
Kimy mengetuk pintu kamar nek Inah, namun tak ada sahutan dari wanita tua itu. Kimy semakin mengkhawatirkan keadaan nek Inah.
" Mau apa lagi kau kesitu?.." Suara berat seseorang yang Kimy kenal membuatnya menoleh ke asal suara.
" Aku hanya mau melihat keadaan nenek.." Jawab Kimy pada Tristan yang berdiri di belakangnya.
" Kau bodoh atau tuli, sudah ku bilang jangan kau dekati orang-orang di rumah ini.." Kata Tristan dingin.
" Aku cuma mengkhawatirkan.." Belum selesai gadis itu bicara, namun tangannya sudah di tarik kasar oleh Tristan.
" Tristan lepas, sakiit.." Teriak Kimy sambil mencoba melepas tangan yang di tarik oleh Tristan namun gagal.
" Rupanya kau tak bisa dikasih hati, kau tak pernah mendengarkan kata-kataku jalang.." Deg.. bagai di tikam sebuah belati, hati Kimy sangat sakit.
" Masuk ke kamarmu, jangan pernah lagi kau keluar dari sini atau aku menghabisimu.." Kata Tristan sambil melemper tubuh Kimy ke ranjang. Laki-laki itu berjalan keluar dengan cepat lalu mengunci pintu kamar dari luar.
Kimy mencoba kuat, dia menahan sesak di dadanya. Dia tidak mau menangis, dia tau kalau Tristan tidak membencinya. Dia tahu kalau Tristan hanya terluka oleh masa lalunya.
Kuat Kimy kuat, kau tahu apa yang Tristan rasakan saat tahu mamanya bunuh diri dan di ambil organ tubuhnya tanpa seizinnya. Dia lebih sakit dari ini, bantulah dia melupakan segala rasa sakitnya, kalau dengan begini bisa membuatnya sedikit mengurangi rasa sakitnya, aku terima.
Sedangkan Tristan masih berdiri di depan pintu kamar Kimy, laki-laki itu masih berdiri menengadahkan kepalanya ke atas.
Maafkan aku!!
**
" Hallo nenek, bagaimana kabar nenek. Aku kangen sama nenek..." Suara Laura terdengar di balik ponsel nek Inah. Wanita tua itu menerima telepon dari Laura sambil duduk di kursi samping ranjangnya.
" Kau kira aku percaya, anak bodoh. Sejak kapan kau peduli padaku, yang ada di otakmu bukannya hanya Tristan hah. " Jawab nek Inah.
" Ha ha ha Bisa aja, ketahuan deh.." Jawab Laura.
" Nek carikan cara agar aku bisa datang ke rumah itu, aku beneran kangen sama nenek.." Rengek Laura.
" Apa yang bisa aku lakukan, kau tahu aku hanya orang tua.." Jawab nek Inah.
" Nek apa gadis itu masih di situ?.."
" Iya dia masih di sini.." Jawab nek Inah lagi.
" Baiklah kalau nenek tak mau membantuku, aku akan cari cara sendiri. Aku tutup ya nek, aku masih ada urusan.."
" Baiklah, kau berhati-hatilah di sana.." Jawab nek Inah sambil menutup ponselnya.
Tristan memijat kepalanya pelan, laki-laki itu menyuruh Dony untuk memutus segala kontrak yang terkait dengan Sarah Moeremans. Segala aktifitas Sarah di dunia hiburan sudah di blokade oleh Tristan. Artis senior itu benar-benar akan kehilangan semua kontrak-kontrak kerjanya selama ini. Perlahan tapi pasti, Tristan mulai menghancurkan satu persatu musuh-musuhnya.
" Kau yakin melakukan ini?.." Tanya Dony. Tristan tak merespon pertanyaan Dony, laki-laki itu terus memijat-mijat kepalanya dengan mata tertutup, entah apa yang di pikirkannya.
__ADS_1
" Bagaimana reaksi gadis itu kalau tahu kau melakukan ini pada mamanya, wow luar biasa pasti dia.." Mario berkata sambil bergidik ngeri.
" Rio kau bisa diam.." Dony memperingati laki-laki yang doyan bergurau itu.
" Okee.. oke baiklah!!.." jawab Mario.
Tristan beranjak dari duduknya, dia berdiri di depan jendela ruang kerjanya.
" Rio, beri pelajaran bajingan itu dan Buat wanita itu gila menghadapi masalah anak dan suaminya.." Titah Tristan pada Mario.
" Baiklah, serahkan semua padaku.." Jawab Mario santai.
" Kau yakin?.." Dony berdiri menghampiri Tristan. Dony tidak mau Tristan gegabah. Karena bajingan yang Tristan maksud adalah orang yang penting di hidup Tristan.
" Tidak ada yang lebih membuatku yakin di banding ini, lakukan saja perintahku.." Jawab Tristan dingin.
**
Di sisi lain, kimy melihat pintu kamarnya terbuka. Dia sedikit kecewa ternyata bukan Tristan yang datang melainkan pembantu yang mengantarkan makan malamnya. Tidak bisa di pungkiri kalau Kimy mulai merindukan laki-laki itu. Rasa ibanya mulai berubah menjadi sayang atau cinta mungkin.
" Apa Tristan di rumah?.." Tanya Kimy pada wanita itu.
" Saya tidak tahu nona.." Jawab pembantu itu.
" Kau tak melihatnya?.."
Kemana dia? sepertinya dia kembali ke tabiatnya yang dulu, kasar dan dingin padaku.
Sampai pada pukul 22.00 WIB gadis itu tak juga menyentuh makan malamnya. Sedari sore gadis itu hanya menonton drama korea kesukaanya dan sesekali membuka tirai jendelanya melihat pemandangan di luar untuk menghilangkan kebosanan.
Ceklek!!!!!
Kimy terperanjat kaget mendengar pintu kamarnya terbuka. Gadis yang saat ini tengah berdiri di depan jendela kamar itu, melihat Tristan berdiri di ambang pintu. Laki-laki dingin itu menatapnya. Kimy tersenyum pada Tristan, namun mendapat tatapan dingin dari laki-laki itu.
" Apa yang kau lakukan?.." Tanya Tristan sambil menutup pintu dan berjalan masuk.
" Kau belum makan malam?.." Tanyanya lagi pada gadis itu, setelah melihat nampan berisi makanan masih tergeletak tak tersentuh di meja makan yang berada di kamar itu.
Kimy menggelengkan kepalanya pelan. " Kau mau mati? Cepat makan.." Titahnya pada Kimy. Mendengar itu, Kimy hanya tersenyum simpul.
" Aku tidak selera makan kalau sendirian.." Jawab gadis itu membuat Tristan mengernyitkan keningnya.
" Kau mau menemaniku makan?.." Tanya Kimy pada laki-laki dingin itu. " Ayo cepat.." Jawab Tristan sambil duduk di meja makan.
Melihat itu, Kimy segera berlari kecil ke meja makan. Dengan antusias Kimy duduk di meja makan dan mulai memakan makanannya " Kau tidak makan?.." Tanya Kimy sambil mulai memasukkan sendokan pertamanya ke mulut. Tristan hanya menggelengkan kepalanya dingin.
" Hari ini aku bosan sekali, aku ingin jalan-jalan ke luar rumah.." Gadis itu bercerita sambil terus mengunyah makanannya. Tristan hanya diam tak menanggapi perkataan Kimy.
__ADS_1
Huhh dia sama sekali tak meresponku.
" Kau mau nonton drama korea. Lihat aku sudah sampai episode 8, cerita bagus. Kau mau nonton bersama sampai pagi.." Tanya Kimy sambil menunjuk Dvd yang masih menyala itu.
" Bisa cepat kau selesaikan makanmu. Aku mau kembali ke kamarku.." Jawab Tristan dengan muka datar.
" Kau tidak di sini malam ini? upps!!!.." Kimy merasa keceplosan, gadis itu menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Bodoh, apa yang aku katakan.
Tristan menatap intens gadis itu. Laki-laki itu mungkin akan senang jika Kimy mengucapkan kata-kata itu kemarin saat dia belum mengetahui sebuah kenyataan yang sulit dia terima, tapi sekarang mendengar kata itu Tristan justru sangat muak.
Brengsek..apa maksud gadis sialan ini, dia mau menggodaku.
Dengan cepat Tristan berdiri untuk meninggalkan kamar itu, dia tidak mau lepas kendali karena tatapan gadis itu sangat sangat hangat dan lembut beda dari biasanya. " Kau mau kemana?.." Tanya Kimy spontan melihat Tristan berdiri memunggunginya, siap untuk pergi.
" Habiskan makanmu dan tidurlah.." Jawab Tristan pelan. Tristan mulai berjalan meninggalkan ruangan itu.
" Tunggu Tristan.." Jawab Kimy, lalu berdiri menghampiri laki-laki itu. Tristan menghentikan langkahnya.
Tepat di belakang Tristan, Kimy menghentikan langkahnya. Dengan cepat gadis itu memeluk tubuh atletis Tristan yang berdiri memunggunginya itu dari belakang. Mungkin pertahanan Kimy sudah hancur, gadis itu dengan keras mencoba untuk tidak terpesona oleh laki-laki tampan itu, namun justru kelemahan laki-laki itu yang membuat Kimy jatuh hati.
Deg.. Jantung Tristan serasa mau melompat keluar. Untuk pertama kalinya, Kimy punya inisiatif sendiri memeluknya. Kedua orang itu terdiam, mereka merasakan jantung yang sama-sama berdebar.
" Apa yang kau lakukan?.." Tanya Tristan dingin.
" Maafkan aku.. kau jangan marah. Aku janji tak akan menemui nenek lagi, aku akan turuti maumu asal kau tak marah lagi.." Kata Kimy pelan.
Tristan tak merespon perkataan Kimy. Laki-laki itu ingin sekali berbalik, membalas memeluk gadis yang di cintainya itu, mencumbuinya sepertinya yang biasa dia lakukan. Namun otaknya masih mengendalikan hati laki-laki itu.
" Lepas!!.." Kata Tristan.
Kimy tak memperdulikan perintah Tristan. Gadis itu terus memeluk laki-laki itu, bahkan dia lebih mengeratkan lagi pelukannya.
" Kau jaga batasanmu jalang, atau kau mau menunjukkan sisi liarmu yang sesungguhnya.." Deg..kata-kata Tristan berhasil menghujam hati Kimy. Nyeri sangat nyeri hati Kimy mendengar kata itu. Perlahan tangan Kimy melepas pelukan itu, gadis itu masih diam mematung di tempatnya.
" Kau jangan bertindak bodoh, kau lupa kau itu hanya jalang yang aku pungut di jalan, aku hanya datang saat aku menginginkanmu . Jangan berharap lebih dariku sialan.." Kata Tristan sambil berjalan keluar dan menutup pintu itu kasar.
Kimy masih diam mematung sambil merasakan hati yang sangat sakit, perlahan air mata itu membasahi pipi mulusnya.
Benarkah kau menganggapku hanya sebatas itu. Hanya sebatas jalang pemuas nafsumu.
Hati itu patah sebelum bersemi, mungkin itu yang Kimy rasakan. Siapa yang mau mengalami semua itu. Selama ini, Kimy membenci laki-laki gila itu sepenuh hati, tapi saat Kimy melihat sisi lemah laki-laki itu, justru membuat hatinya terketuk. Kimy merasa iba pertamanya, kasihan. Tapi lama-kelamaan Kimy merindukan laki-laki itu, Kimy menyayangi laki-laki itu. Dan sekarang mungkin Kimy sudah benar-benar jatuh hati pada laki-laki yg menemaninya selama dua bulan terakhir ini.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1