
Ke esokan hari pukul 05.00 pagi rombongan Daniel, Kimy, sarah, Teddy, Sinta dan Dony terbang ke itali untuk mencari kebenaran berita itu. Setelah 17 jam mereka berada diudara akhirnya rombongan itupun sampai di itali. Hari sudah gelap, mereka langsung ke hotel yang dekat dengan lokasi kejadian untuk istirahat.
"Aku enggak mau ke hotel pi, aku mau langsung ke lokasi" pinta Kimy pada Daniel.
"Sayang ini susah malam, sudah gelap. Besok pagi-pagi kita kesana Kimy. Tolong mengertilah, lihatlah semua orang sudah tampak lelah. Belum tentu masih ada Tim yang mencari jam segini. Percaya pada papi nak" setelah beberapa saat Daniel membujuk Kimy akhirnya wanita itupun menurut, mereka menuju hotel yang sudah di pesan via online sebelumnya.
"Aku datang sayang, aku jemput kamu pulang" Kimy berkata sangat pelan dibalik jendela kaca hotel mewah itu. Air matanya terus menetes tanpa bisa dihentikan. Dia melihat ke bawah, melihat lalu lalang kendaraan didepan hotel itu, perlahan tangannya mengelus perutnya "Kamu akan jadi seorang ayah, maafkan aku belum sempat memberitahu kado terindah ini Tristan" tangisnya makin terisak.
Ceklek
Sarah masuk ke kamar Kimy, dia hanya menghela nafas beratnya melihat putrinya itu berdiri sambil mendengar isak tangisnya "Sayang, kamu harus istirahat" bujuk sarah dengan membelai kedua lengan Kimy dari belakang, namun Kimy tak mengindahkan keberadaan mamanya itu. "Kasihan bayimu Kimy, dia ikut stres kalau kamu menangis terus. Jangan egois nak" Kimy menoleh pada sarah.
"Tristan belum tahu aku hamil mi, dia harus tahu. Dia tidak boleh pergi begitu saja. Dia harus tahu kalau akan menjadi seorang ayah"
"Sssttt, mami paham sayang, mami mengerti" Sarah melirik pintu kamar itu takut ada yang mendengar perkataan anaknya itu "Kimy, dengarkan mami nak." Kimy melihat mata sarah yang terlihat serius itu "Jangan sampai ada yang tahu kamu hamil" air mata Kimy semakin mengalir mendengar ucapan sarah itu "Kita akan pikirkan dulu cara supaya orang luar tidak tahu. Yah?"
"Maksud mami apa, bagaimanapun orang akan tahu kalau aku hamil mi. Perutku akan membesar"
"Mami tahu nak, kita akan pikirkan cara setelah semua ini berlalu. Kita fokus dulu ke pencarian Tristan. Sebelum semua jelas, jangan kasih tahu siapa pun termasuk papimu"
Deg
"Kenapa, kenapa papi tidak boleh tahu?"
"Nanti Kimy, nanti mami yang akan kasih tahu papi. Tapi tidak sekarang. Percaya sama mami, ini untuk kebaikanmu nak" kiny mengangguk percaya pada wanita itu.
Ke esokan harinya mereka langsung ke lokasi kejadian di bantu kedutaan besar Indonesia yang ada di negara itu. Mereka menaiki sebuah kapal yang sudah disediakan menuju tengah laut mediterania. Angin sepoi-sepoi membuat rambut panjang Kimy sedikit menutupi wajahnya. "Ayo masuk jangan di sini" Daniel menyampirkan jas nya ditubuh Kimy. "Disini dingin sayang" Kimy tak menjawab, dia masih betah berdiri di pinggiran kapal melihat laut lepas sambil membayangkan bagaimana Tristan bisa bertahan di laut lepas dan dingin seperti itu.
__ADS_1
"Maaf sebentar lagi sampai, itu ada kapal tim SAR di depan" Kata seseorang mengagetkan Kimy dan Daniel.
"Terima kasih" jawab Daniel sambil mengangguk pada salah satu abk kapal itu. Daniel menatap Kimy dengan mengangguk, memberi keyakinan dan semangat pada putrinya itu.
Rombongan mereka sudah sampai di TKP. Beberapa orang menyambut kedatangan mereka "Selamat datang" sapa seorang pria, mungkin ketua Tim atau siapa entahlah.
"Bagaimana apa ada perkembangan?" Tanya Teddy pada pria itu.
"Maaf tuan tidak ada perkembangan yang signifikan dalam pencarian ini. Saya rasa semua korban tidak ada yg selamat, mengingat pesawat itu meledak di udara. Lihat puing-puingnya masih ada" semua orang di situ menutup mulutnya mendengar ucapan pria itu, Kimy meremas baju Daniel dengan kuat mendengar ucapan pria itu.
"Apa sudah di cari di pesisir pantai, barangkali ada yang terseret ombak" Tanya Daniel.
"Sudah dan hasilnya nihil. Semua hasil penemuan barang sudah di bawa oleh polisi. Anda bisa melihatnya di kantor polisi" Daniel mengangguk dan mendekap lagi putrinya itu.
"Tenang sayang tenang, kita akan ke kantor polisi setelah ini"
Kimy masih melihat ke lautan bebas itu, puing-puing pesawat itu masih terlihat ada di permukaan air laut. Air matanya luruh lagi "Aku tahu kamu hidup entah dimana, hati kecilku bilang kalau kamu belum mati Tristan. Bukankan aku bilang tanpa izin ku kamu tidak bisa mati."teriak kimy sambil melihat ke puing-puing itu.
"Ini semua bohong pi. Tristan belum mati." teriak Kimy membuat semua orang di sana tampak ikut prihatin.
Dony terlihat mengetatkan rahangnya "Tristan, tidak mungkin semudah itu kau mati, kamu harus hidup bajingan. Aku akan menghajarmu kalau menemukanmu" ucapnya pelan. Ada air mata sialan di sudut mata lelaki itu.
**
"Apa yang terjadi, kau mabuk di siang bolong begini?" Tanya tian yang hari itu datang ke tempat Gilang.
"Diamlah, pergilah dari sini. Aku sedang tidak mau berdebat" jawab Gilang sambil meneguk minumanya.
__ADS_1
"Aku ikut prihatin" tian duduk di depan Gilang "Walaupun hubungan kalian tidak baik, dia tetap saudaramu. Papamu pasti sangat berduka"
"Kenapa bajing*n sepertinya mudah sekali mati, aku tidak percaya ini. Aku ingin menghajarnya karena sudah membuat Kimy bersedih lagi"
"Kamu sedih?" Tanya tian ambigu. Gilang menatap tian dengan tajam "Sory, aku enggak tahu kalau kamu merasa kehilangan"
"Aku hanya memikirkan Kimy dan papa, mereka pasti sangat sedih sekarang. Aku tidak bisa melihat Kimy menangis" jawab Gilang masih terus menegak minumanya.
"Ini sudah takdir lang, mungkin takdir Kimy tidak bersama dengan Tristan. Mungkin tuhan masih memberi kesempatan kalian berdua untuk bersama. Coba pikirkan saja positifnya"
"Aku tidak berpikir kesana, Kimy mencintainya. Semua sudah tidak sama lagi" jawab Gilang lalu beranjak meninggalkan asistennya itu. Gilang menutup pintu kamarnya, segera dia membanting tubuhnya di ranjang dan melihat langit-langit kamar itu "Apakah ada kesempatan kedua itu?" Gilang tersenyum miris, ada sedikit embun disudut matanya, mengingat senyum wanita yang masih sangat di cintainya itu.
**
"Ini barang-barang yang kami temukan di lokasi" Kata seorang polisi menyerahkan sebuah plastik klip berisi beberapa dompet dan beberapa ponsel. Dan yang membuat lutut Kimy terasa lemas adalah sebuah jas berwarna biru dongker diantara barang-barang itu. Kimy mengenal jas itu, jas yang selalu kekasihnya pakai saat memeluknya, jas yang kekasihnya pakaikan saat dia kedinginan.
"Tidak, Tristan" Kimy menutup kedua mulutnya menahan tangis. Tangan Daniel dengan sigap memeluk tubuh rapuh putrinya itu. "Papi tidak mungkin pi" lirih Kimy di pelukan Daniel. Semua yang ada di situ sangat berduka, apalagi saat polisi itu mengeluarkan barang-barang dari kantong plastik itu, ada dompet, ponsel milik Tristan dan Mario membuat Kimy semakin histeris. Dan ada beberapa barang lagi yang di yakini milik dari pramugari dan pilot pesawat itu. Daniel menggendong Kimy, putri kesayangannya itu pingsan ketika polisi menyatakan tidak ada yang selamat dalam penerbangan itu.
Rombongan kembali ke hotel tanpa Dony. Dony masih masih ingin bertanya lebih lanjut pada polisi itu. "Tolong saya sir, apa ada kemungkinan kalau penumpang terjun sebelum pesawat meledak?" Tanya Dony hati-hati pada polisi itu.
"Kami masih menyelidikinya tuan, black box pesawat itu belum ditemukan. Kalaupun penumpang terjun sebelum pesawat meledak kemungkinan untuk selamat 99% tuan" Jawabnya lagi.
"Tapi masih ada harapan 1% kan?" Tanya Dony meyakinkan polisi itu.
"Mudah-mudahan tuan"
"Sir, saya mohon lakukan yang terbaik. Lakukan pencarian semaksimal mungkin, saya akan menanggung segala biayanya. Ini nomor ponsel saya, tolong segera kabari saya jika ada kabar sekecil apapun" Dony menyerahkan sebuah kartu nama pada polisi itu.
__ADS_1
"Baik tuan, saya akan lakukan sesuai perintah" jawab polisi itu. Dony mengangguk mengerti, ada secercah harapan walaupun hanya 1%. Dia berdiri dengan satu kepastian, akan menemukan dimanapun Tristan berada hidup ataupun mati.
"Aku akan menemukanmu bajinga*n, tidak semudah itu kau mati kepar*t" katanya pelan, lalu pergi dari tempat itu.