Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
S2_23. Rencana Vivi


__ADS_3

Sore harinya setelah makan siang, para siswa dikumpulkan. Mereka akan diajak berkeliling ke sebuah peternakan kuda yang tidak jauh dari penginapan. Mereka akan dikelompokkan menurut kelas mereka. Dan dipandu oleh seorang guru dengan bantuan dari seorang petugas dsri peternakan yang akan memberi mereka penjelasan tentang peternakan kuda.


"Apa kita di sini untuk mempelajari kuda?" Salah seorang siswa bertanya dengan antusias.


"Ya. Hari ini agenda kita adalah pengenalan terlebih dahulu. Dan besok, kalian akan diajari bagaimana cara untuk berkuda." Jawab pak Yono, guru yang bertugas menjadi ketua panitia dalam study tour tersebut.


"Wah keren pak! Kami sudah tidak sabar."


"Benar. Ini lebih baik dari pada pergi ke pantai."


"Aku benar-benar ingin belajar menunggang kuda. Dan aku akan segera mempostingnya."


Awalnya, pihak sekolah akan mengadakan study tour seperti tahun-tahun sebelumnya. Mereka akan pergi ke Bali. Tetapi tepat sebelum mereka mengumumkan hal itu, seseorang datang dan menyarankan untuk mengunjungi peternakan kuda. Selain itu, seluruhnya disponsori.


Jika itu adalah orang lain, pihak sekolah akan mempertimbangkan untuk menolak gagasan itu. Bagaimanapun, sudah menjadi tradisi jika mereka melakukan study tour di Bali atau Lombok. Yang kebanyakan waktu akan dihabiskan dengan berlibur.


Namun gagasan ini datang dari Sean. Apalagi utusan Sean juga mengatakan banyak hal untuk meyakinkan mereka bahwa berkunjung ke peternakan kuda adalah pilihan yang tepat.


Dan setelah mendengar tanggapan kebanyakan siswa yang menumenunjukkan antusiasme mereka, sepertinya keputusan ini adalah yang terbaik.


"Baiklah harap tenang. Kalian semua harus tertib dan mengikuti apa yang dikatakan pemandu kalian. Jangan berkeliaran sendirian. Kalian tidak mungkin ingin tersesat dan masuk ke drama kandang kuda kan?" Pak Yono mengingatkan.


"Hahahaha. Tentu Saja tidak pak."


"Apa kalian mengerti?"


"Mengerti."


"Bagus. Silahkan bersenang-senang."


Mendengar itu, semuanya bersorak senang. Mereka dengan tidak sabar mengikuti kemana kelompok mereka akan dibawa.


Peternakan itu sangat luas. Jadi setiap kelas dibawa ke tempat yang berbeda-beda untuk memulai berkeliling. Mereka melihat-lihat apa saja yang ada di dalam peternakan. Mulai dari kandang kuda sampai ke tempat kantor manajemen.

__ADS_1


Rezvan menguap sepanjang jalan. Clara berkali-kali mencubit lengannya. Dan setiap kali ia dicubit, Rezvan akan berteriak karena marah. Berlian yang melihat keduanya hanya menggelengkan kepalanya. Kedua temannya ini benar-benar terlihat kekanak-kanakan.


"Aku sudah tidak sabar untuk agenda besok." Ucap Clara setelah mereka selesai berkeliling peternakan. Berlian melirik nya sambil tersenyum.


"Aku benar-benar tidak menyangka jika acara study tour kali ini akan menjadi yang terbaik. Siapa yang akan mengira kita akan dibawa ke tempat seperti ini." Lanjut Clara saat ia merebahkan dirinya di atas ranjangnya.


Berlian bersiap mandi dan mengambil perlengkapan mandinya. Di penginapan ini, tidak ada kamar mandi yang disediakan di setiap kamar.


"Brily! Jika kamu memiliki kuda, apakah kamu juga bisa mengendarai mereka?" Clara tiba-tiba duduk dan menyilaukan kakinya di atas ranjang. Menarik bantal dan menopangkan tangannya di atasnya.


"Kenapa? Kamu tidak percaya?"


"Tidak juga. Kalau begitu, bisakah kamu mengajariku besok?"


"Hm. Aku akan berusaha."


"Bagus." Clara memukulnya tangannya di bantal saat ia berseru senang.


Setelah makan malam, mereka diminta untuk segera masuk ke dalam kamar dan tidur. Besok pagi, mereka sudah harus bergegas pergi ke peternakan kuda untuk belajar di sana.


Sementara semua bersiap tidur, Vivi berkumpul dengan teman-temannya di dalam kamar. Mereka sedang bersiap untuk menjalankan rencana mereka. Rencana ini harus berhasil untuk membuat Berlian tidak akan lagi berani muncul di hadapannya. Memikirkan ini, Vivi diliputi dengan kebahagiaan.


Pertama-tama, Candra yang menjadi satu-satunya dari kelompok itu yang mendapatkan teman lain yang satubkamar dengannya meminta temannya untuk mengikuti perintahnya. Teman datu kamar ini memang sudah direncanakan sebelumnya, namanya Tari, di sekolah dia tidak menonjol sama sekali. Dibandingkan dengan yang lain, dia tidak memiliki latar belakang yang cukup bagus untuk mendukungnya. Jadi, dia adalah sasaran yang tepat untuk digertak.


Sedangkan Tari, dia tidak memiliki pilihan lain selain melakukan apa yang diperintahkan oleh Candra padanya. Papanya merupakan karyawan di perusahaan milik papa Candra. Dan jika ia tidak melakukan apa yang dia minta, Candra mengancamnya dengan pekerjaan papanya. Tentu saja Tari tidak akan mengorbankan seluruh keluarganya


Setelah memastikan Tari melakukan tugasnya dengan baik, Candra segera pergi menemui Vivi dan yang lainnya yang sudah menunggu.


Sementara Vivi sibuk dengan rencananya, Berlian di sisi lain. Ia baru saja mengirimkan hasil kerjanya. Tugas yang diberikan padanya telah selesai. Semua bukti yang dibutuhkan sudah di dapat. Dengan itu, pemerintah dapat menyelesaikan sisanya.


Namun, setelah ia selesai mengirimkan segalanya, ia baru mengingat satu nama Yang sejak tadi coba ingat karena berkaitan dengan seseorang yang selama ini ia selidiki.


"Aku benar-benar tidak percaya. Kenapa bisa bbegitu kebetukan?" Berlian menghela napas. Terlepas dari apapun, tugasnya harus ia lakukan secara profesional. Hubungan apapun yang terlibat secara pribadi harus disingkirkan untuk itu. Lagipula, ini adalah tindakan pelanggaran hukum. Seseorang yang bersalah, harus mendapatkan hukumannya.

__ADS_1


"Semoga diberi kesabaran." Doa Berlian tulus saat ia menutup laptopnya dan meletakkannya di atas meja di samping ranjang.


Berlian melirik Clara yang sudah tidur sejak awal di ranjang di sampingnya. Ia juga segera merebahkan diri dan menarik selimutnya menutupi seluruh tubuhnya. Tapi, saat ia baru saja menutup mata, suara ketukan pintu terdengar. Berlian kali duduk.


"Siapa?" Tanya Berlian sambil turun dari ranjang.


"Aku Tari."


Berlian membuka pintu kamarnya dan melihat Tari berdiri di depannya dengan ragu.


"Ada Apa?" Tanya nya sambil memindai Tari sampai ia mengingat dia tidak terlibat dengan gadis ini sebelumnya.


"Seseorang memintaku untuk memberikan surat ini padamu." Tari memberikan surat yang diberikan Candra padanya. Berlian menerimanya dan membaca isinya.


Berlian menatap Tari saat ia mendapati Tari menundukkan kepalanya sejak awal berkata dengan nada yang bergetar. Dia jelas dalam keadaan tertekan. Berlian tidak bisa mendorong lebih jauh dan menghela napasnya. Ia yang dijadikan target, kenapa membutuhkan orang lain sebagai ancaman? Ini tindakan seorang pengecut!


"Maafkan aku. Tapi tolong datanglah ke tempat yang dituliskan di surat itu." Tari segera berbalik dan pergi setelah mengucapkan perkataan itu.


Berlian melihat sekilas kertas di tangannya. "Permainan apa yang akan mereka coba mainkan denganku?" Gumam Berlian saat ia menutup pintu di belakangnya dengan hati-hati dan berjalan ke arah tempat Yang aku ditunjukkan di dalam surat.


Vivi menunggu di dalam kamar mandi. Tempat yang akan di datangi Berlian nantinya. Di tangannya memegang ponsel pintarnya yang sedang dalam keadaan siaga merekam video. Vivi berniat untuk merekam semuanya untuk mempermalukan Berlian.


Dea membawa timba berisi cat berwarna merah di tangannya. Lita berdiri tidak jauh darinya dengan cat berwarna biru. Dan Candra memegang kotak berisi tepung.


Mereka berencana untuk menyiramkan semua di tangan mereka pada Berlian.


Tapi, apakah Berlian akan membiarkan dirinya dipermainkan?


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir ~>(*,*)<~


__ADS_2