikat pinggang dan menarik retsleting celana prianya. Malam ini biarkan mereka menggila.


Sean semakin tertantang dengan sikap agresif yang ditunjukkan Evelyn malam ini. Dengan sekali tarik dia berhasil melepas piama Evelyn. Biji kancing itu menyebar di atas lantai menghasilkan bunyi yang ambigu.


Pemandangan luar biasa dibalik kain ini tidak ada bandingannya. Sean selalu tergiur untuk menikmatinya. Dengan segera, ia benamkan kepalanya di sana. Di leher, dada, dan juga perut Evelyn dan meninggalkan jejaknya di sana.


"Aah Sean jangan menggodaku." Pekik Evelyn frustasi saat ia sudah mncapai puncak untuk kedua kalinya meskipun senjata Sean masih belum digunakan. Nyatanya, tangan Sean begitu lihai mempermainkan dirinya. Belum lagi lidah dan mulutnya yang membuatnya melayang.


"Tunjukkan performamu sayang." Sean membalik posisi mereka. Kali ini ia membiarkan Evelyn menguasai pertempuran.


Tanpa ragu, Evelyn memulai aksinya. Bibirnya membuat cetakan merah seperti yang biasa Sean buat di tubuhnya. Kali ini, bukan hanya tubuhnya yang penuh dengan bercak merah, tubub Sena juga mendapatkan tanda yang sama meskipun tidak sebanyak yang ada di tubuh Evelyn.


Tangan Evelyn juga tidak berhenti. Ia sudah mulai memberi servis pada senjata Sean yang sudah siap digunakan. Evelyn mengegrakkan tangannya dengan lihai. Ia turun ke bawah. Melakukan sesuatu di sana yang membuat Sean bersemangat.


Evelyn sengaja mempermainkan Sean. Hingga membuat pria itu frustasi. "Ayo sayang." Keluh Sean tidak sabar. Ia tahu Evelyn sedang balas dendam padanya. Sekarang ia tahu jika dipermainkan itu tidaklah begitu menyenangkan.


"Ah... ah.. Evy... good...aah ah... terus sayang. Aah mayoo..." teriak Sean saat Evelyn berhasil mengeluarkan saos mayonais. Sean masih terengah-engah saat Evelyn naik ke atas tubuhnya. Wanita cantik itu menyeringai dengan menawan.


"One enough?" Tanyanya sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Again baby..." jawab Sean semangat.


"Like do yow want Honey!" Evelyn kembali beraksi. Tangangannya kembali menggoda senjata Sean yang masih turn off agar kembali turn on. Tak butuh waktu lama. Senjata siap tempur itu kembali menantang gua sarang.


Evelyn menurunkan pinggulnya. Memasukkan senjata panjang itu ke dalam sarangnya yang pas. Wanita itu bergerak dengan lincah. Ke atas dan ke bawah dengan eksotis. Sean mengulurkan tangannya. Meraih buah pepaya yang bergelantungan di atasnya. Biasanya ia hanya menikmari gunung stoberi eksklusif. Kali ini dua pepaya ranum ini bahkan lebih menarik. Ini amazing!


Entah berapa kali mereka bertukar posisi hingga keduanya kelelahan kehabisan tenaga dan akhirnya tertidur dengan tubuh polos mereka yang berbalut selimut.


**


Evelyn bangun dengan sedikit linglung. Ia sedikit mengingat kejadian malam tadi. Malam tadi begitu gila. Ia seperti tidak terkendali. Ia ingat bagaimana ia memperlakukan senjata Sean. Lalu menaiki Sean dengan tanpa malu. Perlahan-lahan Evelyn menoleh pada Sean yang ada di sampingnya. Pria itu tidur terlelap. Tapi tubuhnya astaga... apa yang terjadi semalam?


Ini pasti ada yang tidak beres. Evelyn tidak mungkin menjadi begitu liar tanpa bisa terkendali. Tapi apa?

__ADS_1


Ah! Coklat panas itu. Pasti ada yang salah dengan coklat panas yang ia minum semalam.


"Kenapa bangun sayang?" Sean yang merasakan gerakan di sampingnya mengerjapkan matanya. Ia kembali menarik Evelyn ke dalam dekapannya.


"Ini sudah lagi Sean. Anak-anak pasti sudah menunggu kita di bawah." Evelyn mencoba melepaskan diri. Saat ini sudah hampir jam tujuh pagi.


"Mommy! Daddy!"


Seperti yang dikatakan Evelyn. Suara Bryan langsung terdengar dari luar begitu Evelyn mematikan sistem peredam suara di kamar mereka.


"Kenapa bumi ini berputar begitu cepat." Tanya Sean yang entah pada siapa. Evely yang mendengar jelas gerutuan Sean hanya menggelengkan kepalanya.


Sean selalu protes di pagi hari. Ia akan menggerutu mengapa matahari begitu cepat keluar. Sean mulai membenci matahari. Kenapa?


Karena begitu matahari bersinar, istri cantiknya itu tidak bisa lagi ia kurung di dalam kamar. Ia memiliki tiga orang saingan beratnya. Ketiga anak kecil itu akan menguasai istrinya begitu matahari mulai menampakkan sinarnya.


"Sudahlah. Nanti malam kita bisa mengulanginya lagi." Ucap Evelyn memberi semangat pada suaminya.


"Deal. Ayo kita menjadi orang tua dulu. Dan nanti malam kita akan kembali menjadi orang muda."


Yah. Begitulah kehidupan. Selalu ada masa untuk setiap prosesnya. Hidup tidak akan berhenti di satu masa. Melainkan akan terus bergerak ke depan untuk memberi makna di setiap masanya.


Kesedihan dan kebahagiaan juga adalah proses kehidupan. Manusia hidup tidak mungkin hanya monoton menerima salah satunya saja. Mereka akan menerima kebahagiaan dan kesedihan bergantian di dalam hidup mereka.


Cobaan dan ujian di dalam hidup harus dijalani dengan sepenuh hati. Bukan malah lari dan menghindar. Sebab, cobaan dan ujian yang ada adalah salah satu pembelajaran yang akan membuat kita kuat dalam menghadapi apa yang ada di masa depan.


Jangan mudah mengeluh! Tersenyum dan yakin bahwa kita bisa menghadapi masalah yang ada.


...TAMAT...


...Kediri, 20 Ferburari 2022...


...By : Queen_ok...


*


*


*


Terima kasih sudah menemani akoh sampai saat ini 😊

__ADS_1


See you next my story πŸ˜‡


__ADS_2