
Saat ini semua orang masih bercengkerama di tempatnya. Sedangkan Kimy memilih menjauh. Kebetulan ruangan vip itu berada di lantai dua dan terhubung dengan balkon restoran itu dan disitulah saat ini Kimy berada. Dari kejauhan Kimy melihat sekali lagi orang-orang itu. Papi, maminya yang masih terlihat akrab dengan om Teddy dan mama Sinta. Tentunya mereka disitu bukan sebagai orang tua dari Gilang, namun orang tua dari kekasihnya Tristan. Dan juga Nadine yang terlihat membaur diantaranya. Kimy sulit memahami situasi ini. Bicara soal Nadine, entah disitu Nadine sebagai apa tapi Kimy mengabaikan wanita itu. Dan juga terlihat Tristan yang bicara serius dengan Mario. Kimy memandang wajah kekasihnya itu lekat-lekat. Benarkah dia sudah menyerah pada balas dendamnya. Walaupun di dalam dia tak melihat interaksi antara Tristan, Teddy dan Sinta. Tapi benarkah Tristan sudah melupakan dendam itu. Dan untuk sekali lagi hati Kimy seakan bertanya-tanya, kalau Tristan sudah berbaikan dengan Teddy dan Sinta lalu bagaimana dengan Gilang. Dimanakah lelaki itu berada sekarang? Apakah dia baik-baik saja saat ini. Apakah dia rela berbagi orang tua dengan Tristan yang sangat di bencinya dulu. Hati kecil Kimy tak bisa berbohong kalau dia masih peduli dengan Gilang. Dia peduli bahkan sangat peduli. Mungkin cinta memang sudah berpindah hati, namun kepedulianya pada Gilang tak bisa dia hapus begitu saja.
"Dimana kamu lang?.." ucapnya lirih. Kimy membalik badannya. Dia melihat jalanan di depan restoran yang cukup padat.
"Kau Pasti kaget aku ada di sini.." suara itu membuyarkan lamunan Kimy. Seketika Kimy menoleh dan melihat Nadine sudah berdiri di sebelahnya. Kimy tersenyum sinis pada Nadine.
"Biasa saja.." Jawabnya.
"Aku juga tidak menyangka bisa berada di tengah-tengah keluargamu disaat pacarku tidak disini.." Kimy sedikit terkejut dengan omongan Nadine. Pacar, siapa yang dimaksud Nadine. Apa saat ini posisi Nadine sebagai pacar Gilang. Dia mewakili Gilang untuk datang. Kimy semakin penasaran dengan topik yang akan Nadine bahas.
"Kimy bisa kita bicara berdua.." sebuah suara membuat Kimy dan Nadine menoleh. Terlihat Sinta tersenyum menghampiri Kimy.
"Mama Sinta.."
"Iya sayang, mama mau bicara berdua boleh?.."
"Iya boleh ma.." Kimy dan Sinta melihat ke arah Nadine, seakan memberi kode supaya wanita itu segera menyingkir dari tempat itu. Nadine mengangguk dan pergi meninggalkan mereka berdua.
"Mama senang lihat kamu bahagia seperti sekarang.." Sinta mendekat lagi pada Kimy "Dia buat kamu bahagia?.."
Kimy mengangguk, mengiyakan.
"Ternyata anak itu tidak datang. Dia tidak punya nyali menghadapi kalian.."
"Siapa maksud mama?.."
"Gilang.."
"Gilang tahu aku datang ma?.." Sinta mengangguk. Dimana dia? Nadine di sini kenapa dia tidak ikut bersamanya.."
Sinta tertawa pelan " Kamu kira Nadine di sini karena Gilang?.."
"Lalu untuk siapa lagi?.." jawab Kimy heran.
"Gilang tidak pernah mengharapkan Nadine. Nadine kesini karena dia kekasih Dony.."
"Dony??.." Sinta mengangguk. Kimy terheran kenapa bisa Dony menjalin hubungan dengan Nadine. Padahal dulu Nadine yang paling mengharapkan perpisahanya dengan Gilang. Kenapa bisa Nadine bersama Dony.
__ADS_1
"Lalu di mana sekarang Gilang ma?.."
"Sudah banyak yang berubah Kim. Gilang tak mau lagi menjadi publik figur. Dia lebih memilih manjauh dari keramaian.."
Kimy menatap Sinta, menunggu jawaban dimana lelaki itu berada sekarang "Gilang membuka sebuah cafe.."
"Cafe, lalu bagaimana dengan perusahaan ma?.."
"Masih jalan, Septian yang mengurus. Dia menjauh dari keluarga kim. Dia benar-benar menyendiri.."
Hati Kimy sedikit tersentuh dengan keadaan Gilang mantan kekasihnya. Bagaimanapun, dia merasa penyebab dari kekacauan di hidup Gilang.
"Mama berharap kamu mau menemuinya.."
Kimy sedikit kaget dan melihat Sinta dengan tatapan bertanya "Maksud mama hanya untuk memotivasi Gilang kim.." Kimy tak menjawab, dia melihat ke arah lain yang terlihat Tristan berjalan ke arahnya.
"Kenapa di sini, di sini sangat dingin.." Tristan yang baru datang langsung saja menarik pinggang Kimy hingga menempel pada tubuhnya.
"Aku ngobrol sedikit dengan mama Sinta.." jawab Kimy yang melirik Sinta, Sinta terlihat tak memandang Tristan sama sekali. Dia memilih melihat jalanan yang sedang padat di depan resto itu.
Saat pejalanan pulang, ditengah keheningan Kimy memberanikan diri bertanya pada Tristan tentang keluarganya "Kamu sudah baikan dengan om Teddy, mama Sinta?.."
"Seperti yang kamu lihat.." jawab Tristan asal-asalan.
"Aku melihat kalian bersama, tapi kalian tidak inetaraksi sama sekali trist.."
"Itu lebih baik daripada aku tidak melihatnya sama sekali bukan.."
"Boleh aku tanya, tapi janji kamu jangan marah.."
Tristan menatap mata Kimy "Katakan?.."
"Mengenai Gilang.." Tanya Kimy dengan sedikit ragu. Dia memeriksa muka Tristan, Kimy ingin tahu reaksi kekasihnya itu. Tristan tak menjawab dan expresinya juga biasa-biasa saja. "Apa kalian juga berbaikan?.."
"Ck.. ayo lah Kimy, Kamu tidak sedang berharap mempunyai adik ipar yang penyayang kan? Aku tidak mau kamu menyebut namanya di depanku.."
Kimy membuang nafas kasar, dia bingung bagaimana menjelaskan pada kekasihnya. Kimy tahu kalau Tristan mempunyai temperamen yang tinggi dan juga pencemburu berat, apalagi kalau sudah menyangkut nama Gilang. Kimy meraih tangan Tristan, menggenggamnya erat, menatap mata lelaki itu dalam "Tristan dengarkan aku. Aku tahu ini akan sulit buat kita. Tapi fakta kalau Gilang adalah adikmu tidak bisa di hindari. Mau tidak mau, namanya akan selalu ada dan di sebut oleh orang-orang terdekat kita. Kamu harus belajar mengendalikan diri. Aku juga tidak mungkin terus-terusan menjauh darinya. Aku mengenalnya dan aku peduli padanya.." mata Tristan menajam mendengar kata PEDULI yang Kimy ucapkan. "Jangan salah sangka, peduli yang aku maksud bukan seperti yang kamu pikirkan. Aku hanya merasa bertanggung jawab atas hancurnya kehidupan Gilang. Aku hanya ingin memperbaiki hubunganku yang rusak, sebagai teman.."
__ADS_1
"Kamu tidak perlu bertanggung jawab atas apa yang terjadi di kehidupan orang lain. Aku tidak mau kamu menyebut namanya, apalagi menemuinya. Kalau tidak mau ada masalah jangan banyak bertingkah Kimy. Cukup diam di sampingku. Aku yang akan mengatasi semuanya.."
Kimy tak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan. Kimy merasa seperti boneka yang tidak boleh melakukan apa-apa, tidak boleh memutuskan apa-apa dan harus tunduk dengan aturan Tristan. Dada Kimy bergemuruh rasanya. Bukan seperti itu kehidupan yang dia mau. Dia memang mencintai Tristan, tapi tidak seperti itu yang dia harapkan dari kekasihnya itu. "Aku tidak percaya kamu bicara begitu. Kamu tidak percaya padaku?.."
"Aku tidak percaya pada bajingan itu.."
Kimy mengetatkan rahangnya, tidak kuat lagi rasanya menahan amarah yang menumpuk di dada. Kimy dari dulu adalah wanita yang tidak bisa di tindas dengan mudah. Bahkan Gilang saja selalu mengalah dengannya. Tapi entah kalau bersama Tristan, Kimy selalu berada di bawahnya. Kimy selalu kalah. "Siapa bajingan yang kamu maksud?.." Tanya Kimy dengan nada mengejek. Entah, Kimy merasa tak terima kalau Tristan mengolok Gilang dengan sebutan itu. "Kita tahu siapa satu-satunya bajingan dalam kasus ini.." lanjutnya.
Ciiiittttt
Tristan mengerem mendadak mobilnya, beruntung jalanan sudah lumayan lengang. Kimy berjingkat kaget dengan apa yang di lakukan Tristan itu.
"Kamu gila.." teriak Kimy menatap nyalang Tristan.
"Kamu menguji kesabaranku Kimy.." Tristan berkata lirih tapi penuh penekanan, seakan masih mencoba menahan amarahnya "Bahkan saat kamu bersamaku, kamu masih membelanya. Aku tidak tahu sepenting apa aku di matamu. Tidakkah sedikit saja kamu bisa menghargai dan menjaga perasaanku.." Kimy terdiam mendengarkan perkataan Tristan. Kimy mulai berfikir apa dia sudah keterlaluan, apa dia menyakiti lelaki itu. Kimy mulai melirik ke arah Tristan. Terlihat Tristan menatap lurus ke depan, dengan rahang yang mengeras. Ya, Kimy tahu kalau saat ini Tristan sedang marah. Beberapa menit berdiam, akhirnya Tristan menjalankan lagi kemudinya. Diam, itu yang terjadi selama perjalanan pulang mereka. Sesekali Kimy melirik Tristan yang tanpa expresi itu. Jantung Kimy berdentum keras, dia merasa bersalah kali iki sudah membuat lelaki itu marah.
Mobil mewah itu masuk ke pekarangan rumah mewah Daniel. Tristan masih diam di tempatnya, sedangkan Kimy sudah melepas seatbealt nya bersiap turun. Kimy memegang gagang pintu mobil itu tapi dia tak melihat ada pergerakan dari Tristan. Kimy pun menoleh pada kekasihnya itu "Kamu tidak turun?.."
"Turunlah, aku masih ada urusan.." Jawabnya tanpa melihat ke arah Kimy.
Melihat itu Kimy tak jadi turun, dia memutar tubuhnya menghadap kekasihnya itu "Kamu marah, maaf aku tidak bermaksud.."
"Tidak. Masuklah sudah malam, nanti kamu masuk angin.." Jawabnya masih tanpa menatap kimy.
"Tristan aku mohon jangan begini, aku tahu kamu marah. Bicaralah, tapi jangan mendiamkanku.."
"Aku bilang masuk.."
"Tristan!!.."
"Masuk Kimy, kenapa susah sekali untukmu sekali saja nurut padaku.."
"Kenapa aku harus nurut, aku bukan boneka. Kenapa tidak kamu yang mendengarkan aku. Kenapa aku harus selalu mengikuti katamu.." Kimy berteriak seperti orang kesetanan. Tristan menoleh pada Kimy yang bicara dengan menggebu - gebu dengan amarahnya. Sekali lagi Tristan mengetatkan rahangnya.
" Terserah kamu!!!!.." bentak Kimy kasar dan langsung keluar dari mobil dan membanting pintu iku kasar.
Tristan melihat punggung Kimy yang berjalan memasuki rumah. Mata Tristan memerah, tidak, dia tidak menangis hanya karena pertengkaran sepele itu. Yang membuatnya sakit adalah Tristan jadi tahu kalau wanitanya itu tidak mencintainya sebesar apa yang di pikirkannya. Wanitanya itu tidak pernah menganggapnya, tidak menghargainya. Tristan masih kalah, walaupun raga Kimy bersamanya tapi hati wanita itu belum bisa menerima seutuhnya. Salahkan kalau sekarang justru Tristan yang kalah, dia mencintai Kimy melebihi nyawanya sendiri.
__ADS_1